NovelToon NovelToon
Saat Aku Berhenti Pulang

Saat Aku Berhenti Pulang

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:374k
Nilai: 5
Nama Author: Larasati

"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.

Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.

Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.

Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30 - Mediasi Kedua

Mediasi kedua dimulai tepat pukul sembilan.

Kali ini Adrian datang lebih dulu.

Alina melihatnya ketika masuk ruang tunggu bersama Nadia. Adrian duduk di kursi dekat jendela, Hendra di sampingnya. Tidak ada Ratna. Tidak ada Vania. Tidak ada alasan medis yang muncul lima menit sebelum jadwal.

Adrian berdiri saat Alina datang.

"Pagi."

Alina mengangguk singkat. "Pagi."

Tidak ada percakapan lain.

Namun bagi orang yang pernah menunggu Adrian berjam-jam, melihatnya duduk di sana sebelum waktunya terasa seperti ironi kecil. Ia akhirnya bisa tepat waktu, setelah keterlambatannya menjadi catatan.

Ibu Salma memanggil mereka masuk.

Ruang mediasi sederhana. Meja panjang, kursi hitam, kipas AC yang sedikit berisik, dan tumpukan berkas di sisi mediator. Tidak ada musik, tidak ada bunga, tidak ada kata-kata manis.

Tempat yang cocok untuk membicarakan akhir.

Ibu Salma membuka pertemuan dengan suara tenang.

"Sesuai prosedur, saya akan tetap menanyakan kemungkinan perdamaian. Apakah pihak penggugat masih pada permohonan cerai?"

Alina menjawab tanpa menoleh pada Adrian. "Masih, Bu."

"Apakah ada kemungkinan rujuk?"

"Tidak."

Satu kata.

Rapi.

Adrian menunduk sedikit.

Ibu Salma menatapnya. "Pihak tergugat?"

Adrian diam beberapa detik.

Hendra tampak siap menjawab, tapi Adrian mengangkat tangan kecil.

"Saya..." Ia berhenti. "Saya menerima bahwa Alina ingin bercerai."

Alina menoleh.

Hanya sedikit.

Nadia juga meliriknya.

Itu pertama kalinya Adrian mengucapkan kalimat itu di ruang resmi.

Ibu Salma mencatat. "Baik. Maka pembahasan mediasi difokuskan pada akibat perceraian: anak, nafkah, dan harta bersama."

Hendra membuka map. "Kami telah meninjau ulang beberapa syarat pihak penggugat."

Nadia tersenyum sopan. "Silakan."

"Mengenai jadwal komunikasi anak, pihak tergugat menyetujui panggilan video setiap malam pukul tujuh selama tidak mengganggu kesehatan anak."

"Frasa itu terlalu longgar," kata Nadia.

Hendra menghela napas. "Baik. Panggilan video setiap malam pukul tujuh, maksimal tiga puluh menit, kecuali anak sedang dalam keadaan medis darurat yang dibuktikan dengan keterangan dokter."

Nadia menatap Alina.

Alina mengangguk.

Ibu Salma mencatat.

"Kunjungan langsung?" tanya Nadia.

Hendra melanjutkan, "Setiap akhir pekan kedua, tempat netral, tiga jam, sementara proses berjalan. Pihak ketiga yang menjadi sumber konflik tidak hadir."

Pihak ketiga.

Tidak ada yang menyebut nama Vania.

Namun nama itu memenuhi ruangan.

Alina merasa napasnya sedikit longgar.

Setidaknya untuk Arka, ada batas tertulis.

*****

Pembahasan harta bersama tidak semudah itu.

Hendra menawarkan angka lebih rendah. Nadia menolak. Adrian beberapa kali mencoba menjelaskan struktur aset, tapi Nadia meminta bukti dokumen. Alina tidak banyak bicara. Ia sudah belajar bahwa dalam ruangan seperti ini, kalimat yang terlalu emosional bisa dipakai untuk mengecilkan tuntutan.

Ketika angka Rp25 miliar disebut lagi, Hendra berkata, "Pihak tergugat masih menilai angka itu terlalu tinggi."

Nadia membuka dokumen. "Kami telah menyertakan dasar perhitungan."

"Sebagian aset tidak likuid."

"Kompensasi bisa bertahap."

"Ada kewajiban lain dari Pak Adrian."

Alina akhirnya bicara. "Termasuk biaya Vania?"

Ruangan sunyi.

Hendra menutup mulut.

Adrian menatap Alina.

Ibu Salma melihat catatannya. "Mohon pihak penggugat menjelaskan relevansi."

Alina duduk tegak. "Selama pernikahan, dana dan fasilitas keluarga digunakan untuk pihak ketiga dengan alasan medis dan personal. Apartemen, pendampingan, acara yayasan, dan biaya terkait. Pihak tergugat berulang kali mengatakan saya tidak berkontribusi secara finansial, sementara pengeluaran untuk pihak ketiga dianggap wajar. Saya ingin pola itu tercatat dalam pertimbangan harta bersama."

Nadia menambahkan, "Kami memiliki bukti transfer dan fasilitas yang digunakan."

Hendra berkata, "Pengeluaran yayasan tidak bisa disamakan dengan pengeluaran pribadi."

Nadia langsung menjawab, "Maka buka pembukuannya."

Hendra diam.

Adrian mengusap wajah.

Ia tahu Nadia akan mengatakan itu. Ia juga tahu pembukuan yayasan tidak sepenuhnya bersih dari penggunaan personal untuk Vania.

Alina tidak perlu berteriak.

Ia hanya perlu meminta pintu dibuka.

Dan orang-orang yang menyembunyikan sesuatu akan terlihat takut pada pintu.

Ibu Salma mencatat lagi. "Baik. Pihak tergugat diminta menyiapkan dokumen pendukung terkait aset dan pengeluaran yang dipersoalkan."

Hendra mengangguk kaku.

*****

Mediasi berlangsung hampir dua jam.

Tidak selesai.

Tentu saja tidak.

Namun ada beberapa poin yang disepakati tertulis: jadwal komunikasi Arka, larangan Vania hadir dalam kunjungan Alina, kewajiban Adrian menyerahkan dokumen aset awal, dan proses pemeriksaan medis Vania tidak boleh dipakai sebagai alasan menunda mediasi berikutnya kecuali ada kondisi gawat dengan bukti tertulis.

Poin terakhir membuat Adrian menatap meja lama.

Ia tahu itu ditujukan padanya.

Dan ia tidak bisa menolak.

Setelah mediasi selesai, Hendra dan Nadia keluar lebih dulu untuk menyalin catatan. Alina merapikan mapnya. Adrian masih duduk.

"Terima kasih," katanya.

Alina menutup map. "Untuk apa?"

"Karena tidak menolak saat aku meminta bertemu Arka di taman."

"Itu untuk Arka."

"Aku tahu."

Jeda.

Adrian berkata, "Aku menerima hasil sementara Prof. Hadi pagi ini."

Alina mengangkat wajah. "Sudah ada?"

"Belum final. Tapi dia bilang beberapa data Vania tidak konsisten."

Alina tidak terkejut.

Adrian melihat itu. "Kamu sudah tahu?"

"Aku tahu ada yang tidak beres. Detailnya biar dokter yang bicara."

"Kamu selalu setenang ini sekarang?"

"Tidak. Aku hanya tidak menunjukkannya padamu."

Kalimat itu mengenai tepat.

Adrian menunduk.

"Dulu kamu menunjukkannya," katanya pelan.

"Dulu aku pikir kamu tempat aman."

Tidak ada kemarahan di suara Alina.

Justru itu yang membuat Adrian lebih sulit bernapas.

Pintu terbuka. Nadia muncul. "Lin, salinan sudah siap."

Alina berdiri. "Aku pergi."

Adrian ikut berdiri, tapi tidak menahan.

Ia belajar, sedikit terlambat, bahwa menahan Alina hanya membuatnya semakin jauh.

*****

Di luar gedung pengadilan, Alina menerima pesan dari Prof. Hadi.

Bukan langsung dari dokter itu, melainkan asistennya.

Asisten Prof. Hadi:

Ibu Alina, Prof meminta kehadiran Ibu sebagai saksi kronologi awal dalam pertemuan evaluasi berikutnya, jika Ibu bersedia. Ada ketidaksesuaian signifikan dalam data pasien.

Alina membaca pesan itu dua kali.

Nadia melihat wajahnya. "Apa?"

Alina menyerahkan ponsel.

Nadia membaca, lalu tersenyum sangat pelan. "Nah."

"Ini akan kacau."

"Sudah kacau. Bedanya sekarang kacau itu punya laporan medis."

Alina menatap halaman pengadilan yang panas.

Ponselnya bergetar lagi.

Kali ini dari nomor tidak dikenal.

Pesannya pendek.

Jangan ikut campur lebih jauh, atau Arka yang akan paling sakit.

Tidak ada nama.

Tidak perlu.

Nadia membaca pesan itu, wajahnya langsung berubah serius.

"Kirim ke saya. Sekarang."

Alina meneruskan pesan itu.

Tangannya dingin.

Ancaman terhadap dirinya bisa ia hadapi. Ancaman terhadap Arka menembus tempat yang belum sembuh.

Nadia menyentuh lengannya. "Kita tangani."

Alina mengangguk.

Di seberang halaman, Adrian keluar bersama Hendra. Ia melihat wajah Alina berubah dan langsung berjalan mendekat.

"Ada apa?"

Alina menatapnya.

Untuk sesaat, ia ragu.

Lalu ia menunjukkan pesan itu.

Wajah Adrian mengeras.

"Siapa yang mengirim?"

"Menurutmu?"

Adrian menatap nomor itu, lalu rahangnya mengeras.

Kali ini, ia tidak berkata Vania tidak mungkin.

Kali ini, ia hanya berkata, "Aku akan mencari tahu."

Alina menyimpan ponselnya.

"Jangan mencari untuk membelaku. Cari karena anakmu disebut."

Ia berjalan pergi bersama Nadia.

Adrian berdiri di bawah panas Jakarta, membaca ulang ancaman itu.

Arka.

Nama anaknya akhirnya masuk ke medan perang yang dulu ia biarkan orang dewasa buat.

Dan Adrian sadar, jika ia masih memilih menutup mata, ia bukan hanya kehilangan Alina.

Hendra mendekat, bertanya apakah ia baik-baik saja. Adrian tidak menjawab. Ia hanya menyimpan nomor asing itu dan mengirimkannya kepada orang keamanannya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin bertanya pada Vania lebih dulu.

Ia ingin bukti.

Kata itu dulu terdengar dingin saat keluar dari mulut Alina. Sekarang kata yang sama terasa seperti satu-satunya benda yang bisa ia pegang tanpa tenggelam.

Di dalam mobil, Adrian tidak langsung menyalakan mesin. Ia membuka kembali email Vania. Lampiran-lampiran itu tersusun rapi, terlalu rapi untuk seseorang yang katanya panik dan sakit sepanjang minggu.

Ia mengetuk nama rumah sakit yang tercantum di salah satu file, lalu berhenti.

Dulu, mengecek seperti ini terasa seperti mengkhianati Vania.

Sekarang, tidak mengecek terasa seperti mengkhianati Arka.

Ia akan kehilangan hak untuk disebut ayah yang melindungi anaknya.

1
Fi Fin
tadinya ku berharap lina jadian sama damar eeeee tau2 hamil anak riven makin ga jelas ceritanya
Emily
Dulu merasa berkuasa dan berfikir Alina gak akan melawan..
ternyata di luar ekspektasi
Emily
Adrian mau aja di goblokin vania
Runi Hardaningsih
cape baca nya, tapi benar benar benar
Santi Seminar
kapan bikinnya woy,belum nikah pula🤔
Santi Seminar
katanya kata2 adalah doa,kapan kata2 Vania terkabul tidak akan melihat dunia lagi
Santi Seminar
ini kapan Vania nya kena karma ,sih aman2 wae wong iku😡
Santi Seminar
lha Bimo Kuwi sopo Jan jane
An'ra Pattiwael
biar zj vania mampus
Yati Syahira
rasain sekaran andrian ,lakor zerta cs mulai kalang kabut
Yati Syahira
rasain lakor
Yati Syahira
bagus alina
Yati Syahira
korban dari seorang laki yg arogan dan lakor licik
Yati Syahira
pelakor licik lakinya murahqn
Yati Syahira
rasain laki egois demi lakor
Yati Syahira
lakor licik mainin peran
Yati Syahira
lakor jahat lakinya bodoh
Yati Syahira
jijik lihat pasangan munafik ,alina sdh tepat amvil langkah
Yati Syahira
jijik ama adrian
Yati Syahira
jgn luluh alina cuma di jadiin babu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!