NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Kamu...

Yu hanya tidur tiga jam setelah pulang dari Sentul.

Paginya, ia duduk di kelas dengan mata perih dan kepala berat. Setiap kali dosen menjelaskan, suara mesin mobil semalam seperti masih meraung di belakang pikirannya. Gerbang Sentul, lampu putih, orang-orang yang memanggil Z, semuanya menempel seperti adegan film yang tidak selesai.

Lily menyodorkan kopi kaleng ke mejanya.

"Lo kelihatan kayak habis dikejar debt collector beneran."

"Kurang tidur."

"Kenapa?"

"Nulis."

Lily menyipit. "Nulis tugas atau nulis kebohongan?"

Yu mengambil kopi itu. "Terima kasih kopinya."

"Jawaban menghindar."

Untungnya dosen masuk sebelum Lily bisa menggali lebih dalam.

Namun masalah hari itu ternyata bukan Lily.

Setelah kelas selesai, Yu berjalan keluar gedung sambil membaca pesan dari grup tugas. Di dekat taman kecil Fasilkom, beberapa mahasiswa berdiri bergerombol. Awalnya Yu tidak peduli. Lalu ia melihat siapa yang berdiri di tengah.

Kevin Jiang.

Dengan kemeja rapi, wajah kurang tidur, dan buket bunga putih di tangan.

Langkah Yu berhenti.

Lily yang berjalan di sebelahnya langsung mengeluarkan suara pelan yang sangat berbahaya. "Oh, dia cari mati."

Kevin melihat Yu. Wajahnya berubah seperti orang yang akhirnya menemukan pintu keluar setelah tersesat.

"Yu."

Beberapa kepala menoleh.

Yu merasakan perhatian orang-orang menempel di kulitnya. Ia tidak suka. Kevin tahu ia tidak suka menjadi tontonan. Mungkin justru karena itu ia memilih tempat seperti ini, ruang terbuka, siang hari, di depan banyak saksi, agar Yu sulit pergi tanpa terlihat kejam.

"Kita bicara sebentar," kata Kevin.

"Tidak."

Jawaban itu keluar jelas.

Kevin tampak terluka, terlalu siap untuk terlihat terluka. "Aku cuma minta lima menit."

"Aku sudah bilang tidak."

Lily maju setengah langkah. "Lo dengar kan?"

Kevin menatap Lily sekilas, lalu kembali ke Yu. "Ini urusan aku dan Yu."

"Kalau lo bikin dia nggak nyaman, jadi urusan gue juga," balas Lily.

Beberapa mahasiswa mulai berbisik. Yu menggenggam strap tasnya. Haus sentuhan belum kambuh, tapi tubuhnya tetap waspada. Melihat Kevin membawa bunga membuatnya ingin tertawa dan muntah sekaligus.

"Yu," Kevin melembutkan suara. "Aku salah. Aku sudah putus kontak dengan Meilin."

Yu menatap bunga itu. "Selamat."

"Aku serius."

"Aku juga serius waktu bilang kita selesai."

Kevin menarik napas, seolah sedang menahan emosi besar. "Tiga tahun nggak bisa kamu buang begitu saja."

"Kamu yang membuangnya dulu."

Kalimat itu membuat kerumunan kecil makin diam.

Wajah Kevin memerah. Ia menurunkan buket sedikit. "Aku sudah minta maaf. Apa lagi yang kamu mau? Aku datang ke sini, di depan semua orang, supaya kamu tahu aku nggak main-main."

Yu menatapnya lama.

Dulu, ia mungkin akan goyah. Kevin datang dengan wajah lelah, bunga, suara rendah. Dulu, Yu akan memikirkan kenangan baik, pesan pagi, ulang tahun, tiga tahun yang ia jaga. Dulu, ia akan takut disebut kejam.

Sekarang yang ia ingat hanya pintu apartemen yang terbuka dan Meilin di sofa.

"Aku mau kamu berhenti," kata Yu.

Kevin terdiam.

"Berhenti kirim pesan. Berhenti pakai nomor baru. Berhenti suruh temanmu mengikuti aku. Berhenti muncul di depan kelasku dengan bunga seolah aku yang harus memaafkan supaya kamu terlihat baik."

Suara Yu tidak keras, tapi cukup terdengar.

Lily menahan napas di sampingnya.

Kevin tampak terpojok. "Aku nggak pernah menyuruh siapa pun mengikuti kamu."

"Temanmu datang kemarin."

"Dia cuma khawatir."

"Aku takut."

Kevin membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Untuk pertama kalinya, ia tidak punya kalimat siap pakai.

Dari arah gedung utama, suara langkah mendekat. Kerumunan yang tadi menatap Kevin mendadak bergeser sedikit. Yu tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Ada jenis sunyi tertentu yang selalu mengikuti Zhen di Fasilkom.

Zhen berhenti di sisi Yu.

Tidak terlalu dekat. Cukup satu langkah di sampingnya. Cukup membuat udara berubah.

"Ada masalah?" tanyanya.

Kevin menatap Zhen.

Yu melihat perubahan di wajah Kevin sebelum ia mendengar jawabannya. Pertama kesal karena ada laki-laki ikut campur. Lalu bingung. Lalu matanya menyipit, seperti mencoba mencocokkan wajah di depannya dengan ingatan lama.

"Ini bukan urusanmu," kata Kevin, tapi suaranya tidak sekuat tadi.

Zhen menatap buket bunga di tangan Kevin. "Kalau dia sudah bilang tidak, seharusnya selesai."

"Kamu siapa sampai bisa bicara begitu?"

Zhen belum menjawab.

Lily menyilangkan tangan. "Seseorang yang lebih bisa dengar kata tidak daripada lo."

Beberapa orang di belakang nyaris tertawa.

Kevin menegang. Ia memandang Yu. "Jadi ini alasan kamu nggak mau bicara? Karena sudah ada orang baru?"

Yu merasa sesuatu di dadanya dingin.

Tuduhan itu datang begitu mudah. Kevin selingkuh, lalu tetap mencari cara agar Yu terlihat bersalah.

Zhen bergerak sedikit, tidak menyentuh Yu, hanya menempatkan tubuhnya lebih sejajar dengannya. "Hati-hati bicara."

Kevin menatapnya lagi.

Kali ini lebih lama.

Warna di wajah Kevin pelan-pelan berubah.

"Kamu..." Ia mengerutkan kening. "Aku pernah lihat kamu."

Zhen diam.

Kevin seperti mengingat sesuatu yang membuatnya makin tidak nyaman. "Sim?"

Kerumunan berbisik lebih keras.

Yu menoleh ke Zhen.

Zhen hanya memandang Kevin tanpa ekspresi.

Kevin menelan ludah. "Sim Zhenyu?"

Nama lengkap itu jatuh di antara mereka seperti benda berat.

Lily melirik Yu dengan mata bertanya-tanya.

Yu sendiri tidak mengerti mengapa Kevin mendadak terlihat lebih pucat daripada saat tertangkap selingkuh.

"Kamu kenal dia?" tanya Yu.

Kevin tidak menjawab Yu.

Matanya masih terkunci pada Zhen, dan suara berikutnya keluar lebih pelan, hampir tidak percaya.

"Kamu..."

Ia berhenti, buket bunga menggantung sia-sia di tangannya.

Zhen akhirnya berkata, "Kalau sudah selesai, pergi."

Kevin mundur satu langkah.

Tidak ada yang langsung bicara. Bunga putih di tangan Kevin terlihat makin konyol di bawah matahari siang. Beberapa mahasiswa yang tadi menonton mulai pura-pura melihat ponsel, tapi telinga mereka jelas masih berada di tempat yang sama.

Lily mengambil buket itu dari tangan Kevin sebelum siapa pun menduga.

"Ini ganggu jalan," katanya, lalu meletakkannya di bangku taman terdekat. "Ambil lagi kalau lo sudah ingat cara menghargai kata tidak."

Kevin tampak ingin membalas, tetapi ia menatap Zhen sekali lagi dan memilih menelan kalimatnya. Ia berbalik pergi dengan langkah cepat, melewati kerumunan yang otomatis membuka jalan.

Zhen tidak mengejar.

Ia hanya menoleh kepada Yu. "Kamu mau duduk?"

Pertanyaan itu pelan, tidak seperti ancaman barusan. Justru karena pelan, Yu merasa tulang punggungnya yang sejak tadi keras mulai lelah.

"Nggak," jawabnya. "Aku bisa berdiri."

Zhen menatapnya.

"Jangan hitung jawaban cepat," tambah Yu.

"Aku belum bicara."

Lily menghela napas keras. "Kalian berdua nanti flirting-nya bisa setelah gue memastikan mantan brengsek itu benar-benar keluar kampus?"

Yu tersedak udara. "Lil!"

Tidak ada penjelasan. Tidak ada permintaan maaf lagi. Hanya wajah seseorang yang baru menyadari bahwa laki-laki di samping mantan pacarnya bukan sekadar mahasiswa lewat.

Yu menatap Kevin, lalu Zhen.

Untuk pertama kalinya, ia merasa ada rahasia lain yang bergerak di bawah semua kesalahpahaman mereka.

Dan Kevin jelas mengenal rahasia itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!