NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11: Anomali di Mesin Atm

Dua minggu berlalu seperti kedipan mata bagi seorang pria yang otaknya terus berputar menyusun strategi.

Malam ini, hujan deras mengguyur kawasan bisnis Jakarta Utara, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Jam digital murah di pergelangan tangan kiri Doni Salman menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit malam.

Di bawah rintik sisa hujan, Doni berdiri diam di dalam sebuah bilik mesin ATM bank swasta daerah, Bank Nusa Sentosa, yang terletak di sudut pom bensin sepi yang hampir mati.

Lampu neon putih di dalam bilik kecil itu berkedip-kedip, memantulkan bayangan tirus wajah Doni pada kaca luar yang basah.

"Tanggal 3 Juli 2006," desis Doni pelan.

Tepat lima belas menit lagi, server pusat Bank Nusa Sentosa akan memulai proses migrasi data kliring yang fatal itu.

Pembaruan sistem yang terburu-buru akan menciptakan anomali fatal selama empat puluh delapan jam penuh.

Doni mengeluarkan tiga lembar kartu debit dari saku celananya.

Kartu-kartu itu bukan atas namanya.

Menggunakan pengaruh bayangannya atas Subagja seminggu lalu, Doni dengan mudah meminjam identitas dan rekening tiga buruh pelabuhan yang sedang terlilit utang dengan imbalan pelunasan instan.

Di masa lalu, Doni akan menganggap tindakan ini berisiko tinggi.

Namun sekarang, dengan mentalitas seorang konglomerat yang terbiasa bermain di zona abu-abu regulasi perbankan, ini hanyalah sebuah transaksi modal jangka pendek yang sangat aman jika dieksekusi dengan presisi.

Pip.

Doni memasukkan kartu pertama ke dalam slot mesin ATM.

Layar monitor tabung hijau di depannya berkedip, meminta nomor PIN.

Jari-jari Doni bergerak lincah menekan tombol angka kasar di bawahnya.

Menu awal terbuka.

Doni memilih opsi transfer antar-bank.

Ia memasukkan nomor rekening penampung yang telah ia siapkan sebuah rekening korporasi atas nama PT Mitra Kilat yang hak akses tokennya telah ia pegang secara rahasia dari meja Subagja.

Angka nominal yang ia ketikkan tidak main-main: Rp3.500.000.000. Tiga setengah miliar rupiah.

Saat jemari mudanya melayang di atas tombol "BENAR", detak jantung Doni berdegup sedikit lebih kencang.

Jika kalkulasi memorinya dari masa depan meleset satu menit saja, mesin ini akan langsung menolak transaksi karena saldo asli di dalam kartu tersebut tidak lebih dari lima puluh ribu rupiah.

Doni melirik jam digitalnya. Pukul 00.01 dini hari.

Klik. Doni menekan tombol tersebut.

Mesin ATM terdiam selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian.

Suara mesin pemroses internal berderit kasar, seolah-olah sedang berjuang keras memproses perintah gila yang masuk ke dalam sistemnya yang sedang sekarat.

Sreeet... Sreeet...

Sebuah kertas resi putih keluar dari celah kecil mesin. Doni menyambarnya dengan cepat.

STATUS: TRANSAKSI BERHASIL

NOMINAL: Rp3.500.000.000

REKENING TUJUAN: PT MITRA KILAT (LOGISTIK)

Doni menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman dingin yang sarat akan kemenangan emosional.

Sistem pusat Bank Nusa Sentosa baru saja mengirimkan dana riil sebesar tiga setengah miliar rupiah ke rekening tujuan, namun gagal memotong atau memeriksa saldo awal di kartu pengirim.

Anomali itu nyata.

Memori masa depannya tidak pernah berbohong.

Tanpa membuang waktu, Doni segera mengeluarkan kartu pertama dan memasukkan kartu kedua, lalu kartu ketiga. Dengan ritme yang konstan, dingin, dan tanpa ragu, ia mengulangi proses yang sama.

Masing-masing ditarik dengan nominal yang serupa hingga total dana yang melesat masuk ke rekening penampung menyentuh angka sepuluh setengah miliar rupiah.

Setelah mengantongi ketiga resi berharga itu, Doni melangkah keluar dari bilik ATM.

Udara malam yang basah menyambut wajahnya, namun kali ini ia tidak merasa kedinginan.

Sepuluh miliar rupiah di tahun 2006 adalah kekuatan finansial yang sangat masif lebih dari cukup untuk menjungkirbalikkan konstelasi bisnis lokal dalam sekejap.

Dana ini harus segera dicuci dan dialihkan sebelum proses audit internal bank menyadari lubang besar ini di akhir tahun.

Besok pagi, saat bursa efek Jakarta dibuka pada pukul sembilan, Doni sendiri yang akan mengarahkan seluruh dana panas ini untuk memborong saham PT Bumi Resources yang sedang tiarap di harga bawah.

Sambil berjalan menembus kegelapan malam menuju kosnya, Doni menatap langit hitam Jakarta.

"Modal pertamaku sudah siap, Devan... Amanda,"

bisik Doni dengan nada suara yang begitu tenang namun mematikan.

"Batu pertama dari kekaisaranku telah diletakkan, dan itu artinya... hitung mundur kehancuran kalian resmi dimulai dari detik ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!