Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34 masalah lain
Anna terus menangis sepanjang perjalanan menuju kamarnya. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena amarah, tetapi juga karena rasa kehilangan yang kembali menyeruak setelah mendengar hasil pemeriksaan laboratorium. Nadia menggenggam tangan gadis itu erat, lalu menutup pintu kamar perlahan agar tidak ada lagi keributan yang terdengar keluar.
Begitu pintu tertutup, Anna langsung memeluk Nadia sekuat tenaga.
"Kak..."
isaknya pecah.
"Aku kangen Ayah."
"Kalau saja hari itu aku memaksa Ayah tetap di kamar..."
"Mungkin semua ini tidak akan terjadi."
Nadia mengusap punggung Anna berulang kali, membiarkan gadis itu meluapkan seluruh kesedihannya.
"Jangan menyalahkan dirimu."
ucap Nadia lembut.
"Kita belum mengetahui seluruh kebenarannya."
"Yang bisa kita lakukan sekarang adalah tetap tenang dan mencari jawabannya dengan cara yang benar."
Anna mengangguk di sela tangisnya.
"Aku takut..."
bisiknya.
"Aku takut orang yang melakukannya masih ada di rumah ini."
Nadia memeluk Anna semakin erat.
"Kalau memang ada sesuatu yang disembunyikan, pada akhirnya akan terungkap."
Di sisi lain rumah, Adrian masuk ke dalam kamarnya dengan langkah cepat. Bianca menyusul dari belakang sambil masih memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan Anna.
Ruangan dipenuhi keheningan yang menyesakkan.
Bianca akhirnya memecahnya.
"Apa sebenarnya yang sedang terjadi, Adrian?"
tanyanya pelan.
"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa Anna menuduhku seperti itu."
Adrian mengusap wajahnya kasar.
"Abaikan saja."
jawabnya singkat.
"Tidak semudah itu."
Bianca menatap suaminya dengan bingung.
"Hasil laboratorium apa yang mereka maksud?"
"Apa yang sebenarnya mereka temukan?"
Adrian terdiam cukup lama sebelum mengembuskan napas berat.
"Mereka menemukan sesuatu pada cangkir Ayah."
jawabnya pendek.
Ekspresi Bianca berubah semakin bingung.
"Cangkir?"
"Adrian... aku benar-benar tidak tahu apa-apa."
"Aku memang mengantar teh untuk Ayah sore itu, setelah itu aku keluar dari ruang kerja."
"Aku tidak pernah melakukan hal lain."
Tatapan Adrian perlahan beralih ke arah Bianca.
Ia menyadari istrinya tampak benar-benar terkejut dan kebingungan.
Namun sebelum Bianca sempat bertanya lagi, Adrian sudah berbalik membuka laci demi laci meja kerjanya.
"Apa yang kamu cari?"
tanya Bianca.
"Stempel Ayah."
jawab Adrian singkat tanpa menoleh.
Bianca mengernyit.
"Untuk apa?"
Adrian menghentikan gerakannya sejenak.
"Beberapa dokumen perusahaan dulu hanya bisa disahkan dengan stempel itu."
"Itu belum ditemukan sejak Ayah meninggal."
Bianca ikut membantu membuka beberapa map.
"Memangnya penting sekali?"
Adrian mengangguk pelan.
"Kalau memang masih ada, aku harus menemukannya."
Bianca memperhatikan wajah suaminya yang tampak gelisah.
Entah mengapa, sejak kematian ayahnya, Adrian berubah menjadi sosok yang jauh lebih tertutup. Ia sering melamun, mudah marah, dan kini terlihat begitu cemas hanya karena sebuah stempel yang belum ditemukan.
Bianca tidak memahami apa yang sebenarnya sedang dipikirkan Adrian.
Yang ia tahu hanyalah keluarga itu kini perlahan terpecah oleh duka, kecurigaan, dan berbagai rahasia yang masih belum menemukan jawabannya. Sementara di kamar lain, Nadia terus menenangkan Anna, bertekad agar pencarian kebenaran dilakukan berdasarkan bukti yang nyata, bukan tuduhan yang lahir dari kemarahan.
Bianca masih berdiri mematung di tengah kamar. Pikirannya benar-benar kacau. Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan ditampar dan dituduh mencelakai ayah mertuanya. Air matanya kembali mengalir saat mengingat tatapan penuh kebencian dari Anna beberapa menit yang lalu.
"Adrian..."
ucapnya lirih.
"Apa sebenarnya yang terjadi?"
"Aku yang mengantarkan teh itu, jadi sekarang semua orang pasti mengira akulah pelakunya."
Suara Bianca mulai bergetar.
"Aku bahkan tidak tahu kenapa hasil pemeriksaan mereka bisa seperti itu."
Adrian tidak langsung menjawab. Ia terus membongkar laci meja, membuka lemari, hingga memeriksa setiap map yang tersusun di rak. Wajahnya dipenuhi kegelisahan, seolah ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada pertanyaan Bianca.
"Adrian!"
kali ini Bianca meninggikan suaranya.
"Tolong jawab aku."
Pria itu akhirnya menghentikan pencariannya. Ia mengembuskan napas panjang, lalu memejamkan mata beberapa saat.
"Teh itu..."
ucapnya perlahan.
"...memang aku yang menyiapkannya."
Bianca membeku.
"Apa?"
"Aku yang membuatnya."
lanjut Adrian pelan.
"Kamu hanya mengantarkannya ke ruang kerja Ayah karena saat itu aku sedang menerima telepon."
Mata Bianca membelalak penuh keterkejutan.
"Kenapa baru sekarang kamu bilang?"
"Aku sudah dituduh."
"Anna menamparku."
"Semua orang memandangku seolah aku pembunuh."
Air mata Bianca kembali jatuh.
"Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Adrian menundukkan kepalanya tanpa mampu menatap istrinya.
"Maaf."
hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Bianca menggenggam lengan Adrian.
"Kalau memang kamu yang membuat teh itu, kenapa kamu diam saja saat mereka menuduhku?"
Adrian terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab lirih.
"Aku tidak ingin keadaan semakin kacau."
Jawaban itu justru membuat hati Bianca semakin terluka.
"Jadi... kamu membiarkan aku menanggung semuanya sendirian?"
Adrian tidak sanggup menjawab.
Ia kembali membuka laci meja dengan gerakan tergesa-gesa.
Bianca memperhatikannya dengan bingung.
"Kamu sebenarnya mencari apa?"
"Stempel Ayah."
jawab Adrian cepat.
"Aku sudah mencarinya sejak kemarin, tapi tidak ketemu."
"Kenapa stempel itu begitu penting?"
Bianca bertanya lagi.
Adrian mengusap wajahnya kasar.
"Ayah selalu menyimpan stempel pribadinya di ruang kerja."
"Setelah beliau meninggal, benda itu hilang."
"Kalau sampai jatuh ke tangan orang yang salah..."
Ia menghentikan ucapannya.
Bianca semakin tidak mengerti.
Baginya, saat ini nama baiknya sedang dipertaruhkan, tetapi Adrian justru terlihat jauh lebih gelisah memikirkan stempel yang belum ditemukan daripada tuduhan yang kini mengarah kepadanya.
Perlahan, Bianca mulai merasakan jarak yang semakin lebar di antara mereka. Pria yang dahulu begitu gigih mengejarnya kini tampak menyimpan terlalu banyak rahasia. Dan untuk pertama kalinya, Bianca bertanya dalam hati apakah ia benar-benar mengenal sosok Adrian yang telah menjadi suaminya.
Hari mulai berganti malam ketika Nadia akhirnya keluar dari rumah keluarga Mahendra. Setelah berhasil menenangkan Anna hingga tertidur karena kelelahan menangis, Nadia berpamitan kepada mantan ibu mertuanya. Langkahnya terasa begitu berat. Dalam satu hari, ia harus menghadapi duka, kemarahan, hingga berbagai kemungkinan baru yang membuat kematian mantan ayah mertuanya semakin dipenuhi tanda tanya.
Sesampainya di rumah Vania, sebuah mobil yang sudah sangat dikenalnya masih terparkir di depan pagar.
Revano.
Pria itu masih duduk di teras sambil sesekali melihat layar ponselnya. Di sampingnya terdapat dua kotak makanan yang tampak belum tersentuh sama sekali.
Mendengar suara pagar dibuka, Revano langsung berdiri.
"Nadia."
panggilnya lega.
"Kamu akhirnya pulang."
Nadia menatapnya dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Maaf."
ucapnya lirih.
"Seharian aku tidak memberi kabar."
Revano hanya tersenyum kecil.
"Aku tahu kamu sedang bersama Anna."
"Aku juga tahu hari ini pasti tidak mudah."
"Jadi aku memilih menunggu."
Nadia terdiam.
"Tapi kamu menunggu dari kapan?"
"Dari siang."
jawab Revano santai seolah itu bukan masalah besar.
"Aku sempat menelepon beberapa kali, tapi tidak diangkat."
"Aku khawatir terjadi sesuatu."
Hati Nadia kembali terasa hangat sekaligus sesak.
Di saat dirinya sibuk menghadapi berbagai persoalan, ada seseorang yang dengan sabar menunggu tanpa sedikit pun mengeluh.
"Maaf membuatmu cemas."
bisiknya.
Revano menggeleng pelan.
"Yang penting sekarang kamu sudah pulang dengan selamat."
"Ayo masuk."
"Aku sengaja membeli makanan karena kupikir kamu belum sempat makan."
Dari balik jendela ruang tamu, Vania memperhatikan keduanya dengan senyum tipis.
Ia tidak mengganggu percakapan mereka.
Sebagai sahabat Nadia, Vania melihat sendiri bagaimana Revano selalu hadir di saat Nadia membutuhkan seseorang. Tidak pernah memaksa, tidak pernah menuntut balasan, bahkan tidak pernah mempermasalahkan masa lalu Nadia yang penuh luka.
Pria itu menerima Nadia apa adanya.
Menerima kenyataan bahwa Nadia adalah seorang janda.
Menerima bahwa wanita itu sedang mengandung anak dari pernikahan sebelumnya.
Dan yang lebih sulit lagi, menerima bahwa hati Nadia masih dipenuhi luka yang belum benar-benar sembuh.
Vania mengembuskan napas pelan.
"Dari semua laki-laki yang pernah kutemui..."
gumamnya dalam hati.
"...baru kali ini aku melihat seseorang sesabar Vano."
Ia tidak tahu apakah Nadia suatu hari nanti akan mampu membuka kembali pintu hatinya.
Namun Vania percaya, luka sebesar apa pun tidak akan selamanya tetap menganga.
Suatu saat nanti, ketika Nadia benar-benar telah berdamai dengan masa lalunya, mungkin ia akan menyadari bahwa sejak awal selalu ada seseorang yang berdiri di belakangnya, tidak pernah memaksa untuk dicintai, hanya berharap wanita itu kembali menemukan alasan untuk tersenyum.
Sementara di teras rumah, Revano menyodorkan segelas air hangat kepada Nadia.
"Kamu kelihatan capek."
ucapnya lembut.
"Besok baru pikirkan semuanya lagi."
"Malam ini, istirahatlah."
Nadia menerima gelas itu sambil menatap pria di hadapannya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ada seseorang yang tidak berusaha menggantikannya dari masa lalu, tidak memaksanya melupakan luka, melainkan memilih berjalan pelan di sisinya, menunggu hingga ia siap melangkah sendiri. Dan tanpa disadari Nadia, perhatian sederhana itu perlahan mulai mencairkan tembok yang selama ini ia bangun di sekeliling hatinya.
Malam semakin larut. Setelah hari yang begitu melelahkan, Nadia akhirnya terlelap di kamar tamu rumah kontrakan Vania. Tubuhnya benar-benar kehabisan tenaga. Di luar kamar, Vania juga sudah tertidur, sementara Revano yang sejak tadi memastikan semua pintu terkunci akhirnya memilih beristirahat di kamar depan sebelum pulang keesokan paginya.
Rumah kecil itu akhirnya dipenuhi keheningan.
Namun, beberapa jam kemudian...
Tercium aroma hangus yang perlahan memenuhi udara.
Mula-mula hanya samar, tetapi dalam hitungan menit berubah menjadi bau asap yang semakin pekat.
Diikuti suara benda terbakar dari arah dapur.
Krek...!
Brak!
Suara pecahan kaca membuat Vania terbangun lebih dulu.
Ia membuka mata dengan bingung.
"Hm..."
Belum sempat berpikir, hidungnya langsung menangkap bau asap yang begitu menyengat.
Vania spontan bangkit dari tempat tidur.
"Asap?"
Begitu membuka pintu kamar, kepulan asap hitam langsung memenuhi lorong rumah.
"Waduh!"
teriaknya panik.
"Nadia!"
"Nadia bangun!"
Di kamar sebelah, Nadia yang masih mengantuk mendengar suara Vania memanggil namanya berkali-kali.
"Ada apa?"
tanyanya sambil membuka pintu.
Baru satu langkah keluar, wajahnya langsung pucat melihat lorong mulai dipenuhi asap.
"Ya Tuhan..."
Api terlihat mulai membesar dari arah dapur.
Revano yang mendengar teriakan itu langsung berlari keluar dari kamarnya.
"Nadia!"
teriaknya.
"Keluar sekarang!"
Tanpa berpikir panjang, ia segera meraih tangan Nadia yang masih tampak kebingungan.
"Napas pelan."
"Jangan hirup terlalu banyak asap."
Vania dengan cepat mengambil tas berisi dokumen penting yang berada di dekat pintu, sementara Nadia hanya sempat membawa ponsel dan map berisi beberapa berkas.
Api mulai menjalar ke bagian langit-langit dapur.
Suara kayu yang terbakar terdengar semakin keras.
"Tidak bisa lewat sana!"
teriak Revano saat melihat api mulai menutup akses menuju dapur.
"Ayo lewat pintu depan!"
Mereka bertiga berlari menuju teras.
Begitu berhasil keluar, udara malam yang dingin langsung menyambut mereka.
Nadia terbatuk berkali-kali akibat menghirup asap.
Revano segera menopang tubuhnya.
"Kamu tidak apa-apa?"
Nadia hanya mengangguk lemah sambil memegang perutnya secara refleks.
Tetangga sekitar mulai keluar rumah setelah melihat kobaran api yang semakin membesar.
"Rumah terbakar!"
"Ambil air!"
"Cepat hubungi pemadam!"
Suasana mendadak kacau.
Beberapa warga berusaha membantu memadamkan api dengan alat seadanya sambil menunggu petugas datang.
Vania berdiri terpaku di pinggir jalan.
Matanya tidak lepas dari rumah kontrakan yang selama ini menjadi tempat mereka berteduh.
"Bagaimana bisa..."
gumamnya dengan napas memburu.
"Tadi semuanya baik-baik saja."
Nadia juga tidak mampu berkata-kata.
Dadanya masih naik turun karena syok.
Dalam waktu singkat, begitu banyak hal terjadi dalam hidupnya.
Perceraian.
Kehamilan.
Kematian mantan ayah mertuanya.
Dan kini...
Rumah tempat ia tinggal sementara justru dilalap api.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah