"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
Kemarahan Vexana yang meledak-ledak di atas ranjang laksana badai yang mencoba meruntuhkan gunung batu.
Namun, alih-alih menjauh atau membiarkan rasa bersalah menguasai dirinya, sesuatu di dalam otak Landon Desmon seolah patah.
Kata-kata nalar, batasan profesional, dan dinding es yang mereka bangun beberapa hari lalu runtuh tanpa bekas, digantikan oleh naluri posesif yang gelap dan purba.
Tidak memedulikan Vexana Valerio yang mengamuk dan memukul dadanya dengan histeris, Landon Desmon justru memajukan tubuhnya dengan sentakan cepat.
Dengan satu gerakan dominan, ia menarik tubuh ramping yang tertutup selimut itu ke dalam rengkuhannya. Ia memeluk erat, mengunci kedua lengan Vexana di antara dada mereka, benar-benar tidak memberikan celah sedikit pun bagi wanita itu untuk bergerak ataupun bernapas bebas.
"Sayang... hey, maafkan aku. Kumohon maafkan aku, Bee..." bisik Landon, suaranya parau, bergetar di antara keputusasaan dan obsesi yang meluap.
Dekapannya begitu kuat, mengabaikan fakta bahwa jantung mereka berdegup dalam ritme gila yang saling berkejaran.
"Lepaskan aku, brengsek!!! Lepas!!!" Vexana menjerit, suaranya teredam di ceruk leher Landon. Ia menyentakkan kepalanya, mencoba menggigit bahu pria itu agar cengkeramannya mengendur.
Namun, dengan kegilaan Landon yang sudah mencapai puncaknya pagi ini, bukannya melepaskan, pria itu justru mencengkeram rahang Vexana dengan jemarinya yang kuat.
Ia memaksa wajah wanita itu mendongak, dan dengan gerakan gila yang menuntut, Landon kembali mencium bibir Vexana.
"Mphhhh... lep-paskan..."
Lenguhan Vexana tertelan sepenuhnya di dalam pagutan Landon yang kasar namun sarat akan rasa lapar yang tertahan selama enam tahun.
Ciuman itu tidak lagi berbau romansa manis masa remaja mereka, melainkan sebuah klaim kepemilikan yang mutlak dan berbahaya.
Vexana mencoba memalingkan wajahnya, namun Landon justru menurunkan kecupannya ke arah leher jenjang yang putih itu.
Dengan napas yang memburu, Landon menyesap dan menggigit kulit sensitif di sana, membuat tanda merah yang kontras di atas tanda-tanda serupa yang telah ia torehkan semalam.
Dia tidak akan melepaskan gadis ini lagi. Tidak akan pernah.
Persetan dengan Maximilian Valerio, persetan dengan birokrasi kampus, dan persetan dengan seluruh dunia yang mencoba memisahkan mereka.
Landon sudah kehilangan akalnya.
Kata-kata jujur Vexana semalam saat mabuk—meracau memanggil namanya, memohon di dalam tangisnya agar Landon tidak meninggalkan dirinya lagi—menjadi pembenaran mutlak di dalam kepala pria itu.
Itu artinya, jauh di dalam lubuk hatinya, Vexana masih menginginkannya. Wanita itu hanya terbelenggu oleh ego ketakutan. Dan pagi ini, Landon memilih untuk menjadi monster yang meruntuhkan ketakutan itu dengan caranya sendiri.
Naluri gairahnya kembali menyala dengan hebat, membakar rasa bersalah yang sempat mampir tadi.
Landon telah menghafal setiap jengkal kulit Vexana, setiap titik sensitif yang mampu membuat wanita itu bertekuk lutut.
Tidak sulit baginya untuk memaksakan kehendak, mengabaikan fakta bahwa tubuh Vexana masih remuk akibat pergulatan semalam. Ia meraba pinggul Vexana, menyingkirkan selimut abu-abu itu hingga tubuh mereka kembali bersentuhan tanpa pembatas.
Ia bersiap untuk meniduri Vexana lagi, mengulang apa yang telah mereka lakukan berkali-kali sepanjang malam.
"Tidak... jangan lakukan itu, Landon..." Suara Vexana melemah, matanya membelalak panik saat merasakan perubahan atmosfer tubuh Landon yang kembali mengeras di atasnya.
Rasa perih di bagian intinya kembali berdenyut, mengingatkan pada batas fisik yang hampir habis. "Aku... aku sedang dalam masa suburku, lepaskan aku!"
Mendengar kata 'masa subur', sorot mata Landon justru semakin menggelap, dipenuhi oleh sebuah ego yang luar biasa egois. Ia mengunci kedua tangan Vexana di atas kepala wanita itu dengan satu tangan kekarnya, sementara tubuhnya merangsek turun di antara kedua paha Vexana.
"Tidak, Vexana... kau harus hamil anakku," ucap Landon, suaranya berat, dingin, namun sarat akan obsesi yang menakutkan.
Pria itu menatap lurus ke dalam mata Vexana yang berkaca-kaca dengan pandangan yang seolah telah kehilangan kewarasan.
"Kumohon jangan lakukan ini padaku... kau harus hamil anakku. Kau harus terikat bersamaku seumur hidupmu."
"Landon, jangan—"
Jleb.
Pekikan Vexana terputus seiring dengan hantaman rasa penuh dan perih yang kembali merobek kesadarannya.
Mereka kembali menyatu dalam pagutan paksa yang tak terhindarkan. Landon Desmon kembali menidurinya pagi ini, bergerak dengan ritme yang lambat namun menghujam dalam, mengabaikan seluruh penolakan verbal dari wanita di bawahnya.
Di dalam kamar yang temaram oleh gorden yang tertutup itu, racauan Vexana kembali memenuhi udara—sebuah perpaduan yang menyedihkan antara umpatan kemarahan yang serak dan desahan pasrah yang lolos dari bibirnya yang membengkak.
Setiap kali Vexana memaki, Landon justru membalasnya dengan pacuan yang lebih dalam, memaksa tubuh wanita itu ikut bergerak mengikuti ritmenya.
Landon terlihat seperti orang yang benar-benar telah kehilangan kewarasannya, bergerak murni atas dasar insting untuk menandai wilayah kekuasaannya.
Hingga akhirnya, beberapa menit kemudian, titik puncak itu datang. Landon mengetatkan rahangnya, memacu tubuhnya dengan kecepatan penuh di beberapa detik terakhir sebelum seluruh cairannya menyembur di dalam rahim Vexana, mengabaikan semua risiko masa subur yang wanita itu teriakkan tadi.
Napas Landon memburu, keringat bercucuran dari pelipisnya, jatuh menetes di atas dada Vexana yang naik-turun dengan lemas.
Vexana memalingkan wajahnya ke samping, menatap dinding kamar dengan tatapan kosong, matanya basah oleh air mata kehancuran harga diri yang telah diinjak-injak habis-habisan pagi ini.
Namun, saat Landon berniat untuk menarik dirinya dan bergeser untuk membersihkan tubuh Vexana seperti yang biasa ia lakukan dulu, pria itu mendadak membeku.
Ia terdiam, menatap bagian bawah perut Vexana yang kini terekspos sepenuhnya di bawah sorotan seberkas cahaya matahari yang menerobos gorden.
Posisinya yang masih berada di dalam tubuh Vexana mendadak terlupakan.
Pandangan mata legamnya terkunci pada sebuah pemandangan yang membuat seluruh pasokan udara di paru-parunya seperti ditarik paksa.
Di atas tulang panggul Vexana, terdapat sebuah garis bekas luka yang memanjang horizontal.
Garis itu tampak sedikit kontras dengan kulit mulus Vexana, sebuah bekas luka yang sudah mengering sempurna namun menyisakan tekstur jaitan yang khas.
Landon tidak bodoh. Sebagai seorang ilmuwan dan pria yang genius sejak masa sekolah, ia tahu persis anatomi tubuh manusia.
Itu bukan garis bekas luka akibat jatuh dari sepeda, bukan pula bekas operasi usus buntu yang posisinya berada di sebelah kanan atas.
Itu adalah garis horizontal panjang yang berada tepat di perut bagian bawah.
Deg.
Jantung Landon seolah berhenti berdetak. Sebuah spekulasi gila yang mengerikan mendadak menghantam otaknya.
Dengan gerakan yang tergesa-gesa hingga menimbulkan rasa perih baru pada Vexana, Landon menarik dirinya keluar secara kasar.
Ia melompat turun dari ranjang dalam kondisi telanjang bulat, tidak memedulikan penampilannya, dan langsung menyambar ponsel pintarnya yang tergeletak di atas meja nakas.
Vexana yang masih lemas hanya bisa melirik dengan dahi berkerut, menatap langkah gila Landon yang bergerak seperti orang kesurupan di samping ranjang.
Landon dengan jemari yang bergetar hebat segera membuka mesin pencari di ponselnya, mengetikkan beberapa kata kunci medis medis dengan kecepatan tinggi.
Layar ponselnya menampilkan rentetan penjelasan medis beserta gambar-gambar ilustrasi.
Begitu membaca penjelasan ilmiah yang tertera di sana, tangan Landon yang memegang ponsel gemetar semakin hebat.
Matanya yang semula tajam dan gelap mendadak berkaca-kaca, dipenuhi oleh kombinasi rasa syok, hancur, dan ketidakpercayaan yang luar biasa.
Semalam, saat mereka melakukannya berkali-kali dalam kegelapan, Landon tidak tahu tentang keberadaan garis bekas luka itu.
Cahaya lampu penthouse yang temaram dan kondisinya yang semalaman penuh dikuasai oleh gairah memuja tubuh yang sangat ia rindukan, membuatnya melewatkan detail krusial tersebut. Ia hanya fokus pada rasa memiliki yang kembali membuncah.
Landon menurunkan ponselnya perlahan, memegangnya dengan cengkeraman yang sangat erat hingga buku jarinya memutih. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Vexana yang kini sedang berusaha menarik selimut untuk menutupi tubuhnya kembali sambil menggerutu pelan.
"Kau..." Suara Landon keluar, namun bernada sangat dingin, laksana embusan angin musim dingin yang mampu membekukan darah. "Kau menyembunyikan anak kita, Vexana?"
Deg.
Gerutuan Vexana seketika terhenti. Tubuhnya yang sedang berusaha beringsut di atas kasur mendadak menegang kaku.
Sepasang mata bulatnya melebar, menatap Landon dengan tatapan yang dipenuhi oleh ketakutan yang mendalam yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Landon melangkah mendekati tepi ranjang, lalu dengan satu sentakan kasar, ia melempar ponselnya hingga mendarat tepat di atas kasur di samping tubuh Vexana.
"Bekas luka di perutmu yang baru kulihat pagi ini..." Landon menunjuk ke arah perut Vexana di balik selimut dengan jari yang gemetar hebat, air matanya akhirnya luruh melewati pipinya yang tegas.
"Itu bekas operasi caesar, Vexana! Itu bukan bekas luka biasa! Kau melahirkan... kau melahirkan bayi kita!"
Landon mencengkeram kedua bahu Vexana, memaksa wanita itu menatap matanya yang hancur berantakan.
"Enam tahun lalu apa bayi kita benar-benar lahir vexana? Kau bilang anak kita sudah mati karena keguguran! Tapi garis itu... garis itu membuktikan semuanya bohong! Dimana anak kita, Vexana?! Dimana anakku?!" Raung Landon, suaranya memecah keheningan pagi dengan tuntutan yang meremukkan seluruh kebohongan yang selama ini mereka jaga.
...****************...
Mohon komentarnya kak biar Author tambah semangat Up Bab Selanjutnya 🫶🏻🙏🏻