Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Undangan makan malam Sabrina datang dalam bentuk kartu tebal berwarna gading.
Nama Raka dicetak dengan tinta emas. Di bawahnya, nama Maya ditulis lengkap: Maya Lestari Wijaya.
Maya menatap nama itu lama.
Wijaya.
Ia belum terbiasa melihat nama itu menempel pada namanya. Rasanya seperti memakai perhiasan yang terlalu berat. Indah bagi orang lain, tapi membuat lehernya kaku.
“Kalau kamu tidak ingin datang, kita tidak datang,” kata Raka.
Maya mengangkat wajah. “Bukankah acara itu penting untuk bisnis?”
“Tidak sepenting tekanan darahmu.”
Ia hampir tersenyum.
Selama beberapa hari terakhir, Raka benar-benar berubah menjadi penjaga tekanan darah. Ia menyimpan alat tensi digital di ruang makan, kamar, bahkan mobil. Setiap kali Maya terlihat terlalu lama memikirkan sesuatu, ia bertanya, “Pusing?” dengan wajah seperti siap memanggil dokter satu rumah sakit.
“Saya akan datang,” kata Maya.
Raka menatapnya. “Yakin?”
“Sabrina mengundang saya. Kalau saya tidak datang, dia akan merasa menang sebelum mulai.”
“Ini bukan pertandingan.”
“Untuk dia, iya.”
Raka tidak membantah.
Jumat malam, Maya memakai kebaya modern warna hijau sage. Tidak terlalu mewah, tapi potongannya rapi. Rambutnya tertutup jilbab lembut. Wati memasangkan bros kecil, lalu mundur dengan mata berkaca-kaca.
“Mbak Wati kenapa?”
“Tidak apa-apa, Bu. Saya cuma senang lihat Ibu begini.”
Maya memegang tangannya. “Saya masih orang yang sama.”
“Iya. Tapi sekarang orang-orang harus melihat Ibu dengan benar.”
Kalimat itu membuat Maya terdiam.
Di ruang tamu, Raka sudah menunggu. Ia menatap Maya dari atas ke bawah, lalu mengulurkan tangan.
Maya melihat tangan itu.
“Harus?”
“Harus.”
“Nanti orang melihat.”
“Itu tujuannya.”
Maya meletakkan tangannya di atas tangan Raka.
Jari-jarinya langsung tertutup genggaman hangat.
Acara diadakan di kediaman keluarga Surya Dharma, rumah besar di kawasan Menteng dengan halaman luas dan penjagaan ketat. Lampu taman menyala lembut. Mobil-mobil mewah berbaris. Tamu-tamu turun dengan pakaian mahal dan senyum terukur.
Maya menarik napas ketika keluar dari mobil.
Raka merasakan tangannya menegang.
“Lihat aku kalau gugup.”
“Kalau saya terus melihat Mas Raka, nanti orang bilang saya norak.”
“Biarkan.”
“Mas Raka tidak membantu.”
“Aku bukan orang lucu.”
Maya hampir tertawa.
Mereka masuk bersama.
Bisik-bisik langsung mengikuti. Maya bisa merasakannya seperti angin dingin di punggung. Beberapa tamu mengenali Raka dan mendekat menyapa. Mereka tersenyum sopan pada Maya, tapi mata mereka penuh pertanyaan.
Janda?
Berapa umurnya?
Benar hamil?
Bagaimana bisa?
Maya tidak mendengar kata-kata itu, tapi ia sudah cukup lama hidup di antara tatapan untuk bisa membacanya.
Raka memperkenalkannya tanpa ragu.
“Istri saya, Maya.”
Setiap kali ia mengatakan itu, genggamannya tidak lepas.
Sabrina muncul di tengah ruangan.
Ia memakai gaun hitam elegan, rambut digelung rendah, berlian kecil di telinga. Cantiknya tenang dan mahal. Ia berjalan mendekat dengan senyum sempurna.
“Raka.”
“Sabrina.”
Matanya pindah ke Maya.
“Bu Maya. Akhirnya kita bertemu.”
Maya membalas senyum. “Mbak Sabrina.”
Sudut bibir Raka bergerak sedikit.
Sabrina menangkapnya. Matanya menajam sekejap, lalu kembali manis.
“Saya senang Ibu datang. Saya sempat khawatir acara seperti ini membuat Ibu tidak nyaman.”
“Sedikit,” jawab Maya jujur. “Tapi saya belajar.”
“Belajar cepat sekali, ya.” Sabrina tertawa lembut. “Raka memang guru yang baik?”
Maya menoleh ke Raka. “Dia lebih sering memerintah daripada mengajar.”
Beberapa tamu yang mendengar tertawa kecil.
Raka menatap Maya, tidak marah. Justru ada kilatan hangat di matanya.
Sabrina melihat itu.
Senyumnya menipis.
“Papa ingin bertemu kalian.”
Pak Surya, ayah Sabrina, duduk di kursi utama. Pria tua itu berwajah tegas, rambutnya putih, matanya tajam meski usianya sudah lanjut. Ketika melihat Raka, ia tersenyum hangat.
“Raka. Lama tidak datang.”
“Selamat malam, Om.”
Pak Surya menatap Maya.
Untuk satu detik, ekspresinya berubah.
Maya melihat jelas. Seperti orang yang tersentak oleh kenangan.
“Ini Maya,” kata Raka. “Istri saya.”
Pak Surya tidak langsung menjawab.
Matanya tertahan di wajah Maya, terutama pada garis matanya.
Sabrina memperhatikan ayahnya.
“Pa?”
Pak Surya seperti tersadar.
“Ah. Maaf.” Ia tersenyum kepada Maya, kali ini lebih lembut daripada sebelumnya. “Selamat datang, Bu Maya.”
“Terima kasih, Pak.”
“Berapa bulan kandungannya?”
Pertanyaan itu membuat Sabrina kaku.
Maya juga terkejut, tapi nada Pak Surya tidak menghina. Ia terdengar seperti benar-benar bertanya.
“Masih awal, Pak.”
“Jaga kesehatan. Kehamilan di usia matang perlu perhatian lebih.”
“Iya, Pak.”
Pak Surya mengangguk. “Kalau butuh dokter tambahan, rumah sakit keluarga kami punya spesialis yang baik.”
Sabrina tersenyum kaku. “Pa, Raka pasti sudah menyiapkan dokter terbaik.”
“Tetap tidak ada salahnya menawarkan.”
Maya merasakan ketegangan kecil di antara ayah dan anak itu, tapi ia tidak memahami sebabnya.
Makan malam dimulai.
Maya duduk di samping Raka. Di meja bundar itu ada beberapa pengusaha, istri pejabat, dan kerabat Sabrina. Pembicaraan berputar tentang proyek properti, yayasan, investasi kesehatan, dan acara amal.
Maya lebih banyak diam.
Ia tidak tahu istilah-istilah yang mereka pakai. Ia takut salah bicara. Setiap kali piring baru datang, ia juga menunggu orang lain mengambil lebih dulu agar tidak keliru.
Sabrina tentu melihat.
“Bu Maya,” katanya tiba-tiba, cukup keras untuk didengar satu meja, “Ibu biasanya ikut acara amal seperti ini?”
Maya meletakkan sendok.
“Belum.”
“Oh. Pantas. Dunia ini memang agak berbeda dari… pekerjaan Ibu sebelumnya.”
Meja menjadi hening.
Raka menatap Sabrina.
Maya menyentuh punggung tangan Raka pelan, menahannya.
“Benar,” jawab Maya. “Dulu pekerjaan saya membersihkan ruangan setelah acara seperti ini selesai. Jadi mungkin saya lebih tahu bagian yang tidak dilihat tamu.”
Seorang ibu di meja tersenyum tipis, bukan mengejek, melainkan tertarik.
“Itu jawaban bagus, Bu Maya.”
Maya mengangguk sopan.
Sabrina tertawa kecil. “Saya tidak bermaksud menyinggung. Saya hanya kagum Ibu berani masuk ke lingkungan baru secepat ini.”
“Saya juga kagum,” kata Maya.
Sabrina mengangkat alis. “Pada apa?”
“Pada orang yang lahir di lingkungan ini tapi masih merasa perlu membuat orang baru tidak nyaman.”
Sendok seseorang berdenting.
Raka menunduk mengambil air, tapi Maya melihat bahunya bergerak sedikit. Ia menahan senyum.
Sabrina menatap Maya dengan mata dingin.
“Ibu cukup tajam juga.”
“Saya hanya menjawab.”
Pak Surya yang duduk tidak jauh tertawa pelan.
“Raka, istrimu menarik.”
Raka menjawab datar, “Saya tahu.”
Maya menunduk, wajahnya panas.
Setelah makan, tamu berpindah ke ruang tengah untuk menikmati musik. Sabrina mendekati Raka saat Maya sedang mengambil air hangat.
“Kamu berubah,” kata Sabrina.
Raka tidak melihatnya. “Semua orang berubah.”
“Tidak. Kamu tidak pernah membiarkan perempuan mempermalukanku di meja makan.”
“Kamu yang memulai.”
“Karena dia tidak pantas duduk di sana.”
Raka menatapnya.
“Dia duduk di sana karena aku membawanya.”
Sabrina mengepalkan tangan.
“Kamu akan menyesal. Hari ini dia terlihat lucu karena berani menjawab. Tapi nanti? Dia tidak tahu dunia kita. Dia tidak tahu cara bicara dengan investor, tidak tahu cara berdiri di sampingmu saat krisis, tidak tahu apa pun tentang beban namamu.”
“Aku tidak menikahinya untuk menjadi staf hubungan investor.”
“Kamu menikahinya karena dia hamil.”
Raka diam.
Sabrina tersenyum pahit. “Lihat? Kamu tidak bisa membantah.”
“Aku tidak membantah karena aku tidak perlu menjelaskan pernikahanku padamu.”
Maya mendengar bagian terakhir ketika kembali membawa gelas.
Langkahnya berhenti.
Sabrina melihatnya, lalu tersenyum.
“Bu Maya, maaf. Kami sedang membicarakan hal lama.”
Maya menggenggam gelas.
“Saya lihat.”
Raka berjalan ke arahnya. “Kita pulang.”
“Acara belum selesai.”
“Kamu lelah.”
Maya tahu itu bukan satu-satunya alasan.
Pak Surya mendekat sebelum mereka pergi. Ia menyerahkan kartu nama pribadi kepada Maya.
“Kalau suatu hari Ibu butuh bantuan, hubungi saya langsung.”
Sabrina menatap kartu itu seperti melihat pisau.
Maya menerimanya dengan bingung. “Terima kasih, Pak.”
Pak Surya menatap wajahnya lagi. Kali ini lebih lama.
“Maaf kalau saya lancang. Ibu mengingatkan saya pada seseorang.”
Maya terdiam.
“Siapa, Pak?”
Pak Surya seperti ingin menjawab, tapi Sabrina cepat menyela.
“Pa, tamu dari Bandung menunggu.”
Pak Surya menarik napas. “Nanti saja.”
Di mobil, Maya memegang kartu itu.
Raka melihatnya.
“Pak Surya jarang memberi nomor pribadi.”
“Saya juga merasa aneh. Dia melihat saya seperti…”
“Seperti mengenalmu?”
Maya mengangguk.
Raka diam, pikirannya bergerak cepat.
Ponsel Maya bergetar.
Pesan dari Dimas.
`Ibu, Vina keguguran. Semua kacau. Bu Ratna bilang ini gara-gara Ibu mengutuk keluarga kami. Datang ke rumah sakit sekarang.`
Maya memucat.
Raka membaca pesan itu dari samping.
Wajahnya langsung mengeras.
“Jangan pergi.”
Maya menatapnya dengan panik. “Tapi Vina—”
“Mereka baru menghubungimu setelah butuh sasaran.”
“Tetap saja dia menantu saya.”
“Dia menantu yang ikut menjualmu.”
Maya menggigit bibir. Tangannya memegang perut.
Ia tahu Raka benar.
Tapi hati seorang ibu tidak selalu bergerak mengikuti logika.
“Mas Raka,” bisiknya, “kalau saya tidak datang, Dimas akan semakin membenci saya.”
Raka menatapnya lama, lalu memberi instruksi kepada Bima.
“Ke rumah sakit. Tapi kita masuk bersama.”
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍