NovelToon NovelToon
TENTANG KITA YANG NGGAK SENGAJA

TENTANG KITA YANG NGGAK SENGAJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: grayen

Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.

Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.

Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan Lagi

Setelah beberapa hari saling menyadari kalau mereka diam-diam saling merindukan, Alya dan Raka kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Bedanya, sekarang mereka lebih sering meluangkan waktu untuk sekadar mengobrol, walaupun hanya lima menit di sela pergantian jam pelajaran.

Nadya yang melihat perubahan itu hanya tersenyum.

“Akhirnya balik juga ke mode normal.”

Alya pura-pura tidak mengerti.

“Mode apaan?”

“Mode yang tiap hari nyariin Raka.”

Alya langsung menyenggol lengan sahabatnya.

“Ngasal.”

Di sisi lain, Dion juga sedang menggoda Raka.

“Kalau istirahat pertama nggak ketemu Alya, hidup lo kurang lengkap ya?”

Raka terkekeh.

“Lebay.”

“Tapi bener, kan?”

Raka tidak menjawab. Senyumnya saja sudah cukup menjadi jawaban.

---

Siang itu, cuaca terasa panas. Langit bersih tanpa awan, membuat semua orang yakin hari akan cerah sampai sore.

Karena itu, Alya membawa kameranya keluar untuk memotret taman sekolah yang sedang dipenuhi bunga-bunga bermekaran.

Kevin kebetulan lewat.

“Bagus ya cuacanya.”

“Iya. Cahaya buat foto juga pas.”

Kevin mengangguk lalu melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan.

Tak lama kemudian, Raka datang membawa dua es teh dari kantin.

“Nih, buat fotografer sekolah.”

“Wah, makasih.”

Mereka duduk di bangku taman sambil menikmati angin yang berembus pelan.

Tidak banyak obrolan.

Kadang hanya saling diam, lalu tertawa karena salah satu mengucapkan hal yang tidak penting.

Aneh, tapi justru itu yang membuat mereka nyaman.

---

Menjelang bel pulang, keadaan berubah drastis.

Awan gelap datang dari arah barat dan menutupi langit yang tadi biru.

Angin bertiup lebih kencang.

Beberapa siswa buru-buru memasukkan sepatu olahraga yang dijemur ke dalam kelas.

“Kayaknya bakal hujan gede,” kata Dion.

Belum sampai lima menit, tetesan air mulai jatuh.

Lalu semakin deras.

Suara hujan memukul atap sekolah hingga membuat percakapan di koridor nyaris tidak terdengar.

Siswa-siswa yang sudah terlanjur keluar gerbang berlarian kembali mencari tempat berteduh.

---

Alya berdiri di depan lobi sambil memeluk tasnya yang berisi kamera.

“Aduh, mana gue nggak bawa payung.”

“Serius?”

Suara itu datang dari sampingnya.

Raka mengangkat sebuah payung lipat berwarna hitam.

“Ayo, gue anter sampai halte.”

“Nggak ngerepotin?”

“Enggak.”

Mereka pun berjalan berdampingan di bawah payung yang sama.

Karena jalan menuju halte cukup sempit, jarak di antara mereka nyaris tidak ada.

Sesekali lengan mereka bersentuhan, lalu sama-sama menjauh dengan canggung.

“Ini kayak pernah kejadian ya,” kata Alya pelan.

“Iya.”

“Hujan lagi.”

“Hujan emang hobi bikin kita jalan bareng.”

Alya tertawa kecil.

“Jangan-jangan besok juga hujan.”

“Kalau gitu gue siapin payung dari sekarang.”

---

Di tengah perjalanan, hujan justru semakin deras.

Mereka berhenti di bawah atap sebuah toko kecil yang sudah tutup.

Suasana di sekitar mendadak sepi.

Hanya terdengar suara kendaraan yang melintas dan aroma tanah basah yang terbawa angin.

Raka memandang jalanan yang dipenuhi genangan.

“Lya.”

“Hm?”

“Makasih ya.”

“Lagi-lagi buat apa?”

“Udah tetap percaya sama gue meski kemarin kita sempat ribut.”

Alya tersenyum tipis.

“Teman baik memang harus belajar saling percaya.”

Jawaban itu membuat Raka mengangguk.

Namun di dalam hati, ia berharap suatu hari nanti hubungan mereka bisa lebih dari sekadar teman baik.

---

Tak lama kemudian, ponsel Alya berbunyi.

Pesan dari Nadya.

> Nadya:

Udah pulang belum?

> Alya:

Lagi neduh.

> Nadya:

Sama siapa?

Alya melirik Raka yang sedang memperhatikan hujan.

Ia tersenyum sendiri sebelum mengetik balasan.

> Alya:

Sama orang yang selalu bawa payung pas gue lupa.

Tak lama, Nadya membalas dengan satu emoji tertawa dan hati.

Alya buru-buru mengunci layar ponselnya agar Raka tidak melihat.

“Kenapa senyum-senyum?”

“Nggak ada.”

“Yakin?”

“Yakin.”

---

Sekitar dua puluh menit kemudian, hujan mulai mereda.

Mereka melanjutkan perjalanan sampai halte.

Bus yang ditunggu Alya akhirnya datang.

Sebelum naik, Alya menoleh.

“Rak.”

“Iya?”

“Hati-hati di jalan.”

“Lo juga.”

Bus mulai bergerak meninggalkan halte.

Dari balik jendela, Alya melihat Raka masih berdiri di tempat yang sama sambil melambaikan tangan kecil.

Entah kenapa, pemandangan sederhana itu membuatnya sulit mengalihkan pandangan.

Sementara Raka baru berbalik pulang setelah bus benar-benar hilang dari pandangan.

Payung di tangannya masih meneteskan air hujan.

Namun yang memenuhi pikirannya bukan lagi cuaca.

Melainkan senyum Alya beberapa detik sebelum bus itu pergi.

Dan untuk kesekian kalinya, hujan datang bukan membawa kesedihan.

Justru hujan memberi mereka alasan untuk menghabiskan waktu bersama, meski hanya dalam perjalanan singkat menuju pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!