Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih bersama Ananta
Ananta melepaskan pelukannya dari Arsen dan mendorong keras tubuh laki laki itu agar menjauh darinya setelah mendengar kata kata yang diucapkan Arsen.
Jantungnya masih berdebar keras dan cepat. Nafasnya juga masih memburu akibat kedekatan mereka tadi.
Laki laki ini .... bahaya, batinnya ngeri sambil menatap Arsen yang sudah berjarak beberapa langkah darinya.
Arsen mengembangkan senyum jahilnya. Walaupun dia tidak tertarik dengan pernikahan ini, tapi tadi Ananta bisa membangunkan h@srat yang sudah lama tidur; setelah penolakan seorang model yang dulu padanya.
"Aku jadi ngga sabar untuk cepat cepat menikahimu."
Ananta membalikkan tubuhnya, membelakangi Arsen.
Salahku juga tadi. Tapi jantung dia juga berdebar keras. Aku bisa merasakannya, batin Ananta dengan perasaan ngga tenang.
"Aku mau keluar dari sini," ucapnya sambil melangkah cepat. Dia ngga mau semakin lama berduaan dengan Arsen. Tadi saja dia sempat terpengaruh. Tubuhnya tidak bisa dia kontrol.
"Tunggu sebentar, Ananta. Rumah ini terlalu luas. Kamu bisa nyasar," tahan Arsen dengan senyum miringnya. Dia kemudian agak tergesa menaiki anak tangga, bermaksud akan menyimpan buku kamasutranya lagi. Tapi tangganya goyang dan menimbulkan bunyi gesekan karena keseimbangan yang tak terjaga.
Ananta menoleh dan melihat laki laki itu dengan sigap melompat sebelum jatuh dari tangga yang sebentar lagi akan menimpa dirinya. Juga ada beberapa buku yang cukup tebal ikut jatuh, mungkin tersenggol dengan tangannya tadi
Ananta bergegas berlari bermaksud membantu. Tapi saat dia tiba di sana, Arsen sudah menahan tangga ringan itu. Beberapa buku itu sudah jatuh menimpa kepala dan bahu Arsen sebelum tergeletak di lantai dengan suara yang bersahut sahutan.
BUK BUK BUK
Dasar ceroboh, batin Ananta mengomel. Tubuhnya sekarang berjongkok memunguti buku buku yang berjatuhan, sementara Arsen memposisikan tangga kembali seperti semula.
Netra Ananta melirik buku yang masih ada di tangan Arsen.
Dasar, omelnya lagi menggeredek kesal. Buku mengerikan itu masih ada di tangan Arsen. Sekarang sudah dikepit di bawah lengannya.
"Kamu ngga apa apa, kan?" Arsen terlihat khawatir. Dia segera mengambil buku buku yang ada di tangan Ananta.
Ananta hanya menggelengkan kepalanya.
"Tunggu bentar, aku simpan buku bukunya dulu," ucap Arsen sambil menaiki anak tangga dengan lebih hati hati.
Kali ini Ananta memegang pinggiran tangga agar ngga goyang. Dia juga mau memastikan kalo buku mengerikan tadi sudah diletakkan Arsen di sana.
"Di sini juga ada buku buku dongeng anak anak. Kamu bisa meminjamnya untuk menambah referensi dongeng untuk anak anak di kindergarten kamu," usul Arsen setelah menjejakkan kaki lagi ke lantai.
"Di sana," tunjuknya sambil berjalan ke arah yang dia tuju.
Ananta mengikutinya tanpa suara.
"Buku buku ini terkumpul dari sejak kapan?" tanya Ananta kagum. Dia yakin pasti dari beberapa generasi.
"Kata papi dari orang tua nenek. Mereka mewajibkan anak anaknya memiliki hobi membaca buku. Nenek dan saudara saudaranya, bahkan sampai anak cucunya yang juga mengisi lemari ini. Aku juga membeli beberapa buku dan menyimpannya di sini."
"Ternasuk buku .... emm .... yang tadi?" tuduh Ananta. Lidahnya ngga nyaman menyebut judul buku itu.
"Buku KAmasutra?" Arsen seolah ingin menegaskan buku yang dimaksud Ananta.
"Hemm....." Ananta mendengus pelan. Pipinya terasa panas lagi.
Tawa kecilnya berderai melihat rona merah di wajah Ananta.
"Bukan. Buku itu sudah ada sejak aku datang. Aku juga ngga sengaja menemukannya," bantahnya cepat, masih dengan sisa tawa di bibirnya.
Ananta meliriknya sinis. Pasti dia sering membacanya.
Langkahnya terhenti di koleksi buku buku dongeng yang Arsen katakan tadi.
"Pilih aja," ucap Arsen ketika melihat tatap Ananta yang sedang memperhatikan judul judul buku yang ada di depannya. Masih bisa terjangkau tanpa tangga.
Ananta hanya tersenyum. Beberapa judul buku buku itu sudah pernah dia baca. Dia pun meraih sebuah buku yang tampak asing.
"Mau bawa buku ini?" tawar Arsen.
Ananta menggelengkan kepalanya.
"Nanti saja. Besok masih pameran dan bazar. Lusa anak anak diliburkan untuk istirahat." Ananta meletakkan lagi buku itu di tempatnya.
Dia kagum melihat buku buku yang tertata rapi berdasarkan temanya. Bahkan ada stiker yang menginformasikan tempat buku buku itu berada. Jadi pantas saja Arsen tau dengan cepat saat harus mencari buku buku yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.
"Ooo .... oke."
Mereka masih berdiri di sana. Ananta masih menatap koleksi buku ysng mungkin jumlahnya lebih dari seratus buah.
"Kalo buku yang itu, mau pinjam, nggak?" usik Arsen dengan senyum miringnya.
"Nggak," tolak Ananta judes. Gara gara buku itu tadi, dia sempat bertingkah memalukan.
"Kenapa? Itu buku penting untuk pasangan yang sudah menikah," ngeyel Arsen masih dengan ekspresi jahilnya.
'Kita, kan, belum," sangkal Ananta demgan kulit pipi dan leher yang mulai terasa panas lagi.
"Tapi, kan, sebentar lagi kita nikahnya. Aku dan kamu perlu pelajari trik trik untuk memuaskan pasangan," kilah Arsen makin senang melihat Ananta yang makin salah tingkah dan makin gelisah.
Kosa katanya makin vulg@r saja, batin Ananta malu.
"Apa, sih. Kayak gitu, kan, alami." Ananta jadi menyesal malah mendebat Arsen soal ini. Karena laki laki itu tertawa lagi seakan merasa sangat senang.
Pasti dia sudah khatam membacanya, tuduhnya dalam hati. Karena buku itu terlihat sudah sering dipegang banyak orang.
"Memang alami. Tapi, kan, perlu ilmu dan teknik juga," kilah Arsen lagi.
"Tadi aja, hanya pake jari kamu su-- ummpph ...." Ucapannya terjeda
Ananta menutup mulut lancang laki laki itu. Tapi kemudian dia menjerit kecil ketika merasa seperti tersengat listrik saat lidah basah Arsen menjilati permukaan tangannya yang sedang menutup mulutnya.
Ananta reflek melepaskannya karena efek geli dan basah yang dirasakan tiba tiba tadi. Tubuhnya meremang. Jantungnya kembali tantrum.
"Kamu apa apaan, sih." Ananta melap tangannya dengan tisu.
Arsen tertawa lagi.
"Ngga usah dilap. Itu baru percobaan," ngelesnya santai.
Ananta terkesiap. Dia menggerutu dalam hati. Malam ini laki laki ini berubah total sikapnya, sangat berbeda dari yang dia perlihatkan pada pertemuan pertama mereka dulu.
Orang tuanya kenapa masih belum memanggilnya? Apa yang mereka diskusikan hingga membutuhkan waktu yang sangat lama, batin Ananta mengeluh.
Tanpa mempedulikan Arsen, Ananta melangkahkan kakinya keluar dari ruangan yang menimbulkan gelenyar aneh tak tertahankan itu dalam diam.
Di belakangnya Arsen melangkah pelan mengikutinya. Sisa tawanya masih ada di bibirnya.
Mendadak dia teringat ulah nakalnya tadi menggoda Ananta.
Bohong kalo ngga ada pengaruh apa apa terhadap dirinya akibat satu satunya tersangka yang melakukannya.tadi.
Padahal hanya dengan satu ujung jarinya saja sudah membuat Ananta p@srah di depannya.
Arsen tersenyum miring. Gelenyar gelenyar aneh seolah membangkitkan h@sratnya. Dulu dia hanya merasakan itu hanya pada model yang pernah menolaknya. Setelah itu dia m@ti rasa.
Masa dia sekarang sudah jatuh cinta dengan Ananta? Secepat ini? Batinnya ngga percaya.
Sementara Ananta menarik nafas panjang. Rongga dadanya terasa penuh hingga dia sulit bernafas.
Kelakuan Arsen tadi membuat jantungnya masih sulit dinormalkannya. Kedua tungkai kakinya juga tidak sekuat biasanya.
Ketakutan mulai meraja-i pikirannya. Seminggu lagi mereka akan menikah. Persiapannya sudah sangat matang. Padahal Ananta belum siap lahir dan batin. Ananta tidak pernah berpikir akan dinikahkan secepat ini.
semangat😉
cerita keluarga baru apa?