Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.
Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.
Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Dua hari kemudian, butik gaun pengantin paling mewah di pusat kota telah disewa secara privat.
Lampu-lampu kristal memancarkan cahaya anggun, memantulkan deretan gaun bernilai ratusan juta rupiah yang sangat cantik dan indah.
Namun, raut tenang di wajah Vanessa seketika sirna begitu melangkah masuk. Di samping Jordan, berdiri Yessika yang mengenakan pakaian minim dengan senyum manis tanpa rasa bersalah.
"Kenapa dia ada di sini?" tanya Vanessa dingin, menatap Jordan dengan pandangan menuntut.
Jordan mengibaskan tangannya santai.
"Yessika hanya ingin ikut lihat-lihat saja, Vanessa. Tidak usah dipedulikan. Anggap saja dia tidak ada."
Vanessa menahan napasnya yang mendadak berat. Tanpa rasa malu sedikit pun di depan para pelayan butik, Yessika bergelayut di lengan Jordan, menyandarkan kepalanya mesra di bahu pria itu.
Vanessa mengepalkan tangan di samping tubuh, mencoba mengabaikan kemesraan menjijikkan di hadapannya.
"Selamat pagi, Nona Vanessa," sapa manajer butik seraya membawakan sebuah gaun pengantin yang dilapisi kain pelindung.
Saat kain itu dibuka, sebuah gaun putih berhias ribuan kristal Swarovski terpampang begitu memukau.
"Ini gaun rancangan khusus yang Nona pesan kemarin."
"Wah! Cantik sekali!" seru Yessika histeris, matanya berbinar penuh keserakahan.
Ia langsung melangkah mendekat dan menyentuh kain gaun itu.
"Jordan! Aku suka gaun ini! Aku mau pakai gaun ini!"
"Tolong jaga sikapmu, Yessika," potong Vanessa tegas, melangkah menutupi gaun tersebut.
"Ini gaun pilihanku. Jika kau ingin mencoba gaun pengantin, cari gaun yang lain."
Yessika seketika memanyunkan bibirnya, berbalik menatap Jordan dengan mata berkaca-kaca.
"Jordan... aku cuma mau mencoba sebentar saja. Boleh, ya? Masa kau tidak bisa mengabulkan permintaan kecil ini? Kau kan sudah janji akan selalu membahagiakan aku."
Jordan menatap Yessika yang merengek, lalu menatap Vanessa dengan raut wajah tidak sabar.
Luluh oleh godaan simpanannya, Jordan melangkah maju.
"Serahkan gaun itu pada Yessika, Vanessa," perintah Jordan tanpa beban.
Vanessa terbelalak tak percaya.
"Apa maksudmu, Jordan?! Ini gaun pilihanku! Aku yang memesannya!"
"Toh yang membayar gaun ini juga Ayahku!" bentak Jordan, suaranya meninggi hingga membuat para pelayan butik menunduk takut.
"Jangan manja! Biarkan Yessika memakainya dulu! Kalau dia tidak suka, dia akan kembalikan lagi. Tapi, kalau dia suka, berikan saja! Anggap saja sebagai hadiah hiburan agar Yessika tak sedih lagi karena pertunangannya dengan Alessio dibatalkan."
"Tidak akan!" Vanessa bertahan, menggenggam kain gaun itu erat-erat.
"Vanessa!" desis Jordan penuh ancaman, matanya menyipit tajam.
"Jangan memancing emosiku. Kalau kau terus keras kepala seperti ini, aku tidak akan segan-segan untuk membatalkan pernikahan kita!"
Kata-kata itu menyengat dada Vanessa. Ia tahu betul jika Jordan tak akan pernah berpihak padanya.
Dengan rahang yang mengeras rapat dan tangan mengepal hingga buku jarinya memutih, Vanessa akhirnya terpaksa melepas gaun itu.
"Ambil," desis Vanessa bergetar menahan amarah.
"Terima kasih, Jordan!" jerit Yessika girang.
Tanpa ragu sedikit pun, Yessika menarik leher Jordan dan mencium bibir pria itu dengan panas tepat di depan mata Vanessa dan para pegawai butik.
Jordan sempat merasa sedikit tak enak hati saat melirik Vanessa, namun rasa superior menguasai pikirannya.
Mau sesakit apa pun perasaan Vanessa, wanita itu tidak akan bisa berkutik karena dialah yang memegang kendali penuh atas pernikahan ini.
"Kau," Jordan menunjuk Vanessa dengan nada memerintah.
"Keluar dan cari gaun pengantin lain di ruangan sebelah. Ruang ganti utama ini milik Yessika."
Vanessa tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kaku lalu berbalik melangkah keluar dengan kepala tegak.
Begitu pintu ruang ganti kedua tertutup rapat, Vanessa mengembuskan napas panjang. Senyum tipis yang penuh kecerdikan perlahan mengukir bibirnya.
Jordan dan Yessika pikir mereka berhasil menginjak-injaknya.
Padahal sejak awal, Vanessa sudah mengantisipasi kelakuan murahan mereka dengan memesan dua gaun pengantin secara rahasia.
Seorang pelayan pribadi kepercayaan Vanessa membawa masuk gaun kedua dari pintu belakang. Gaun model off-shoulder dengan siluet mermaid bernuansa champagne gold dan detail sulaman buatan tangan itu terlihat jauh lebih mewah, elegan, dan mahal dibanding gaun yang direbut Yessika.
Dengan bantuan pelayan yang kemudian pamit keluar, Vanessa mengenakan gaun itu. Saat ia berdiri di depan cermin besar, mengagumi pantulan dirinya, tiba-tiba sepasang lengan kekar menyusup dari belakang, melingkari pinggang mulusnya dengan erat.
Deg!
Vanessa terperanjat, hendak menjerit, namun aroma parfum kayu cendana dan citrus yang sangat ia kenal menyergap indra penciumannya.
"Ssstt... Ini aku," bisik suara berat nan seksi di ceruk lehernya.
Alessio berdiri tepat di belakangnya. Pria itu menatap pantulan Vanessa di cermin dengan binar mata yang sarat akan kekaguman tanpa batas.
"Kau luar biasa cantik, mia cara," gumam Alessio.
Jarinya yang hangat perlahan bergerak naik ke punggung terbuka Vanessa, menarik kait dan resleting gaun itu ke atas dengan sangat lembut.
Setelah gaun terpasang sempurna, Alessio menunduk, mendaratkan kecupan hangat dan penuh kasih sayang di atas bahu mulus Vanessa.
Vanessa merinding, berusaha memutar tubuhnya.
"Alessio! Apa yang kau lakukan di sini?! Keluar! Jordan ada di sebelah..."
"Diamlah sebentar, Vanessa," bisik Alessio lembut namun mengunci pergerakan wanita itu.
Ia menyandarkan dagunya di bahu Vanessa, memeluknya dari belakang.
"Biarkan aku memeluk calon istriku sebentar saja. Aku hampir gila melihat bajingan itu menyuruhmu mengalah tadi."
Vanessa terpaku, kehangatan tubuh Alessio dan ketulusan dalam suaranya mendadak meluluhkan pertahanan diri Vanessa.
Alessio kemudian melepaskan pelukannya pelan. Ia meraih tangan kanan Vanessa, lalu merogoh saku jasnya.
Sebuah kotak beludru hitam dibuka, menampilkan sebuah cincin berhiaskan berlian langka berbentuk marquise yang berkilau teramat indah di bawah cahaya lampu.
Tanpa meminta izin, Alessio menyematkan cincin berharga fantastis itu ke jari manis Vanessa.
Cincin itu terpasang dengan sangat pas.
"Cincin paling cantik... hanya pantas melingkar di jari wanita paling cantik," bisik Alessio penuh kelembutan, lalu mencium punggung tangan Vanessa yang mengenakan cincin tersebut.
Vanessa menatap cincin di jarinya dengan mata berbinar, tak mampu menyembunyikan rasa terpukaunya.
"Alessio... ini... Kau dapat uang darimana untuk membeli cincin semahal ini?"
Alessio hanya mengedipkan sebelah matanya, mengukir senyum miring yang teramat menawan.
Sementara itu, di ruang ganti utama di ujung koridor, Yessika dan Jordan tidak betul-betul sibuk mencoba gaun.
Terbuai oleh suasana sepi dan dorongan nafsu yang liar, Yessika kembali menggunakan tubuhnya untuk memanjakan Jordan.
Suara desahan dan perbuatan kotor mereka kembali terulang di dalam ruangan tertutup itu.
Mereka berdua tidak menyadari bahwa di sudut atas ventilasi ruangan, sebuah kamera tersembunyi berukuran mikroskopis sedang merekam seluruh adegan menjijikkan tersebut.
Di dalam ruang ganti Vanessa, Alessio melirik ponsel pintar di tangannya. Di layarnya, rekaman video Jordan dan Yessika tersaji dengan sangat jernih.
Alessio terkekeh dingin, jemarinya menyimpan rekaman tersebut ke dalam cloud rahasia.
"Satu lagi bukti kehancuran untuk Tuan Muda Carlton," bisik Alessio datar, menatap layar ponselnya sebelum kembali menatap Vanessa yang anggun dibalut gaun pengantin yang sangat indah.
"Game over untukmu, Jordan."
halu lu joran pancing🤣🤣🤣🤣Vanesa jijik kali sma elu
idiiiih ke PeDean Lu najiss 😏😏😏
Nikolai kokop yg dlu nyelametin Alessio waktu d luar negeri ,,
tp semua keputusan ,, d ACC apa gx tu semua tergantung tangan Tuhan ,, Dan tangan kak author tentu ny ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣