NovelToon NovelToon
Sistem Menakhlukan Pangeran Kedua Berhati Dingin

Sistem Menakhlukan Pangeran Kedua Berhati Dingin

Status: tamat
Genre:TimeTravel / Transmigrasi ke Dalam Novel / Tamat
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: ANWi

Su Yinyin adalah aktris cantik yang baru mekar. Ia banyak memghabiskan waktu bersama pria tampan dan mempermainkan mereka. Semua mengagumi dan mencintai nya. Namun, bagaimana jika ia harus masuk ke dalam novel berlatar kuno dan menakhlukan hati seorang pangeran kedua yang dingin dengan tingkat cinta minus seratus! Gila itu sih bukan cinta tapi sudah tidak cinta dari awal!
Belum lagi ditambah konflik Dikrit Kaisar yang mengharuskan pangeran kembali menikahi Putri Mahkota dari Utara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Kilatan puluhan bilah pedang memantulkan cahaya bulan sabit dengan benderang, membelah kabut malam yang tebal dan dingin, menyelimuti reruntuhan kuil tua yang telah lama ditinggalkan. Dalam hitungan detik yang terasa begitu mencekam, sepasukan kuda berzirah gelap merangsek maju secara serentak dari balik semak-semak belukar, menutup seluruh jalur keluar yang ada dan mengurung area halaman kuil tanpa menyisakan celah sedikit pun.

​Suasana mendadak menjadi sangat tegang. Di dekat altar batu yang berlumut, sesosok pria paruh baya berjubah hitam mendadak menyeringai lebar. Senyuman itu tampak mengerikan di bawah temaram cahaya bulan. Tanpa ragu-ragu, ia merobek jubah luarnya hingga kainnya koyak, memperlihatkan lambang faksi militer bayangan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat dari dunia luar.

​"Kau mengira ini jebakan murahan untuk menangkapmu sendirian, Putri?" seru pria itu dengan nada mengejek yang menggelegar di tengah kesunyian malam. "Yang Mulia Pangeran Kedua memang hebat dan licik karena berhasil merobohkan faksi Permaisuri di istana pusat... tapi malam ini, reruntuhan kuil yang sunyi ini akan menjadi makam bagi kalian berdua!"

​Menghadapi ancaman terbuka tersebut, Su Yinyin sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan ataupun ketakutan sedikit pun di wajahnya. Ia tetap berdiri dengan anggun dan tenang, lalu melirik sekilas ke arah Mo Jue yang berdiri kokoh tepat di sampingnya, seolah keberadaan pria itu adalah benteng pertahanan yang tak bisa ditembus.

​Mo Jue pun tidak bergeming. Dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh wibawa, pria itu perlahan menarik pedang perangnya yang berkilau dari sarung kulit rusa di pinggangnya. Logam dingin tersebut berdenging nyaring di tengah kesunyian malam, memancarkan aura membunuh yang begitu pekat dan menekan hingga membuat beberapa kuda musuh di barisan depan mendengus ketakutan, lalu melangkah mundur perlahan-lahan.

​"Makam?" Mo Jue bersuara rendah, suaranya bagaikan embusan angin es yang bertiup dari puncak utara yang membeku. Ia menatap tajam ke arah pemimpin bayangan itu dengan sorot mata penuh amarah yang terkendali dengan sempurna. "Kalian bahkan tidak tahu siapa yang sedang kalian ajak bicara."

​Sebelum pemimpin bayangan itu sempat memberi aba-aba menyerang kepada pasukannya, Mo Jue telah melesat bagaikan bayangan hitam yang membelah kegelapan. Gerakannya begitu cepat, bagaikan kilat menyambar, hingga mata biasa hampir tidak mampu menangkap bayangan tubuhnya.

​Sshhh!

​Satu tebasan kilat meluncur tanpa ampun, memotong udara dengan suara desisan tajam. Pemimpin bayangan itu membelalakkan matanya lebar-lebar dalam ketidakpercayaan, tidak sempat mengangkat pedangnya barang sedikit pun sebelum lehernya tertebas bersih. Tubuhnya ambruk seketika ke atas tanah berlumut, menyisakan genangan darah segar yang langsung terserap dengan cepat oleh dinginnya bumi.

​Melihat pemimpin mereka tewas dalam satu gerakan tunggal yang mengerikan, puluhan pasukan bayangan tertegun sejenak, diliputi rasa ngeri. Namun, perintah penyerangan yang telanjur menggema membuat mereka tidak punya pilihan. Mereka langsung berteriak beringas, menghunus senjata masing-masing, dan menerjang ke arah Mo Jue serta Su Yinyin secara bersamaan dari berbagai arah.

​Su Yinyin bergerak dengan tangkas. Ia menarik belati tersembunyi yang selama ini terselip rapi dari balik lengan jubahnya. Tanpa gentar menghadapi gempuran musuh, ia memutar posisinya dengan anggun dan menepis serangan tombak dari arah samping dengan presisi tinggi—sebuah bukti nyata dari hasil pelatihan bela diri rahasia yang ia pelajari selama tinggal di kediaman pangeran.

​Di sisi lain, Mo Jue bergerak bagai badai maut yang mengamuk di tengah kerumunan musuh. Setiap ayunan pedangnya merobohkan barisan zirah lawan tanpa kesulitan berarti, melindungi setiap sudut pertahanan Su Yinyin dengan sempurna, memastikan tidak ada satu pun musuh yang dapat mendekati wanita itu.

​[Ding!]

​[Peringkat Kesukaan Mo Jue saat ini: +17]

​[Status Tempur: Sinergi Mutlak Teraktifkan.]

​Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, pertempuran sengit itu usai. Halaman reruntuhan kuil kembali sunyi seperti sedia kala. Puluhan pasukan bayangan terkapar tak bernyawa di atas tanah, sementara sisa pasukan lainnya yang bernasib beruntung kocar-kacir melarikan diri kembali ke dalam hutan gelap demi menyelamatkan nyawa mereka dari amukan sang pangeran.

​Mo Jue menyarungkan kembali pedang perangnya dengan gerakan tenang. Napas pria itu sedikit memburu akibat tenaga yang dikeluarkan, tetapi manik matanya langsung beralih dengan penuh kecemasan menatap Su Yinyin. Ia melangkah cepat menghampiri istrinya, memeriksa setiap jengkal tubuh wanita itu untuk memastikan keadaannya.

​"Kau tidak terluka?" tanya Mo Jue cemas, jemarinya menyentuh bahu Su Yinyin dengan sangat lembut, seolah takut wanita itu akan rapuh.

​Su Yinyin menggeleng pelan sambil menyarungkan kembali belatinya ke tempat semula. Ia kemudian menundukkan pandangannya, memandangi jasad pemimpin bayangan yang tergeletak kaku di dekat altar. Di dalam genggaman tangan jasad tersebut, sebuah gulungan kecil terjatuh keluar dari sisa kain bajunya yang robek.

​Su Yinyin berjongkok perlahan, mengambil gulungan tersebut dengan hati-hati, lalu membukanya di bawah pancaran cahaya bulan yang terang.

​Di atas kertas tua itu, tidak ada lagi sandi militer rahasia atau ancaman pembunuhan yang keji, melainkan sebuah sketsa tua bergambar lambang teratai perak yang bentuknya sama persis dengan tanda lahir misterius di pundaknya—disertai satu kalimat petunjuk penting yang mengarah langsung ke wilayah terlarang di perbatasan selatan kekaisaran.

***

Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️

1
tinie
🤔semakin penasaran
tinie
pertarungan apa eeh🤔🤔🤣
tinie
kebenaran pasti terungkap
permaisuri
jika kau berdamai dgn mu jue pasti hidupmu akan tenang
TPI sayang sekali kau selalu mengusik singa yg sedang tidur
tinie
bikin tegang
tinie
jika jendral moe hanya anak selir
lalu kenapa seorang permaisuri begitu merasa terancam dgn kehadiran dan kesuksesan jendral joe
Vee: sepemikiran,,,,
total 1 replies
tinie
apakah kaisar sendiri tidak memiliki pengawal bayangan
sehingga permaisuri hidup semena mena👊
tinie
berapa banyak pelayan mata mata musuh yg masuk ke paviliun yiyin🤔🤔👊
tinie
kan bener dai adalah sekutu permaisuri
kena kaisar begitu ceroboh
tinie
apakah putri itu akan bergabung dgn
permaisuri👊
wah gawat, dua wanita dlm satu atap
yg terkadang sejalan😭😭

semoga putri mahkota bisa diajak kerja sama
tinie
ya💪💪
pasti bisa meluluhkan pangeran kedua
tinie
maksudnya tuh kamu jangan sampai celaka
su😁😁
tinie
berapa banyak Kasim yg ikut andil dlm permainan permaisuri jahat nii😌😌
tinie
iih cepat kali bab nya😁😁😁
ANWi/Berly Re: hehe🙏❤️
total 1 replies
tinie
sing diamlah
gak tau apa gimana hantun su yinyin😁😁👊
tinie
huhu aku ikut deg degan
tinie
ngeri kali kau joe
sungguh belum tau rasanya jadi buucin yaa🤣
Willy Gu
suka
tinie
ayook su yinyin 💪kamu pasti bisaaa💪💪💪
tinie
kasim gui siap dipenggal kepalanya😁😁
tinie
lalu kenapa su yinyin bisa mati ya
apa dia dicekik atau terpeleset di kamar🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!