NovelToon NovelToon
VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:763
Nilai: 5
Nama Author: SilentNovels

Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Belas Nama yang Ingin Kujaga

Malam sebelum keberangkatan selalu terasa berbeda dari malam-malam biasa di markas Jangkar Kelabu, bukan karena ada yang berubah secara nyata, tapi karena Arden selalu memperhatikannya lebih dari biasanya. Seolah dengan memperhatikan lebih lama, ia bisa menyimpan sesuatu dari malam itu untuk dibawa ke mana pun mereka pergi esok.

Hujan sudah benar-benar reda sejak siang, menyisakan langit yang bersih dan dingin, ditaburi bintang yang jarang terlihat sejelas ini di atas Aldenmere. Dari halaman belakang markas, suara logam beradu terdengar berirama, ayunan pedang, jeda, ayunan lagi.

Arden menemukan Petra masih di sana, seperti dugaannya. Kali ini bukan sekadar berlatih ayunan sendirian seperti dua malam lalu. Petra sedang bertukar serangan lambat dengan Halden, gerakan mereka lebih menyerupai tarian daripada pertarungan sungguhan, Halden membimbing, mengoreksi posisi kaki Petra dengan ujung pedangnya sendiri, suaranya rendah dan sabar seperti biasa.

"Bahu, bukan pergelangan tangan," kata Halden. "Kalau kau mengandalkan pergelangan tangan untuk tenaga, kau akan kelelahan sebelum lawanmu."

"Aku tahu," gerutu Petra, meski memperbaiki posisinya.

"Kalau kau tahu, kenapa masih salah?"

Petra membuka mulut untuk membalas, tapi melihat Arden berdiri di ambang pintu, ia justru menurunkan pedangnya. "Kapten. Aku pikir kau sudah tidur."

"Belum. Aku suka berkeliling malam sebelum kita berangkat." Arden melangkah masuk, menyandarkan diri ke tiang kayu di dekat rak senjata latihan. "Jangan berhenti karena aku."

Halden mengangguk sekali padanya, sapaan singkat khas seorang veteran yang tidak pernah membuang kata lebih dari yang perlu, lalu melangkah mundur, memberi ruang untuk Petra melanjutkan latihannya sendiri, mengulang gerakan yang baru saja dikoreksinya.

Arden mengawasi dalam diam sesaat, memperhatikan bagaimana Petra mencoba keras untuk tidak terlihat berusaha keras, dagunya terangkat sedikit terlalu tinggi, seolah menantang siapa pun yang menilainya kurang.

"Kau gugup," kata Arden akhirnya, bukan pertanyaan.

Petra berhenti, menyeka keringat dari dahinya dengan lengan baju. "Aku tidak gugup. Ini cuma lantai menengah. Kita sudah pernah ke tempat yang lebih sulit."

"Aku tidak bilang kau takut. Aku bilang kau gugup. Ada bedanya."

Petra menatapnya sejenak, lalu menghela napas, duduk di bangku kayu dekat dinding, pedang latihan disandarkan di sebelahnya. "Baiklah. Mungkin aku sedikit... ingin membuktikan sesuatu. Setelah Kaldreth, setelah kau bilang tidak—"

"Aku tidak menolak Kaldreth karena aku meragukanmu."

"Aku tahu itu juga." Petra menunduk, memainkan ujung lengan bajunya. "Tapi rasanya seperti... setiap kali ada kesempatan untuk menunjukkan bahwa kita lebih dari sekadar kelompok kecil-kecil aman, kau selalu menariknya kembali. Dan aku mengerti kenapa. Aku benar-benar mengerti. Tapi kadang aku bertanya-tanya, kalau kita terus begini, apa aku akan pernah punya kesempatan untuk membuktikan diri sebelum aku terlalu tua untuk itu."

Ada kejujuran mentah dalam kata-kata itu yang membuat Arden diam sesaat, memilih kata-katanya dengan hati-hati.

"Petra," katanya akhirnya, "kau pikir kekuatan seseorang diukur dari seberapa besar lawan yang mereka kalahkan, atau seberapa besar nama yang mereka bawa pulang."

"Bukankah memang begitu?"

"Tidak selalu." Arden duduk di bangku seberangnya, sikunya bersandar di lutut. "Aku sudah melihat orang-orang kuat, Petra. Orang-orang yang namanya diucapkan dengan penuh kekaguman di seluruh benua. Sebagian dari mereka layak mendapatkannya. Sebagian lagi..." ia berhenti sejenak, memilih kata-katanya. "Sebagian lagi membayar nama besar itu dengan hal-hal yang tidak pernah bisa mereka dapatkan kembali."

"Seperti apa?"

Arden tidak menjawab langsung. Matanya sekilas terarah ke bawah, ke dada, tempat rantai tipis tersembunyi di balik bajunya, gerakan yang begitu cepat hingga hampir tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat Petra mengernyit sedikit, seolah menyadari sesuatu tanpa benar-benar tahu apa itu.

"Aku hanya percaya," lanjut Arden, mengalihkan pandangannya kembali ke Petra, "lebih baik cukup dan hidup, daripada hebat dan mati. Bukan karena aku tidak menghargai kehebatan. Tapi karena aku sudah melihat harganya, dan aku tidak ingin kau atau siapa pun di kelompok ini membayar harga itu hanya demi nama yang diucapkan orang lain."

Petra terdiam lama, menatap tangannya sendiri. "Itu terdengar seperti kebijaksanaan yang datang dari sesuatu yang menyakitkan."

"Mungkin," kata Arden, berdiri kembali, "suatu hari nanti aku akan bercerita semuanya. Tapi malam ini, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku melihat kesungguhanmu, Petra. Aku tidak pernah meragukannya. Aku hanya tidak ingin kesungguhan itu membawamu ke tempat yang tidak bisa kau kembali darinya."

Petra mengangguk pelan, sesuatu di matanya melunak. "Baik, Kapten."

"Sekarang istirahatlah untuk sungguhan kali ini. Aku serius."

"Kau selalu serius."

"Salah satu dari kita harus."

Petra tertawa kecil, pertama kalinya malam itu terdengar tulus, dan akhirnya berdiri, membawa pedang latihannya kembali ke rak.

Arden menemukan Brann berikutnya di ruang kerjanya sendiri, sebuah sudut markas yang penuh dengan botol-botol kaca berbagai ukuran, sebagian berisi cairan berwarna aneh, sebagian kosong dan menunggu untuk diisi, rak-rak dipenuhi buku catatan yang sudah lecek di ujung-ujungnya karena terlalu sering dibuka dan ditutup.

Brann sedang duduk di kursinya dengan kepala tertunduk ke meja, salah satu tangannya masih memegang sendok pengaduk kecil, sementara di depannya sebuah wadah kaca mengeluarkan asap tipis berwarna kehijauan yang berbau seperti telur busuk bercampur mint.

"Kau baik-baik saja?" tanya Arden, sedikit was-was mendekat.

"Aku gagal lagi," gumam Brann tanpa mengangkat kepala. "Formula kedelapan. Aku pikir aku sudah menemukan keseimbangan yang tepat kali ini, tapi hasilnya justru lebih buruk dari formula keenam."

"Yang meledak di wajahmu?"

"Yang itu setidaknya meledak dengan terhormat." Brann akhirnya mengangkat kepala, matanya merah karena kurang tidur, tapi masih menyala dengan semangat khasnya yang tak pernah benar-benar padam. "Ini hanya... berbau busuk dan tidak melakukan apa-apa. Setidaknya ledakan memberitahuku aku sedang melakukan sesuatu yang salah dengan cara yang menarik."

Arden tidak bisa menahan senyum kecil. "Kenapa kau begitu ingin menyelesaikan ramuan api anti-air ini sekarang, dari semua waktu?"

Brann meletakkan sendoknya, menyandarkan diri ke kursi. "Karena kita akan berada di dalam Menara besok, Arden. Lantai menengah, tapi tetap saja, dunia saku, aturan aneh, cuaca yang tidak selalu masuk akal. Kalau kita terjebak dalam hujan yang tidak seharusnya ada di dalam sebuah lantai batu, aku ingin kita punya cara untuk tetap menyalakan api." Ia menghela napas panjang. "Tapi sepertinya aku harus puas dengan formula lama untuk sekarang."

"Formula lama sudah cukup baik selama ini."

"'Cukup baik' bukan standar yang memuaskan bagi seorang alkimis, Kapten." Brann mengetuk mejanya dengan jari. "Tapi kau benar. Aku akan membawa yang lama. Dan mungkin," tambahnya, sedikit lebih pelan, hampir malu, "aku hanya perlu istirahat sebelum otakku bisa memikirkan sesuatu yang benar-benar baru."

"Itu ide bagus," kata Arden. "Ramuan yang gagal tidak akan menjadi lebih baik karena kau memaksanya jam sepuluh malam sebelum misi."

Brann tertawa, suara lelah tapi tulus. "Baiklah, baiklah. Aku akan tidur. Tapi kalau besok aku menemukan sesuatu yang brilian dalam mimpi, aku akan membangunkanmu untuk memberitahumu."

"Aku menantikannya," kata Arden, meski nada suaranya menunjukkan sebaliknya, cukup untuk membuat Brann tertawa lagi saat Arden melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan asap kehijauan yang perlahan mulai memudar.

Kapel kecil di sudut markas hampir tidak pernah ramai, dan itulah yang membuatnya terasa seperti tempat yang benar-benar berbeda dari sisa markas, dinding batunya lebih dingin, cahaya lilinnya lebih redup dan lebih stabil, dan suara-suara dari ruangan lain nyaris tidak terdengar sama sekali begitu pintu kayunya tertutup.

Sister Yuna Solvain duduk di bangku kecil di depan altar sederhana, bukan altar dewa tertentu, hanya sebuah meja batu dengan ukiran spiral halus dan beberapa lilin yang menyala pelan, tradisi yang lebih personal daripada institusional, sesuatu yang ia bangun sendiri sejak bergabung dengan Jangkar Kelabu bertahun-tahun lalu.

Ia tidak menoleh ketika Arden masuk, tapi bahunya sedikit rileks, tanda bahwa ia sudah tahu siapa yang datang tanpa perlu melihat.

"Kau selalu datang malam sebelum kita berangkat," kata Yuna, suaranya lembut, hampir seperti bisikan meski ruangan itu kosong selain mereka berdua.

"Kau selalu di sini malam sebelum kita berangkat," balas Arden, duduk di bangku sebelahnya, cukup jauh untuk memberi ruang, cukup dekat untuk terasa seperti kebersamaan.

Mereka duduk diam sejenak, memandang nyala lilin yang bergoyang pelan meski tidak ada angin.

"Kau tidak pernah bertanya apa yang aku doakan," kata Yuna akhirnya.

"Aku pikir itu bukan urusanku untuk bertanya."

"Kau bisa bertanya. Aku tidak keberatan menjawab." Yuna tersenyum tipis, matanya masih tertuju pada lilin. "Aku mendoakan mereka semua. Setiap malam sebelum kita berangkat. Dua belas nama, satu per satu, meski aku tidak menyebutnya keras-keras."

"Termasuk aku?"

"Terutama kau." Yuna akhirnya menoleh padanya, ekspresinya tenang tapi tajam dengan caranya sendiri. "Kau membawa beban dua belas orang di pundakmu setiap kali kita melangkah keluar dari markas ini, Arden. Aku pikir kau butuh doa lebih dari siapa pun, meski kau tidak akan pernah mengakuinya."

Arden tidak menjawab segera. Ia menatap lilin-lilin itu, cahayanya yang kecil namun stabil, memantul lembut di batu dingin dinding kapel.

"Kau tahu kenapa aku begitu berhati-hati, Yuna?"

"Aku punya dugaan. Tapi aku tidak akan memaksamu mengatakannya kalau kau belum siap."

"Bukan karena aku takut mati," kata Arden pelan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Yuna. "Aku sudah berdamai dengan itu sejak lama. Aku takut... membawa orang lain ke tempat yang tidak bisa mereka kembali darinya. Aku sudah pernah melakukannya sekali. Aku tidak berniat melakukannya lagi."

Yuna tidak bertanya lebih jauh, tidak mendorong, hanya mengangguk pelan, membiarkan kata-kata itu mengambang di udara tanpa perlu dijawab atau dijelaskan.

"Itu sebabnya," lanjut Arden, suaranya lebih ringan sekarang, seolah mengeluarkan sedikit beban hanya dengan mengucapkannya, "aku lebih memilih cukup dan hidup, daripada hebat dan mati. Bukan karena aku tidak percaya pada kalian semua. Justru karena aku terlalu percaya."

"Itu bukan kelemahan, Arden," kata Yuna lembut. "Kebanyakan orang mengira kehati-hatian adalah tanda ketakutan. Tapi aku sudah melihat cukup banyak orang yang gegabah demi keberanian palsu, dan aku sudah melihat cukup banyak dari mereka yang tidak pernah pulang. Kehati-hatianmu sudah menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada yang mungkin kau sadari."

Arden menghela napas panjang, sesuatu di dadanya terasa sedikit lebih ringan. "Terima kasih, Yuna."

"Untuk apa?"

"Untuk mendengarkan tanpa memaksa aku menjelaskan semuanya."

Yuna tersenyum, kali ini lebih lebar, hangat di bawah cahaya lilin. "Itu tugasku. Salah satunya, setidaknya." Ia berdiri, menyentuh bahunya sekali dengan lembut sebelum melangkah menuju pintu. "Tidurlah, Arden. Menara akan tetap di sana besok pagi, seperti biasa."

Arden mengangguk, tapi tidak segera berdiri. Ia duduk sendirian beberapa saat lebih lama di kapel kecil itu, menatap nyala lilin yang masih bergoyang pelan tanpa angin, pikirannya melayang entah ke mana sebelum akhirnya ia juga bangkit dan meninggalkan ruangan itu, membiarkan lilin-lilin menyala sendirian dalam kesunyian.

Ilena sudah menunggu di ruang utama ketika Arden akhirnya turun sepenuhnya, membawa selembar kertas ringkas di tangannya, laporan pemindaian yang selalu ia lakukan malam sebelum misi, kebiasaan yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari persiapan kelompok mereka, serutin memeriksa perbekalan atau mengasah senjata.

"Hasil pemindaian malam ini," kata Ilena, tanpa basa-basi, menyerahkan kertas itu. "Semua orang dalam kondisi baik. Kapasitas Anima seluruh anggota berada dalam rentang normal, tidak ada tanda kelelahan berlebih atau ketidakseimbangan yang perlu dikhawatirkan sebelum kita berangkat."

Arden membaca sekilas, angka-angka dan catatan singkat untuk masing-masing anggota, rutinitas yang sudah ia hafal formatnya luar kepala setelah bertahun-tahun. "Bagus. Seperti biasa, kau selalu teliti."

"Itu pekerjaanku." Ilena berhenti sejenak, menatapnya dengan ekspresi yang sedikit lebih hati-hati dari biasanya. "Soal prismaku semalam—"

"Sudah kau perbaiki?"

"Sudah kukalibrasi ulang. Tidak menunjukkan masalah lagi sejak itu." Ilena mengangkat bahu, meski ada sesuatu di suaranya yang tidak sepenuhnya yakin. "Mungkin memang cuma gangguan kecil."

"Kalau kau bilang begitu, aku percaya."

"Aku tidak bilang aku sepenuhnya yakin," koreksi Ilena, lebih jujur dari yang biasa ia tunjukkan. "Aku bilang tidak menunjukkan masalah lagi. Ada bedanya."

Arden menatapnya sejenak, mengenali kehati-hatian dalam kata-kata itu, sesuatu yang sangat khas Ilena, selalu tepat memilih kata agar tidak pernah mengatakan lebih dari yang benar-benar ia ketahui. "Beri tahu aku kalau itu terjadi lagi."

"Akan kulakukan." Ilena mengangguk sekali, lalu melipat kertas laporannya sendiri dan menyelipkannya ke dalam tas kerja miliknya. "Kita berangkat besok pagi. Istirahatlah yang cukup, Arden. Kau selalu yang terakhir tidur dan pertama bangun."

"Seseorang harus melakukannya."

"Seseorang tidak harus selalu itu kau." Ilena tersenyum kecil, hampir menggoda, sebelum berbalik menuju tangga menuju kamarnya sendiri.

Arden akhirnya sendirian di ruang utama yang mulai gelap, hanya diterangi bara terakhir dari perapian yang perlahan meredup. Ia duduk sejenak di kursi dekat perapian itu, kelelahan hari yang panjang mulai terasa di bahunya, dan tanpa benar-benar berpikir, tangannya bergerak ke leher, menarik rantai tipis dari balik bajunya.

Liontin perak kecil itu berkilau lemah di bawah cahaya bara yang hampir padam. Ia menggenggamnya dalam diam, ibu jarinya menelusuri ukiran yang sudah nyaris hilang karena bertahun-tahun disentuh, kebiasaan yang lebih untuk menenangkan diri daripada untuk mengingat sesuatu yang sudah selalu ada di pikirannya.

"Kau tahu," suara Ilsa muncul tiba-tiba dari arah tangga, cukup pelan hingga membuat Arden nyaris tersentak, "kalau kau terus menggenggam itu setiap malam sebelum misi, suatu hari aku benar-benar akan bertanya apa isinya."

Arden buru-buru menyembunyikan liontin itu kembali ke balik bajunya, gerakannya sedikit terlalu cepat, terlalu canggung untuk seseorang yang biasanya begitu terkendali. "Aku pikir kau sudah tidur."

"Aku pikir kau sudah berhenti berpura-pura tidak melakukan itu saat aku di dekatmu." Ilsa berjalan mendekat, duduk di lengan kursi seberangnya, matanya menatapnya dengan campuran geli dan sesuatu yang lebih lembut. "Apa itu, Arden? Sungguh. Bukan untuk menggodamu kali ini. Aku benar-benar penasaran."

"Ilsa—"

"Kau tidak harus menjawab," potongnya cepat, mengangkat tangan sebelum Arden bisa melanjutkan penolakannya yang biasa. "Aku hanya... aku sudah melihatmu melakukan itu bertahun-tahun, dan aku tidak pernah benar-benar bertanya langsung. Mungkin sekarang aku hanya ingin tahu apakah kau baik-baik saja. Bukan apa itu. Kau."

Ada sesuatu dalam cara Ilsa mengatakannya, lebih pelan, lebih tulus dari biasanya, tanpa nada sarkastis yang biasa melindunginya, yang membuat Arden terdiam lebih lama dari yang seharusnya. Untuk sesaat, mulutnya terbuka, seolah kata-kata sudah siap keluar setelah bertahun-tahun tertahan.

Lalu ia menutupnya lagi.

"Aku baik-baik saja," katanya akhirnya, suaranya lebih hati-hati dari yang ia inginkan. "Ini hanya... sesuatu yang kubawa. Untuk mengingatkanku pada seseorang."

"Seseorang yang penting."

"Sangat penting."

Ilsa menunggu, jelas berharap ada lebih banyak lagi yang menyusul. Tapi Arden hanya berdiri, meregangkan bahunya, mencoba membuat gerakan itu terlihat sewajar mungkin meski jantungnya masih berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Kita berangkat pagi-pagi sekali besok," katanya, mengalihkan pembicaraan dengan cara yang bahkan ia sendiri tahu terlalu jelas. "Sebaiknya kau tidur, Ilsa."

Ilsa menatapnya lama, cukup lama untuk membuat Arden hampir menyerah dan mengatakan lebih banyak, tapi akhirnya ia hanya mengangguk, turun dari lengan kursi. "Baiklah. Untuk sekarang." Ia melangkah menuju tangga, lalu berhenti di anak tangga pertama, menoleh sekali lagi. "Tapi jangan pikir aku akan berhenti bertanya selamanya, Arden Voss. Suatu hari, kau akan cerita. Aku bisa menunggu."

Ia menghilang menaiki tangga, meninggalkan Arden sendirian di ruang utama yang kini hanya diterangi bara terakhir perapian.

Arden berdiri diam sejenak, tangannya kembali secara refleks ke dada, merasakan bentuk liontin di balik bajunya tanpa mengeluarkannya kali ini. Di luar jendela, malam sudah semakin larut, bintang-bintang masih bertahan jelas di langit yang dingin, dan jauh di ujung barat kota, Menara Verlanth berdiri diam seperti biasa, meski kali ini, entah kenapa, Arden tidak bisa sepenuhnya meyakinkan dirinya bahwa itu benar-benar diam.

Ia naik ke kamarnya tak lama kemudian, tapi tidur datang lambat malam itu, pikirannya berputar antara wajah Petra yang gelisah, tawa lelah Brann, ketenangan Yuna di kapel kecil, dan pertanyaan Ilsa yang masih menggantung di udara, belum terjawab, mungkin untuk waktu yang masih sangat lama.

Esok pagi, mereka akan berangkat menuju Menara Verlanth.

Dan entah kenapa, malam itu, Arden tidur dengan tangan masih menggenggam rantai tipis di lehernya, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

1
San Sensei
semangat ya kak 👍
SilentNovels: makasih ya
total 1 replies
the virtuso
saling support thor 👍
SilentNovels: siap Abang thor kuh
total 1 replies
Fleuriaa
walaupun karya novel nya cuma ada satu, tapi alur ceritanya berkualitas dan novel nya punya potensi asalkan konsisten
SilentNovels: wah, makasih banyak ya kak
total 1 replies
@.me.⭐🌟
oooh jadi ini yang di baca oleh @ .ar. world hmm cukup menarik juga tapi jangan terlalu kebanyakan tulisan katanya nantinya pembaca bisa kewalahan tapi gpp cerita mu sudah cukup bagus
SilentNovels: Makasih banyak masukannya 😄 Untuk chapter-chapter berikutnya bakal aku usahakan konsisten di 1.500–2.000 kata, biar tetap nyaman dibaca dan nggak bikin kewalahan. Senang juga kalau sejauh ini ceritanya cukup menarik buat kamu. Makasih sudah baca dan kasih pendapat!
total 1 replies
#@.Ar.world(。・ω・。)
cerita nya bagus 👍 aku suka dan udah aku kasih like
SilentNovels: wah, ngk pp deh makasih ya
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!