NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Darah Kasta Rendah dan Sumpah yang Lahir

Malam itu, jagat raya seolah ikut melumuri dirinya dengan duka. Langit di atas Hutan Tarik (sebuah wilayah belantara luas yang kelak menjadi saksi bisu berdirinya takhta paling agung di Nusantara) sewarna dengan darah yang mengalir deras di atas lantai tanah sebuah gubuk bambu. Guntur menggelegar membelah angkasa, mengirimkan getaran hebat hingga ke akar-akar pohon jati purba. Namun, badai petir yang melanda alam malam itu kalah mengerikan dibandingkan dengan petaka buatan manusia yang sedang mendekat: derap langkah puluhan kaki kuda yang berpacu kencang, disusul kilatan mata pedang yang dingin di bawah sapuan cahaya kilat.

Saat itu adalah tahun 1295 Masehi. Di pusat pemerintahan, Kerajaan Majapahit baru saja seumur jagung berdiri. Raden Wijaya baru setahun lebih dinobatkan sebagai Prabu Kertarajasa Jayawardhana setelah berhasil menumpas Jayakatwang dan mengusir pasukan Mongol. Namun, di balik kemegahan fajar baru tersebut, tanah Jawa tidak serta-merta menjadi damai. Gejolak politik, kecemburuan kasta, dan intrik berdarah mulai merayap di sela-sela dinding istana Trowulan.

Jauh di dalam keheningan Hutan Tarik, di dalam sebuah gubuk anyaman bambu yang sudah reyot dan miring, sepasang suami istri dari kasta jelata sedang bertarung antara hidup dan mati. Sang istri baru saja melewati proses persalinan yang melelahkan di atas dipan bambu beralaskan kain usang. Di sampingnya, seorang bayi laki-laki yang bertubuh gempal dan berkulit bersih baru saja menghirup napas pertamanya di dunia. Namun, tidak ada waktu untuk merayakan kebahagiaan.

Sang ayah, seorang pandai besi kasta rendah (seorang Wong Cilik yang sehari-hari hanya berkutat dengan bara api dan besi tua), berdiri di dekat pintu dengan kapak pembelah kayu di genggaman tangannya. Napasnya memburu, wajahnya pucat pasi diguyur keringat dingin. Beberapa hari yang lalu, sebuah kemalangan besar menimpanya. Saat mengantarkan pesanan cangkul ke wilayah pinggiran kota, ia tanpa sengaja mendengar percakapan rahasia dan melihat sebuah gulungan catatan milik sekelompok pejabat korup. Catatan itu berisi rencana makar, sebuah persengkongkolan busuk untuk mengadu domba para pahlawan pendiri Majapahit yang digerakkan oleh faksi hitam Mahapati (seorang pejabat licik yang haus kekuasaan dan ahli memanipulasi pikiran orang). Demi membungkam saksi, sepasang suami istri jelata itu kini diburu layaknya binatang buruan hingga ke sudut hutan terdalam.

"Sembunyikan anak kita, Kang! Cepat! Mereka sudah dekat!" jerit sang ibu dengan suara parau yang tersendat di tenggorokan. Rasa sakit pasca melahirkan masih mencengkeram perutnya, namun rasa takut kehilangan darah dagingnya jauh lebih menyiksa jiwanya.

Sang ayah melangkah cepat dengan tangan yang bergetar hebat. Ia membungkus tubuh gempal bayi itu dengan kain jarik kasar bermotif sederhana. Dengan sisa-sisa ketenangannya, ia menaruh bayi itu ke dalam sebuah keranjang anyaman bambu yang terletak di sudut tergelap gubuk, lalu menimbun bagian atas keranjang tersebut dengan tumpukan jerami padi kering hingga tak terlihat dari luar.

"Tetaplah hidup, anakku..." bisik sang ayah, sebuah kecupan singkat mendarat di kening si bayi, meninggalkan bekas keringat dan jelaga besi.

BRAAKK!

Hantaman keras menghancurkan pintu bambu gubuk hingga menjadi serpihan tajam. Lima orang pria berbadan tegap merangsek masuk ke dalam ruangan yang sempit itu. Mereka mengenakan pakaian hitam legam dengan topeng kayu berwujud wajah singa yang mengerikan (milisi rahasia Singo Barong yang bergerak di bawah perintah langsung Mahapati). Di tangan mereka, obor menyala dan pedang sabet yang telah berlumur darah siap mencabut nyawa. Kulit di lengan dan dada para pembunuh itu dipenuhi oleh rajah-rajah kuno berwarna hitam pekat yang memancarkan hawa dingin. Rajah itu memicu Jampi Level 1: Rajah Sasra (sebuah ilmu hitam aliran kiri yang mengunci urat saraf mereka, membuat tubuh mereka nir-rasa terhadap rasa sakit fisik).

"Di mana gulungan catatan itu, babi kasta rendah?!" bentak si pemimpin pasukan, suaranya berat dan bergema di dalam topeng kayu.

Sang ayah tidak menjawab. Dengan raungan kemarahan yang membubung, ia mengayunkan kapak kayunya ke arah kepala si pemimpin. Namun, perbedaan kasta kekuatan di antara mereka terlalu jauh. Si pemimpin dengan mudah mengelak. Gerakannya secepat iblis. Dengan satu gerakan memutar, pedang sabetnya melesat menembus dada sang ayah.

Cipratan darah hangat mengenai dinding bambu. Sang ayah tumbang, kapak kayunya terlepas, matanya menatap langit-langit gubuk dengan sisa napas yang terputus sebelum akhirnya meregang nyawa di atas tanah.

"Kang?!" jerit sang ibu histeris. Ia merangkak turun dari dipan, mencoba menggapai jasad suaminya yang telah kaku. Namun, tangan kasar si pemimpin pembunuh mencengkeram rambutnya dengan kejam, memaksa wajah wanita itu mendongak.

"Katakan, atau aku akan mencincang jasad suamimu!" ancamnya lagi.

"Tidak ada... demi para dewa, kami tidak memegang apa pun..." ratap sang ibu dengan air mata yang bercampur darah yang menetes dari luka di kepalanya.

JLEB.

Tanpa belas kasihan sedikit pun, sebilah keris tipis beracun dihujamkan tepat ke arah jantung sang ibu. Wanita itu terbatuk, darah hitam keluar dari mulutnya. Sebelum kesadarannya lenyap sepenuhnya masuk ke alam keabadian, sepasang matanya yang mulai meredup menatap lurus ke arah keranjang jerami di sudut ruangan. Bibirnya yang bergetar bergerak tanpa suara, merapalkan doa terakhir, memohon kepada bumi Nusantara dan para leluhur agar melindungi anaknya yang tidak berdosa.

"Bakar tempat ini. Jangan tinggalkan jejak seujung kuku pun," perintah si pemimpin dingin setelah memastikan tidak ada gulungan catatan yang mereka cari di dalam gubuk.

Para pembunuh itu melemparkan obor menyala ke atas dipan bambu dan tumpukan jerami di dalam gubuk. Dalam hitungan detik, api berkobar hebat, menjilat dinding-dinding kering dan atap rumbia. Merasa tugas mereka telah selesai dan dikejar oleh waktu sebelum pasukan patroli resmi kerajaan melintas, kelima pembunuh bertopeng itu segera melompat ke atas kuda mereka, memacu binatang tersebut menembus kegelapan malam yang badai, meninggalkan gubuk yang menjelma menjadi neraka kecil.

Di dalam keranjang bambu yang mulai dikepung oleh asap hitam pekat, bayi yang baru lahir itu mendadak berhenti menangis. Kejadian mengerikan, aroma darah yang anyir, serta kematian tragis kedua orang tua kandungnya yang terjadi tepat di depan matanya telah mendobrak paksa gerbang spiritual di dalam darah sucinya. Rasa trauma yang teramat sangat Memicu kebangkitan energi kebatinan yang luar biasa masif.

Wush!

Suasana di dalam gubuk yang bergulung dengan api itu mendadak berubah aneh. Udara di sekitar keranjang bayi berdesis. Waktu seolah berjalan melambat secara tidak masuk akal. Lidah api yang hendak membakar keranjang tersebut tertahan di udara, meliuk-liuk menjauh seolah-olah ditiup oleh kekuatan yang tak kasat mata.

Sepasang mata bayi itu terbuka lebar. Untuk pertama kalinya, pupil matanya yang semula hitam berubah total, berkilat memancarkan cahaya warna emas murni yang sangat pekat dan berwibawa. Khodam Level 1: Embun Sukma (entitas roh pelindung agung yang tertidur di dalam jiwanya) telah bangkit sebagai respons dari bahaya maut.

Mata emas yang dipicu oleh kekuatan Khodam ini memiliki keistimewaan bawaan mutlak yang disebut Niti Sastra. Di detik-detik mengerikan itu, meskipun otaknya belum mampu mencerna secara logika layaknya orang dewasa, mata Niti Sastra milik Mada merekam secara sempurna visual wajah para pembunuh di balik topeng, lambang rajah hitam di kulit mereka, cara mereka mengayunkan pedang, hingga energi hitam yang menyelimuti tubuh mereka. Semua memori visual itu terkunci rapat di alam bawah sadarnya, tersimpan menjadi misteri jangka panjang yang kelak akan menuntun takdirnya saat beranjak dewasa.

Bersamaan dengan aktifnya mata tersebut, sisa energi batin sang bayi memancar keluar dari dadanya, membentuk wujud perisai bulat transparan berwarna keemasan yang membungkus seluruh permukaan keranjang bambu. Perisai energi itu memiliki keistimewaan untuk menolak segala elemen alam yang berbahaya. Hawa panas dari api yang membakar gubuk tertahan, asap pekat yang beracun dibelokkan, dan jelaga hitam tidak mampu menyentuh kulit si bayi sedikit pun. Bayi kecil itu tertidur kembali dengan tenang di tengah gubuk yang perlahan runtuh menjadi abu.

Ketika sang surya mulai mengintip dari ufuk timur, badai telah berlalu. Hutan Tarik kembali diselimuti oleh keheningan yang sunyi dan kabut pagi yang dingin. Di sisa-sisa reruntuhan gubuk yang kini telah rata dengan tanah menjadi tumpukan abu hitam berbau gosong, asap tipis masih mengepul ke udara.

Dari balik semak-semak belukar, sesosok pria tua yang mengenakan pakaian bertani sederhana berbahan kain kasar melintas menunggangi seekor kuda hitam yang tegap. Nama pria tua itu adalah Rama Sidacerma. Penduduk di sekitar pinggiran hutan hanya mengenalnya sebagai seorang tetua desa yang pendiam, hidup menyendiri, dan sesekali membantu warga jika ada yang sakit atau kesulitan. Namun, tidak ada satu pun jiwa di tanah Jawa yang mengetahui rahasia besarnya: pria tua berpakaian lusuh ini sebenarnya adalah Patih Nambi (Mahapatih Pertama Kerajaan Majapahit, tangan kanan utama Raden Wijaya). Ia memilih memalsukan kematiannya dan mundur dari hiruk-pikuk istana Trowulan karena muak dengan intrik darah, saling sikut jabatan, serta kelicikan faksi Mahapati yang mulai menggerogoti kerajaan dari dalam.

Langkah kuda Rama Sidacerma mendadak berhenti ketika hidungnya menangkap bau daging terbakar dan hangus yang tidak wajar. Insting seorang senopati perang tertinggi yang telah melewati ratusan pertempuran berdarah di dalam dirinya langsung bangkit. Sepasang matanya yang tajam beralih menatap ke arah kepulan asap dari bekas gubuk pandai besi.

Dengan gerakan yang sangat cekatan, Rama melompat turun dari kudanya. Tangan kanannya bergerak ke belakang pinggang, mencengkeram gagang sebuah parang besar pemotong semak yang biasa ia bawa. Ia melangkah mendekati puing-puing gubuk dengan tingkat kewaspadaan tertinggi. Sisa-sisa energi kebatinan yang pekat dan berbau mistis di udara membuat bulu kuduk mantan jenderal itu berdiri.

Rama memeriksa sekeliling dan menemukan dua jasad manusia yang telah hangus terbakar di antara puing kayu bambu. Tatapannya mengeras, rahangnya mengetat melihat bekas luka sabetan pedang di tulang jasad tersebut sebelum terbakar. Sebagai pakar intelijen militer masa lalu, ia tahu persis arah tebasan ini. Ini adalah gaya bertarung milisi pembunuh rahasia milik Mahapati.

Namun, perhatian Rama Sidacerma mendadak teralih ke sudut terjauh dari puing-puing gubuk. Ada sesuatu yang tidak masuk akal di sana. Di tengah hamparan abu hitam yang merata, ada satu titik kecil berbentuk lingkaran yang anehnya bersih dari debu, tidak tersentuh api, bahkan jerami di atasnya masih berwarna kuning segar. Lebih dari itu, dari dalam tumpukan jerami itu, Rama yang memiliki kemampuan batin tinggi bisa mendengar detak jantung yang teramat kuat, konstan, dan stabil.

Rama melangkah mendekat, parangnya tetap terjaga di depan dada. Dengan tangan kirinya, ia menyingkirkan tumpukan jerami kering tersebut. Langkahnya langsung terhenti, dan tubuhnya mendadak kaku karena terkejut. Di dalam sebuah keranjang bambu sederhana, terbaring seorang bayi laki-laki yang sedang tertidur lelap.

Saat jemari Rama yang dipenuhi kapalan bekas memegang pedang hendak menyentuh kain jarik pembungkus bayi itu, sebuah keajaiban luar logika terjadi di depan matanya. Lapisan perisai bulat berwarna emas transparan yang semula melindungi keranjang itu bergetar halus, mengeluarkan pendar cahaya sakral yang menghangatkan udara pagi, sebelum akhirnya perlahan-lahan menyusut dan melarut masuk kembali ke dalam dada mungil sang bayi.

Deg.

Jantung Rama Sidacerma berdegup kencang. Parang besar di tangannya terlepas begitu saja, jatuh menghantam abu tanah. Lutut mantan Mahapatih tertinggi itu lemas hingga ia jatuh berlutut di samping keranjang bambu tersebut. Matanya terbelalak menatap bayi gempal yang bersih tanpa noda jelaga sedikit pun, padahal gubuk di sekelilingnya telah hancur terbakar.

Sebagai orang yang pernah memimpin seluruh kasta militer Majapahit, Rama tahu betul fenomena apa yang baru saja disaksikannya. Ini bukan sihir murahan, ini adalah tanda nyata dari Wahyu Kedewatan (sebuah takdir agung yang diturunkan oleh penguasa jagat raya). Bayi ini terlahir dengan ikatan roh pelindung tingkat tinggi, sebuah Khodam purba berwujud dewa perang yang kekuatannya bahkan melampaui apa pun yang pernah Rama lihat sepanjang karier militernya.

"Gusti..." bisik Rama Sidacerma dengan suara yang gemetar oleh perpaduan antara rasa takjub yang luar biasa dan rasa ngeri yang mendalam.

Suara bisikan itu rupanya mengusik tidur si bayi. Bayi mungil itu menggeliat kecil, membuka sepasang kelopak matanya yang jernih. Begitu matanya terbuka, sepasang pupilnya berkilat memancarkan cahaya warna emas murni (sisa-sisa energi Niti Sastra yang masih aktif). Lewat tatapan mata emas yang sakral itu, kemampuan batin sang bayi seolah bekerja secara pasif, membaca sukma Rama Sidacerma. Bayi itu tidak menangis, ia justru merasa tenang karena mata emasnya mendeteksi ketulusan yang murni, ketiadaan niat buruk, serta rasa iba dari pria tua di hadapannya.

Rama Sidacerma dengan sangat hati-hati, seolah sedang memegang permata paling berharga di kolong langit, mengangkat tubuh bayi itu dari dalam keranjang. Ia mendekapnya erat ke dada bidangnya yang dipenuhi oleh belasan luka parut sisa perang melawan tentara Mongol dan Jayakatwang. Rama membalikkan badannya, menatap ke arah dua jasad hangus kedua orang tua kandung si bayi dengan sorot mata yang menyala oleh kemarahan. Dendam lamanya yang telah ia kubur dalam-dalam di dalam hutan ini, kini mendadak tersulut kembali dengan daya ledak yang lebih dahsyat.

"Orang tuamu mati dibantai oleh para pengkhianat negara, Nak..." ucap Rama dengan suara berat yang bergetar menahan amarah yang menggumpal di dada. "Darah suci mereka telah mengalir dan menyatu dengan tanah Hutan Tarik ini. Tapi kamu... kamu selamat karena jagat raya ini menolak membiarkan apimu padam oleh kelicikan mereka."

Rama mendekap bayi gempal itu semakin erat, mengalirkan sedikit hawa hangat dari tenaga dalamnya untuk mengusir dinginnya angin pagi, sambil menatap lurus ke arah langit fajar Majapahit yang mulai menyingsing di ufuk timur dengan warna merah keemasan yang megah.

"Mulai hari ini, detik ini, aku adalah ayahmu. Aku yang akan menjadi pelindungmu. Namamu adalah Mada. Aku akan membawamu ke tempat yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh mata-mata istana. Aku sendiri yang akan menempa tubuh dan batinmu dengan ilmu kanuragan tertinggi yang aku miliki, sampai tiba harinya... kamu sendiri yang akan bangkit, membaca takdir dunia dengan matamu, dan menghancurkan para keparat yang telah menghancurkan keluargamu serta merusak ketenteraman tanah Majapahit."

Hari itu, di atas hamparan abu pembantaian yang sunyi di tengah Hutan Tarik, seorang mantan Mahapatih pertama resmi memungut seorang bayi yatim piatu kasta terendah. Sebuah dinasti rahasia yang mempertemukan dua generasi Mahapatih telah lahir dalam kesunyian malam yang pekat, siap membentuk sebuah kekuatan luar logika yang kelak akan mengguncang, menaklukkan, dan menyatukan seluruh samudra Nusantara di masa depan.

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!