Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendung yang menyerupai luka
Langit Jakarta tidak bersahabat hari ini. Baru pukul tiga sore, gumpalan awan hitam sudah menggantung rendah di atas gedung-gedung pencakar langit. Suasana di luar jendela kantor Arshaka Group berubah menjadi remang-remang yang menekan, menciptakan ilusi visual yang menyerupai senja lebih awal. Gemuruh petir terdengar jauh di kejauhan, namun cukup untuk membuat udara di dalam ruangan terasa lebih berat.
Di meja sekretarisnya, Elfesya sedang sibuk menyusun berkas-berkas kontrak vendor yang berantakan. Ia harus teliti karena Ravion akan memaki jika ada satu angka saja yang salah. Namun, fokusnya terganggu oleh suara benda jatuh dari dalam ruangan Ravion. Suaranya cukup keras, seperti vas bunga atau tumpukan buku yang dihantamkan ke lantai.
Elfesya terdiam sejenak. Biasanya ia tidak berani masuk tanpa izin, tapi instingnya mengatakan ada yang salah. Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu jati besar itu.
Ruangan itu gelap gulita. Seluruh lampu mati. Gorden beludru abu-abu yang berat sudah tertutup rapat, namun sedikit cahaya dari lampu lorong yang masuk melalui pintu yang terbuka menunjukkan kekacauan di dalam. Vas bunga kristal pecah berkeping-keping di lantai marmer.
Ravion berdiri mematung di tengah ruangan. Ia membelakangi pintu. Pria itu tampak sangat pucat di bawah temaram cahaya. Kedua tangannya mencengkeram pinggiran meja kerja mahoninya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar. Napasnya terdengar pendek-pendek dan tidak beraturan, seperti orang yang sedang kehabisan oksigen.
"Bapak? Bapak tidak apa-apa?" tanya Elfesya cemas. Ia melangkah masuk, mengabaikan pecahan kaca di lantai.
"Keluar..." suara Ravion parau, nyaris seperti bisikan yang tertahan di tenggorokan.
Elfesya tidak menurut. Ia mendekat, menyadari bahwa Ravion sedang mengalami serangan panik yang hebat. Suasana mendung gelap di luar sana pasti memicu sesuatu yang traumatik di kepalanya. "Tarik napas, Pak. Lihat saya. Ini belum sore. Ini baru jam tiga lewat sedikit. Ini hanya mendung karena mau hujan."
"Aku bilang keluar!" Ravion membentak, namun suaranya pecah di akhir kalimat. Ia limbung dan hampir terjatuh ke samping jika Elfesya tidak segera berlari dan menahan lengannya.
Untuk pertama kalinya, Elfesya merasakan betapa dinginnya telapak tangan suaminya itu. Kulitnya terasa lembap oleh keringat dingin. Elfesya menuntun Ravion duduk di sofa panjang di sudut ruangan. Pria yang biasanya tampak begitu angkuh dan berkuasa itu kini terlihat sangat rapuh, seperti bangunan tua yang siap runtuh kapan saja.
Tanpa kata, Elfesya menyalakan lampu meja yang cahayanya berwarna kuning hangat, bukan lampu plafon yang putih terang. Ia mencoba mengusir kegelapan yang tampak menakutkan bagi Ravion. Ia kemudian mengambil gelas berisi air hangat dari dispenser di pojok ruangan dan memberikannya kepada Ravion.
"Minum dulu. Pelan-pelan," perintah Elfesya dengan nada tegas namun tenang.
Ravion meminum air itu dengan tangan yang masih gemetar. Setelah beberapa teguk, ia meletakkan gelas itu di meja dengan dentingan kecil. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap lurus ke depan dengan mata kosong.
"Kenapa Bapak begitu membenci waktu ini? Sampai-sampai mendung pun membuat Bapak seperti ini?" tanya Elfesya pelan. Ia duduk di kursi di depan sofa, menjaga jarak namun tetap ada di sana.
Ravion terdiam cukup lama. Suara rintik hujan mulai menghantam kaca jendela di balik gorden. "Ibuku," ucapnya akhirnya. "Dia meninggal di pelukanku saat langit berwarna seperti ini. Jingga yang gelap, lalu berubah menjadi hitam."
Ravion menarik napas panjang yang terasa menyakitkan. "Dia lelah, Elfesya. Dia lelah menunggu Ayah yang tidak kunjung pulang dari wanita-wanitanya. Dia depresi bertahun-tahun, tapi tetap berusaha tersenyum padaku. Sore itu, dia hanya bilang ingin tidur sebentar. Tapi dia tidak pernah bangun lagi. Tepat saat matahari terbenam."
Elfesya tertegun mendengarnya. Ia melihat sisi lain dari monster yang selama ini menyiksanya di kantor. Ravion bukan sekadar pria sombong yang hobi gonta-ganti pacar karena nafsu; dia adalah seorang anak kecil yang terperangkap dalam trauma pengkhianatan ayahnya. Ia membenci cinta karena baginya, cinta adalah alasan ibunya menderita dan mati.
"Itu sebabnya Bapak sering gonta-ganti pacar?" tebak Elfesya dengan suara datar. "Karena Bapak ingin menunjukkan bahwa wanita tidak ada artinya? Bapak ingin membalas dendam pada konsep kesetiaan yang tidak pernah Bapak dapatkan dari Ayah Bapak?"
Ravion menoleh tajam. Matanya yang merah berkilat marah, namun ada sisa kepedihan yang tidak bisa disembunyikan. "Jangan sok tahu tentang hidupku, Elfesya. Kamu tidak tahu apa-apa."
"Saya tahu satu hal," balas Elfesya sambil berdiri. "Saya melihat seorang pria dewasa yang memiliki segalanya, tapi takut pada warna langit. Bapak pikir dengan menyakiti banyak wanita, luka Bapak akan sembuh? Tidak. Bapak hanya membuat gorden di hati Bapak semakin tebal."
Ravion mengepalkan tangan. "Tahu apa kamu soal luka? Kamu hanya gadis yang datang dari kemiskinan dan mencari keberuntungan di sini."
"Setidaknya saya tidak bersembunyi di kegelapan," ucap Elfesya sambil berjalan menuju pintu. "Bapak bilang saya harus tutup telinga jika Bapak membawa wanita lain. Sekarang saya sarankan Bapak buka mata. Dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena Bapak benci senja."
Ravion tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung Elfesya yang menghilang di balik pintu. Keheningan kembali menguasai ruangan itu, hanya menyisakan suara hujan yang semakin deras di luar. Ia merasa sangat terhina karena rahasianya diketahui oleh gadis itu, namun di sisi lain, ada perasaan aneh yang sedikit melegakan karena untuk pertama kalinya, ia tidak menghadapi "senja palsu" itu sendirian.
"Pulanglah," desis Ravion pada udara kosong. "Aku ada urusan malam ini. Jangan tunggu aku."
Ia meraih ponselnya, mencari nama Calista atau siapa pun yang bisa menemaninya malam ini untuk menghapus bayangan wajah Elfesya yang terlalu tajam menembus harga dirinya. Namun, saat jarinya akan menekan tombol panggil, ia ragu. Untuk pertama kalinya, aroma jeruk dari parfum Elfesya terasa lebih nyata daripada alkohol mahal yang biasa ia konsumsi.
Ravion bangkit, merapikan jasnya dengan kasar. Ia harus pergi dari sini. Ia harus menemukan gangguan yang bisa membuatnya lupa bahwa sekretarisnya baru saja melihatnya dalam kondisi yang paling menyedihkan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...