Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:
Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.
Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.
Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.
Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.
Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."
"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Seperti Antagonis
Naomi baru tahu bahwa dilihat orang banyak ternyata bisa lebih melelahkan daripada tidak dilihat sama sekali.
Selama ini ia hidup sebagai bayangan di kampus. Datang ke kelas, duduk di tengah, mencatat, pulang cepat untuk bekerja. Kalau namanya muncul, biasanya hanya karena dosen memanggil absensi atau teman meminta bantuan menerjemahkan kalimat Jerman yang terlalu panjang.
Namun sejak beberapa orang melihatnya keluar dari ruang VIP Supercar Club Jakarta, sejak ia mulai bolak-balik ke rumah Menteng, dan sejak Felix beberapa kali muncul di story Vivian dengan bagian tangan Naomi terlihat di sudut foto, posisi Naomi berubah.
Bukan menjadi penting.
Menjadi bahan tebak-tebakan.
Pagi itu, sebelum kelas dimulai, grup WhatsApp angkatan sudah ramai. Sinta Kurniawan yang duduk di sebelah Naomi tiba-tiba menurunkan ponsel dengan wajah kesal.
"Nao, kamu sudah lihat IG Confessions?"
Naomi sedang membuka buku catatan. "Belum."
"Jangan lihat."
Kalimat seperti itu selalu berarti seseorang harus melihat.
Naomi mengambil ponselnya. Sinta mencoba menahan, tapi terlambat. Di akun IG Confessions kampus, sebuah unggahan anonim baru saja naik lima belas menit lalu.
"Ada yang tahu cewek minimarket yang sekarang sering kelihatan sama circle anak SCBD? Katanya jaga anjing di rumah konglomerat, tapi kok bisa sampai masuk VIP club juga? Strategi naik kelas zaman sekarang kreatif banget ya."
Di bawahnya, komentar bergerak cepat.
"Cinderella jalur Doberman."
"Yang penting muka mendukung."
"Hati-hati, cowok kaya suka bosan cepat."
"Kalau miskin tapi tahu peluang, itu namanya smart."
Naomi merasa layar ponselnya terlalu terang.
Sinta langsung merebut ponsel itu dan menekan tombol lock. "Sudah. Jangan dibaca."
Naomi mengangguk, tapi komentar-komentar itu sudah masuk. Bukan karena ia percaya semuanya benar. Justru karena sebagian kecil dari dirinya takut orang-orang melihat sesuatu yang ia sendiri coba sembunyikan.
Ia memang miskin.
Ia memang bekerja di rumah konglomerat.
Ia memang merasa senang setiap kali Kelvin mengirim foto Felix.
Dan itu membuatnya tampak seperti tokoh jahat dalam cerita orang lain. Gadis biasa yang masuk ke kehidupan orang kaya, berdiri terlalu dekat dengan laki-laki yang sudah punya perjodohan, lalu berpura-pura semua terjadi karena kebetulan.
"Aku kelihatan seperti antagonis, ya?" gumam Naomi.
Sinta menoleh tajam. Kerudung kremnya bergerak sedikit saat ia memutar badan penuh ke arah Naomi. "Kamu dengar aku baik-baik. Orang yang kerja buat bayar hidupnya sendiri itu bukan antagonis. Yang antagonis itu orang yang ngetik jahat pakai akun anonim karena hidupnya kurang kerjaan."
Naomi menatap Sinta.
"Tapi mereka tidak sepenuhnya salah."
"Nao."
"Aku memang masuk ke tempat yang bukan duniaku."
"Kata siapa dunia punya pagar resmi?" Sinta melipat tangan di depan dada. "Kalau kamu kerja di sana, berarti kamu punya alasan untuk ada di sana. Kalau mereka iri, suruh mereka belajar bahasa Jerman dulu."
Naomi hampir tersenyum.
Sinta melihat celah itu dan langsung menambahkan, "Lagian kalau benar mau naik kelas, kamu harusnya pilih cara yang lebih gampang. Misalnya pura-pura pingsan di depan mobil sport. Bukan mandiin Doberman."
Tawa kecil keluar dari mulut Naomi sebelum ia sempat menahannya.
Namun tawa itu tidak bertahan lama.
Saat kelas selesai, bisik-bisik masih mengikuti. Dua mahasiswi di dekat pintu berhenti berbicara ketika Naomi lewat. Yang satu menatap sepatu Naomi, lalu tersenyum tipis pada temannya. Tidak ada kata kasar yang diucapkan langsung, tapi kadang tatapan bisa lebih rapi dalam melukai.
Naomi berjalan lebih cepat.
Di halaman fakultas, Brandon Sutanto menunggunya di dekat pohon ketapang. Ia tampak baru selesai rapat BEM, masih membawa map dan ID card di leher.
"Naomi."
Sinta yang berjalan di samping Naomi langsung memasang wajah waspada. "Ada apa, Kak Brandon?"
Brandon tersenyum sopan pada Sinta. "Aku dengar ada unggahan tidak enak tentang Naomi. Aku cuma mau tanya keadaannya."
Sinta tidak langsung luluh. "Cepat juga dengarnya."
"Anak BEM biasanya dikirimi kalau ada unggahan yang berpotensi jadi masalah kampus." Brandon menatap Naomi, suaranya turun menjadi lebih lembut. "Kamu baik-baik saja?"
Naomi ingin berkata iya. Jawaban itu lebih mudah. Lebih cepat.
Tapi di depan Brandon yang pernah membantunya soal kos, kebohongan sederhana itu terasa lelah.
"Saya tidak tahu harus merasa apa," jawabnya.
Brandon mengangguk, seolah jawaban itu masuk akal. "Wajar. Tapi kamu tidak perlu merasa bersalah karena bekerja. Kalau ada yang melewati batas, simpan screenshot. Aku bisa bantu lapor ke admin confessions atau ke pihak fakultas."
Sinta melirik Naomi. Kali ini ekspresinya sedikit melunak.
"Benar," kata Sinta. "Screenshot dulu. Kalau perlu aku bantu balas. Tapi pakai akun asli, biar mereka malu."
Naomi cepat menggeleng. "Jangan. Nanti makin ramai."
"Kadang harus ramai supaya orang kapok," gerutu Sinta.
Brandon tersenyum kecil. "Tapi Naomi benar. Kalau dia belum siap, jangan dipaksa. Kita kumpulkan bukti saja dulu."
Kita.
Kata itu seharusnya menenangkan. Dan memang, sebagian dari Naomi merasa lega. Ada Sinta yang marah untuknya. Ada Brandon yang bicara dengan tenang, menawarkan langkah yang terdengar dewasa dan aman.
Tapi sebagian lain merasa semakin kecil.
Kenapa untuk sekadar berjalan di kampus, ia harus punya bukti, strategi, dan orang yang membela?
Ponsel Naomi bergetar.
Pesan dari Kelvin.
Satu foto Felix sedang duduk dengan wajah serius di depan mangkuk makan.
"Dia mogok makan. Biasanya kamu bilang apa?"
Naomi menatap pesan itu, lalu cepat mematikan layar.
Terlambat.
Sinta melihat namanya sekilas. Brandon juga melihat gerakan Naomi, meski tidak menunjukkan reaksi berlebihan.
"Dari rumah tempat kamu kerja?" tanya Brandon ringan.
"Iya. Felix susah makan."
"Balas saja," kata Brandon. "Pekerjaanmu kan memang mengurus dia."
Nada Brandon begitu wajar sampai Naomi merasa malu pada kecurigaannya sendiri. Ia membuka ponsel lagi dan membalas singkat.
"Campur sedikit air hangat. Tunggu dua menit. Jangan langsung diberi snack."
Balasan Kelvin datang cepat.
"Bawel juga."
Naomi menatap dua kata itu lama sekali.
Sinta yang mengintip dari samping langsung menutup mulut menahan senyum. "Wah."
"Apa?"
"Tidak apa-apa. Felix lucu."
Naomi tahu Sinta berbohong, tapi ia terlalu malu untuk membahasnya.
Sore itu, Brandon menawarkan mengantar Naomi pulang karena ia kebetulan akan melewati Tebet setelah rapat sponsor BEM. Naomi sempat menolak, tapi Sinta berkata ia harus pergi ke perpustakaan dan tidak bisa menemani. Lagipula, Brandon selama ini selalu menjaga jarak yang sopan.
Di mobil Brandon, udara terasa berbeda dari mobil Kelvin. Tidak terlalu sunyi. Radio menyala pelan. Brandon bertanya tentang kuliah, tentang kerja minimarket, tentang Felix, semuanya dengan nada yang tidak memaksa.
"Kalau unggahan itu membuat kamu tidak nyaman bekerja di sana, kamu bisa berhenti," kata Brandon saat mobil mendekati area Tebet. "Aku bisa carikan part-time lain."
Naomi menatap jendela. "Honornya bagus."
"Uang memang penting."
"Sangat penting."
Brandon terdiam sebentar, lalu mengangguk. "Kalau begitu bertahan saja. Tapi jangan sampai kamu terluka sendirian."
Kalimat itu terdengar baik.
Naomi menoleh dan tersenyum kecil. "Terima kasih, Kak."
Brandon menurunkannya di depan gang kos, tidak memaksa masuk lebih jauh. Naomi merasa semakin yakin bahwa ia memang orang baik.
Setelah Naomi menghilang di ujung gang, Brandon tetap duduk di balik kemudi.
Senyum sopannya perlahan turun.
Ia mengambil ponsel, membuka satu ruang chat tanpa nama yang terlihat jelas dari luar, lalu mengetik sebuah pesan.
Lampu jalan memantul di kaca mobil, menutupi layar dari siapa pun yang mungkin lewat.
Beberapa detik kemudian, pesan itu terkirim.