NovelToon NovelToon
The Cure Was You

The Cure Was You

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta Terlarang
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

03| Sosok Rellunae Keller

"Biar saya saja."

Semua kepala sontak menoleh ke arahnya. Beberapa dokter langsung saling berpandangan. Bahkan Pak Noah pun menatap dokter muda itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Luna, kamu serius?" tanya salah satu dokter senior. "Kamu sudah baca rekam medisnya, kan?"

Luna mengangguk. "Sudah."

"Lalu kenapa kamu masih ingin menanganinya? Kamu tau sendiri kan kalau pasien itu berbahaya?"

Si dokter muda menghela napas panjang. "Bagaimana kita bisa menilai bahwa dia berbahaya padahal kita saja belum pernah bertemu dengannya?"

Ruang rapat kembali hening. Semua mata tertuju pada sosok gadis yang saat ini juga menatap sekelilingnya.

"Kita sebagai dokter jiwa tidak sepatutnya langsung menghakimi pasien. Tugas kita adalah mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan pertolongan. Mereka sudah terlalu sering dihakimi oleh dunia di luar sana. Jadi, jangan sampai kita menjadi bagian dari orang-orang yang terus menghakimi mereka."

Ucapan Luna membuat seluruh ruangan mendadak senyap. Bahkan beberapa dokter senior yang semula ingin menyela akhirnya mengurungkan niatnya. Mereka hanya saling bertukar pandang, seolah mencari sanggahan yang tepat. Namun tak satu pun berhasil menemukannya.

Pak Noah menghela napas panjang sebelum perlahan berdiri dari kursinya.

"Kata-katamu tidak salah, Rellunae," ujarnya tenang. "Tapi idealisme saja tidak selalu cukup untuk menghadapi pasien seperti Orion."

Luna menatap pria baruh baya itu tanpa gentar. Mungkin ucapan pak Noah ada benarnya, tapi entah mengapa Luna merasa tidak suka.

"Kamu masih muda, Rellunae. Masih banyak pasien yang bisa kamu tangani. Orion itu berbeda. Dia bukan pasien yang bisa disembuhkan hanya dengan empati," lanjut pak Novan sembari berjalan ke arah jendela.

"Kalau begitu..." Luna tersenyum tipis. "Bukankah itu alasan mengapa saya harus mencobanya?"

Alis beberapa dokter langsung terangkat secara bersamaan. "Selama ini semua orang hanya melihat kegagalan enam rumah sakit jiwa sebelumnya."

Jemari Luna mengetuk pelan map rekam medis dihadapannya. "Tapi saya justru melihat enam kesempatan yang bisa saya pelajari."

Ruangan kembali hening.

"Saya tidak tau apakah saya akan berhasil atau tidak." Tatapan Luna beralih kepada direktur rumah sakit. "Tapi saya tidak ingin menolaknya hanya karena orang lain pernah gagal."

Pak Noah terdiam. Matanya fokus memandang penampakan diluar jendela. Beberapa detik berlalu sebelum pria itu kembali berbicara. "Bagaimana kalau dia melukaimu?"

Pertanyaan itu membuat seluruh ruangan kembali tegang. Luna mengembuskan napas pelan. "Kalau saya takut terluka, mungkin sejak awal saya tidak akan memilih menjadi psikiater."

Tak ada satu pun yang menyela ucapan Luna. Gadis itu kemudian tersenyum kecil. "Profesi ini bukan hanya tentang menyembuhkan penyakit," lanjutnya. "Tapi juga tentang tetap hadir ketika semua orang memilih untuk pergi."

Direktur rumah sakit perlahan menganggukkan kepala. Sepertinya ia sudah kehabisan kata-kata untuk melawan dokter muda yang satu itu.

"Baik." Beliau membalikkan badan lalu melangkah menuju meja yang dipenuhi oleh orang-orang yang hadir dalam rapat. "Mulai hari ini, pasien Orion Grimm resmi berada dibawah penanganan dr. Rellunae Keller."

☆☆☆

Pintu ruang rapat terbuka. Para dokter mulai kembali ke ruangan masing-masing sambil membawa map berisi berkas pasien. Rellunae berjalan berdampingan dengan seorang wanita berambut sebahu.

"Luna, kamu yakin mau nangani pasien Orion?" tanya wanita itu sambil menyamakan langkahnya dengan langkah Luna.

"Bukankah sudah jelas?"

Maya menghentikan langkahnya sejenak. "Kamu yakin, Lun?"

Mau tak mau Luna ikut berhenti lalu menoleh ke arah sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.

"Jujur aja, aku agak khawatir. Rekam medisnya..." Maya menggigit bibir bawahnya. "Ngeri."

Luna tersenyum kecil mendengar ucapan sahabatnya. "Aku juga khawatir."

Maya mengernyit. Satu alisnya reflek naik. "Terus? Kalau khawatir kenapa mau ngambil tanggung jawab itu?"

Sang psikiater muda itu tidak langsung menjawab. Ia melihat sekeliling dan matanya tertuju pada seorang ibu yang tersenyum lebar seraya mengucap kata terimakasih kepada seorang psikiater di hadapannya.

"Karena rasa khawatir itu ngga boleh lebih besar dari keinginan kita buat nolong pasien."

Keadaan disekitar mereka menjadi hening sesaat. Luna kembali melangkah menyusuri koridor rumah sakit yang dipenuhi lalu lalang tenaga medis.

"Dan lagi..." Psikiater muda itu kembali berhenti dan menatap wajah sahabatnya. "Aku ngga mungkin bisa nangani Orion sendirian."

Maya menatap mata Luna.

"Aku butuh kamu." Luna tersenyum hangat. "Aku juga butuh semua orang di tim kita. Kalau kita saling bantu, aku yakin kita bisa memberikan yang terbaik buat pasien."

Terdengar helaan napas. Bukan. Bukan dari Luna, tapi dari sahabatnya yang bernama Maya. Wanita berambut sepundak itu membetulkan kacamatanya dan senyumnya perlahan mengembang.

"Berarti aku ngga boleh kabur, ya?"

Luna terkekeh. "Ngga boleh."

"Yahh... padahal aku udah siap resign," aku Maya yang langsung dihadiahi tatapan maut dari Luna.

"Jangan sampai yah."

Keduanya tertawa kecil. Mereka kemudian melanjutkan langkah menyusuri koridor Rumah Sakit Jiwa Silver Oak. Sesekali mereka masih membahas pembagian tugas tim untuk pasien baru.

"...pokoknya aku butuh bantuan kalian semua," ucap Luna seraya tersenyum. "Aku ngga mungkin bisa nangani pasien seberat itu sendirian."

"Tenang aja," balas Maya. "Kan kita satu tim."

Luna mengangguk kecil. Perhatiannya masih tertuju pada Maya hingga tanpa sadar langkahnya sedikit berbelok.

Brukk

Bahu Luna menghantam bahu seseorang yang berjalan dari arah berlawanan. "Ah!"

Tubuh seseorang yang ditabrak Luna itu oleng ke belakang. Belum sempat menyeimbangkan diri, lutut kanannya membentur sudut bangku besi di koridor.

"Astaga!"

Luna sontak berjongkok di hadapannya. "Maaf! Saya benar-benar tidak sengaja."

Tatapannya langsung jatuh pada lutut pria itu. Kulit di bagian lutut tampak lecet. Setitik darah perlahan merembes keluar. Alis Luna langsung bertaut.

"Lututmu berdarah!"

Pria dihadapannya tidak menjawab. Ia hanya memandangi Luna dengan tatapan datar, seolah tidak merasakan sakit sedikit pun.

"Luna..." Maya memanggil pelan.

"Bentar."

Tanpa berpikir panjang, Luna menoleh ke arah nurse station yang berada tak jauh dari sana. Dirinya buru-buru menghampiri tempat itu untuk meminta kotak P3K. "Mba, boleh minta kotak P3K sebentar?"

Salah seorang perawat segera menganggukkan kepala dan bergegas mengambil kotak berwarna putih. Tak perlu menunggu lama, Luna langsung kembali dengan sekotak berisi obat-obat yang ia butuhkan.

Psikiater itu membuka kotak di tangannya, mengambil kapas steril, cairan antiseptik dan plester. "Ini mungkin bakal sedikit perih."

Tak ada jawaban.

"Kalau sakit bilang, ya?"

Perlahan, ia membersihkan luka di lutut sang pria menggunakan kapas yang telah dibasahi antiseptik. Pria itu tetap diam. Bahkan ketika cairan antiseptik mengenai lukanya, ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Hal itu justru membuat Luna semakin heran.

Biasanya orang bakal meringis kalau kena antiseptik, batinnya sambil terus membersihkan luka. Setelah memastikan luka itu bersih, Luna menempelkan plester dengan hati-hati. "Nah, selesai."

Luna kemudian berdiri sementara pria dihadapannya masih duduk. Kedua matanya menatap Luna tanpa berkedip. Tatapannya seperti kosong dan Luna merasa ada sesuatu yang sulit dijelaskan di balik sepasang mata kelam tersebut.

"Maaf..." ulang Luna pelan. "Aku bantu berdiri, ya?"

Gadis bernama Luna mengulurkan tangan. Pria kelam itu melirik tangan tersebut selama beberapa detik. Perlahan, ia menyambut uluran tangan Luna. Maya yang sedari tadi memperhatikan hanya bisa mengembuskan napas lega. "Untung cuma lecet."

Pria kelam itu langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. "Loh..." Luna mengedip bingung.

"Ngga bilang makasih atau apa gitu?" celetuk Maya seraya menatap kemana pria itu pergi.

"Udahlah, May. Yang penting lukanya udah dibersihin."

☆☆☆

Layar komputer yang semula menampilkan data-data pasien kini berubah gelap setelah Luna mematikannya. Ia menyandarkan punggung ke kursi sambil mengembuskan napas panjang. "Akhirnya selesai juga..."

Hari ini Luna baru saja menyelesaikan jadwal konsultasi dengan lima belas pasien. Tak bisa dipungkiri bahwa ada kalanya ia mengeluh dengan pekerjaannya. Bagaimanapun juga, ia tetap manusia yang bisa merasa lelah.

Ting!

Suara notifikasi ponsel memecah keheningan ruangan. Luna meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.

Renae, pulang bareng ya? Aku udah di depan rumah sakit.

Setelah membaca pesan tersebut, Luna lagi-lagi menghela napas. Ia segera memasukkan laptop dan beberapa berkas ke dalam tas, memastikan tak ada barang yang tertinggal. Setelah itu, ia mematikan lampu ruangan, menguncinya, lalu berjalan cepat menuju lift khusus tenaga medis.

Sesampainya di lift, telunjuknya langsung menekan tombol menuju lantai satu.

Begitu pintu otomatis bergeser ke samping, suasana di luar rumah sakit langsung terlihat. Hembusan angin sore langsung menerpa wajahnya. Rasanya begitu berbeda. Tak ada lagi aroma antiseptik, bunyi monitor pasien, ataupun langkah kaki para tenaga medis yang berlalu-lalang. Yang kini terdengar hanyalah semilir angin dan hiruk-pikuk kendaraan di jalan raya.

Luna merasa sisi manusianya kembali begitu kakinya melangkah keluar dari rumah sakit jiwa. Beberapa helai rambutnya ikut menari tertiup angin. Tanpa sadar, Luna memejamkan mata sejenak sambil menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara segar memenuhi paru-parunya.

"Ah..."

Seketika rasa penat yang sedari pagi menumpuk di bahunya terasa sedikit berkurang. Untuk beberapa saat, ia memilih berdiam diri menikmati suasana sore yang begitu berbeda dengan suasan di dalam rumah sakit. Namun, ketenangannya tak bertahan lama.

"Renae!"

Dari kejauhan, seorang pria melambaikan tangan sambil mempercepat langkahnya ke arah Luna. Wajah si pria dihiasi senyum lebar, seolah sudah menunggu wanita itu keluar sejak beberapa menit yang lalu.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍😄
Sia Rivera: thankss sudah mampirr🙌🏻
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut thor
yaya
when ya dapet mertua yang royal...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!