Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Jalan-Jalan di Kota Surabaya
Malam ini, senyum di wajah cantik Aira tidak pernah surut. Bahkan saat perempuan itu tertidur di bahunya pun, senyum manis masih terukir indah.
Berbeda dengan sang istri, selama perjalanan di dalam pesawat, Azam justru tidak bisa memejamkan mata sama sekali.
Setibanya di Bandara Internasional Juanda, Azam membangunkan Aira dengan lembut. Mereka akhirnya tiba di Surabaya tepat pukul 22.30 malam.
Aira menggeliat lalu menguap lebar. Dengan sigap, Azam menutup bibir mungil istrinya itu menggunakan telapak tangan.
"Kita sudah sampai? Kok cepat banget," kata Aira kegirangan begitu nyawanya terkumpul penuh.
Azam tersenyum, lalu merapikan rambut panjang Aira yang sedikit berantakan. Dengan antusiasme yang meluap-luap, Aira langsung menarik tangan kanan Azam untuk segera keluar.
"Sebentar, Sayang. Aku telepon Deni dulu," kata Azam saat mereka sudah berdiri di area depan bandara.
"Aku mau jajan, Mas. Lapar," celetuk Aira manja, tepat saat Azam sedang tersambung dengan seseorang di telepon.
Azam menjauhkan ponselnya sejenak. "Kamu mau apa, Sayang? Nanti biar Deni yang belikan. Kita ke hotel dulu, ya, Deni sudah menjemput," katanya lembut.
Aira mengangguk pasrah. "Lagian ini sudah tengah malam. Ya sudah deh, Mas, aku enggak jadi jajan. Besok saja," kata Aira polos.
Azam mengangguk setuju. Tidak lama kemudian, sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti tepat di depan mereka.
"Silakan, Tuan, Nyonya," sapa sang sopir ramah sembari membukakan pintu.
***
Setibanya di kamar hotel, Azam langsung membersihkan diri di kamar mandi. Ia mengganti pakaiannya dengan baju tidur nyaman yang sudah disiapkan oleh Aira.
"Mas," panggil Aira lembut dari atas ranjang.
Azam menoleh. Senyum manisnya langsung terukir begitu indah saat melihat penampilan istrinya malam ini.
"Sayang, kamu ngapain?" tanya Azam dengan suara yang mendadak serak.
Dengan gerakan lembut, Aira bergerak mendekat lalu duduk di pangkuan Azam.
"Yakin enggak mau?" goda Aira berbisik lembut.
Azam menahan tangan halus istrinya yang mulai nakal menyentuh leher dan dada bidangnya. "Sudah pintar nakal ya, Istriku," bisik Azam balik.
Malam itu, di bawah temaram lampu kamar hotel, keduanya saling menunaikan hak dan kewajiban mereka sebagai pasangan suami istri yang sah.
***
Beberapa jam kemudian, Azam sudah tampak segar dan memegang ponselnya kembali.
"Siapkan tempat yang paling indah, romantis, sejuk, dan asri," perintah Azam kepada seseorang di seberang telepon.
"Baik, Pak. Secepatnya kami akan segera siapkan vila yang Bapak inginkan," jawab suara di telepon.
Azam langsung mematikan sambungan telepon tersebut. Ia melirik ke arah ranjang, tempat Aira masih tertidur pulas dengan mukena yang masih melekat di tubuhnya setelah salat Subuh.
*Tok! Tok!*
Suara ketukan pintu terdengar pelan. Dengan langkah cepat, Azam berjalan untuk membukanya.
"Selamat pagi, Bapak. Ini sarapan untuk kamar 105," ucap petugas hotel ramah.
Azam hanya mengangguk diam, lalu menerima dua nampan berisi makanan. Setelah meletakkannya di atas meja, Azam kembali mengunci pintu dari dalam.
Tanpa berniat membangunkan Aira, Azam menyeduh kopi hangat untuk dirinya sendiri. Dengan tinggi badan 187 cm dan tubuh tegap atletisnya, Azam memang selalu berhasil mencuri perhatian ke mana pun ia melangkah.
Aroma kopi hangat kesukaan Azam yang menguar di dalam kamar akhirnya membuat Aira terusik dari tidurnya.
"Kamu itu sudah punya suami, kenapa kebiasaan burukmu masih dibawa sampai kita menikah?"
Aira mengernyit bingung begitu membuka mata. Ia disambut oleh suara dingin dan datar dari suaminya.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Aira linglung.
Azam sekuat tenaga menahan diri untuk tidak tersenyum ataupun tertawa melihat wajah imut istrinya yang baru bangun tidur. Ia pura-pura sibuk menatap layar laptopnya.
"Makanlah sarapan kamu, setelah itu kita keluar," tegas Azam tanpa menoleh sedikit pun ke arah Aira.
Dengan cepat Aira melepas mukenanya, lalu menghampiri Azam yang duduk di kursi kerja.
"Sayang, kamu kenapa sih? Aku ada salah? Apa tidurku ngiler? Atau bagaimana? Kamu kenapa sih, Ayanggg?" rengek Aira sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Azam dari belakang.
"Aku..."
"Oke, kalau begitu aku pulang saja ke Jakarta! Enggak tahu kesalahanku di mana, dikacangin saja tanpa dijelaskan apa salahku!" potong Aira kesal.
Mata Azam seketika melotot panik. "Eh, Sayang, Sayang, maaf—"
"Aku enggak apa-apa, kamu jalan-jalan sendiri saja, aku mau pulang!" kata Aira dingin, meniru persis nada bicara Azam barusan.
Aira berbalik dan mulai mengeluarkan kopernya dari dalam lemari. Namun, tiba-tiba sebuah pelukan erat mendarat di pinggangnya dari belakang.
"Aduh Sayang, jangan marah dong. Iya, iya, aku yang salah," ucap Azam penuh penyesalan.
Niatnya ingin menakuti sang istri agar rencana kejutan yang disusunnya berjalan lancar, kini justru berbalik menjadi bumerang.
Aira cemberut lalu mengentakkan kakinya kesal. "Aku enggak mau tahu, pokoknya aku mau pulang, titik!" kata Aira keras kepala.
"Sayang..." Panggil Azam lembut.
Hening. Aira tidak menyahut.
"Sayang... Maafkan aku ya, Sayang," bujuk Azam lagi dengan wajah memelas.
Aira yang sedang mengambek hanya diam berdiri kaku di depan lemari. "Ada syaratnya tapi!" cetus Aira akhirnya.
"Apa, Sayang? Apa syaratnya? Kasih tahu, pasti aku turuti," sahut Azam cepat.
"Hari ini kamu harus temani aku 24 jam, oke? Kamu harus makan, minum, dan melakukan semuanya sesuai kemauan aku, dan kamu enggak boleh protes!" ancam Aira cepat.
Tanpa berpikir panjang, akhirnya Azam menyetujuinya. "Baiklah, Sayangku. Aku janji," kata Azam lembut.
Aira kembali cemberut, namun di dalam hatinya ia tertawa puas. *Jangan harap bisa galak sama aku, ya. Kamu pikir aku anak kecil yang bisanya cuma menangis?* batin Aira terbahak-bahak.
"Ya sudah, hari ini kita ke panti asuhan. Aku ingin berbagi di sana," kata Aira berpura-pura masih ketus.
"Iya, Sayang. Ya sudah, kamu ganti baju dulu—"
"Kok kamu sih yang atur!" omel Aira memotong ucapan Azam.
Ia langsung mengambil celana jins dan kaus kuning bergambar Momo dan Coco di bagian depannya.
"Hari ini kamu harus pakai baju yang biasa-biasa saja, enggak usah pakai jas, mengerti!" perintah Aira yang langsung dibalas anggukan pasrah oleh Azam.
"Oke, cepat ganti baju sana," usir Aira.
***
Setelah selesai bersiap, Azam menggandeng erat tangan mungil Aira. Keduanya keluar dari kamar dan berjalan menuju lobi hotel.
"Kita belanja dulu, belanja yang banyakkk!" kata Aira penuh antusias.
"Iya, Sayang," kata Azam pasrah.
Hari ini, meskipun hanya memakai kemeja lengan panjang berwarna hitam dan celana hitam senada, Azam tetap terlihat begitu tampan, berwibawa, dan gagah. Sedangkan Aira sengaja membiarkan rambut panjangnya tergerai indah.
Begitu sampai di pusat grosir, Aira langsung beraksi. "Mas, beli susu bayi 60 dus, popok bayi 30 boks, tisu 30 kardus, tisu basah 20 dus, biskuit bayi 100 kotak, bubur bayi 50 kotak, minyak telon ambil 10 kardus yang besar, bedak bayi..."
Azam mengambil semua barang yang disebutkan Aira dengan dibantu oleh beberapa karyawan toko.
"Lalu jajan yang banyak, beras lima kiloan 100 karung, telur habiskan stoknya! Oh ya, baju—"
"Sayang, ini kan swalayan untuk bahan pokok, enggak ada baju di sini," bisik Azam menyela.
Aira langsung memukul keningnya sendiri karena malu. "Astagfirullah, lupa, Mas," kata Aira menyengir kuda.
"Terus apa lagi, Sayang?" tanya Azam sabar.
"Minyak goreng yang dua liter 100 pouch, sabun mandi, sabun cuci baju, dan sabun cuci piring total 200 boks," lanjut Aira bersemangat.
Setelah menghabiskan beberapa jam untuk berbelanja, semua barang bawaan mereka akhirnya siap diangkut menggunakan dua mobil pick-up sekaligus.
"Alhamdulillah ya, Mas. Akhirnya kita bisa berbagi. Aku sudah enggak sabar banget ketemu sama anak-anak panti," ucap Aira heboh di dalam mobil.
"Iya, Sayang. Aku beruntung banget punya istri seperti kamu. Terima kasih, ya," kata Azam tulus seraya mengecup punggung tangan istrinya.
Aira mengangguk senang. "Aku juga beruntung banget punya suami seperti kamu," cengir Aira.
***
Setibanya di panti asuhan, Bu Nur selaku pemilik tempat tersebut langsung menyambut kedatangan mereka dengan sangat hangat.
"Assalamualaikum, Bu," salam Azam dan Aira kompak.
"Waalaikumsalam. Nak Aira ya, sama Nak Azam?" jawab Bu Nur ramah.
Azam dan Aira mengangguk serentak. "Iya, Bu."
Setelah berbincang singkat dan menyerahkan bantuan secara simbolis, Azam dan Aira diajak untuk melihat langsung anak-anak panti di ruang tengah.
Aira berjalan mendekati seorang anak perempuan berusia sekitar 11 tahun yang duduk menyendiri. "Halo Sayang, siapa nama kamu?" tanya Aira selembut mungkin.
"Aku Malika, Kak," jawab anak perempuan itu dengan suara teramat pelan.
"Dia itu anaknya pendiam, Nak Aira. Sejak kakaknya yang bernama Safira diadopsi orang dan dia ditinggal sendirian di sini, Malika jadi lebih banyak melamun," jelas Bu Nur yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
*Deg!* Jantung Aira berdegup kencang mendengarnya.
Tiba-tiba, Azam mendekatkan wajahnya ke telinga Aira. "Sayang, Safira chat. Dia bilang pernikahannya diundur tiga hari ke depan," bisik Azam mengejutkan.
"Safira?" gumam Aira lirih.
Seketika pikiran Aira langsung melayang pada sosok Safira yang dikenalnya di Jakarta. Apakah benar Malika ini adalah adik kandung dari Safira yang sama? Ataukah ini hanya sebuah kebetulan nama yang sama saja? Aira mendadak dilingkupi kebingungan yang besar.
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍