Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.
Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.
Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 SINDIRAN
Keesokan harinya. Bee terbangun lebih pagi dari biasanya, Ia merapikan kamar Juna yang sempat ia gunakan semalam, melipat selimut dengan rapi, lalu menuliskan secarik pesan kecil di atas meja.
"Terima kasih sudah menjaga Bee. Maaf sudah merepotkan. Semoga operasi Kakak hari ini lancar."
Bee tersenyum kecil melihat tulisan tangannya sendiri.
Setelah berpamitan kepada asisten rumah tangga yang datang membersihkan apartemen, Bee berangkat menuju perusahaan.
Hari ini ia memutuskan untuk langsung pulang ke kediaman keluarga Luwis setelah jam kerja selesai.
Perusahaan Xian.
Begitu Bee memasuki lantai divisi akuntansi, suasana terasa berbeda. Biasanya beberapa karyawan akan menyapanya, Namun hari ini...
Mereka hanya menatapnya sekilas Lalu saling berbisik. "Itu dia..."
"Anak angkat keluarga Luwis."
"Katanya dia iri sama anak kandungnya."
"Aku dengar dia sampai mencelakai Jelita."
"Pantesan kemarin malam anak kandungnya masuk rumah sakit."
"Kasihan juga ya Jelita."
"Anak angkat kok malah mau ngerebut semuanya."
Bisikan demi bisikan memenuhi ruangan.
Bee berhenti melangkah beberapa detik Tangannya mengepal pelan, Namun ia memilih menarik napas panjang. "Tidak apa-apa... Aku ke sini untuk magang, bukan untuk mencari pembenaran."
Bee tetap berjalan menuju mejanya, Belum sempat ia duduk...
Brak!
Setumpuk map diletakkan begitu saja di atas meja Bee.
"Kerjakan dokumen ini." Seorang karyawan berkata tanpa menatap Bee. "Jangan berhenti kalau belum selesai."
Belum sempat Bee menjawab, seorang karyawan lain datang membawa berkas lain.
"Sama ini juga Deadline hari ini."
Bee menatap tumpukan dokumen yang semakin tinggi, Padahal... Itu bukan bagian pekerjaannya.
Kriss yang duduk tidak jauh dari sana langsung berdiri "Eh, itu kan kerjaan Kakak sendiri."
"Kenapa dikasih ke Bee?"
Salah seorang karyawan tersenyum sinis.
"Dia kan mahasiswa berprestasi."
"Pasti sanggup."
"Iya."
"Kalau memang sepintar itu ya kerjakan saja."
Kriss mengepalkan tangannya. "Itu gak adil!"
Bee segera menarik lengan Kriss pelan. "Sudah." Bee tersenyum tipis. "Gak apa-apa."
"Tapi—"
"Gak apa-apa."
Bee kembali duduk Ia mulai membuka map pertama.
Satu demi satu dokumen diperiksa dengan teliti. Walaupun hatinya terluka... Tangannya tetap bekerja.
Ia tidak ingin mencari masalah.
Yang ia inginkan hanya menyelesaikan masa magangnya dengan baik.
Di lantai paling atas.
Ruang CEO. Xian berdiri di depan jendela besar sambil memperhatikan lantai akuntansi melalui layar CCTV internal.
Asistennya berdiri di belakang. "Tuan... Apa perlu saya turun?"
Xian menggeleng pelan. "Belum."
"Tapi mereka sudah mulai keterlaluan."
"Aku tahu." Xian menyilangkan kedua tangannya.
Tatapannya tertuju pada sosok Bee yang tetap bekerja tanpa membalas sedikit pun perlakuan rekan-rekannya. "Bee lebih kuat dari yang mereka kira."
"Biarkan dia membuktikan kemampuannya."
"Tapi..."
Xian tersenyum tipis. "Kalau mereka sudah melewati batas..." Sorot matanya berubah tajam. "Aku sendiri yang akan turun tangan Asal jangan sampai mereka menyesal."
Asisten itu langsung mengangguk. "Baik, Tuan."
Di kediaman keluarga Kyler.
Suasana ruang keluarga terasa begitu tenang. Daddy Kyler sedang menikmati secangkir kopi pagi.
Sedangkan Kak Juna baru saja turun dari lantai dua dengan pakaian kerja yang rapi. "Jun."
"Duduk sebentar."
Kak Juna menghentikan langkahnya. "Ada apa, Dad?"
Daddy meletakkan cangkir kopinya. "Kemarin Om Prans datang."
Kak Juna sudah bisa menebak arah pembicaraan itu.
"Dia membahas soal pertunangan lagi?"
Daddy mengangguk. "Ya. Menurut Daddy... Jelita anak yang baik." Kata Daddy "Keluarga Luwis juga sahabat keluarga kita Kalau kalian bertunangan... Persahabatan dua keluarga akan semakin erat."
Kak Juna menghela napas pelan. "Maaf, Dad. Aku tetap menolak."
Daddy mengernyit. "Jun. Jangan keras kepala, Kamu bahkan belum mencoba mengenalnya."
Kak Juna menatap ayahnya dengan tenang. "Menikah bukan kerja sama bisnis." "Bukan juga cara menjaga hubungan antar keluarga Itu tentang hidup seseorang."
Daddy kembali membujuk. "Setidaknya pikirkan lagi. Om Prans sudah berharap banyak."
Kak Juna menggeleng mantap. "Tidak ada yang bisa memaksaku bertunangan dengan gadis itu."
Suasana langsung hening.
Daddy mulai kehilangan kesabarannya. "Jun!"
Namun Kak Juna sudah mengambil tas kerjanya. Ia berhenti di depan pintu.
Tanpa menoleh. "Maaf, Dad. Tapi aku tidak akan menikahi seseorang hanya demi memenuhi harapan orang lain." Ucap kak Juna " Karena yang akan menjalani kehidupan itu adalah aku."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Kak Juna membuka pintu dan keluar dari rumah.
Daddy Kyler hanya mampu mengembuskan napas panjang. Ia tahu... Putra sulungnya memang tidak pernah bisa dipaksa.
Sementara itu, di luar rumah, Kak Juna menatap langit pagi sejenak sebelum masuk ke mobil.
Di saat yang sama...
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Kalau kamu tetap memilih Bee, kamu akan menyesal."
Kak Juna menatap layar ponselnya beberapa detik.
Sorot matanya berubah tajam. "Siapa yang mengirim pesan ini...?"
Mobilnya pun melaju perlahan meninggalkan kediaman Kyler, sementara ancaman misterius itu menjadi awal dari masalah yang jauh lebih besar.