NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Murka di Tanah Suci

Darah yang keluar dari sudut bibir Bintang telah mengering menjadi bercak kehitaman di atas paving blok taman kampus, namun rasa sakit di dadanya masih terasa seumpama dihantam gada besi tak kasat mata. Setiap tarikan napasnya memicu rasa sesak yang luar biasa. Gempuran energi ghaib dari Gelang Sangker Bumi milik Kalingga hampir saja merubuhkan benteng kesadarannya. Namun, apa yang dia saksikan di detik-detik terakhir sebelum kesadaran Sekar kembali dikunci—sepasang mata manusia yang menangis dan ketakutan—menjadi bahan bakar mutlak bagi jiwanya untuk menolak menyerah.

Bintang tahu, dia tidak punya banyak waktu. Menghadapi entitas penguasa bumi seperti Kalingga di wilayah kekuasaannya yang terbuka adalah bunuh diri. Sumpah darah ratusan tahun tidak akan hancur hanya dengan sebotol air doa di alam bebas. Dia butuh sebuah benteng. Sebuah tempat di mana energi murni berpusat, di mana tanahnya telah disucikan oleh jutaan sujud dan ruku manusia selama ratusan tahun.

Dia membutuhkan Masjid Jami' Tua di ujung kabupaten. Sebuah rumah ibadah kuno yang dibangun di atas fondasi batu hitam zaman kerajaan, tempat para wali dan ulama terdahulu melakukan khalwat dan tirakat suci.

Sore itu, menjelang guratan mega merah menyala di ufuk barat—waktu bergantinya siang menuju malam yang selalu menjadi celah paling rawan bagi pergerakan mahluk halus—Bintang menghadang Sekar di dekat gerbang keluar kampus. Tubuh Bintang masih limbung, langkahnya diseret pelan, namun tatapan matanya begitu tajam menembus kabut hitam yang kembali bergolak di sekitar tubuh Sekar.

Sekar berjalan dengan keanggunan yang mati. Kemeja lengan panjangnya dikancing ketat hingga batas rahang, menyembunyikan koloni sisik kelabu yang kini telah mengunci seluruh lehernya. Begitu dia melihat Bintang kembali berdiri di jalurnya, sepasang pupil matanya yang berbentuk silet vertikal menyusut tajam.

"Kau... belum mati rupanya," sebuah suara desisan ganda menyembur keluar dari sela bibir Sekar, begitu dingin hingga membuat dedaunan di sekitar mereka seolah layu seketika. Aura pengasihan Kalingga mendadak memancar kuat, mencoba memaksa Bintang untuk berlutut seperti manusia-manusia lainnya.

Namun, Bintang segera menggenggam pergelangan tangan kanan Sekar dengan sisa kekuatannya. Bukan tangan kiri yang terikat gelang, melainkan tangan kanan yang kulit manusianya masih terasa suam-suam kuku.

Cessss!

Hawa dingin yang ekstrem langsung merayap naik ke lengan Bintang, membuat kulitnya meremang hebat. Pusaran ghaib di sekitar mereka bergolak liar, menimbulkan aroma bunga sedap malam yang busuk dan menyengat.

"Mbak Sekar... ikut saya sekarang. Jangan dilawan. Jika kau ingin lepas dari jerat ini, ikut saya ke Masjid Jami' Tua," bisik Bintang, suaranya parau namun sarat akan tekanan spiritual yang kuat. Di dalam saku celananya, jemari Bintang yang bebas terus memutar sisa butiran tasbih yang tidak hancur, merapal ayat-ayat kursi dengan intensitas yang kian memuncak.

Anehnya, benturan energi kesucian yang memancar dari batin Bintang kali ini membuat Gelang Sangker Bumi di tangan kiri Sekar bergetar halus, mengeluarkan suara dengungan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga ghaib. Efek hipnotis Kalingga sempat terdistorsi. Sekar tidak menyerang; tubuh porselennya mendadak lemas, dan dengan langkah kaku seumpama boneka kayu yang ditarik senar, dia membiarkan Bintang menuntunnya masuk ke dalam mobil tua milik paman Bintang yang sudah terparkir di pinggir jalan.

Perjalanan menuju Masjid Jami' Tua adalah perjalanan menembus ruang eksekusi ghaib.

Sepanjang jalan, langit di atas mobil mereka mendadak berubah menjadi kelabu pekat, hampir hitam, meskipun jam digital di dasbor masih menunjukkan pukul lima sore. Gumpalan awan berputar rendah, membentuk formasi sulur-sulur raksasa yang menyerupai liukan tubuh ular purba yang sedang menguntit mangsanya dari balik langit. Suara angin menghantam kaca mobil dengan bunyi berderak yang konstan, melolong kasar seolah-olah ribuan dedemit sedang mencakar-cakar bodi besi kendaraan tersebut.

Di kursi penumpang, Sekar duduk membeku. Kepalanya tertunduk, namun matanya yang vertikal tajam seumpama silet menatap lantai mobil. Seluruh tubuhnya bergetar hebat secara ritmis. Dari balik pori-pori kulit lehernya yang tidak tertutup sisik, uap dingin berwarna keperakan keluar tipis-tipis, memenuhi kabin mobil dengan bau kemenyan dan cendana yang teramat pekat hingga membuat mata Bintang perih dan berair.

"Dia marah... dia sangat marah..." bisik Sekar. Suaranya berganti-ganti secara ekstrem antara suara gadis rapuh dengan suara bariton Kalingga yang masif. "Tanah itu... tanah itu membakar kakiku... jangan bawa aku ke sana..."

"Tetap bertahan, Mbak. Jangan dengarkan bisikan itu," cetus Bintang sembari menekan pedal gas lebih dalam. Tangannya yang memegang kemudi basah oleh keringat dingin. Dia bisa merasakan tekanan udara di dalam mobil semakin padat, membuat paru-parunya seperti dihimpit oleh balok beton yang ghaib.

Tepat ketika adzan Maghrib mulai berkumandang dari kejauhan, mobil tua itu berbelok masuk ke pelataran Masjid Jami' Tua.

Masjid itu berdiri kokoh dengan arsitektur Jawa kuno beratap tumpang tiga, terbuat dari kayu jati gelondongan yang menghitam dimakan usia. Pelatarannya dilapisi oleh batu kali hitam yang bersih. Begitu roda mobil melintasi gerbang luar masjid, gumpalan awan hitam di langit seolah-olah tertahan oleh kubah ghaib yang tak kasat mata. Badai di luar sana tidak berani menyentuh perimeter tanah suci tersebut.

Namun, perlindungan itu justru menjadi awal dari siksaan yang paling mengerikan bagi Sekar.

Begitu pintu mobil dibuka dan kaki kanan Sekar yang beralaskan sandal menyentuh permukaan batu hitam pelataran masjid, sebuah reaksi metafisik yang dahsyat langsung meledak.

Phaaaak!

Sekar menjerit histeris. Suaranya melengking tinggi, membelah keheningan senja dengan distorsi desisan jutaan reptil yang kesakitan. Tubuhnya tersentak ke belakang seumpama dihantam aliran listrik bertegangan ribuan volt. Sandal yang dikenakannya terlempar, memperlihatkan telapak kaki telanjangnya yang kini langsung mengeluarkan asap putih pekat begitu bergesekan dengan atmosfer tanah suci.

Cesssss! Cesssss!

Kulit telapak kaki Sekar melepuh secara instan, memerah dan mengeluarkan cairan bening berbau belerang. Bagi Kalingga yang bersemayam di dalam tubuh Sekar, setiap jengkal tanah di tempat ini adalah hamparan bara api ghaib yang membakar eksistensi tiraninya.

"Panas! Panas! Lepaskan aku!" jerit Sekar, tubuhnya ambruk di atas batu kali pelataran masjid. Dia merangkak liar, mencoba kembali masuk ke dalam mobil atau melarikan diri keluar dari gerbang ghaib masjid. Pupil matanya melebar sempurna, memancarkan warna emas menyala yang mengerikan, sementara urat-urat hitam di lehernya menonjol tegang seumpama cacing yang menggeliat di bawah kulit.

Bintang langsung melompat turun, menahan bahu Sekar agar tidak kembali keluar dari area masjid. "Mbak Sekar, kuatkan hatimu! Sebut nama Gusti Allah! Lawan siluman itu!" teriak Bintang, suaranya berkejaran dengan gema adzan yang berkumandang dari pengeras suara masjid.

Bersamaan dengan pekikan adzan pada kalimat Asyhadu alla ilaha illallah, Gelang Sangker Bumi di pergelangan tangan kiri Sekar mendadak bergolak gila-gilaan. Ukiran ular naga pada emas purba itu berputar secara mekanis, seolah-olah mahluk di dalamnya sedang menggeliat kesakitan karena terbakar oleh frekuensi suci yang menggetarkan fondasi masjid.

Logam tebal itu memanas hingga berubah warna menjadi merah membara.

Sreeet!

Kulit pergelangan tangan Sekar yang berada di bawah gelang emas itu mulai berasap tebal. Bau daging terbakar yang bercampur dengan keharuman cendana menyebar luas di pelataran. Gelang itu tidak hanya menyiksa Sekar; ia menanamkan taring-taring ghaibnya lebih dalam ke dalam tulang, seolah-olah Kalingga lebih memilih menghancurkan wadah fisiknya daripada membiarkan Sekar dibersihkan di dalam rumah ibadah.

Dari dalam dada Sekar, sebuah geraman bariton yang teramat berat, masif, dan penuh dengan kemurkaan purba menggema keluar, menggetarkan tiang-tiang kayu jati Masjid Jami' Tua.

"MANUSIA CACAT! KAU BERANI MENANTANGKU DI ATAS TANAH INI?!"

Geraman bariton yang keluar dari rongga dada Sekar membuat udara di sekitar pelataran masjid mendadak bertekanan tinggi. Suara itu begitu berat, berwibawa, namun sarat akan kebencian yang purba. Beberapa lampu bohlam kuning tua yang menerangi teras masjid mendadak berkedip meredup, mengeluarkan suara dengungan korsleting sebelum akhirnya pecah satu per satu dengan letupan tajam.

Prak! Prak!

Pecahan kaca halus luruh ke atas lantai, menyisakan kegelapan senja yang kian pekat dan mencekam. Hanya bersumber dari sisa cahaya lampu di dalam ruang utama masjid, Bintang bisa melihat dengan jelas bagaimana kabut hitam di pundak Sekar mendadak memadat, membentuk siluet raksasa kepala ular sanca dengan rahang terbuka lebar yang siap menelan mereka berdua hidup-hidup.

"A-Astagfirullahaladzim..." Bintang berbisik, tubuhnya gemetar hebat. Tekanan spiritual Kalingga di tanah suci ini tidak melemah, melainkan mengamuk seperti badai yang terpojok.

Sekar kini tidak lagi berada dalam posisi merangkak. Tubuhnya mendadak melengkung kaku ke belakang dengan sudut yang tidak manusiawi—hanya bertumpu pada tumit kaki yang melepuh dan bagian belakang kepalanya. Konvulsi hebat mencengkeram seluruh sarafnya. Kedua tangannya mencakar-cakar udara kosong, sementara sepasang matanya berputar ke atas hingga hanya menyisakan bagian putihnya yang kini perlahan dialiri guratan urat-urat darah merah yang pecah.

Uhuk!

Sekar terbatuk keras. Dari kedua lubang hidungnya, cairan darah segar berwarna merah tua yang kental mendadak mengalir deras, membasahi bibir dan menetes ke atas batu kali pelataran. Cairan itu bukan darah biasa; baunya sangat anyir, bercampur dengan aroma minyak cendana mati yang pekat. Kalingga sedang mengeksekusi wadah fisiknya sendiri dari dalam. Jika Sekar menolak patuh dan tetap memaksa berada di tanah suci ini, Kalingga akan menghancurkan organ dalam gadis itu hingga hancur menjadi bubur daging.

"Mbak Sekar! Ikuti kata-kata saya! La ilaha illallah... Lawan, Mbak!" teriak Bintang sembari menempelkan telapak tangan kanannya tepat di atas dahi Sekar yang terasa sedingin es batu.

Begitu telapak tangan Bintang menyentuh kulit dahi Sekar, sebuah sentakan energi pembalik menghantam batin pemuda itu. Bintang merasa seolah-olah kesadaran spiritualnya ditarik paksa masuk ke dalam dimensi kegelapan Sendang Kalingga. Di sana, dia melihat ribuan pasang mata ular kecil yang mengawasi dari sela-sela akar pohon beringin ghaib, dengan Gelang Sangker Bumi raksasa yang mengunci jiwa Sekar di tengah-tengah altar batu hitam.

"DIA ADALAH MILIKKU! SUMPAHNYA TELAH MENGAKAR DI TANAH INI SEBELUM LELUHURMU MENGENAL KATA DOA!" suara Kalingga menggelegar, meremukkan benteng pikiran Bintang.

Bintang tersentak kembali ke alam nyata, muntah darah tepat di samping tubuh Sekar. Pandangannya mengabur, kepalanya pening luar biasa seolah tengkoraknya baru saja retak. Namun, dia melihat Sekar sudah berada di ambang kematian. Jika situasi ini dibiarkan selama tiga menit lagi, Sekar akan tewas dalam kondisi mengenaskan dengan seluruh pembuluh darah di kepalanya pecah akibat penolakan keras dari gelang terkutuk itu.

Gelang Sangker Bumi di pergelangan tangan kiri Sekar kini tidak lagi hanya berasap; logam emas itu berguncang hebat, mengeluarkan suara berderit tajam seolah sedang memotong tulang pergelangan tangan Sekar dari dalam kulit sisik emasnya. Rasa sakit yang teramat sangat membuat Sekar mengeluarkan jeritan hampa yang putus-putus, sebelum akhirnya tubuhnya mendadak lemas sepenuhnya.

Bruk.

Kepala Sekar terkulai pasrah di atas pangkuan tangan Bintang. Aliran darah dari hidungnya perlahan melambat, namun napasnya kini sangat tipis, nyaris tak kentara. Silet vertikal di pupil matanya perlahan menutup, tergantikan oleh sepasang kelopak mata yang terpejam rapat. Sekar pingsan dalam kondisi kritis, sementara aura keperakan di sekeliling tubuhnya meredup secara drastis, menyisakan hawa dingin yang statis dan mati.

Bersamaan dengan pingsannya Sekar, kabut ular hitam di atas pundaknya perlahan menyusut, kembali masuk ke dalam ukiran gelang emas tebal tersebut. Kalingga memilih untuk menarik kembali manifestasinya, membiarkan wadah pengantinnya sekarat dalam keheningan demi memberi pelajaran berdarah kepada siapa saja yang berani mencampuri urusannya.

Bintang terengah-engah, memegangi dadanya yang luar biasa sesak. Dia menatap wajah Sekar yang kini dipenuhi noda darah segar dengan perasaan bersalah yang teramat dalam. Penggarapan spiritual pertamanya gagal total. Tempat suci ini memang bisa menahan manifestasi luar Kalingga, namun karena gelang itu telah menyatu dengan anatomi tubuh Sekar, membersihkannya secara paksa dari luar sama saja dengan membunuh Sekar secara perlahan.

Kalingga telah mengunci permainan ini dengan aturan yang mutlak: Jika manusia mencoba melepaskan Sekar, maka Sekar yang akan mati terlebih dahulu.

Beberapa jamaah masjid yang mendengar keributan dari dalam ruangan akhirnya keluar dengan langkah ragu-ragu. Mereka terbelalak melihat Bintang yang bersimbah darah di sudut bibir, sedang memangku tubuh seorang gadis kemeja lengan panjang yang pingsan dengan hidung berdarah di atas pelataran yang kini dipenuhi aroma anyir yang pekat.

"Mas... ada apa ini? Apa yang terjadi dengan mbaknya?" tanya salah seorang pengurus masjid paruh baya dengan wajah cemas dan ngeri melihat pot-pot bunga yang retak di sekitar mereka.

Bintang tidak menjawab dengan detail. Dia segera mengusap darah di bibirnya sendiri dengan punggung tangan, lalu mengangkat tubuh Sekar yang terasa teramat ringan—seolah daging dan tulang manusianya kian menyusut, digantikan oleh rongga kosong yang siap dihuni sepenuhnya oleh entitas lain.

"Tolong bantu saya bawa dia kembali ke mobil, Pak..." bisik Bintang, suaranya parau dan habis. "Kami harus segera pergi dari sini."

Sembari berjalan menuju mobil dengan tubuh yang tertatih, Bintang menatap pergelangan tangan kiri Sekar. Di sana, di balik kain kemeja yang sedikit tersingkap, Gelang Sangker Bumi itu melingkar dengan begitu tenang, berkilau mewah dalam kegelapan malam, seolah-olah sedang menertawakan usaha nekat sang pemuda religius yang baru saja dihancurkan tanpa perlu menampakkan wujud fisiknya secara utuh.

Bentaran pertama telah usai, dan Bintang menyadari dengan ngeri yang mendalam bahwa untuk menyelamatkan Sekar, dia tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara biasa. Dia harus mencari tahu asal-usul sumpah darah Kalingga langsung dari orang yang bertanggung jawab atas keberadaan gelang tersebut di masa lalu.

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!