Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.
Lah, aku?
Aku ajah kerja di toko bunga.
Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.
Sial banget nggak sih?
Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.
Huhuhu.
Tapi tenang, aku tahu diri kok.
Aku cuma mengaguminya dari jauh.
Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?
...kan?
Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kerja lagi
Hari Senin selalu punya cara sendiri untuk bikin orang balik ke realita.
Termasuk Wulan.
Dia masuk ke Ibusya Flower Studio dengan langkah santai yang dipaksakan.
Lengan kirinya masih agak nyeri kalau digerakkan terlalu banyak.
Tapi tidak cukup untuk membuatnya berhenti kerja.
“Pagi, Kak Sarah.” sapa wulan
sarah sudah ada di meja depan seperti biasa, Matanya sekilas melirik lengan Wulan. “Pagi. Lengan kamu?”
Wulan langsung refleks. “Masih hidup, Kak.”
“Bagus.”
“…maksudnya masih bisa gerak.”
Sarah tidak menanggapi lebih jauh.
Tapi Wulan tahu, dia sudah paham semuanya,
Area bawah studio pagi itu tidak terlalu ramai.
Hanya Wulan yang bekerja di meja bunga utama.
Meja panjang di tengah ruangan jadi tempat dia merangkai pesanan satu per satu Tidak ada rekan kerja lain.
Hanya dia, Dan bunga.
Wulan menarik napas pelan. “…sepi juga ternyata.”
Tapi beberapa detik kemudian dia mengeluh lagi.
“…tapi enak juga sih.”
Jam mendekati 08.40.
Pintu studio terbuka.
Saka masuk.
Seperti biasa.
Rapi.
Tenang.
Terlalu tenang sampai rasanya kayak tidak ada kejadian apa-apa sebelumnya, Wulan langsung diam.
Saka melirik sekilas Lalu ke arah Wulan. “Saya tidak terlambat?”
Wulan cepat menjawab. “Belum jam sembilan juga.”
Saka mengangguk. “Baik.”
Dia tidak langsung naik ke atas Kali ini dia berhenti di area bawah Melihat sekeliling, Lalu pandangannya jatuh ke Wulan. " Lengan kamu gimana?”
Wulan langsung refleks menutupi sedikit lengannya. “Sudah lebih baik.”
Saka diam sebentar. “Masih kelihatan kamu nahan gerak.”
Wulan langsung panik kecil. “Enggak, saya bisa kerja normal.”
Saka mengangguk pelan. “Jangan dipaksakan.”
Lalu dia naik ke lantai atas seolah percakapan tadi cuma lewat, Wulan berdiri diam beberapa detik.“dia tuh kenapa sih selalu sadar aja.”
Dia menghela napas.
“Cuma klien.”
“Cuma kerja.”
Tapi pikirannya jelas tidak setuju.
Jam 09.00.
Meeting dimulai di ruang kaca lantai atas Sarah sudah duduk di ujung meja, Saka di kanan Wulan di kiri.
“Mulai,” kata Sarah.
Saka membuka laptop. “Saya ingin kita finalisasi konsep entrance dan altar.”
Sarah mengangguk. “Wulan, kamu fokus di entrance.”
Wulan langsung nunjuk dirinya. “Kok aku kak?”
Sarah santai. “Karena kamu yang paling banyak ide kemarin.”
Wulan langsung diam. “ oh.”
Saka melirik sekilas.
“Tidak masalah.”
Suara Saka tetap datar.
Tapi entah kenapa bikin Wulan makin nggak bisa santai.
Meeting berjalan seperti biasa.
Saka menjelaskan singkat tapi jelas.
“Entrance harus ringan.”
“Jangan terlalu padat.”
“Saya mau kesan pertama yang natural.”
Wulan mengangguk. “iya.”
Tapi di dalam kepala:
“Kenapa sihh jadi sering diajak ngomong mulu ”
Sarah hanya memperhatikan.
Diam.
Tapi jelas terlihat dia sedang mengatur arah semuanya.
Setelah meeting selesai.
Saka berdiri lebih dulu. “Terima kasih.”
Sarah menjawab. “ yaa See you.”
Wulan ikut berdiri. “terima kasih.”
Saka menatap Wulan sebentar. “Lengan kamu gimana?”
Wulan langsung kaget kecil. “…udah mendingan kok. Makasih.”
Saka mengangguk pelan. “Bagus. Jangan dipaksa.”
Lalu dia pergi, Pintu tertutup.
Wulan langsung duduk lagi.
“…”
Sarah melirik. “Kenapa?”
Wulan menghela napas pelan. “Dia tuh…”
Diam sebentar. " aneh, Bukan aneh yang jelek.”
Sarah hanya mengangkat alis sedikit. “Aneh yang bikin orang kepikiran.”
Sarah menutup laptop. “Fokus kerja.”
“Ya fokus dong.”
Tapi jelas tidak.
Sore hari, Sarah keluar dari ruangannya. “Lan.”
“Hm?”
“Besok kamu ikut Saka ke lokasi venue.”
Wulan langsung kaget. "hah?”
Sarah santai.
“Dia minta kamu lihat langsung layout di tempat.”
Wulan langsung bingung. “ loh kok aku ka kenapa ngga kaka?”
Sarah menatapnya. “Karena kamu bagian dari konsep.”
“…”
“Dan karena saya yang atur.”
Wulan langsung menatap. " wahh bahaya nihh ini menyalah gunakan kekuasaan”
Sarah hanya tersenyum tipis. “Kerja aja.”
Lalu masuk lagi ke ruangannya, Wulan berdiri di tempat. " ini kerja atau pelan-pelan dijebak sih.”
Dia menghela napas panjang.
Lalu menatap meja bunga Tangannya yang masih sedikit nyeri dia gerakkan pelan. “Fokus, Wulan.”
“Fokus.” Tapi setiap kali dia bilang itu
yang muncul di pikirannya tetap orang yang sama.
Saka.
Wulan berdiri di tempat cukup lama.
Studio terasa sepi Hanya dia,
Dan bunga-bunga di meja panjang yang sedang dia rapikan sendiri. " kenapa jadi makin sering ketemu dia sih.”
Dia mengusap wajah pelan. “Fokus, Wulan fokus"
Tapi jelas gagal.
Sore harinya, Ibusya Flower Studio mulai kosong.
Satu per satu orang pulang, sampai akhirnya hanya tersisa Wulan.
Dia tetap di meja bunga utama.
Meja panjang di tengah ruangan itu jadi satu-satunya tempat dia bekerja dari pagi sampai sore.
Sendirian, Seperti biasa.
Tangannya mengikat buket terakhir dengan hati-hati.
Lengan kirinya masih sedikit terasa nyeri kalau terlalu banyak dipakai, tapi dia tetap lanjut.
“…harus selesai hari ini.”
Rapih.
Pelan.
Lalu dia berhenti sebentar. “…lumayan.”
Lampu studio mulai diredupkan
Wulan merapikan area kerja terakhir.
Menata bunga, membersihkan sisa daun, memastikan semuanya rapi sebelum ditinggal.
Dia menghela napas pelan. “…capek.”
Tapi bukan capek fisik saja.
Lebih ke capek mikir hal yang dia sendiri nggak mau pikirkan. Malam mulai turun.
Wulan berdiri di dekat meja bunga.
Studio sudah benar-benar sepi.
Dia melirik sekeliling. "besok jam sembilan.”
Dia menarik napas. Lalu mengambil tasnya.
Berjalan keluar dari studio.