Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Sinar matahari pagi yang masih tipis berpadu dengan kabut tipis khas pesisir Pulau Jeju menyapa dari balik gorden penthouse suite. Jam digital di meja samping tempat tidur menunjukkan pukul 05.30 pagi. Suasana di dalam kamar masih amat hening, hanya terisi oleh irama napas teratur dari Tae-jun yang tertidur pulas dengan satu lengan kokohnya melingkari pinggang Ji-eun.
Ji-eun membuka matanya perlahan. Meski tubuhnya masih merasa begitu nyaman dalam dekap hangat Tae-jun, nalurinya langsung menyiagakan ingatan bahwa ia tidak boleh tertangkap berada di kamar sang Direktur Utama oleh staf hotel lain yang mulai terbangun untuk menikmati sarapan pagi.
Dengan sangat hati-hati, Ji-eun mengangkat lengan Tae-jun dari tubuhnya, menggesernya perlahan agar pria itu tidak terbangun. Ji-eun berjingkat turun dari peraduan empuk tersebut, merapikan pakaian santai yang semalam ia kenakan, lalu merapikan rambutnya sebisa mungkin dengan jemari.
Sebelum melangkah menuju pintu keluar, Ji-eun menoleh sejenak ke arah tempat tidur. Ia tersenyum manis menatap raut wajah Tae-jun yang tampak begitu tenang saat tertidur, lalu mengecup kening pria itu dengan sangat lembut dan tanpa suara.
Ji-eun memutar gagang pintu penthouse suite dengan sepelan mungkin. Lorong lantai teratas itu sangat sunyi dan lengang. Setelah memastikan tidak ada staf atau petugas kebersihan yang melintas, Ji-eun berlari-lari kecil menuju tangga darurat alih-alih menggunakan lift eksekutif, pilihan yang lebih aman untuk menghindari kamera atau staf yang berkeliaran di area lift. Menuruni beberapa anak tangga hingga tiba di lantai tiga, napas Ji-eun sedikit memburu. Koridor lantai tiga tempat kamarnya berada masih tampak sepi, diterangi pendar lampu hias dinding yang lembut. Ji-eun menghela napas lega, merapikan baju rajut kremnya, lalu melangkah mantap menuju pintu kamar bernomor 308.
Namun, tepat saat jemari Ji-eun menyentuh kartu kunci untuk menempelkannya pada selot pintu, sebuah suara familier mendadak menyapa dari arah belakang.
"Lho, Manajer Han? Pagi-pagi sekali sudah berkeliaran?"
Ji-eun membeku seketika. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa melompat ke tenggorokan. Dengan cepat ia menetralkan raut wajahnya yang sempat pucat, lalu berbalik secara perlahan sambil memamerkan senyuman seprofesional mungkin.
Di ujung koridor, berdiri Manajer Park dari Divisi Keuangan, satu-satunya orang di hotel yang terkenal paling jeli dan suka mengamati hal-hal kecil di sekitar karyawan. Pria berkacamata itu sedang memegang cangkir kopi hangat, menatap Ji-eun dari atas ke bawah dengan dahi berkerut penuh rasa penasaran.
"Ah... Manajer Park. Selamat pagi," sapa Ji-eun dengan nada suara sebisa mungkin dibuat santai dan ramah.
Manajer Park melangkah mendekat sambil menyesap kopinya sedikit. Matanya yang tajam mengamati penampilan Ji-eun. "Anda baru kembali dari mana pagi-pagi begini? Apa ada urusan operasional dengan pihak resor?"
Otak Ji-eun berputar cepat mencari alasan yang paling masuk akal di tengah situasi kritis ini.
"O-oh, bukan," sahut Ji-eun cepat, mengibaskan tangannya pelan. "Saya... saya baru saja kembali dari luar. Baru selesai berolahraga pagi menikmati udara segar Jeju."
Manajer Park menghentikan langkahnya, menatap Ji-eun dengan alis terangkat semakin tinggi. Pandangannya tertuju pada pakaian yang melekat di tubuh Ji-eun. Sebuah sweter rajut krem berpotongan sedikit longgar, celana kain kulot yang elegan, dan sepatu hak datar bergaya kasual-mewah. Sama sekali bukan kombinasi pakaian yang lazim dipakai seseorang untuk joging atau sekadar jalan sehat berolahraga.
"Berolahraga... dengan sweter rajut tebal dan celana kain?" tanya Manajer Park dengan nada skeptis yang jelas terpancar dari raut wajahnya.
Ji-eun meremas jemarinya di balik saku mantel dengan cemas. Sudut bibirnya bergetar tipis, tetapi ia berusaha mempertahankan senyumannya.
"Ah, ini... udara Jeju pagi ini ternyata jauh lebih dingin dari yang saya bayangkan," jawab Ji-eun beralasan dengan kelicikan spontan. "Makanya saya memakai sweter tebal ini agar tidak kena angin malam yang tersisa."
Manajer Park mengangguk-angguk pelan, meski pandangan matanya masih menyisakan sedikit keraguan. "Begitu, ya... Saya pikir Manajer Han habis menghadiri rapat mendadak atau sesuatu. Soalnya rambut Anda juga terlihat sedikit... berantakan di bagian belakang."
Pipi Ji-eun seketika memanas merona. Ia refleks membelai rambut belakangnya yang kemungkinan besar sedikit acak-acakan akibat usapan jemari Tae-jun saat mereka tertidur semalam.
"Angin di pantai sangat kencang pagi ini, Manajer Park," potong Ji-eun cepat sebelum pria itu mengajukan pertanyaan yang lebih berbahaya lagi. "Saya sampai harus merapikan rambut berulang kali."
"Ah, benar juga. Angin Jeju memang terkenal kencang," sahut Manajer Park akhirnya melunak, percaya pada penjelasan masuk akal tersebut. "Kalau begitu, segera mandi dan bersiaplah. Rombongan kita akan berkumpul di restoran utama untuk sarapan bersama pukul delapan nanti. Direktur Seo kabarnya juga akan hadir."
"Baik, Manajer Park. Terima kasih sudah mengingatkan. Saya masuk ke kamar dulu," pamit Ji-eun membungkukkan badan sedikit.
Begitu Manajer Park berbalik dan melangkah menjauh menuju lift, Ji-eun dengan cepat menempelkan kartu kunci pada pintu kamarnya.
Cklek!
Ji-eun menyelinap masuk ke dalam kamar, menutup pintu rapat-rapat, lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu yang tebal. Ia menghela napas panjang yang amat lega, memegangi dadanya yang masih berdebar kencang seolah baru saja lolos dari bahaya besar.
"Hampir saja..." bisik Ji-eun pada dirinya sendiri seraya menyunggingkan senyum tipis.
Ponsel di saku celananya bergetar halus. Ji-eun mengeluarkannya dan mendapati sebuah pesan singkat masuk dari Tae-jun yang rupanya baru saja terbangun.
Kau menyelinap pergi tanpa pamit? Di mana kamu sekarang?
Ji-eun tertawa pelan, mengetikkan balasan dengan jemarinya yang masih sedikit gemetar usai ketahuan Manajer Park.
Aku sudah kembali ke kamarku dengan selamat, walau baru saja hampir ketahuan Manajer Park dan terpaksa berbohong kalau aku habis 'olahraga' dengan sweter rajut. Sampai ketemu di restoran saat sarapan nanti, Direktur Seo.
Ji-eun meletakkan ponselnya di atas meja vanity, melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Meski harinya dimulai dengan kepanikan kecil yang menegangkan, rasa hangat dari pelukan Tae-jun semalam dan kenangan manis di penthouse membuat senyuman tak henti-hentinya mengukir wajah Ji-eun di pagi hari Pulau Jeju yang cerah itu.
...****************...