Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14. Api Membara
Dominic menatap bayangan dirinya di cermin kamar mandi dengan napas yang masih mengkal dan dada yang bergemuruh. Penampilannya benar-benar berantakan.
Rambutnya mencuat tak beraturan, lingkaran hitam membayang tajam di bawah matanya yang memerah, dan kemeja santai yang ia kenakan tampak kusut di bagian dada.
Sialan. Ia tidak bisa tidur semalaman.
Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, ingatan tentang sentuhan bibir Clarissa—ciuman liar yang panas, memabukkan, lalu diputus secara paksa begitu saja—terus berputar bagai teror indah yang menyiksa kepalanya.
Reaksi fisiknya sama sekali tak bisa diajak kompromi; "bos kecil" di bawah sana meronta dan menagih tanpa ampun sepanjang malam hingga subuh menjelang.
Biasanya aku tidak pernah seperti ini, batin Dominic gusar, meremas tepi wastafel hingga buku-buku jarinya memutih. Hanya karena satu ciuman dari wanita itu... bagaimana bisa dia membuatku seberantakan ini?
Dengan sisa tenaga dan pikiran yang kacau, Dominic melangkah turun menuju ruang makan utama.
Di meja makan panjang berbahan kayu mahoni, Kakek Silas sudah duduk anggun menyesap kopi paginya. Sang Patriark menghentikan cangkirnya di udara begitu melihat cucu kesayangannya melangkah mendekat. Alisnya bertaut heran menatap tampilan Dominic yang sangat jauh dari kesan rapi dan sempurna yang biasa ia tampilkan.
"Kenapa wajahmu seperti itu, Dominic?" tegur Kakek Silas dengan nada menyindir yang tajam.
"Mata memerah, penampilan berantakan... kau tidak tidur semalaman hanya karena memikirkan Helena, hah?"
Belum sempat Dominic membuka mulut untuk membantah tuduhan konyol sang kakek, derap langkah kaki berbalut sepatu hak tinggi memecah keheningan ruang makan.
Dominic menoleh—dan detik itu juga, napasnya tertahan seutuhnya di tenggorokan.
Clarissa melangkah masuk ke ruang makan.
Pagi ini, ia memancarkan aura kecantikan yang teramat sangat berbeda. Gaun malam sutra berpotongan rendah berwarna merah marun memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, mengekspos tulang selangka yang jenjang dan bahu mulusnya yang putih bersih.
Rambut gelombangnya dibiarkan terurai bebas, memancarkan pesona sensual yang begitu mahal dan dominan.
Dominic terpaku seutuhnya. Matanya menyipit, terkunci rapat pada sosok istrinya tanpa sanggup berpaling satu milimeter pun.
Kakek Silas yang menyadari tatapan intens cucunya langsung menyunggingkan senyuman penuh arti. Sang Patriark berdeham pelan, menyenggol kenyataan dengan nada menggoda yang renyah.
"Cantik bukan, cucu menantuku, Dominic?"
Goda sang kakek membuat Dominic tersentak kaget. Ia gelagapan setengah mati, buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah cangkir kopi di meja demi menetralkan raut wajahnya yang mulai memanas.
"Ah... biasa saja," gumam Dominic ketus, mencoba mempertahankan harga dirinya yang kian terkikis.
Namun, rasa terbakar di dadanya—melihat kulit mulus Clarissa terekspos bebas di depan para pelayan dan sang kakek—membuat amarah posesif yang asing mendadak membakar kepalanya. Dominic mengepalkan tangan di bawah meja, lalu menatap Clarissa dengan tajam.
"Ganti pakaianmu, Clarissa," perintah Dominic dengan suara berat dan dingin. "Pakaian itu terlalu terbuka untuk sarapan di rumah ini."
Clarissa yang baru saja hendak menarik kursinya menghentikan gerakannya. Ia memiringkan kepala sedikit, menatap Dominic dengan sepasang mata jernih yang memancarkan binar keemasan yang tajam.
Bukannya panik atau menurut, Clarissa justru menyunggingkan senyuman tipis yang sangat memikat sekaligus meremehkan. Ia melangkah satu titik mendekati meja Dominic, menunduk sedikit hingga aroma harum tubuhnya yang manis menusuk indra penciuman pria itu.
"Sejak kapan Tuan Dominic yang terhormat... peduli pada penampilan istrinya, hemm?" bisik Clarissa amat tajam dan halus, menatap lurus ke dalam manik mata Dominic yang goyah.
Aroma tubuh Clarissa yang begitu dekat dan bisikan sensualnya menjadi jerami terakhir yang membakar habis sisa kesabaran Dominic. Pria itu tidak lagi sanggup menahan impuls gila yang menguasai kepalanya sejak semalam.
Tanpa aba-aba, jemari tegap Dominic bergerak kilat meraih pergelangan tangan Clarissa. Dengan satu tarikan kuat dan penuh dominasi, Dominic menarik tubuh wanita itu hingga Clarissa terhuyung jatuh dan terduduk pas di atas pangkuannya.
Srett!
Tangan Dominic melingkar erat di pinggang halus Clarissa, mengunci posisi wanita itu agar tidak bisa melarikan diri. Jarak wajah mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter, hingga hembusan napas hangat mereka saling beradu.
Namun, di balik kejutan serangan mendadak itu, Clarissa secara instan merasakan sesuatu yang mengeras dan menegang di bawah paha bagian belakangnya—sebuah benjolan nyata di balik celana bahan yang dikenakan Dominic, yang masih meronta dari kegelisahan semalam.
Bukannya panik atau canggung, Clarissa justru terkekeh pelan. Sebuah tawa renyah, anggun, dan sarat akan dominasi pecah dari bibir merahnya. Ia menyandarkan dadanya sedikit ke bahu tegap Dominic, lalu berbisik amat dekat di telinga pria itu dengan nada menggoda yang mematikan.
"Dominic Sayang... kau yakin kita akan bermesraan di depan Kakek?"
Kakek Silas yang duduk tidak jauh dari mereka menyaksikan seluruh adegan panas dan impulsif cucunya dengan mata membelalak kaget.
Sang Patriark yang biasanya penuh wibawa itu mendadak salah tingkah. Wajah tuanya merona tipis melihat interaksi liar yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah pernikahan dingin cucunya.
Kakek Silas segera berdiri dengan gerakan kikuk, membetulkan jasnya dan berdeham keras-keras demi menutupi rasa canggungnya.
"Ehem! Sepertinya... aku pergi saja," cetus Kakek Silas terburu-buru seraya meraih tongkat naganya. Ia menatap Dominic dan Clarissa dengan senyuman jahil yang mengembang lebar.
"Nikmati waktu kalian berdua. Aku ingin segera menimang cicit!"
Tanpa menunggu balasan dari Dominic yang membeku gelagapan, Kakek Silas melangkah lebar meninggalkan ruang makan bersama para pelayan yang ikut tertunduk menahan tawa.
Begitu pintu ruang makan tertutup rapat dan suasana seketika hening, amarah serta gairah di dada Dominic meledak tanpa halangan. Cengkeramannya di pinggang Clarissa makin mengetat, menarik tubuh wanita itu makin menempel rapat ke tubuhnya hingga tak tersisa jarak.
"Kau sengaja memancingku, Clarissa?" bisik Dominic dengan suara serak, berat, dan berbahaya tepat di depan bibir istrinya.
Tangannya merayap naik menangkup rahang Clarissa, matanya membara oleh rasa dahaga yang teramat gila.
"Kau pikir kau bisa memainkan permainan panas ini lalu lari begitu saja setelah membuatku gila semalaman?"
Clarissa tidak gentar sedikit pun. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Dominic yang memerah, lalu mengusap bibir bawah Dominic dengan ujung telunjuknya yang halus, menyunggingkan senyuman mematikan yang siap menelan pria itu bulat-bulat
sangat menarik sekali