NovelToon NovelToon
Menjadi Pengantin Pengganti

Menjadi Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sia Masya

Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Saat berjalan melewati sebuah pintu yang tertutup rapat di ujung lorong, Dian berhenti dan menunjuknya pelan. “Ruangan apa itu, Bu? Kenapa pintunya tertutup begitu rapat seolah tak ingin diganggu?”

Bu Ratih tampak gugup sejenak, tangannya meremas ujung celemeknya. “Itu… itu hanya ruang penyimpanan barang lama yang sudah lama tidak terpakai, Nyonya. Tidak ada hal menarik di sana.” Namun samar-samar telinga Dian menangkap suara gesekan halus dari balik kayu itu, dan sekilas ia melihat bayangan gelap bergerak di celah bawah pintu—cukup untuk menumbuhkan rasa penasaran yang tak terjawab.

Lebih jauh lagi, Bu Ratih tanpa sadar menyampaikan hal yang membuat hati Dian mencelos seketika. “Ada beberapa hal yang harus Nyonya perhatikan agar tidak salah paham: Nyonya tidak diperbolehkan masuk ke sayap timur rumah ini, tidak boleh menyentuh barang-barang pribadi milik Tuan Joshua tanpa izin tertulis dari beliau, dan jika ingin berpindah ke tempat yang agak jauh, sebaiknya Nyonya memberi tahu saya terlebih dahulu.”

Dian tertegun diam di tempat, matanya perlahan berkaca-kaca menahan rasa sesak. “Saya… saya ini istri beliau, Bu. Mengapa saya harus diawasi dan dibatasi layaknya tamu asing yang belum dipercaya?”

Bu Ratih menunduk dalam dengan wajah penuh kesedihan, suaranya merendah menjadi bisikan pelan. “Maafkan saya, Nyonya. Itu semua adalah perintah tegas dari Tuan Joshua sendiri. Beliau memang tidak suka ada gangguan di rumah ini. Bukan karena apapun terhadap Nyonya, tapi aturan ini memang sudah ada sejak lama. Bahkan Nona Cindy pun dilarang masuk ke tempat-tempat tersebut.”

Dian terdiam lama, matanya menatap lantai dengan perasaan yang makin sesak. Ia menelan ludah susah payah, lalu berusaha tersenyum tipis agar Bu Ratih tidak merasa cemas.

“Baiklah Bu… saya mengerti. Jika itu memang keinginan suamiku dan aturan yang sudah ada sejak lama, saya akan berusaha menaatinya. Terima kasih sudah memberitahuku dengan jujur,” ucapnya pelan, meski di dalam dadanya terasa ada yang perih teriris.

Bu Ratih hanya bisa mengangguk sedih, lalu mengantar Dian kembali ke lorong utama sebelum pamit pergi untuk melanjutkan tugasnya.

Tak lama kemudian, terdengar suara kendaraan memasuki halaman rumah. Joshua pulang.

Dian berdiri diam di tengah ruangan, jantungnya berdebar kencang—entah karena senang melihatnya pulang, atau karena gugup mengingat semua larangan yang baru saja didengarnya. Joshua masuk dengan tenang, menatap sekeliling ruangan dengan pandangan tajam, lalu matanya berhenti tepat pada sosok Dian.

“Kau sudah berkeliling?” tanyanya singkat. Nada bicaranya terdengar biasa saja, namun ada sorot mata yang seolah kurang berkenan.

“Iya… tadi Bu Ratih yang menemaniku. Aku hanya ingin mengenal letak rumah ini saja, supaya tidak tersesat lagi,” jawab Dian pelan sambil menundukkan pandangan.

Joshua berjalan mendekat perlahan, lalu meletakkan tas kerjanya di meja sudut. Ia tidak marah, tidak berteriak, hanya berkata dengan nada datar yang terasa dingin menusuk:

“Rumah ini memang terlalu besar untuk seseorang yang baru pertama kali tinggal di sini. Tidak apa-apa kau berjalan-jalan di area yang aman. Hanya saja… ada baiknya kau tidak terlalu jauh melangkah ke sana kemari. Tempat-tempat tertentu memang bukan tempat untuk kau singgahi. Kau cukup tenang saja di ruangan yang sudah biasa kau tempati, itu sudah cukup bagiku.”

Ia menatap Dian lekat-lekat sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang lebih pelan namun tetap menekan:

“Lagipula, aku tidak ingin kau tersesat, atau menyentuh barang yang tidak seharusnya. Soalnya aku sudah terbiasa dengan semuanya sejak kecil, dan aku tidak suka ada perubahan berlebih di tempat tinggalku. Kau mengerti maksudku?”

Dian mengangguk perlahan, namun kata-kata itu terasa seperti air es yang disiramkan perlahan ke hatinya. “Bukan tempat untuk kau singgahi… tidak suka ada perubahan… terbiasa dengan semuanya sejak awal…” kalimat itu terus berputar berulang kali di kepalanya, membuat dadanya semakin sesak.

Ia tersenyum kaku, berusaha menyembunyikan kekecewaannya. “Iya… aku mengerti. Aku tidak akan berani sembarangan lagi ke depannya.”

Joshua mengangguk pelan seolah puas mendengarnya, lalu berjalan menuju kamar mandi tanpa menoleh ke belakang. “Istirahatlah. Jangan lelah berlebihan. Aku ingin mandi sebentar untuk melepas penat.”

Saat sosoknya menghilang di balik pintu kamar mandi, senyum di wajah Dian perlahan luntur sepenuhnya. Ia berdiri sendirian di ruangan yang megah dan mewah itu, namun rasanya seolah ia sedang berdiri di tengah badai yang dingin dan tak berujung. Ia tidak dimarahi, tidak dilarang secara kasar—tapi setiap kata yang diucapkan Joshua membuatnya merasa yakin: ini rumahnya, bukan rumahku. Aku hanya tamu yang diizinkan tinggal sementara waktu.

Ia mulai bertanya-tanya dalam hati dengan perasaan bimbang: Kenapa Joshua bersikap seperti ini? Apa karena aku belum mengenal dirinya terlalu jauh, jadi masih ada sisi asing darinya yang belum kutemukan? Atau memang begitulah cara dia menyayangi seseorang?

Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Joshua muncul dengan pakaian santai, rambutnya masih sedikit basah. Melihat Dian masih duduk termenung di tepi tempat tidur dengan wajah murung, ia berjalan mendekat perlahan.

“Apa kamu masih memikirkan perkataanku tadi?” tanyanya lembut, lalu tanpa menunggu jawaban ia memeluk pinggang Dian dari belakang.

Dian menelan ludah, lalu memberanikan diri bertanya dengan suara bergetar: “Joshua… apakah kamu benar-benar mencintaiku?”

Joshua sedikit kaget mendengar pertanyaan itu. Ia mengubah posisinya, duduk di samping Dian dan menatap lekat ke arahnya. “Kenapa bertanya seperti itu? Apa kamu merasa aku mengambek atau menyembunyikan sesuatu darimu?”

“Bukan begitu… hanya saja…” Dian menunduk sejenak, lalu melanjutkan pelan: “Kenapa kamu tidak mengatakan langsung padaku tentang aturan itu? Kenapa harus menyuruh pelayan yang memberitahuku? Bukankah status kita berdua sekarang suami istri? Seharusnya kita bisa lebih saling terbuka satu sama lain, bukan?”

Joshua menghela napas panjang, lalu mengusap lembut lengan istrinya. Berikut adalah naskah yang sudah diperbaiki sesuai saran: menambahkan tanda-tanda kebohongan halus pada Joshua, memperlambat perubahan perasaan Dian, dan menyisakan sedikit keraguan di hatinya.

“Jadi itu yang kamu pikirkan,” ucap Joshua pelan. Ia sempat menunduk sejenak, seolah mencari kata yang tepat, sebelum menatap kembali ke arah Dian. “Sebenarnya aku berniat memberitahumu secara langsung, tapi tiba-tiba saja aku mendapat sedikit masalah mendadak di kantor pagi tadi. Aku bahkan belum sempat menemanimu berkeliling. Jadi aku meminta bantuan Bu Ratih untuk menyampaikannya.”

Saat berbicara, matanya sedikit melirik ke arah jendela, tidak berani menatap mata Dian terlalu lama. “Apakah itu membuatmu merasa tersisih?”

Dian diam sejenak, menimbang-nimbang kata-kata itu di dalam hatinya. Apakah benar aku yang terlalu sensitif? Atau memang begitulah perbedaan kebiasaan kami yang terlalu jauh? batinnya bertanya ragu. Ia menggeleng pelan. “Bukan begitu… aku hanya merasa asing saja.”

“Bu Ratih sudah seperti ibu kandung bagiku dan Cindy,” lanjut Joshua, kali ini suaranya terdengar lebih tenang, meski senyum di bibirnya terlihat sedikit kaku. “Aku sangat menghormatinya, dia merawat kami berdua dengan sangat tulus sejak kecil. Karena aku tidak sempat menemanimu, aku memintanya untuk membantuku menjelaskan segalanya.”

Dian masih terdiam, perlahan rasa bersalah mulai menyusup menggantikan rasa sedihnya, namun samar-samar masih ada rasa ganjil yang tak bisa ia jelaskan. “Maafkan aku… sepertinya aku bersikap terlalu berlebihan dan mencurigaimu tanpa alasan yang jelas.”

“Kenapa minta maaf?” potong Joshua pelan sambil mengusap pelan punggung tangannya. “Aku yang salah karena tidak menjelaskannya padamu lebih awal, sehingga kamu berpikir macam-macam.”

“Aku telah berpikir yang bukan-bukan mengenai dirimu,” gumam Dian pelan, menundukkan wajahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!