NovelToon NovelToon
Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Kaya Raya / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Pecahnya Topeng dan Badai Kebenaran

Seluruh koridor Divisi Manufaktur Mahendra Group mendadak sunyi senyap, menyisakan deru pendingin ruangan yang terasa mencekam. Puluhan pasang mata karyawan kini tertuju pada satu titik ketegangan. Arkan Mahendra berdiri tegak dengan aura kepemimpinan yang begitu mengintimidasi, melangkah maju dengan ritme yang konstan menuju tempat Viona dan Reno berada. Setiap ketukan sepatu pantofelnya di atas lantai marmer terdengar bagai lonceng kematian bagi karier siapa pun yang berani menantangnya.

Reno perlahan melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Viona, namun ia menolak untuk mundur. Pria itu mencoba menegakkan pundaknya, menantang tatapan mata hitam kelam sang CEO yang sedingin es.

Sementara itu, Viona berdiri mematung di antara kedua pria tersebut. Wajahnya putih bersihnya memucat sempurna, dan jantungnya bertalu begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. Risiko rahasia hubungan kontrak mereka terbongkar di tempat kerja kini bukan lagi sekadar ancaman, melainkan bom waktu yang siap meledak.

"Tuan Mahendra," suara Reno memecah keheningan koridor, terdengar bergetar namun sarat akan nada perlawanan. "Saya ke mari hanya untuk meluruskan urusan pribadi saya dengan Viona. Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kantor."

Arkan menghentikan langkahnya tepat satu meter di depan Reno. Proporsi tubuh atletisnya setinggi 187 cm membuat Reno tampak lebih kecil di bawah bayang-bayang dominasinya. Sebuah senyuman miring yang meremehkan terukir di bibir kokoh Arkan, memamerkan kontrol isunya yang luar biasa angkuh.

"Urusan pribadi, katamu?" Arkan mendengus rendah, suara baritonnya bergema dingin. Tatapannya beralih sekilas pada Viona, memberikan tatapan posesif yang pekat yang membuat wanita itu merinding ketakutan. "Segala hal yang mengganggu ketenangan stafku di lingkungan Mahendra Group adalah urusanku, Tuan Reno. Keamanan, waktu, dan... raga setiap orang di sini tunduk pada aturanku. Kau telah membuat keributan di divisiku, dan aku tidak memiliki toleransi untuk itu."

"Aturan? Atau Anda hanya ingin mengurung Viona dalam sangkar Anda?!" potong Reno dengan emosi yang kian meluap. Ia tidak bisa lagi menahan fakta yang ia ketahui. "Saya tahu apa yang Anda lakukan di balik layar, Tuan Mahendra! Anda memanfaatkan kesulitan finansialnya untuk membelinya sebagai wanita simpanan kontrak!"

Bisik-bisik langsung pecah di antara kerumunan karyawan.

Wajah Viona seketika mendadak kosong. Kata-kata Reno laksana godam besar yang menghancurkan seluruh sisa harga dirinya di depan rekan-rekan kerjanya. Drama penuh air mata atau angst emosional yang selama ini ia takuti kini benar-benar menjadi tontonan publik. Rekan-rekan kerjanya yang semula menatapnya dengan ramah, kini mulai melemparkan pandangan penuh kejutan, penghinaan, dan kecurigaan.

Namun, sebelum Arkan sempat memerintahkan sekuriti untuk menyeret Reno keluar, sebuah suara langkah kaki dengan sepatu hak tinggi yang tegas terdengar dari arah lift eksekutif.

"Ada keributan apa ini di sini?"

Clarissa melangkah masuk ke dalam koridor divisinya. Wanita anggun berpenampilan mewah yang mengenakan pakaian desainer ternama itu berjalan dengan dagu terangkat, memamerkan statusnya sebagai tunangan resmi Arkan yang terhormat di mata publik. Kehadirannya langsung membuat kerumunan karyawan terbelah, memberikan jalan bagi sang calon nyonya besar Mahendra.

Mata Clarissa menyapu ruangan, lalu terhenti pada sosok Viona yang tampak rapuh dan Arkan yang berdiri dengan rahang mengeras. Alih-alih terkejut, sebuah senyuman penuh kepuasan yang dingin tersungging di bibir Clarissa. Ia melangkah mendekati Arkan, lalu dengan santai melingkarkan jemari lenturnya di lengan tegap pria itu.

"Arkan, Sayang, kenapa kau membuang-buang waktumu yang berharga di lantai bawah ini?" tanya Clarissa dengan suara manis yang sengaja dikeraskan agar didengar semua orang. "Keluargaku dan dewan direksi sudah menunggumu di ruang rapat VIP lantai atas untuk meresmikan tanggal pertunangan publik kita bulan depan."

Viona menundukkan kepalanya dalam-dalam, memeluk map dokumen di dadanya dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit hati dan cemburu yang membakar ulu hatinya kembali datang dengan intensitas yang lebih menghancurkan. Di depan matanya sendiri, Arkan adalah milik wanita lain yang sah, sementara ia hanyalah wanita pemuas gairah yang terhina.

Clarissa kemudian mengalihkan tatapan tajamnya kepada Reno, lalu beralih pada Viona. Di sinilah plot twist besar yang tersembunyi selama puluhan bab akhirnya pecah berkeping-keping.

"Tuan Reno," ucap Clarissa, nadanya mendadak berubah menjadi dingin dan sarat akan racun kemenangan. "Kau tidak perlu repot-repot berteriak dan menuduh tunanganku memeras mantan kekasihmu demi uang. Karena jika kau ingin tahu kebenaran yang sesungguhnya... kehancuran bisnis ayah Viona di masa lalu bukanlah takdir yang tidak sengaja."

Viona mendadak mendongak. Matanya yang bulat besar menatap Clarissa dengan pandangan tidak percaya. "Apa maksud Anda, Nona Clarissa?"

Clarissa tertawa kecil, sebuah tawa meremehkan yang memotong keheningan koridor. Ia melirik Arkan yang mendadak menegang di sampingnya, membuktikan bahwa sang CEO mengetahui rahasia besar ini.

"Kau ingin tahu kenapa ayahmu dikejar-kejar rentenir hingga bunuh diri dan ibumu sakit sakitan, Viona? Itu karena delapan belas bulan lalu, perusahaan ayahmu sengaja dihancurkan dari dalam oleh Mahendra Group untuk menguasai aset tanah manufakturnya di pinggir kota. Dan tebak siapa yang menandatangani perintah eksekusi akuisisi paksa tersebut?" Clarissa menjeda kalimatnya, menatap Viona dengan kepuasan absolut. "Pria posesif yang kau layani di penthouse-mu setiap malam... Arkan Mahendra sendiri."

Duar!

Kata-kata Clarissa laksana petir di siang bolong yang menghancurkan seluruh dunia Viona secara utuh. Seluruh tubuh Viona bergetar hebat, air matanya luruh tanpa bisa dibendung lagi. Patah hati dan rasa dikhianati secara utuh menghunjam tepat di dadanya. Pria yang selama ini ia anggap sebagai penolong finansialnya—meski dengan cara yang kejam melalui kontrak simpanan—ternyata adalah iblis utama yang menyebabkan kehancuran total keluarganya sejak awal.

Viona menatap Arkan dengan pandangan penuh luka, kekecewaan, dan kebencian yang mendalam. "Tuan... apakah itu benar?" tanyanya dengan suara sepelan bisikan yang bergetar hebat.

Arkan terdiam, rahang tegasnya mengeras sempurna. Untuk pertama kalinya, sepasang mata hitam kelam sang CEO yang biasanya sedingin es memancarkan kilat panik dan penyesalan yang tertahan. Ia melepaskan tangan Clarissa dari lengannya dengan kasar, lalu mencoba melangkah mendekati Viona. Sifat posesifnya mendadak berganti menjadi ketakutan luar biasa akan kehilangan wanita di depannya.

"Viona, dengarkan penjelasanku terlebih dahulu—" ucap Arkan, suaranya tidak lagi terdengar penuh otoritas, melainkan sarat akan kecemasan yang mendalam.

"Jangan mendekat!" pekik Viona dengan sisa kekuatannya, melangkah mundur setapak demi setapak untuk menghindari sentuhan pria itu. Rasa terhina dan penderitaan emosionalnya kini telah mencapai batas maksimal. Gelang berlian di pergelangan tangannya kini terasa seperti bara api yang membakar kulitnya.

Dengan gerakan cepat dan penuh keputusasaan, Viona melepas gelang berlian mewah tersebut dari tangannya dan melemparkannya tepat ke bawah kaki Arkan. Benda mahal itu berdenting dingin di atas lantai marmer, menandai hancurnya ikatan kontrak di antara mereka secara sepihak.

"Anda membeli raga saya dengan uang ratusan juta itu, Tuan Mahendra, sementara Anda sendiri yang merampok miliaran dari hidup keluarga saya!" ucap Viona dengan tatapan mata yang memancarkan keteguhan yang luar biasa di balik air matanya. "Mulai detik ini, kontrak kita selesai. Saya lebih baik mati kelaparan daripada harus menjadi pemuas gairah dari pria yang menghancurkan ayah saya!"

Tanpa memedulikan tatapan puluhan pasang mata karyawan, Clarissa yang tersenyum menang, atau Reno yang mencoba memanggilnya, Viona berbalik dan berlari sekuat tenaga menuju lift, memutuskan untuk menghilang dan menjauh dari sangkar emas dan kebohongan besar sang CEO berdarah es.

1
Aysah Meta
Ya tuhan Buu..bisanya kau nolak anak mu,Viona!!Banyak hal sdh dia lalui..Krn km,dia melakukan ini semua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.
Aysah Meta
Akhirnyaa up juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!