NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Ketahuan Sebelum Mengaku

Yu tidak mengatakan kalimat itu di mobil.

Ia menyukai Zhen.

Kalimat itu ia simpan di belakang gigi, di bawah lidah, di sela napas yang terlalu pelan sepanjang perjalanan pulang. Zhen juga tidak memaksa bicara. Ia hanya menyetir, menurunkan suhu AC sedikit ketika Yu menggosok lengannya, lalu meletakkan sebotol air mineral di cup holder dekat tangan Yu.

Perhatian kecil yang dulu mungkin bisa Yu masukkan ke kategori aman.

Sekarang tidak bisa lagi.

Karena setiap perhatian terasa punya suara.

Karena aku mau.

Malam itu berakhir tanpa pengakuan apa pun. Yu mandi, mencuci sisa noda red wine dari kukunya, lalu tidur dengan mata terbuka hampir satu jam. Paginya, ia bangun lebih siang dari biasanya dan menemukan aroma bubur ayam di apartemen.

Zhen ada di dapur.

Ia memakai kaus abu-abu dan celana santai, rambut masih agak basah. Di meja, ada dua mangkuk bubur ayam tanpa terlalu banyak bawang goreng, satu gelas air hangat, dan piring kecil berisi potongan cakwe.

Yu berhenti di ujung lorong.

Zhen menoleh. "Bangun?"

Pertanyaan biasa.

Suara biasa.

Namun Yu langsung ingat wajahnya di mobil, kalimatnya tentang cantik, dan fakta memalukan bahwa ia sekarang memperhatikan rambut basah pria itu seperti orang tidak punya kerjaan.

"Iya," jawab Yu terlalu cepat.

Zhen memandangnya sebentar. "Muka kamu merah."

"Habis tidur."

"Tidur tidak biasanya membuat orang terlihat mau meledak."

"Kamu kalau komentar pagi-pagi bisa lebih lembut?"

"Bisa. Tapi tidak perlu."

Yu duduk sambil mengambil sendok. Ia berusaha menatap bubur saja. Bubur aman. Bubur tidak punya rahang tegas. Bubur tidak pernah berdiri di pintu dan berkata jangan sentuh dia.

Zhen meletakkan gelas air di depannya. "Tanganmu?"

"Sudah bersih."

"Bukan noda. Sakit?"

Yu menggenggam sendok. "Sedikit pegal. Mungkin karena terlalu dramatis."

"Kalau mau dramatis, lain kali pakai gelas plastik."

Yu hampir menyemburkan tawa.

Saat itulah pintu apartemen berbunyi.

Tanpa menunggu terlalu lama, suara Yan sudah masuk lebih dulu daripada orangnya. "Bro, gue bawa kopi. Kalau kalian lagi adegan rumah tangga, pura-pura gue kurir."

Yu membeku dengan sendok di tangan.

Zhen menutup mata sebentar, seolah sedang meminta kesabaran pada langit-langit. "Kenapa kamu punya akses lift?"

Yan muncul dari pintu dengan paper bag kopi susu dan kotak martabak kecil. Ia memakai hoodie hijau gelap, rambut berantakan rapi, senyum terlalu lebar untuk pagi.

"Karena security bawah mencintai gue."

"Dia cuma tidak tahan kamu bicara."

"Sama aja. Eh." Yan berhenti begitu melihat Yu dan meja sarapan. Matanya bergerak dari bubur, ke gelas air, ke Zhen, lalu ke wajah Yu yang pasti masih panas. "Wah."

"Jangan," kata Zhen.

Yan mengangkat dua tangan. "Gue belum ngomong."

"Wajahmu sudah."

"Wajah gue memang ekspresif. Karunia keluarga Seng." Yan meletakkan kopi di meja, lalu menarik kursi tanpa izin. "Jadi ini suasana apa? Pasangan baru ribut habis kondangan? Atau dua tersangka yang belum sepakat alibi?"

Yu batuk.

Zhen mengambil satu kopi dari paper bag. "Kamu datang untuk apa?"

"Ngasih kopi, ngambil charger, dan memastikan kabar yang gue dengar tidak palsu."

Yu perlahan menurunkan sendok. "Kabar apa?"

Yan menatapnya dengan mata berbinar. "Ada alumni reunion di SCBD. Satu cewek nyiram satu cewek lain pakai red wine. Lalu ada cowok tinggi dingin masuk dan bikin semua orang di ruangan mendadak ingat tata krama."

"Sumbermu siapa?" tanya Zhen.

"Jakarta kecil, Zhen. Orang kaya lebih kecil lagi."

Yu menutup wajah dengan satu tangan. "Sudah tersebar?"

"Belum viral. Tenang. Cuma lewat jalur gosip premium."

"Itu tidak menenangkan."

Yan memiringkan kepala, menatap Yu lebih serius sebentar. "Lu oke?"

Pertanyaan itu tidak terdengar seperti lelucon. Yu menurunkan tangan.

"Aku oke."

"Bener?"

"Bener."

Yan mengangguk, lalu kembali memakai senyum malasnya. "Kalau begitu gue boleh bilang selamat. Akhirnya ada yang menyiram Meilin. Dulu gue cuma pernah dengar namanya dari Kevin dan aura dia memang tidak sehat."

"Kamu kenal Kevin?" tanya Yu.

"Kenal di acara keluarga jauh. Anak itu kalau senyum kayak lagi minta diskon dosa."

Zhen menendang kaki kursi Yan dari bawah meja.

"Aduh. Ini bukti kekerasan rumah tangga terhadap tamu."

"Kamu bukan tamu."

"Aku apa?"

"Gangguan."

Yan tertawa. Yu ikut tertawa kecil sebelum sempat menahan diri.

Tawa itu membuat sesuatu di dapur berubah. Bukan banyak. Hanya cukup untuk membuat Yan menatap mereka lagi dengan ekspresi baru, seperti orang menemukan bug lucu di kode orang lain.

"Oh," katanya pelan.

Yu langsung berhenti tertawa. "Apa?"

"Nggak. Gue cuma merasa frekuensi apartemen ini berubah."

"Frekuensi apa?"

"Dulu kalau Zhen ngelihat lo, auranya kayak orang menganalisis masalah. Sekarang kayak orang menjaga barang pecah belah mahal tapi pura-pura itu cuma gelas IKEA."

Zhen menatapnya datar. "Charger kamu di ruang kerja. Ambil lalu keluar."

"Sensitif." Yan berdiri sambil membawa satu potong martabak. "Kalau aku benar, kedip dua kali."

"Yan."

"Oke, oke."

Belum sempat Yan masuk ruang kerja, bel apartemen berbunyi lagi.

Yu memandang Zhen. Zhen memandang Yan.

Yan mengunyah martabak. "Jangan lihat gue. Gue tidak pesan siapa-siapa."

Ketika pintu dibuka, Lily berdiri di luar dengan tote bag besar dan wajah siap menginterogasi.

"Yu, gue lihat chat Siska. Lo hidup?"

Lalu matanya pindah ke Yan.

Yan berhenti mengunyah.

"Lil."

Lily menyipitkan mata. "Ko Yan?"

Yu melihat perubahan kecil itu. Suara Lily masih normal, tetapi tubuhnya langsung lebih tegak. Yan yang lima detik lalu seperti pengeras suara berjalan, mendadak menelan martabak tanpa bercanda.

"Kok kamu di sini?" tanya Lily.

"Ngambil charger."

"Pagi-pagi?"

"Charger tidak mengenal jam."

Lily menatapnya dua detik lebih lama daripada perlu, lalu masuk melewati ambang pintu. "Terserah. Yu dulu."

Ia langsung menarik Yu ke sofa, membuka tote bag, mengeluarkan tisu basah, salep, dan cokelat.

"Aku tidak luka, Lil."

"Ini bukan logika. Ini paket darurat sahabat."

Yan dari ruang makan bergumam, "Paketnya ada buat korban martabak kering?"

Lily menoleh tajam. "Ko Yan, kalau mau hidup panjang, makan diam."

Yan mengangkat martabak seperti bendera putih.

Zhen mengambil mangkuk kosong dan menyingkir ke dapur, tetapi Yu merasakan tatapannya sesekali jatuh ke arah sofa. Tidak berlebihan. Tidak ikut campur. Tetap ada.

Lily memperhatikan arah mata Yu.

Lalu memperhatikan Zhen.

Lalu kembali ke Yu.

"Oh," kata Lily.

Yu langsung tegang. "Jangan oh."

"Gue belum ngomong."

"Mukamu sudah."

Dari meja makan, Yan berseru, "Kalimat itu barusan plagiarisme Zhen."

Zhen menatapnya. "Charger."

"Iya, iya."

Lily mendekatkan wajah pada Yu, suaranya turun menjadi bisikan tajam. "Lo kenapa kalau lihat dia jadi kayak habis ketahuan nyontek?"

"Aku tidak begitu."

"Lo begitu."

"Aku cuma capek."

"Capek nggak bikin orang nunduk setiap cowok bawain air."

Yu menggenggam bantal sofa. "Lil."

Lily tidak tersenyum. Justru karena itu Yu tahu sahabatnya serius.

"Yu," katanya pelan. "Kamu suka dia, kan?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!