Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Tahu
Perusahaan Reinhard Group.
Erivo yang saat ini sedang bersiap untuk bertemu dengan kliennya terlihat sedikit buru-buru.
"Luca... ayo, kita hampir telat," ucap Erivo sambil berjalan keluar dari ruangan. Ia melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baik, Tuan," jawab Luca sambil sedikit berlari. Ia membawa berkas dan juga laptop milik tuannya itu.
Di dalam lift, Erivo menyandarkan punggungnya. Dahinya sedikit berkerut.
"Luca, apa hari ini kau mendapatkan kabar tentang Chloe?" tanya Erivo.
"Iya, Tuan. Katanya hari ini Nyonya ada di Restoran Marlow," jawab Luca.
Erivo menatap asistennya itu. "Lalu?"
"Saya tidak tahu, Tuan... Hanya itu saja yang dilaporkan anak buah," jawab Luca gugup.
TING
Pintu lift terbuka. Erivo langsung melangkah keluar, diikuti Luca.
"Hari ini kita akan meeting di restoran itu, kan?" tanya Erivo.
"Iya, Tuan," jawab Luca sambil membukakan pintu mobil untuk tuannya.
Erivo masuk ke dalam mobil. Lalu Luca menyusulnya dan duduk di kursi kemudi.
Mobil melaju membelah jalanan kota Geneva siang ini.
Sesampainya di Restoran Marlow, Erivo keluar dari mobil. Keningnya berkerut saat melihat mobil hitam dengan lambang ular kobra.
Luca menghampirinya sambil membawa laptop dan berkas. "Tuan, ayo masuk. Klien sudah menunggu."
Tapi Erivo tidak bergerak sedikit pun. Ia terus menatap mobil hitam itu dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. "Itu kan lambang keluarga Schwarz," ucap Erivo.
Luca juga melihat ke arah mobil itu. "Iya, Tuan... Sepertinya di dalam sana ada anggota keluarga Schwarz. Mungkin sedang bertemu dengan Klein," tebak Luca.
Erivo menghela napas cukup panjang. "Ayo," ucapnya sambil melangkah masuk ke dalam restoran itu, diikuti Luca di belakangnya.
"Tuan Klein menunggu di lantai dua, ruangan VVIP," ucap Luca lagi.
Erivo mengangguk. Ia berjalan menaiki tangga. Dan pada saat sudah berada di lantai dua, langkahnya terhenti saat melihat sosok wanita yang ia kenal.
"Elsa," gumam Erivo.
Ia melihat Elsa masuk ke dalam toilet wanita yang ada di lantai dua.
Luca melihat ke arah yang ditatap tuannya. "Tuan?"
Erivo tidak menjawab. Matanya menyipit. Mobil keluarga Schwarz ada di parkiran. Elsa ada di sini. Dan Chloe juga ada di tempat yang sama.
"Bagaimana bisa Elsa ada di Geneva?" tanya Erivo.
Erivo berjalan pelan ke arah toilet wanita. Berhenti tiga meter dari pintu. Ia bersandar di dinding menunggu.
"Tuan, klien sudah menunggu," ucap Luca lagi. Karena ia merasa tidak enak membuat klien menunggu lama. Apalagi ini pembahasan proyek besar.
"Diamlah," ucap Erivo.
KREK
Pintu toilet terbuka. Elsa keluar. Begitu melihat Erivo, wajahnya sedikit panik.
"K-kau," gagap Elsa. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Elsa.
Erivo menatapnya datar. "Justru aku yang bertanya kepadamu, Nona Racun. Apa yang kau lakukan di Geneva?"
DUG
Elsa kembali panik. Tapi ia dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya. "Aku... ada urusan."
Erivo menatap curiga. "Urusan? Atau sedang mengincar seseorang?"
Elsa tersenyum tipis. Ia melipat kedua tangan di depan dada. "Apapun itu... Saat ini kau tidak ada hak untuk mencampuri urusanku."
Erivo menyipitkan mata. "Benarkah?"
Ia melangkah maju selangkah. Aura dinginnya menekan. "Apa kau sedang bekerja untuk tetuamu? Dan apakah itu menyangkut balas dendam kematian Queen Daisy...? Jika apa yang aku katakan semuanya benar... Maka semua itu akan menjadi urusanku..."
Elsa membalas tatapan pria itu dengan tak kalah tajam. Di wajahnya tidak ada rasa takut sedikit pun. "Oh ya?"
DUG
"Dan sejak kapan Tuan Erivo peduli dengan kematian Queen Daisy? Bukankah dua tahun lalu Anda sendiri yang meninggalkannya? Tidak memperjuangkannya?" ejek Elsa pelan.
Erivo mengepalkan kedua tangannya.
Elsa kembali tersenyum. Ia berdiri di samping Erivo dan menepuk pelan pundak pria itu.
"Sakit ya, Tuan?" bisik Elsa. "Ditusuk dengan kata-kata sendiri."
DUG
Erivo menoleh. Matanya merah. Tapi juga... luka.
"Ya," desisnya. "Sakit."
Ia menepis tangan Elsa dari pundaknya. "Karena aku bodoh. Karena aku pengecut. Karena aku pikir dengan memutuskan hubungan dengannya... bisa membuat ibuku bahagia."
Elsa menatap Erivo lama. Lalu ia menghela napas. "Sepertinya Tuan sedang sibuk... Pergilah. Karena kembali membahas kebodohan Anda di masa lalu akan membuat Anda semakin menyesal."
Elsa tersenyum tipis. Lalu ia melangkah pergi dari sana. Ia tidak masuk lagi ke dalam ruangan di mana Chloe dan Maximilian berada. Karena jika ia masuk, maka identitas Chloe akan dipertanyakan oleh Erivo.
Erivo berdiri mematung di tempat. Tinjunya masih mengepal.
"Luca," ucapnya pelan.
"Siap, Tuan," jawab Luca yang dari tadi menunduk.
"Selidiki. Tujuan keberadaan Nona Elsa di kota ini."
"Baik, Tuan," Luca langsung mengeluarkan ponsel. Jarinya mengetik cepat.
Ia kenal siapa Elsa. Wanita itu sahabat Queen Daisy. Mantan kekasihnya yang sudah meninggal karena dibunuh dengan cara sangat tragis oleh Klan Mafia Kalajengking Merah.
Selain dikenal sangat berbahaya, wanita itu juga ahli dalam meracik racun mematikan. Kemampuan yang dimilikinya sama persis seperti kemampuan Queen Daisy.
Keberadaan Elsa di kota Geneva ini pasti ada tujuannya. Mengingat saat ini Klan Mafia Kalajengking Merah masih berpesta pora karena sudah berhasil membunuh Queen Daisy. Ratu mafia yang sangat ditakuti di dunia bawah.
---
Elsa melangkah keluar dari restoran sambil menekan earpiece yang menempel di telinganya.
"Kak, berhati-hatilah. Erivo ada di restoran ini. Jangan sampai melihat Anda dan Tetua," ucap Elsa.
Chloe yang memang masih berada di dalam ruangan bersama ayahnya, tubuhnya sedikit menegang saat mendengar suara Elsa lewat earpiece.
"Apa dia melihatmu?" tanya Chloe, suaranya berbisik.
"Ya, Kak... dan aku yakin setelah ini dia akan menyelidiki tujuan ku berada di kota ini," ucap Elsa lagi.
Chloe mengangguk pelan. "Pergilah. Tunggu aku di perusahaan."
"Baik, Kak."
Maximilian mengerutkan keningnya melihat ekspresi putrinya yang sedikit tegang.
"Ada apa, putriku?" tanyanya.
Chloe menghela napas panjang. "Erivo ada di restoran ini, Daddy... dan ia bertemu Elsa," jawab Chloe.
DUG
Maximilian tersenyum miring. "Pergilah, putriku... tapi ingat, kau harus hati-hati. Victor Reinhard itu sangat licik... dan Nyonya Eleanor tidak menyukai sosok Queen Daisy. Karena dia tidak ingin statusnya diinjak. Keluarga Schwarz berada jauh di atasnya."
Chloe mengangguk pelan. "Aku tahu, Daddy... Dan pernikahan ku dan Erivo itu tidak sepenuhnya sah. Ini berjalan hanya sementara. Saat urusanku di kota ini selesai, aku akan kembali ke Zurich dan membersihkan Kalajengking Merah."
"Bagus," Maximilian mengangguk pelan.
Hening beberapa detik.
Chloe berdiri dan merapikan jasnya. "Aku pergi dulu, Daddy."
Maximilian menatap putrinya. Matanya penuh bangga sekaligus khawatir. "Hati-hati, Nak. Dan satu lagi..."
"Apa, Daddy?"
"Jika suatu hari nanti Erivo mengetahui siapa dirimu dan dia memilihmu... maka jangan lepaskan dia," ucap Maximilian pelan. "Dia pernah kehilangan dirimu sekali karena paksaan dari ibunya. Dan di kehidupanmu yang ini, jangan buat dia kehilangan untuk kedua kalinya... Dia pria yang baik, Nak."
DUG
Chloe terdiam. Lalu mengangguk. "Aku mengerti."
Ia keluar dari ruangan. Tidak ada pengawal yang mengikutinya. Karena ia tahu saat ini anak buah Erivo sedang berpencar untuk mencari tahu tujuan Elsa berada di kota ini.
Dan jika anggota Black Kobra mengawalnya, maka identitasnya akan dipertanyakan. Sebelum urusannya di Geneva selesai, Chloe tidak ingin Erivo atau siapa pun tahu siapa dia sebenarnya.
---
Jangan lupa dukungannya guys 🙏 😊 🥰.
dtggu kelanjutan ny kak ,,
😊😊😊🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
dtggu kelanjutan ny yx kak
pensiun dr petinjuu jdi mafia dy skraaang ,,
🤭🤭🤭🤭😆😆
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 gembul amat kak ,, kasihan kak jgn di kasih nasi nnti ngantuk mereka ,, 😆😆😆😆
gpp kak ,,
dtggu kelanjutan ny ,,
penasaran sypa sebenarny MR. T ini ,,
Mr Tukiman?
Mr Tukul???
atau
Mr Tuyul???
krn dy kn gx pernah muncul Dan di sebut bayangan ,,
fix ni bukan org ,,
tp tuyul ,,
makany di panggil Mr.T ,,
🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂
Kali ni km bakal mati kalajengking tuaa ,,
semangat queen ,, mlm ini km pasti menang ,,
🤭🤭😂😂