RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Raven terdiam sejenak, seketika menyadari ia hampir melupakan tujuan utamanya datang ke sini. Perlahan ia mengangkat wajah, menatap Sara dengan pandangan yang sarat beban berat.
“Aku datang tentu saja untuk menjemputmu… pulang ke apartemen kita.”
“Apartemen kita? Maksudnya bagaimana?”
“Mommy dan Daddy meminta kita tinggal bersama. Katanya agar kita bisa lebih saling mengenal dan akrab,” jawab Raven jujur apa adanya.
"Hah! Kau serius! Apa kau tidak berusaha menjelaskan keinginan kita pada mereka?"
"Tentu saja aku sudah menjelaskannya! Tapi Mommy dan Daddy sama sekali tak mau menerima alasan apapun. Bahkan mereka mengancam ku!"
Alis Sara seketika berkerut rapat, wajahnya berubah semakin serius. “Apa yang mereka katakan?"
Raven menggeleng perlahan lalu menarik napas panjang yang terasa berat. “Mereka menegaskan bahwa pernikahan itu sesuatu yang sakral dan tak boleh dipermainkan begitu saja. Bahkan Daddy mengeluarkan ancaman yang membuatku tak bisa berkutik… kau tahu apa ancaman itu?" tanya Ravan.
Sara menggeleng cepat dengan wajah penuh tanya. “Jika aku menolak, mereka akan mencoret namaku dari Kartu Keluarga Krisnawardhana!”
Mata Sara terbelalak tak percaya. “Mereka benar‑benar berkata begitu?"
“Bukan hanya itu,” lanjut Raven getir. “Mereka bahkan sudah menyiapkan apartemen untuk kita berdua. Dan yang lebih berat… aku harus bekerja di perusahaan Daddy setiap sepulang sekolah, katanya agar aku belajar bertanggung jawab dan menafkahimu sebagai istriku.”
"Ternyata Mommy dan Daddy sampai segitunya ingin mempertahankan pernikahan ini! Kenapa bisa serumit ini sih! Sepertinya rencana kita untuk berpisah tak akan mudah!" tambah Sara yang kini ikut gelisah dengan nasib mereka kedepannya.
"Kau benar! Tapi ya sudahlah kita jalani aja dulu, sambil kita pikirkan lagi bagaimana caranya kita meyakinkan mommy dan Daddy, jika pernikahan ini tidak mungkin berlanjut!" pasrah Raven.
"Hmm! Mau gimana lagi coba!" sahut Sara pelan.
"Ngomong-ngomong apartemen yang disiapkan Daddy dan Mommy untuk kita ada dimana?" tanya sara mengalihkan perasaan gelisah nya.
“Masih di gedung ini juga. Dan kau tahu di mana tepatnya?” Raven tersenyum tipis dengan nada sedikit jenaka.
"Oh ya? Unit berapa?" sara jadi semakin penasaran.
Bukannya menjawabnya Raven malah segera bangkit dan menarik lengan Sara pelan supaya mengikuti langkahnya.
"Eh, mau kemana?" tanya Sara bingung melihat Raven malah menarik tangannya tiba-tiba.
"Ke apartemen kita lah!" sahut Raven santai.
Mereka melangkah keluar dan hanya berjalan beberapa langkah saja hingga Raven berhenti tepat di depan sebuah pintu.
"Kenapa berhenti apa ada yang kelupaan?" tanya Sara bingung.
Raven mengeleng pelan. "Kita sudah sampai, ini apartemen baru kita!" tunjuk Raven pada pintu di hadapannya.
"Hah! Ini? Jadi kita tetanggaan! Hahaha ternyata suamiku tetanggaku!" tawanya lepas, dan sejenak beban berat di hati mereka berdua terasa sedikit berkurang. Raven pun ikut tersenyum tipis.
Setelah Raven menekan kata sandi, pintu terbuka dan mereka pun masuk. Sara seketika terpana melihat isi ruangan yang super lengkap.
“Wah… ternyata jauh lebih luas dan lengkap dari bayanganku! Ada dapur modern lengkap dengan peralatan siap pakai, ruang tengah yang nyaman, meja makan, ruang kerja, hingga balkon dengan pemandangan yang pasti indah sekali,” serunya kagum sambil berkeliling melihat setiap sudut ruangan. Namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah pintu yang sedikit terbuka, dan raut wajahnya kembali bingung.
“Tapi… kenapa hanya ada satu kamar tidur? Padahal ruangannya cukup luas untuk dibuat dua kamar sekaligus!”
Raven hanya bisa tersenyum pahit sambil menggeleng pelan. “Ini pasti rencana Daddy dan Mommy… mereka memang pandai mengatur segala sesuatu agar kita terpaksa tidur satu kamar.”
Sara pun mengerti maksud tersirat di balik hal itu. Ia mendekat lalu menepuk bahu suaminya dengan lembut. “Tak apa‑apa. Lagian apartemen ku cuman lima langkah dari sini, kita bisa tidur di apartemen masing-masing." usul Sara.
"Kau benar!" sahut Raven setuju.
Kemudian mereka duduk berdampingan di sofa besar yang menghadap dinding kaca besar yang menampilkan pemandangan kota. Percakapan diantara keduanya pun mengalir santai hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat.
Sara yang seharian beraktivitas mulai tak sanggup menahan kantuk. Ia menguap pelan, lalu tanpa sadar kepalanya perlahan melorot dan bersandar lembut di bahu Raven.
Raven yang semula menatap ponselnya terkejut, namun segera bergerak sangat hati‑hati agar tak membangunkannya. Ia mengatur posisi tubuh Sara agar lebih nyaman berbaring di sofa, lalu mengambil selimut dari kamar untuk menutupinya dengan lembut. Ia kembali duduk di sampingnya, menatap wajah damai itu lekat‑lekat tanpa berkedip.
Tanpa sadar, tangannya terulur mengelus pelan pipi mulus Sara. Ada perasaan hangat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, rasa tenang dan nyaman yang membuatnya tak ingin beranjak.
Rasa kantuk akhirnya ikut menyapanya hingga iapun ikut tertidur di atas karpet bulu tepat di bawah sofa tempat Sara tidur.
*
*
*
Saat sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk lewat celah tirai, Sara perlahan membuka mata. Ia terkejut setengah mati saat menyadari dirinya sedang memeluk Raven erat seolah bantal guling, sementara tangan kekar itu melingkar mantap di pinggangnya.
"Apa-apaan ini? Apa yang kamu lakukan Sara!" jeritnya tertahan. Lalu dengan cepat ia melepaskan pelukannya sebelum Raven terbagun dan menggodannya.
Namun entah mengapa hatinya terasa hangat saat melihat wajah yang masih terpejam itu tampak begitu damai. Tanpa sadar ia menatapnya lekat sejenak. “Ternyata… dia lumayan tampan juga ya kalau dilihat dari dekat begini,” pujinya tanpa sadar.
"Ah! Apa yang sedang kamu pikirkan Sara! Dia cuman suami dadakan! Tak lebih, Jangan buang waktumu dengan hal-hal yang tak penting!" lanjutnya memperingati diri sendiri.
Dengan gerakan sangat hati‑hati, ia menggeser tubuhnya lalu setelahnya dengan cepat meninggalkan Raven dan kembali ke apartemen miliknya.
Begitu pintu tertutup rapat, mata Raven perlahan terbuka. Sebuah senyum geli tersungging di bibirnya. Ternyata ia sudah bangun lebih dulu, namun sengaja pura‑pura tidur saat menyadari Sara mulai terjaga.
“Sepertinya menikah muda tak seburuk yang kubayangkan,” gumamnya pelan sambil tersenyum lebar membayangkan wajah panik Sara tadi.
Bersambung.