NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Aku Tak Bisa Punya Anak

Pintu apartemen terbuka ketika Karina sedang memasukkan pakaian Andri ke dalam koper.

Andri berhenti di ambang pintu. Bekas tamparan di pipinya sudah hilang, tetapi wajahnya tetap kusut. "Kamu ke mana semalaman?"

Karina melipat kemeja terakhir, menaruhnya di atas tumpukan, lalu menutup koper. "Bukan urusanmu."

"Kamu istriku."

"Kalimat itu seharusnya kamu ingat sebelum check-in dengan Tania."

Andri masuk dan mengunci pintu. "Aku mengaku salah. Tapi kita nggak perlu menghancurkan sepuluh tahun hanya karena satu kesalahan."

Karina mengeluarkan ponsel. Foto Andri dan Tania di lobi, rekaman percakapan, serta suara Tania yang menyebut anak mereka tersusun dalam satu folder.

"Satu kesalahan punya banyak sekali bukti."

"Rin, tolong dengar dulu."

"Aku sudah mendengar cukup banyak." Karina mendorong koper ke arahnya. "Aku akan ajukan gugatan cerai ke Pengadilan Negeri. Mobil tetap kamu pakai. Tabungan dan barang lain kita selesaikan melalui pengacara."

Andri menatap koper, seolah baru menyadari bahwa permintaan maafnya tidak otomatis mengembalikan keadaan. "Tania sedang hamil. Aku nggak bisa meninggalkan dia sekarang."

"Aku tidak memintamu meninggalkannya. Aku memintamu keluar dari hidupku."

"Kamu bicara seolah semua ini hanya salahku."

Karina terdiam.

Andri mengusap wajah. "Aku sudah bertahun-tahun bersabar. Mama terus menuntut cucu. Aku juga ingin punya anak, Rin. Kamu tahu itu."

"Lalu?"

"Kita sudah mencoba semuanya. Dokter bilang kamu sulit hamil. Delapan tahun, Rin. Delapan tahun aku menunggu."

Kata-katanya tepat mengenai luka yang paling lama Karina sembunyikan.

Di meja kecil dekat sofa masih ada kotak vitamin kesuburan yang belum habis. Di dalam lemari tersimpan map hasil pemeriksaan dari tiga klinik. Semua tanggal, angka, dan istilah medis itu pernah mereka baca bersama.

Andri sekarang menggunakannya sebagai pisau.

"Jadi karena aku tidak bisa punya anak, kamu merasa berhak punya dua perempuan?"

"Aku nggak bilang begitu."

"Kamu baru saja mengatakannya."

Andri mencoba meraih tangannya. Karina mundur.

"Aku tak bisa punya anak," katanya perlahan. "Tapi aku masih punya harga diri."

Dia membuka pintu dan mendorong koper ke lorong. "Pergi."

Andri berdiri beberapa detik, lalu menarik koper dengan wajah gelap. "Kalau kamu menyesal, jangan salahkan aku."

"Satu-satunya penyesalanku adalah baru tahu sekarang."

Pintu tertutup.

Karina menempelkan punggung ke sana. Begitu bunyi lift terdengar dari ujung lorong, lututnya jatuh ke lantai.

Tangis yang ditahan sejak hotel akhirnya pecah.

Dia menangis sampai napasnya sakit, lalu mandi dan mengganti pakaian. Satu jam kemudian, Karina sudah duduk di dalam mobil menuju kantor Andri. Tangannya masih dingin, tetapi map bukti di pangkuannya terasa kokoh.

Di depan gedung, Andri keluar menemui pengacara yang dihubungi Karina. Dia kembali membujuk, lalu marah ketika Karina menolak masuk ke mobilnya. Seluruh percakapan berlangsung di tempat terbuka dan terekam kamera keamanan.

"Mulai hari ini, semua pembicaraan lewat pengacara," kata Karina. "Jangan datang ke kantor atau menghubungi keluargaku."

"Kamu serius mau mempermalukanku begini?"

"Aku tidak membawa perempuan lain ke hotel. Kamu mempermalukan dirimu sendiri."

Setelah menyerahkan salinan bukti, Karina pergi sebelum suaranya retak.

Di dalam mobil, pengacara menjelaskan bahwa gugatan harus didaftarkan ke Pengadilan Negeri sesuai domisili tergugat. Akan ada pemanggilan resmi, upaya mediasi, lalu beberapa kali sidang sebelum putusan. Prosesnya tidak selesai dalam tiga puluh hari seperti membatalkan langganan aplikasi.

"Selama putusan belum berkekuatan, secara hukum Ibu masih istri Pak Andri," ujar pengacara itu. "Simpan semua komunikasi. Jangan bertemu sendirian jika situasinya membuat Ibu tidak aman."

Karina mengangguk dan menandatangani surat kuasa. Ujung pulpen sempat berhenti di atas nama lengkapnya. Karina Wijaya, istri Andri Kusnadi. Sebentar lagi keterangan terakhir itu akan hilang dari hidupnya, tetapi jalan menuju sana masih panjang.

Dia memotret setiap halaman, menyimpan salinan ke cloud, lalu mengirim satu folder kepada Josie. Tindakan kecil dan mekanis itu membuat napasnya lebih teratur. Andri boleh menghancurkan kepercayaannya, tetapi dia tidak akan membiarkan lelaki itu mengendalikan cerita tentang mengapa pernikahan mereka berakhir.

Josie menunggunya di sebuah kedai kopi dekat kantor. Begitu melihat wajah Karina, sahabatnya langsung berdiri dan memeluknya.

"Aku sudah pesan es kopi, teh hangat, dan kentang goreng. Aku nggak tahu orang habis mau cerai butuh yang mana."

Karina tertawa di sela napas gemetar. "Semua boleh."

Josie mendengarkan tanpa menyela sampai cerita selesai. Setelah itu dia menghantam meja dengan telapak tangan.

"Andri itu manusia atau iklan berjalan untuk vasektomi?"

Beberapa pengunjung menoleh. Karina buru-buru menarik tangan Josie. "Pelan sedikit."

"Nggak bisa. Delapan tahun kamu yang disalahkan. Sekarang dia menghamili perempuan lain dan masih berani menyebut kesabaran?"

"Mungkin memang aku yang bermasalah."

"Kalaupun benar, itu bukan izin selingkuh." Josie menyodorkan kentang goreng. "Besok kita ke pengacara. Lusa kamu kerja. Minggu depan kita cari tempat tinggal baru kalau perlu. Satu-satu. Jangan mati hanya karena sampah keluar sendiri dari rumahmu."

"Aku sudah bertemu pengacara tadi."

Josie berhenti mengunyah. "Sendirian?"

"Aku nggak mau menunggu. Kalau aku pulang dulu dan melihat foto pernikahan kami, mungkin aku akan melemah."

"Karin, mengakhiri sepuluh tahun dalam satu hari bukan berarti kamu dingin. Itu berarti batasmu jelas."

Karina mengusap bekas cincin di jarinya. Kulit di sana lebih pucat daripada bagian lain. Cincinnya sekarang tersimpan di dalam dompet, bukan karena dia masih ingin memakainya, melainkan karena pengacara meminta semua barang berharga dicatat sebelum pembagian harta.

"Aku takut Mama dan Papa tahu dari orang lain."

"Kamu akan bilang saat siap. Tapi jangan terlalu lama."

"Mama pasti bertanya apa aku kurang melayani suami."

Josie mendengus. "Kalau begitu suruh Mama meneleponku. Aku punya presentasi seratus slide tentang kenapa kesetiaan bukan pekerjaan istri."

Kali ini tawa Karina benar-benar keluar. Pendek, serak, tetapi nyata.

Untuk pertama kalinya sejak semalam, dia mulai percaya hidupnya mungkin belum benar-benar berakhir sama sekali.

Karina menunduk. Minuman hangat di tangannya mengusir sedikit dingin dari jari.

"Ada hal lain," katanya.

Josie menyipit. "Apa?"

Karina teringat rambut abu-abu, anting hitam, dan kamar lantai tiga puluh enam. Dia hampir membuka mulut, tetapi ponselnya bergetar.

Nomor tidak dikenal mengirim pesan WhatsApp.

Sudah sampai rumah, Kak?

Karina membeku.

Pesan kedua muncul.

Atau masih memikirkan aku?

Josie menjulurkan leher. "Siapa?"

Karina membalik ponsel di atas meja terlalu cepat. "Nggak ada siapa-siapa."

Ponsel bergetar lagi.

Kali ini sebuah foto masuk. Hanya wajahnya yang tertidur di bahu Nathan, aman dari bagian tubuh yang terbuka, tetapi cukup intim untuk membuat jantungnya menghantam tulang rusuk.

Di bawahnya ada satu kalimat.

Jangan pura-pura lupa namaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!