NovelToon NovelToon
Kontrak Rahasia Sang Istri

Kontrak Rahasia Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.

Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.

Mengapa Azam memilih dirinya?

Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?

Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 — Surat untuk Fadil

Fadil masih berdiri di ruang tengah.

Amplop putih itu belum juga dibukanya.

Tangannya menggenggam benda tersebut dengan kuat, sementara matanya terus terpaku pada tulisan di bagian depan.

«Kalau kamu ingin menyelamatkan istrimu, cari tahu siapa Azam sebenarnya.»

Fadil membaca kalimat itu berkali-kali.

Ada rasa takut yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.

Selama ini ia mengira masalah keluarganya hanya sebatas ekonomi.

Utang.

Pekerjaan.

Kebutuhan sehari-hari.

Namun ternyata, sejak Dila menerima pekerjaan dari Azam, sesuatu yang jauh lebih besar telah masuk ke dalam kehidupan mereka.

Fadil akhirnya membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto.

Foto pertama memperlihatkan Dila sedang keluar dari sebuah gedung.

Foto kedua memperlihatkan Dila masuk ke dalam mobil Azam.

Foto ketiga memperlihatkan Azam berdiri sangat dekat dengan Dila saat menghadiri sebuah acara keluarga.

Fadil menatap semuanya dengan dada sesak.

“Kenapa ada yang memotret mereka?”

Kemudian ia menemukan secarik kertas.

«Istrimu tidak mengetahui seluruh kebenaran.

Tapi Azam mengetahuinya.

Jangan biarkan Dila menandatangani apa pun lagi.»

Fadil mengerutkan kening.

“Menandatangani apa?”

Ia membaca kalimat terakhir.

«Jika terlambat, Dila akan kehilangan lebih dari sekadar rumah tangganya.»

Fadil langsung mengambil ponselnya.

Ia ingin menelepon Dila.

Namun jarinya berhenti.

Kalau ia menelepon sekarang dan menanyakan semuanya, Dila mungkin akan panik.

Akhirnya Fadil memilih menunggu.

Tetapi satu keputusan sudah dibuatnya.

Ia akan mencari tahu siapa Azam.

 

Di sisi lain, Dila masih berada di kantor Wiratama Group.

Sejak mengetahui bahwa dokumen tentang keluarganya telah dicuri, pikirannya tidak tenang.

Ia duduk di ruang kerja Azam.

“Kenapa saya?”

Pertanyaan itu kembali keluar dari mulutnya.

Azam berdiri di dekat jendela.

“Saya sudah menjawabnya.”

“Belum.”

Dila bangkit.

“Anda hanya mengatakan bahwa saya mungkin memiliki hubungan darah dengan Larasati.”

Azam menatapnya.

“Benar.”

“Kalau begitu buktikan.”

Azam diam.

“Saya ingin tahu siapa orang tua saya sebenarnya.”

“Dila…”

“Saya berhak tahu.”

Azam mengangguk.

“Kamu benar.”

Ia berjalan menuju lemari.

Kemudian mengambil sebuah kotak kecil.

Kotak itu tampak tua.

Azam meletakkannya di atas meja.

“Ini ditemukan di rumah lama Larasati.”

Dila mendekat.

“Apa isinya?”

“Buka.”

Dila membuka kotak tersebut.

Di dalamnya ada sebuah gelang kecil.

Warnanya sudah pudar.

Dila menatapnya.

Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.

“Saya pernah melihat ini.”

Azam terkejut.

“Di mana?”

“Waktu kecil.”

Dila menyentuh gelang itu.

Sebuah ingatan samar kembali muncul.

Seorang perempuan sedang menggendongnya.

Tangannya memasangkan gelang tersebut.

Kemudian suara lembut berkata,

“Kalau suatu hari Ibu tidak ada, jangan pernah percaya orang yang datang membawa nama keluarga Wiratama.”

Dila langsung menarik tangannya.

“Tidak…”

Azam menatapnya.

“Apa yang kamu ingat?”

Dila memegang kepalanya.

“Saya tidak tahu.”

“Kamu ingat sesuatu?”

“Sedikit.”

“Apa?”

Dila menatap Azam.

“Perempuan itu bilang jangan percaya keluarga Wiratama.”

Azam terdiam.

Wajahnya berubah serius.

“Kalau begitu ada kemungkinan…”

“Apa?”

“Larasati memang pernah berusaha melindungimu.”

Dila menggeleng.

“Tapi kenapa?”

Azam tidak menjawab.

 

Sore hari, Dila meninggalkan kantor lebih awal.

Azam menyuruh Laras mengantarnya pulang.

Sepanjang perjalanan, Dila tidak banyak bicara.

Ia masih memikirkan gelang kecil itu.

“Laras.”

“Ya?”

“Apakah kamu tahu tempat tinggal Larasati dulu?”

Laras terdiam.

“Tahu.”

“Di mana?”

“Desa Karangrejo.”

Dila mencatat nama itu.

“Masih ada rumahnya?”

“Sudah kosong bertahun-tahun.”

“Aku ingin ke sana.”

Laras langsung menoleh.

“Tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena Pak Azam melarang.”

“Kenapa?”

“Tempat itu tidak aman.”

Dila tersenyum tipis.

“Sekarang saya mulai bosan dengan kata ‘tidak aman’.”

Laras menghela napas.

“Bu Dila, saya serius.”

“Aku juga.”

“Jangan pergi sendiri.”

Dila menatapnya.

“Kalau begitu temani aku.”

Laras terdiam.

 

Ketika Dila sampai di rumah, ia langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda.

Pintu rumah tidak terkunci.

Dila berhenti.

“Mas?”

Tidak ada jawaban.

Ia masuk perlahan.

“Mas Fadil?”

Ruang tengah kosong.

Dila memeriksa kamar.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun di atas meja terdapat sebuah amplop.

Dila mengambilnya.

Ia mengenali tulisan di bagian depan.

Untuk Dila.

Tangannya gemetar.

Dila membuka amplop tersebut.

Isinya hanya satu lembar kertas.

«Suamimu sudah mengetahui sebagian kebenaran.

Jangan ceritakan tentang Larasati kepadanya.

Jika kamu ingin Fadil tetap hidup tenang, datanglah sendirian ke Gudang 17 malam ini.»

Dila membeku.

“Fadil…”

Ia langsung menelepon suaminya.

Tidak aktif.

Sekali lagi.

Tetap tidak aktif.

Dila mulai panik.

Ia mencoba menghubungi Laras.

Namun sebelum panggilan tersambung, sebuah pesan masuk.

«Nomor Tidak Dikenal: Jangan libatkan siapa pun.»

Dila menatap layar.

Tangannya mulai dingin.

Ia tahu ini bukan kebetulan.

Seseorang sedang memainkan dirinya.

 

Sementara itu, Fadil berada di sebuah kedai kopi di pusat kota.

Ia duduk berhadapan dengan seorang pria bernama Bagus.

Bagus adalah teman lama Fadil.

“Kamu yakin orang ini bisa membantu?”

Bagus mengangguk.

“Kalau soal mencari informasi, aku punya kenalan.”

Fadil menyerahkan foto Azam.

“Aku ingin tahu siapa dia.”

Bagus melihat foto itu.

Ekspresinya berubah.

“Kamu serius?”

“Kenapa?”

“Ini Azam Wiratama.”

“Aku tahu.”

“Bukan cuma pengusaha.”

Bagus menatap Fadil.

“Keluarganya punya jaringan bisnis yang sangat besar.”

“Aku tidak peduli.”

Fadil mengepalkan tangannya.

“Aku cuma ingin tahu hubungannya dengan Dila.”

Bagus diam.

Kemudian ia berkata,

“Ada satu masalah.”

“Apa?”

“Dua puluh tahun lalu, keluarga Wiratama pernah terlibat kasus besar.”

“Kasus apa?”

“Tidak pernah sampai pengadilan.”

“Kenapa?”

“Karena saksi utamanya menghilang.”

Fadil menatap Bagus.

“Siapa?”

Bagus membuka laptop.

“Seorang perempuan bernama Larasati.”

Jantung Fadil berdegup keras.

Nama itu terasa familiar.

“Larasati?”

“Iya.”

Fadil berdiri.

“Cari tahu semuanya.”

Bagus mengangguk.

“Aku butuh waktu.”

“Berapa?”

“Beberapa hari.”

“Tidak bisa.”

Fadil menunjukkan ponselnya.

“Aku menerima pesan ancaman.”

Bagus membaca pesan tersebut.

Wajahnya berubah.

“Kalau begitu kita tidak punya banyak waktu.”

 

Malam turun.

Dila berdiri di depan rumah.

Ia sudah berganti pakaian.

Tas kecil berada di bahunya.

Di dalamnya hanya ada ponsel dan dompet.

Ia tidak memberi tahu siapa pun.

Namun sebelum berangkat, ia melihat foto pernikahannya dengan Fadil.

Dila menyentuh bingkai foto tersebut.

“Maaf, Mas.”

Ia tidak tahu apakah keputusan ini benar.

Namun jika Fadil memang dalam bahaya, ia tidak bisa hanya diam.

Dila keluar.

Sebuah mobil taksi berhenti di depan rumah.

Ia masuk.

“Ke Gudang 17.”

Sopir mengangguk.

 

Gudang 17 berada di kawasan industri lama.

Sebagian besar bangunan di sana sudah tidak digunakan.

Lampu jalan sangat minim.

Dila turun dari kendaraan.

Sopir segera pergi.

Dila berdiri sendirian.

“Fadil?”

Tidak ada jawaban.

Ia berjalan menuju gudang.

Pintu besi sedikit terbuka.

Dila mendorongnya.

Berderit.

“Fadil?”

Suara langkah terdengar dari dalam.

Dila berhenti.

“Siapa?”

Seorang pria keluar dari kegelapan.

Dila mundur.

Pria itu bukan Fadil.

“Siapa Anda?”

Pria tersebut tersenyum.

“Tenang.”

“Saya mau bertemu suami saya.”

“Suamimu tidak ada di sini.”

Dila langsung panik.

“Di mana dia?”

“Masih hidup.”

Dila mengepalkan tangan.

“Apa maksud Anda?”

“Tenang. Kalau kamu melakukan apa yang kami minta, dia akan baik-baik saja.”

Dila menatap pria itu dengan ketakutan.

“Kalian mau apa?”

“Informasi.”

“Informasi apa?”

“Berkas Larasati.”

Dila terdiam.

“Saya tidak punya.”

Pria itu tersenyum.

“Tapi Azam memberikannya kepadamu.”

Dila mulai memahami.

Mereka bukan hanya mengincar dirinya.

Mereka mengincar rahasia yang selama ini dicari Azam.

“Aku tidak tahu apa-apa.”

“Kalau begitu sayang sekali.”

Pria tersebut memberi isyarat kepada seseorang di belakangnya.

Dua orang keluar.

Dila mundur.

Namun sebelum mereka mendekat, terdengar suara mobil berhenti keras di luar.

Pintu gudang terbuka.

“DILA!”

Dila mengenali suara itu.

“Mas Fadil?”

Fadil berlari masuk.

Di belakangnya ada Bagus.

Pria yang tadi berdiri di depan Dila langsung berbalik.

“Bagaimana dia tahu?”

Bagus berteriak,

“Dila, lari!”

Kekacauan terjadi.

Dila berlari menuju Fadil.

Fadil langsung menarik tangannya.

“Kita pergi!”

Mereka berlari keluar gudang.

Namun belum sempat mencapai mobil, suara ban berdecit terdengar.

Sebuah mobil hitam berhenti.

Pintu terbuka.

Azam keluar.

Wajahnya sangat serius.

“Dila!”

Dila berhenti.

Fadil menatap Azam.

Untuk pertama kalinya kedua pria itu berdiri berhadapan dalam situasi yang sama-sama genting.

Azam memandang Fadil.

“Kamu seharusnya tidak datang.”

Fadil membalas tajam,

“Kalau aku tidak datang, siapa yang akan menyelamatkan istriku?”

Dila berdiri di antara mereka.

“Cukup!”

Keduanya diam.

Azam kemudian melihat ke arah gudang.

“Mereka masih di dalam?”

Fadil mengangguk.

Azam langsung memberi perintah kepada dua orang anak buahnya.

“Jangan biarkan mereka kabur.”

Mereka berlari masuk.

Beberapa saat kemudian terdengar suara gaduh dari dalam gudang.

Dila memandang Azam.

“Kenapa Anda ada di sini?”

Azam menatapnya.

“Karena saya tahu kamu akan datang.”

“Bagaimana?”

“Karena pesan itu bukan dari orang yang kamu kira.”

Dila membeku.

“Apa maksud Anda?”

Azam mengeluarkan ponselnya.

“Nomor yang mengirim pesan kepadamu sudah saya lacak.”

“Siapa?”

Azam menatap Dila.

“Orang yang sama yang mengambil berkas Larasati.”

Dila menelan ludah.

“Siapa?”

Azam tidak langsung menjawab.

Ia justru menatap Fadil.

“Dan sekarang mereka tahu kamu adalah suaminya.”

Fadil mengepalkan tangan.

Azam melanjutkan,

“Mulai malam ini, kalian berdua menjadi target.”

Dila merasa tubuhnya lemas.

Fadil meraih tangannya.

“Aku tidak takut.”

Azam menatap keduanya.

“Kamu seharusnya takut.”

Kemudian sebuah suara terdengar dari dalam gudang.

“AZAM!”

Semua orang menoleh.

Seorang pria keluar dengan tangan terikat.

Bagus mengenalinya.

“Itu Arif!”

Dila terkejut.

Arif menatap Dila.

Kemudian berkata dengan napas tersengal,

“Jangan percaya siapa pun…”

“Termasuk Azam.”

Azam membeku.

Arif tersenyum tipis.

“Karena orang yang selama ini kalian cari…”

Ia menatap Dila.

“…ada di dalam keluarga kalian sendiri.”

Sebelum sempat menjelaskan lebih jauh, Arif jatuh pingsan.

Dila menatapnya dengan wajah pucat.

Fadil menggenggam tangannya semakin erat.

Sementara Azam hanya berdiri diam.

Namun dari tatapannya, Dila tahu satu hal.

Azam sudah mengetahui siapa pengkhianat itu.

Dan ia sengaja tidak memberitahukannya.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!