NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Transmigrasi ke Dalam Novel / Dark Romance
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.

Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.

Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.

Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.

Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.

"Sayang, kamu kembali."

Kembali? Kiara baru saja tiba.

Atau... benarkah?

Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.

"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."

Kiara tahu dia harus takut.

Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 028

Gosip yang Tidak Dihapus

Ibu jari Rayhan berhenti di tepi ponsel.

Adi berdiri di sampingnya, tidak berani mengambil kembali perangkat itu terlalu cepat. Di layar, komentar bertambah dalam hitungan detik.

Putri Mahkota dan Jenderal Muda cocok banget.

Chemistry-nya sakit tapi cantik.

Kevin Wibowo tatapannya real sekali.

Ada yang mulai membuat potongan lambat dengan musik sedih. Ada yang membandingkan ekspresi Kiara di adegan itu dengan berita keluarganya kemarin. Ada juga yang sudah membuat nama pasangan layar, terlalu cepat dan terlalu bersemangat.

Rayhan membaca semuanya tanpa mengubah wajah.

"Saya bisa minta tim bersihkan," kata Adi pelan.

Kiara yang sedang minum air langsung menoleh. "Bersihkan apa?"

Rayhan mengunci layar ponsel, tetapi terlambat. Kiara sudah melihat sekilas wajahnya dan Kevin berdampingan.

"Oh." Ia berkedip. "Itu cepat sekali."

Ci Lucy datang dengan ponselnya sendiri, wajah antara pusing dan bersemangat. "Ini bukan kebocoran buruk. Justru bagus. Engagement tinggi. Orang-orang bicara tentang aktingmu, bukan skandal keluarga."

"Tapi mereka juga bicara tentang Kevin," ucap Santi, terlalu jujur.

Kiara melirik Rayhan.

Pria itu masih tenang.

Terlalu tenang.

"Jangan hapus," kata Rayhan akhirnya.

Adi terdiam. Ci Lucy juga tampak sedikit terkejut.

Rayhan menatap Kiara. "Itu pekerjaanmu. Kalau orang melihat kemampuanmu, biarkan."

Kalimat itu membuat dada Kiara menghangat lebih kuat daripada pujian apa pun. Ia tahu betapa tidak sukanya Rayhan melihat namanya disandingkan dengan pria lain. Ia bahkan bisa melihat dingin tipis di matanya setiap kali komentar menyebut Kevin. Tapi ia menahannya.

Bukan karena tidak cemburu.

Karena ia memilih tidak merusak sesuatu yang bisa membantu Kiara berdiri lebih tinggi.

"Terima kasih," kata Kiara pelan.

Rayhan mendekat, mengambil gelas dari tangannya, lalu memeriksa sisa air. "Terima kasihnya nanti. Sekarang duduk lima menit."

Kiara hampir tertawa. "Koko sedang cemburu atau sedang jadi perawat?"

"Dua-duanya."

Santi menunduk pura-pura merapikan tas.

Ci Lucy batuk kecil. "Aku pura-pura tidak dengar."

Rayhan sama sekali tidak merasa bersalah.

***

Keesokan harinya, nama Kiara masuk daftar pencarian panas beberapa platform hiburan.

Bukan karena Wenny. Bukan karena Tanuwijaya. Bukan karena Chandra yang namanya mulai hilang dari berita bisnis dengan cara aneh dan tertutup.

Karena aktingnya.

Potongan adegan Putri Mahkota beredar luas. Komentar penonton berubah dari sekadar kasihan pada Kiara menjadi penasaran pada filmnya. Akun-akun review film mulai menulis bahwa Gerbang Majapahit mungkin akan menjadi kejutan besar jika kualitas adegannya konsisten.

Gunawan Halim masuk studio dengan langkah seperti pahlawan perang.

"Aku bilang juga apa!" serunya sambil mengangkat tablet. "Kalian semua lihat? Satu tetes air mata Kiara lebih mahal daripada sepuluh episode sinetron tangisan ember!"

Beberapa kru tertawa.

Kiara menutup wajahnya dengan naskah. "Om Gunawan, jangan lebay."

"Aku sutradara. Lebay adalah hak konstitusional."

Kevin yang baru datang ikut tersenyum. "Selamat, Kiara. Semalam timeline penuh dengan adegan kita."

Kata kita membuat mata Rayhan yang berdiri di dekat monitor sedikit bergerak.

Kevin menyadarinya, tetapi tetap menatap Kiara dengan ramah. "Maksudku adegan Putri Mahkota dan Jenderal Muda."

Kiara mengangguk. "Itu kerja semua orang."

"Tetap saja, kamu yang membuat adegan itu hidup."

Pujian itu tulus. Mungkin terlalu tulus.

Kiara belum sempat menjawab ketika Gunawan menepuk naskahnya dengan gulungan kertas.

"Sudah, sudah. Jangan saling puji lama-lama. Nanti ada yang membakar studio."

Semua orang otomatis melirik Rayhan.

Rayhan mengangkat alis. "Saya belum melakukan apa-apa."

"Kata kuncinya belum," gumam Gunawan.

Kiara tidak tahan dan tertawa kecil. Tawa itu membuat ketegangan pagi lebih ringan. Bahkan Rayhan menatapnya sedikit lebih lembut.

Adegan hari itu lebih sulit. Putri Mahkota harus berpura-pura menerima keputusan istana, sementara jenderal muda diam-diam menyelipkan surat pelarian di bawah cangkir teh. Tidak ada sentuhan besar, tidak ada kalimat cinta, hanya tatapan dan jeda.

Justru itu yang berbahaya.

"Kevin, jangan terlalu romantis," Gunawan mengingatkan dari monitor. "Kamu jenderal yang menahan diri, bukan cowok SMA mau confess di kantin."

Kevin tertawa. "Siap, Om."

"Kiara, kamu jangan terlalu dingin. Dia satu-satunya orang yang masih kamu percaya."

Kiara mengangguk.

Kamera mulai.

Adegan berjalan hampir tanpa suara. Kevin meletakkan cangkir di dekat Kiara. Di bawah alasnya, ada kertas kecil. Jari Kiara bergerak mengambilnya, tetapi tidak langsung membuka. Ia hanya menatap Kevin sekilas.

Tatapan itu cukup.

Ada takut, percaya, dan perpisahan yang belum terjadi.

Kevin membalas dengan mata yang perlahan melembut. Ia tidak menyentuh Kiara sama sekali, tetapi monitor menangkap jarak di antara mereka seperti benang tipis yang ditarik terlalu kencang.

"Cut," kata Gunawan pelan.

Ia tidak langsung berteriak puas. Ia menonton ulang beberapa detik, lalu mengangguk berkali-kali.

"Ini yang aku mau. Tahan. Sakitnya bukan di dialog, tapi di udara."

Kru promosi di belakang monitor saling pandang. Mereka tahu bahan hari ini juga akan meledak jika dilepas.

Rayhan tahu juga.

Kiara keluar dari set dan duduk di kursi lipat. Sebelum Santi sempat mengambilkan air, Kevin sudah mengambil botol dari meja terdekat dan mengulurkannya.

"Minum dulu," kata Kevin.

Kiara belum menyentuh botol itu.

Rayhan sudah berdiri di sampingnya dengan termos kecil.

"Dia minum air hangat."

Suara itu tenang, tetapi botol di tangan Kevin terasa mendadak tidak punya tempat.

Kevin menurunkan tangannya. "Maaf. Aku tidak tahu."

"Sekarang tahu," jawab Rayhan.

Kiara menerima termos dari Rayhan, lalu menatapnya dengan mata menyipit. "Koko."

"Apa?"

"Nada."

Rayhan diam dua detik, lalu menoleh pada Kevin. "Terima kasih sudah memperhatikan."

Ucapan itu sopan.

Terlalu sopan sampai terasa lebih mengancam daripada marah.

Kevin tersenyum tipis. "Sama-sama, Pak Rayhan."

Kiara merasa kepalanya sedikit pening, bukan karena sakit, tetapi karena dua pria dewasa di depannya seperti sedang bertukar pisau lewat kalimat terhormat.

"Aku mau baca naskah," katanya cepat.

"Aku temani," kata Rayhan.

"Aku juga ada adegan berikutnya," kata Kevin hampir bersamaan.

Hening satu detik.

Gunawan dari kejauhan berteriak, "Kalau kalian bertiga mau bikin drama baru, bayar lokasi sendiri!"

Kali ini Kiara benar-benar tertawa.

***

Malamnya, Kevin duduk di mobil setelah selesai syuting. Riasan sudah dihapus, tetapi rasa adegan tadi masih tertinggal di dadanya.

Ia membuka ponsel.

Potongan adegan dengan Kiara kembali naik. Komentar baru terus masuk. Sebagian memuji akting. Sebagian mulai menulis bahwa tatapan Kevin terlalu nyata untuk sekadar peran.

Kevin mematikan layar.

Tapi beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar lagi.

Nama Melinda Wibowo muncul.

Kevin menatap layar cukup lama sebelum mengangkat.

Suara Melinda terdengar halus dari seberang. "Kevin, Tante lihat berita hari ini. Kamu dan Kiara terlihat sangat serasi."

Kevin mengerutkan kening. "Itu cuma adegan."

"Adegan bisa menjadi awal banyak hal," jawab Melinda lembut. "Jangan mundur hanya karena Rayhan berdiri di dekatnya."

Jari Kevin mengencang di ponsel.

Dari kaca mobil, ia bisa melihat di kejauhan Rayhan membuka pintu mobil untuk Kiara, menunduk agar kepala Kiara tidak terbentur, lalu menutupkannya dengan hati-hati.

Melinda masih bicara, suaranya manis seperti racun.

"Kalau kamu benar-benar menyukainya, dekati dia pelan-pelan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!