Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Di luar gua, puluhan orang berbalut jubah hitam telah mengepung area sekitar. Berdiri paling depan memimpin pasukan itu adalah seorang pria tua berambut putih dengan wajah yang dipenuhi bekas luka jahitan. Tangannya menggegam erat sebuah tongkat kayu hitam berukir.
Pria tua itu menatap lurus ke arah mulut gua. "Shen Yunche!" panggilnya dengan gema suara yang berat dan dalam.
Yunche melangkah keluar dari gua, disusul Gu Qingli dan Shen Mo di belakangnya. "Siapa kau?" tuntut Yunche dingin.
Pria tua itu menyunggingkan senyum misterius. "Namaku sama sekali tidak penting."
"Kalau tidak penting, untuk apa kau memanggil namaku?"
"Tentu saja karena..." Pria tua itu mengarahkan ujung tongkatnya tepat ke dada Yunche. "...aku datang jauh-jauh ke sini demi dirimu."
Yunche mengencangkan genggamannya pada hulu pedang. "Ada urusan apa kau denganku?"
"Darahmu," sahut pria tua itu seraya terkekeh pelan. "Shen Tianyu telah menyembunyikan rahasia terbesar dunia darimu."
Yunche mendengus gusar, memutar matanya malas. "Semua orang yang kutemui belakangan ini selalu bilang hal yang sama. Apa kalian tidak capek mengulang-ulang kalimat itu terus?"
Pria tua itu mendadak terbungkam, keningnya berkerut.
"Tiap kali bertemu orang baru, kalian selalu bilang 'ayahmu menyembunyikan sesuatu'," lanjut Yunche seraya mengacungkan ujung pedangnya. "Kalau kalian memang tahu rahasianya, katakan saja langsung sekarang! Jangan dipotong-potong!"
Pria tua itu mengulas senyum tipis. "Belum waktunya bagimu untuk mengetahuinya."
"Ya ampun..." gumam Yunche menepuk dahi, frustrasi.
Di sampingnya, Gu Qingli tak sanggup menahan kekehan kecil melihat tingkah Yunche.
Yunche refleks menoleh. "Jangan tertawa."
"Aku tidak tertawa," sahut Qingli cepat.
"Jelas-jelas kau tertawa!"
"Mana ada!"
Pria tua itu mengamati interaksi mereka berdua, lalu pandangannya terkunci pada gadis di sebelah Yunche. "Gu Qingli..."
Senyum di paras Qingli mendadak lenyap seketika.
Yunche menoleh padanya. "Kau mengenalnya?"
"Tidak," jawab Qingli jujur seraya menggelengkan kepala.
Pria tua itu terkekeh nyaring. "Putri kesayangan Patriark Gu Tianming..."
Yunche mengalihkan pandangannya kembali ke arah pria tua itu, sementara Qingli hanya membisu.
"...Anak kandung dari pria yang telah membantai Shen Tianyu belasan tahun lalu!" lanjut pria tua itu dengan nada memprovokasi.
Suasana di depan gua seketika berubah tegang dan mencekam. Gu Qingli mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga jarinya memutih. "Tutup mulutmu..."
"Mengapa aku harus diam?" Pria tua itu tersenyum culas. "Kau takut pemuda di sampingmu itu mengetahui kenyataan bahwa kau adalah putri dari pembunuh ayahnya?"
Yunche memotong dingin, "Aku sudah tahu hal itu sejak tadi."
Pria tua itu tersentak kaget. "Apa katamu?"
Yunche melangkah maju satu tapak, membusungkan dadanya tegap. "Aku sudah tahu kalau Gu Tianming adalah orang yang menghabisi ayahku."
Raut terkejut di wajah pria tua itu perlahan memudar, berganti menjadi seringai lebar yang mengerikan. "Bagus! Luar biasa!"
"Apanya yang bagus?" kening Yunche bertaut.
Pria tua itu menunjuk lurus ke arah Gu Qingli. "Kalau kau sudah tahu kenyataan itu... tunggu apa lagi? Hunus pedangmu dan bunuh gadis itu sekarang juga!"
Yunche membeku. Gu Qingli di sampingnya pun ikut terhenyak.
"Atas dasar apa aku harus membunuhnya?" tuntut Yunche.
"Karena dia adalah putri dari musuh bebuyutanmu!"
Yunche menatap pria tua itu lurus-lurus. "Kesalahan ayahnya bukanlah dosanya."
"Darah yang mengalir di tubuhnya sama!" tegas pria tua itu. "Anak dari seorang musuh tetaplah seorang musuh!"
Yunche perlahan mengangkat pedangnya, memasang posisi kuda-kuda siaga. "Aku tidak peduli dengan logika picikmu itu."
Pria tua itu memicingkan matanya tajam. "Apa?"
Yunche bergeser melangkah, berdiri tegap tepat di samping Gu Qingli. "Dia bukan musuhku."
Gu Qingli refleks menoleh, menatap samping wajah Yunche dengan binar tak percaya. Namun pandangan Yunche tetap lurus terkunci pada pasukan berjubah hitam di depan mereka.
"Jika kalian berniat menyentuh atau melukainya..." Yunche mengibaskan pedangnya hingga memancarkan pendar aura spiritual yang pekat. "...maka kalian harus melangkahi mayatku terlebih dahulu!"
Dada Gu Qingli bergemuruh hebat, jantungnya berdetak kepingin kencang. Yunche kembali berdiri melindunginya—bukan sekadar karena rasa iba, bukan pula karena belas kasihan atas janji masa kecil mereka, melainkan karena pemuda itu dengan sadar telah memilih untuk berjuang di sisinya.
Pria tua itu tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memantul di dinding-dinding batu. "Baik! Sangat bagus!"
Dia mengangkat tongkat kayunya tinggi-tinggi ke udara, memancarkan aura pembunuh yang amat pekat. "Jika itu pilihanmu... maka matilah kalian berdua di sini!"
Pertarungan pun pecah seketika.
Puluhan kultivator berjubah hitam langsung melesat maju menyerbu secara bersamaan. Yunche menggegas menghunus pedangnya, disusul Gu Qingli yang merespons cepat di sampingnya. Namun, di saat yang sama... Shen Mo mendadak lenyap tanpa jejak.
Yunche menyapu pandangannya ke sekeliling dengan kening berkerut. "Shen Mo?!"
Tak ada sahutan sedikit pun.
"Apa pria itu mendadak kabur?!" cetus Yunche bingung.
CRASH!
Gu Qingli menebas seorang musuh di dekatnya. "Fokus pada pertarungan, Yunche!"
Yunche langsung menarik konsentrasinya kembali. Satu tebasan, dua tebasan, hingga tebasan ketiga melayang presisi, meledakkan aura spiritual yang hebat hingga membuat beberapa musuh terlempar mundur. Kekuatan Yunche terus meningkat pesat seiring gejolak emosinya, namun jumlah musuh yang mengepung mereka terlampau banyak.
Gu Qingli mulai kewalahan menahan gempuran beruntun. Dari arah belakang, seorang musuh memanfaatkan celah dan melayangkan sabetan mematikan menuju punggungnya.
Yunche menyadari bahaya itu tepat waktu. "Qingli!"
Dengan kecepatan penuh, Yunche melesat pasang badan di belakang Gu Qingli.
CLANG!
Bilah pedang Yunche menahan tebasan musuh tepat pada waktunya. Gu Qingli terhenyak, refleks menoleh dan mendapati Yunche berdiri tegap melindunginya. "Terima kasih..."
Tanpa memalingkan wajah dari musuh, Yunche menyahut cepat, "Sama-sama. Kau terluka?"
"Tidak. Kau sendiri bagaimana?"
"Aku baik-baik saja."
Gu Qingli menatap punggung pemuda itu sejenak, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Kalau begitu... jangan berani-berani mati di sini."
Yunche sedikit melirik. "Kenapa?"
"Karena aku masih punya utang padamu."
"Utang apa?"
Gu Qingli memutar tubuhnya, menebas tumbuh kultivator di dekat mereka. "Belum kutentukan!"
Yunche tertawa terkekeh. "Dasar konyol!"
Mereka bertarung berdampingan membelah barisan musuh. Untuk pertama kalinya, pergerakan keduanya terasa begitu selaras dan saling melengkapi. Saat Yunche melancarkan serangan terbuka, Qingli dengan sigap menutupi celah pertahanannya. Dan saat Qingli menusuk maju, Yunche menyapu musuh yang mencoba mengepungnya dari sisi lain.
Gerakan mereka berpadu begitu harmonis, seolah telah berlatih bersama selama puluhan tahun—padahal mereka baru saling mengenal dalam hitungan bulan.
Sementara itu, di puncak pohon yang tak jauh dari area pertempuran, Shen Mo mendadak muncul kembali. Dia berdiri memperhatikan pertarungan kedua insan muda itu dengan sepasang mata dinginnya.
"Perpaduan yang mirip dengan mereka belasan tahun lalu," gumam Shen Mo pelan.
Sesosok pria berjanggut tipis mendadak muncul berdiri di samping Shen Mo. "Kau masih mengingat pertarungan masa lalu itu?"
Shen Mo tak menjawab, pandangannya tak bergeming dari Yunche.
Pria di sampingnya mengamati gaya bertarung Yunche seraya bergumam, "Anak itu... benar-benar jiplakan dari ayahnya."
"Ya," sahut Shen Mo pendek.
"Lantas..." Pria itu menoleh pada Shen Mo. "...kenapa kau justru membiarkannya tetap hidup dan bertarung seperti ini?"
Shen Mo menyunggingkan senyum tipis yang sarat misteri. "Karena dia harus menentukan takdirnya sendiri."
"Menentukan apa?"
"Pilihan..." Shen Mo beralih menatap sosok Gu Qingli yang bertarung gigih di samping Yunche. "...antara memilih jalan balas dendam, atau melangkah bersama cinta."
Pria di sampingnya tertawa terkekeh. "Gejolak anak muda..."
Shen Mo membisu, namun raut wajahnya perlahan berubah menjadi teramat serius. Dia tahu betul bahwa jalan pilihan yang dihadapi Yunche sama sekali tidak akan berjalan mudah.
Di bawah, pertempuran kian memuncak dan melelahkan. Napas Yunche mulai terengah-engah parau, begitu pula dengan Gu Qingli yang kehabisan banyak tenaga spiritual.
Pria tua berambut putih itu akhirnya melangkah maju. Dia mengangkat tongkat kayunya tinggi-tinggi, memancarkan gelombang tekanan aura spiritual yang begitu pekat dan menekan bumi.
Yunche refleks merasa sesak di dadanya. "Qingli!"
"Hm?"
"Mundurlah, jangan mendekat!"
"Kenapa lagi?!"
"Serangan tua bangkai ini..." Yunche menatap tajam ke arah pria tua itu. "...berada di tingkatan yang berbeda!"
Pria tua itu tertawa terbahak-bahak. "Pilihan yang bijak! Shen Tianyu rupanya benar-benar mewariskan insting bertahan hidup padamu!"
Yunche membeku. "Warisan?"
BOOM!
Sebelum Yunche sempat mencerna ucapan itu, gelombang ledakan dahsyat menghantam tubuhnya secara telak. Yunche terhempas hebat dan membentur tanah batu.
"YUNCHE!" jerit Gu Qingli histeris.
Gadis itu melesat berlari tanpa memedulikan sekelilingnya. Yunche terkapar lemas dengan darah segar meluncur dari sudut bibirnya.
"Yunche!" Gu Qingli berlutut panik di sampingnya. "Kau tidak apa-apa?! Bertahanlah!"
Yunche membuka matanya yang berat. "Aku..." Dia mencoba menopang tubuhnya untuk bangkit, namun seluruh persendiannya terasa lumpuh tak bertenaga.
"Jangan dipaksakan bergerak dulu!" pangkas Qingli cemas.
Yunche menatap sepasang mata gadis di hadapannya seraya berbisik parau, "Qingli... pergilah..."
Gu Qingli terperanjat, menatap Yunche tak percaya. "Apa katamu?!"
"Lari dan pergilah dari tempat ini sekarang!"
"Tidak! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu!"
"Qingli, dengarkan aku—"
"KUBILANG TIDAK YA TIDAK!" sentak Gu Qingli dengan suara bergetar menahan tangis.
"Dia mengincar nyawaku! Kau akan ikut terbunuh jika tetap berada di sini!"
"Kalau begitu aku akan tetap berada di sini bersamamu!" tegasa Gu Qingli keras kepala.
Yunche mengerutkan keningnya, meratapi situasi. "Kenapa kau selalu saja keras kepala di saat-saat seperti ini?!"
Gu Qingli menatap lurus ke dalam sepasang mata Yunche. "Karena kau juga selalu keras kepala padaku!"
"Ini bukan waktunya untuk berdebat, Qingli!"
"Justru sekarang waktunya!" Gu Qingli meraih jemari Yunche yang dingin dan menggenggamnya erat-erat.
Tubuh Yunche menegang seketika.
"Aku sudah pernah mengatakannya padamu..." Air mata Gu Qingli akhirnya menembus pipinya. "...jika kau sampai melangkah pergi... maka aku sendiri yang akan mencarimu sampai ke ujung dunia sekali pun."
Yunche terbungkam sepenuhnya.
Gu Qingli menyapu air matanya dengan kasar seraya meremas genggaman tangannya kian erat. "Jadi... tolong jangan pernah menyuruhku untuk pergi lagi..."
"Qingli..."
"Aku tidak mau..." Suara Gu Qingli bergetar parau, mengekspresikan kepedihan mendalam di dadanya. "Aku sungguh tak sanggup lagi jika harus kehilangan orang yang kubutuhkan..."
Yunche terpaku menatap raut hancur gadis di hadapannya. Kata-katanya tertahan di tenggorokan. Perlahan, dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Yunche membalas genggaman jemari Gu Qingli, mengikatkan jemari mereka dengan erat.
"Baiklah," bisik Yunche lembut.
Gu Qingli mendongak menatapnya.
Yunche menyunggingkan senyum tipis yang tulus di balik usapan darah di bibirnya. "Kalau begitu... kita akan hadapi dan lalui ini bersama-sama."
apa gk syok tuh thor