Kevin Sanjaya lulus dengan gelar dokter tapi diremehkan.bahkan di anggap tidak berguna karena keahlian yg di pelajarinya sudah ketinggalan zaman, dan tak berguna di dunia medis pada era Moderen! Tak di sangka, karena keberuntungan, dia mendapatkan Jantung meteorid dan buku kitab medis surgawi yang di tinggalkan kakekNya sebagai warisan keluarga. Dengan mempelajari buku kitab medis surgawi dan di topang dengan jantung meteorid, kekuatan medis dan tingkat beladiriNya melampaui imajinasinya. Sehingga dia bisa merubah nasibNya menjadi dokter medis hebat dengan keahlian pertarungan yg tak terkalahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Pria Tak Tahu Malu
“Aduh, gadis manisku, kenapa menangis?”
Kevin menepuk punggung Amanda dengan lembut sambil berkata,
“Sudahlah. Semua hal yang tidak menyenangkan sudah berlalu.”
“Aku adalah masa depanmu sekarang.”
“Masih ada kehidupan yang indah menunggu di depan.”
“Kamu harus bahagia.”
“Ayo, tersenyumlah untukku.”
“Kamu benar-benar menganggapku anak kecil, ya!”
Amanda mengangkat kepalanya dan mengusap air matanya.
Dengan wajah sedikit malu, ia memukul dada Kevin dengan ringan.
Melihat pemandangan itu, Nagita diam-diam mengacungkan jempol kepada Kevin.
Luar biasa!
Untuk sesaat ia hampir percaya bahwa mereka benar-benar pasangan kekasih.
Akting mereka terlalu natural.
Bahkan aktor profesional mungkin tidak akan mampu menampilkan adegan sehalus itu.
Mereka benar-benar berbakat.
Sementara itu, Ardi hampir meledak karena marah.
Amanda adalah pacarnya.
Bagaimana bisa dalam sekejap mata wanita itu menjadi milik pria lain?
Tiba-tiba pria asing berjanggut itu menendang Ardi.
“Kau penipu!”
“Aku ikut denganmu untuk mengambil uang!”
“Itulah sebabnya aku bekerja sama denganmu!”
“Tapi ternyata kau berbohong kepadaku!”
Pria asing itu terus memukul dan menendang Ardi.
“Saudara, jangan marah!”
Ardi buru-buru menjelaskan.
“Dia benar-benar mantan pacarku!”
“Hanya saja aku sudah lama tidak menghubunginya!”
“Dia pasti masih punya uang!”
“Dia bisa membayar lima miliar itu!”
Mendengar penjelasan tersebut, pria asing berjanggut memandang Amanda dengan senyum cabul.
“Kau tidak menghargai wanita secantik ini?”
Ardi tersenyum sinis.
“Kenapa aku harus menghargainya?”
“Dia sekarang sudah bersama pria lain.”
“Dia bukan pacarku lagi.”
“Kalau kalian menyukainya, silakan lakukan apa saja padanya.”
“Waktu masih bersamaku, dia bahkan masih perawan.”
“Entah sekarang masih atau tidak.”
Nada suaranya dipenuhi kebencian.
Dalam pikirannya, Amanda telah mengkhianatinya.
Karena itu, ia ingin membalas dendam.
Benar-benar tidak tahu malu.
“Hahaha!”
Pria asing berjanggut tertawa keras.
“Aku suka sifatmu yang tidak tahu malu!”
“Kalau wanita secantik ini masih perawan, perjalanan kali ini benar-benar tidak sia-sia!”
Sambil berbicara, kedua pria asing itu mulai melepaskan jaket mereka.
Tatapan mereka dipenuhi niat buruk saat berjalan mendekati Amanda dan Nagita.
“Ardi....!”
Amanda sangat marah.
“Aku tidak menyangka kau seperti ini!”
“Aku benar-benar buta dulu karena jatuh cinta padamu!”
Kini semua topeng kepura-puraan telah terlepas.
Ardi tidak lagi merasa perlu berpura-pura.
Dengan senyum sinis, ia berkata,
“Amanda, jangan terlalu menganggap dirimu penting.”
“Sebelum aku pergi ke luar negeri, kita sudah berpacaran selama setahun.”
“Tapi kau selalu mencari alasan untuk menghindariku.”
“Kau bahkan tidak mau tidur denganku.”
“Menurutmu aku bodoh?”
“Diam!”
Tubuh Amanda gemetar karena marah.
Matanya dipenuhi rasa sedih dan kecewa.
“Ardi, kau benar-benar keterlaluan!”
“Apakah kau masih punya hati nurani?”
“Tidakkah kau tahu berapa banyak yang telah kukorbankan untukmu?”
“Apakah menurutmu cinta hanya soal tidur bersama?”
Ardi menunjuk Amanda dan mencibir.
“Dasar wanita murahan!”
“Kau selalu mencari alasan untuk menolakku.”
“Lihat sekarang!”
“Kau sudah bersama pria ini.”
“Kalian terlihat begitu mesra.”
“Pasti kalian sudah tidur bersama berkali-kali.”
“Padahal dia terlihat miskin dan menyedihkan!”
Ardi sangat iri kepada Kevin.
Dari pakaian yang dikenakan Kevin, ia bisa melihat bahwa pemuda itu tidak punya uang.
Namun justru pria seperti itu yang mendapatkan Amanda.
Bagaimana mungkin ia tidak marah?
Selama ini ia selalu ingin memiliki Amanda sepenuhnya.
Tetapi sekarang, dalam pikirannya, Kevin telah lebih dulu mendapatkannya.
“Cari mati!”
Tatapan Kevin tiba-tiba berubah dingin.
Kemarahan melintas di matanya.
Krek!
Sepasang sumpit di tangannya langsung patah menjadi dua.
Detik berikutnya, ujung sumpit itu melesat seperti anak panah.
Swish!
“Aaaah!”
Jeritan menyakitkan terdengar.
Ujung sumpit tersebut menghantam telapak tangan Ardi yang sedang menunjuk ke arah Amanda.
Rasa sakit yang luar biasa membuat wajah Ardi langsung memucat.
Ia memandang Kevin dengan ketakutan, seolah ia melihat hantu.
Kevin tidak peduli jika Ardi menghina dirinya.
Namun ia tidak akan membiarkan siapa pun menghina Amanda.
Melihat kejadian itu, kedua pria asing tersebut langsung gemetar.
Mereka buru-buru mundur beberapa langkah.
Kaki mereka terasa lemas.
Kevin duduk dengan tenang, tetapi aura dingin yang memancar dari tubuhnya membuat mereka ketakutan.
Tatapannya menyapu ketiga orang itu.
“Sebelum aku benar-benar marah…”
“Kalian berdua lebih baik menyeret sampah itu keluar dari sini.”
“Kalau tidak, jangan berharap bisa keluar hidup-hidup hari ini.”
Suasana ruangan langsung membeku.
Kedua pria asing itu saling berpandangan.
Dalam benak mereka muncul dua kata yang sama.
Praktisi Bela Diri!
Hanya praktisi bela diri sejati yang memiliki kemampuan seperti itu.
Menggunakan sumpit untuk melukai seseorang dari jarak jauh?
Mereka sama sekali bukan lawannya.
Tanpa berani membantah, mereka segera menarik Ardi yang masih ketakutan.
Namun ketika hendak keluar, suara Kevin kembali terdengar.
“Tunggu.”
Ketiganya langsung membeku.
Tubuh mereka gemetar tanpa sadar.
“Kalian belum membayar makanan ini.”
Mendengar itu, kedua pria asing buru-buru mengeluarkan semua uang tunai yang tersisa di saku mereka.
Dengan tangan gemetar mereka menyerahkannya kepada Kevin.
“Kami hanya punya sekitar enam juta.”
“Kami tidak tahu apakah cukup…”
kata pria berjanggut dengan hati-hati.
Kevin melirik uang tersebut.
“Cukup.”
“Sekarang keluar.”
“Dan tutup pintunya untukku.”
Begitu mendengar izin itu, ketiga orang tersebut langsung kabur seperti mendapatkan pengampunan.
Tak seorang pun berani tinggal lebih lama.
Mereka takut Kevin tiba-tiba berubah pikiran.
Setelah Ardi dan kedua pria asing itu pergi, ruangan akhirnya kembali tenang.
Nagita menatap Kevin dengan mata berbinar.
Ia merasa Kevin semakin misterius dan menarik.
Pria itu kuat.
Tenang.
Dan selalu mampu menyelesaikan masalah.
Satu-satunya kekurangan...
Menurutnya, Kevin tidak terlalu tampan.
Kalau saja dia lebih tampan sedikit, mungkin aku sudah menyukainya...
pikir Nagita diam-diam.
Tentu saja, jika Kevin mengetahui isi pikirannya, ia mungkin akan langsung menjitak atau menepuk pantat gadis itu.
Berani-beraninya mengatakan dirinya tidak tampan!
Jelas-jelas standar Nagita yang bermasalah.
Sementara itu, suasana hati Amanda sangat rumit.
Ia merasa sedih sekaligus lega.
Selama tiga tahun terakhir, ia selalu menantikan pertemuan kembali dengan Ardi.
Namun ia tidak pernah menyangka bahwa semua penantiannya selama ini ternyata hanya sebuah lelucon.
Pria yang begitu ia cintai ternyata hanyalah seorang pengecut yang tidak tahu malu.
Memikirkan hal itu membuat hatinya terasa pahit.
Melihat ekspresi murung Amanda, Kevin perlahan merangkul bahunya.
Ia mengambil tisu dan dengan hati-hati menghapus sisa air mata di wajahnya.
“Kak Amanda.”
“Kamu tidak perlu sedih.”
“Justru kamu harus bersyukur karena akhirnya bisa melihat wajah asli Ardi.”
“Selain itu, masih banyak pria baik di dunia ini.”
“Pria tidak tahu malu seperti dia sama sekali tidak layak membuatmu menangis.”
udah berapa bab nih jari gak lepas2? 😇🤭