Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penuh Hinaan
"Mbak, gula satu kilo sama beras yang lima kilo, ya," ucap seorang pelanggan sambil tersenyum.
"Sebentar ya, Bu," jawab Naresta ramah.
Naresta bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju rak yang berisi gula. Setelah mengambil satu bungkus gula, ia kembali ke meja kasir.
"Mas, tolong ambilkan beras yang lima kilo," ucapnya lembut sambil menoleh ke arah suaminya.
"Baik," jawab Elvan pelan.
Elvan segera berjalan menuju gudang kecil di belakang toko. Beberapa saat kemudian, ia kembali sambil memanggul satu karung beras kemasan lima kilogram. Dengan hati-hati, ia meletakkannya di atas meja kasir.
Melihat Elvan, beberapa pelanggan mulai saling
berbisik.
"Itu suaminya, ya?"
"Iya. Kasihan sekali, katanya penyandang autisme."
"Pantas saja jarang bicara."
"Tapi istrinya cantik, kok mau ya menikah sama laki-laki seperti itu."
Ucapan itu terdengar jelas oleh Naresta. Tangannya yang sedang menghitung belanjaan sejenak terhenti, tetapi ia memilih tetap tersenyum seolah tidak mendengar apa pun.
Sementara itu, Elvan hanya menundukkan kepalanya. Ia tidak menanggapi satu kata pun, lalu kembali merapikan kardus-kardus di dekat rak sesuai kebiasaannya.
Bagi Elvan, bekerja membantu istrinya jauh lebih penting daripada memikirkan perkataan orang lain. Namun, bagi Naresta, setiap hinaan yang ditujukan kepada suaminya selalu terasa seperti menggores hatinya.
"Eh, Mbak Naresta, mi gorengnya lima bungkus, ya," panggil seorang pelanggan wanita.
"Iya, sebentar ya, Bu," jawab Naresta sambil tersenyum.
Saat Naresta hendak mengambilnya, pelanggan lain yang sedang memilih barang ikut membuka percakapan.
"Mbak Naresta, saya boleh tanya sesuatu?"
"Boleh, Bu."
"Kenapa Mbak mau menikah sama pria penyandang autisme? Padahal masih banyak pria yang normal."
"Iya, benar itu," sahut pelanggan lain. "Mbak Naresta cantik, masih muda pula. Pasti banyak laki-laki yang mau."
Beberapa pelanggan lainnya ikut mengangguk, seolah penasaran dengan jawaban Naresta.
Naresta hanya tersenyum tipis. Ia tidak langsung menjawab. Tangannya tetap sibuk menghitung belanjaan pelanggan yang tadi.
"Ini kembaliannya, Bu. Terima kasih sudah belanja."
"Iya, Mbak."
Tak lama kemudian, Elvan datang membawa lima bungkus mi goreng yang diminta.
"Mi... mi gorengnya," ucap Elvan pelan sambil menyerahkannya kepada Naresta.
Naresta menerimanya dengan senyum hangat.
"Terima kasih, Mas."
"I-iya... sama-sama," balas Elvan lirih.
Elvan kembali berjalan ke dalam toko untuk merapikan rak. Namun, tatapan beberapa pelanggan masih terus mengikutinya.
"Lihat, kan? Cara bicaranya saja beda."
"Kasihan Mbak Naresta."
"Iya. Kalau saya sih, nggak sanggup punya suami seperti itu."
Mendengar bisikan-bisikan itu, Naresta tetap memilih diam. Baginya, tidak ada gunanya meladeni orang-orang yang hanya melihat kekurangan suaminya tanpa pernah mengenal ketulusan hatinya.
"Ini mi gorengnya, Bu," ucap Naresta sambil menyerahkan lima bungkus mi goreng kepada pelanggan.
"Terima kasih, Mbak."
"Sama-sama, Bu."
Belum sempat Naresta kembali duduk, seorang pelanggan lain kembali membuka pembicaraan.
"Mbak, dari tadi ditanya kok tidak dijawab?"
"Iya, benar itu," sahut pelanggan lainnya. "Bikin orang penasaran saja."
Naresta mengembuskan napas pelan. Ekspresinya tetap tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa kesal.
"Lalu saya harus menjawab apa, Bu?" tanyanya lembut.
"Ya, kenapa Mbak mau menikah sama pria penyandang autisme? Padahal banyak pria yang normal."
"Iya. Mbak cantik, masih muda, pasti banyak yang mau. Kenapa justru memilih dia?" timpal pelanggan lain sambil melirik ke arah Elvan.
Saat itu, Elvan masih sibuk menyusun barang di rak. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya kembali menjadi bahan pembicaraan para pelanggan.
Naresta menatap suaminya sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangannya kepada para pelanggan.
Senyumnya masih terukir di wajahnya, tetapi kali ini sorot matanya menunjukkan ketegasan.
Naresta tersenyum tipis sebelum akhirnya menjawab.
"Mbak, pria normal memang banyak. Tapi apakah mereka bisa memberikan semuanya dengan tulus tanpa menuntut?"
Para pelanggan saling berpandangan. Tak seorang pun langsung menjawab pertanyaan itu.
Naresta melanjutkan dengan suara lembut.
"Mas Elvan memang penyandang autisme. Tapi dia selalu berusaha menjadi suami yang baik untuk saya. Dia tidak pernah meninggikan suara, tidak pernah menyakiti saya, dan selalu membantu saya di toko ini tanpa mengeluh."
Tatapan beberapa pelanggan mulai mengarah kepada Elvan yang masih sibuk merapikan barang-barang di rak.
"Bagi saya, kekurangan bukan alasan untuk tidak mencintai seseorang. Justru ketulusan, kesetiaan, dan akhlaknya yang membuat saya bersyukur memiliki suami seperti dia."
Suasana toko mendadak hening. Beberapa pelanggan terdiam, sementara yang lain hanya saling melirik tanpa mampu membantah ucapan Naresta.
Naresta tersenyum lembut.
"Jadi, itu sudah lebih dari cukup untuk saya, Mbak. Saya tidak ingin pria yang dianggap normal jika pada akhirnya selalu menuntut saya untuk ini dan itu."
Ucapan itu membuat suasana toko seketika hening.
Beberapa pelanggan saling berpandangan. Tak ada lagi yang berani menanggapi perkataan Naresta.
Salah seorang di antara mereka tampak salah tingkah. Ia pun berdeham pelan sebelum berusaha mengalihkan pembicaraan.
"E-eh... jadi berapa mi saya tadi, Mbak?"
Naresta hanya tersenyum, seolah tidak pernah terjadi apa pun.
"Lima bungkus, Bu. Totalnya lima belas ribu rupiah."
"O-oh... ini uangnya."
"Iya, terima kasih, Bu."
Setelah menerima uang tersebut, Naresta memberikan kembaliannya, lalu melayani pelanggan lain seperti biasa. Sementara Elvan tetap sibuk membantu di dalam toko, tanpa menyadari bahwa istrinya baru saja membelanya di hadapan banyak orang.
"Terima kasih, Mbak."
"Iya, sama-sama, Bu."
Pelanggan itu pun segera pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi kepada Naresta.
Naresta kemudian mengalihkan pandangannya kepada pelanggan lain yang masih berdiri di depan
meja kasir.
"Mbak, sudah? Apa ada lagi yang ingin dibeli?"
"W-wah... sudah, itu saja, Mbak. Berapa total semuanya?"
Naresta mulai menghitung barang-barang yang ada di atas meja kasir.
"Totalnya seratus dua puluh delapan ribu rupiah, Bu."
"Baik, ini uangnya."
Naresta menerima uang tersebut, lalu menghitungnya sebelum menyerahkan kembaliannya.
"Ini kembaliannya, Bu. Terima kasih sudah belanja."
"Iya, terima kasih, Mbak."
Pelanggan itu pun mengambil belanjaannya dan pergi. Suasana toko kembali tenang, sementara Elvan masih sibuk membantu merapikan barang-barang di rak dengan penuh ketelitian.
"Mbak, seperti biasa ya. Buat isi warung saya. Ini catatannya," ucap seorang pelanggan sambil menyerahkan secarik kertas berisi daftar barang.
Naresta menerima catatan itu, lalu membacanya satu per satu.
"Baik, Bu. Sebentar ya."
Ia menoleh ke arah suaminya yang sedang merapikan rak.
"Mas, tolong ambilkan mi goreng sama mi kuah masing-masing dua dus, ya."
"I-iya," jawab Elvan pelan.
Tanpa banyak bicara, Elvan langsung berjalan menuju gudang untuk mengambil barang-barang yang diminta, sementara Naresta mulai menyiapkan pesanan lainnya sesuai daftar yang diberikan pelanggan.