NovelToon NovelToon
Aku Pamit

Aku Pamit

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Arman itu sekarang makin tidak perhatian sama Ibu," tulis pesan dari Ibu Lestari dalam tangkapan layar tersebut. "Setiap bulan uang belanja selalu berkurang. Pasti uangnya dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas. Beda sekali sama Yoga. Tapi Yoga juga sama saja, makin ke sini makin tunduk sama Isma. Apa-apa selalu Isma yang didahulukan, sampai-sampai ibunya sendiri sering dilupakan."

​Pesan berikutnya memperlihatkan balasan dari Aini yang terkesan memprovokasi, "Sabar ya, Bu. Aini sama Mas Arman selalu usahakan yang terbaik buat Ibu. Kalau Mas Yoga mungkin repot karena harus mengurus Kak Isma juga."

​Dan balasan terakhir dari Ibu Lestari membuat napas Isma tertahan: "Repot bagaimana? Anak saja belum punya sampai sekarang. Sudah lima tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda. Ibu ini makin tua, ingin menimang cucu dari anak sulung. Tapi kalau rahimnya memang mandul, mau bagaimana lagi. Kasihan Yoga, hidupnya habis cuma buat membiayai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TOPENG YANG TERLEPAS

​Minggu demi minggu berlalu tanpa suara pertengkaran yang meledak, namun atmosfer di dalam rumah terasa kian mencekik. Sikap Yoga kepada Isma berubah drastis—makin dingin, cuek, dan penuh jarak. Setiap kali pulang dari kantor mengendarai mobil mewah Isma, Yoga melengos begitu saja melintasi ruang tamu tanpa memandang, menyapa, apalagi menanyakan keberadaan istrinya.

​Di mata Yoga, Isma hanyalah mesin pencetak uang yang tak perlu lagi dirayu. Setelah berhasil menguasai dan membawa mobil baru itu ke mana-mana, ego Yoga melambung tinggi. Ia merasa posisinya di atas angin: menikmati fasilitas mewah hasil keringat Isma, sementara di luar sana ia dipuja-puja oleh Gladis sebagai pria kaya yang royal.

​Ibu Lestari dan Aini pun makin berani menunjukkan sikap memusuhi. Mereka menganggap diamnya Isma sebagai bentuk kekalahan dan ketakutan. Saat makan malam tiba, Isma sengaja dibiarkan makan sendirian, sementara mereka bertiga sibuk bersenda gurau membahas kenyamanan mobil baru tersebut.

​Namun, di balik wajah tenang dan kepatuhan diamnya, Isma sama sekali tidak sedang meratapi nasib.

​Di dalam kamar yang terkunci rapat, ponsel sekunder Isma terus bekerja tanpa henti. Berkas rekaman visual dan suara dari tiga kamera tersembunyi di dalam mobil telah menumpuk rapi. Puluhan klip video memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana Yoga dan Gladis bermesraan, memperbincangkan rencana liburan bersama, hingga rekaman percakapan di mana Yoga merendahkan Isma di depan selingkuhannya.

​Setiap tangkapan layar, bukti transfer, dan rekaman audio telah dikelompokkan berdasarkan tanggal dan jam kejadian, tersimpan aman di dalam cloud storage terenkripsi yang juga telah terhubung dengan tim hukum yang disiapkan Isma secara rahasia.

​Isma berdiri di depan jendela kamar, menatap mobil hitam mewahnya yang terparkir di halaman. Senyum dingin terkembang di bibirnya. Yoga berpikir sikap dinginnya bisa membuat Isma tertekan dan menyerah. Pria itu tidak tahu, bahwa setiap detik dingin yang ia berikan justru makin membulatkan tekad Isma untuk menghancurkannya tanpa sisa.

​Hari kepindahan ke rumah baru sudah makin dekat, dan berkas bukti perselingkuhan Isma sudah seratus persen sempurna. Saatnya menyusun langkah akhir untuk mengangkat koper dan melempar surat gugatan tepat ke muka suaminya.

​Malam beranjak larut saat Yoga mengetuk pintu kamar dengan ketukan perlahan yang tak biasa. Isma yang sedang duduk di meja rias merapikan beberapa lembar catatan kecil, menoleh tenang.

​Yoga melangkah masuk, tidak lagi membawa raut wajah angkuh seperti biasanya. Pria itu melempar tubuhnya ke atas ranjang, duduk bersila dengan ekspresi yang dibuat-buat serba salah dan penuh beban. Matanya menatap Isma dengan pandangan yang dicoba dibuat sesyahdu mungkin—sebuah akting murahan yang sangat Isma kenal.

​"Isma... sini sebentar. Ada hal penting yang harus aku bicarakan sama kamu," panggil Yoga dengan intonasi rendah dan berat.

​Isma menutup buku kecilnya, berdiri anggun, lalu melangkah menuju sisi ranjang. Ia tidak duduk di samping Yoga, melainkan berdiri tegap di tepi tempat tidur seraya melipat kedua tangannya di dada.

​"Ada apa, Mas?" tanya Isma datar, tanpa emosi sedikit pun.

​Yoga menarik napas panjang, memasang raut wajah penuh penyesalan yang palsu. Ia mendongak menatap Isma, mencoba menyusun kalimat manipulatif yang sudah ia latih di kepalanya.

​"Isma... aku ingin mengatakan sesuatu," ujar Yoga pelan, suaranya terdengar ragu namun tersirat desakan serakah. "Apa kamu ikhlas... kalau aku menikah lagi? Aku sangat ingin punya anak, Isma. Ibu juga sudah menagih cucu terus dari kita. Selama bertahun-tahun pernikahan kita, kamu belum juga bisa memberikan keturunan."

​Kata-kata itu meluncur dari mulut Yoga tanpa rasa malu sedikit pun. Pria itu menyalahkan keturunan yang belum hadir sebagai alibi sah untuk meresmikan hubungannya dengan Gladis—tanpa sadar bahwa selama ini Isma tahu betul siapa wanita di balik rencana poligami tersebut.

​Yoga menatap Isma, menunggu reaksi histris, tangisan, atau amukan dari istrinya.

​Namun, yang ia dapatkan justru di luar dugaan. Isma tidak menangis, tidak berteriak, dan tidak pula menunjukkan raut kecewa. Isma justru menatap suaminya lurus-lurus, lalu sebuah senyuman tipis—sangat tipis dan penuh sindiran dingin—terkembang di bibirnya.

​"Menikah lagi, Mas?" Isma mengulang kalimat itu dengan nada amat tenang, seolah-olah sedang mendengarkan penawaran barang belanjaan biasa. "Dengan siapa? Gladis?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!