NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:24
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Dua Belah Hati

Panas Nala menembus kain dan membakar kedua lengannya.

“Letakkan di tikar,” perintah dr. Sinta.

Laras enggan melepaskan, tetapi dokter sudah membuka tas. Ia membaringkan Nala di atas kain bersih. Tubuh bayi itu ringan, jauh lebih ringan daripada Satya. Bibirnya kering dan matanya hanya terbuka sedikit ketika termometer ditempelkan.

“Tiga puluh sembilan koma enam.” dr. Sinta menekan kulit perut Nala, lalu memeriksa mulut dan popok. “Diare akut dengan dehidrasi. Mungkin infeksi saluran cerna.”

“Apakah harus dibawa ke rumah sakit?”

“Kalau dia tidak bisa minum setelah pertolongan pertama, kita bawa malam ini juga.”

dr. Sinta mencampur oralit dengan air matang yang dibawa dari jip. Cairan diberikan sedikit demi sedikit memakai sendok. Dua suapan pertama keluar lagi. Laras menahan dagu Nala sambil memanggil namanya.

“Nala, ini Ibu. Buka mulut, Nduk.”

Bayi itu memalingkan wajah.

Gerakan kecil itu menyayat lebih dalam daripada tangisan. Nala tidak mengenali suaranya. Selama berbulan-bulan, yang menenangkan anak itu adalah tangan keriput Mbah Inah, bukan pelukan ibunya.

“Dia lupa saya,” kata Laras.

“Dia sedang sakit,” jawab dr. Sinta. “Jangan menilai cinta anak dari caranya bereaksi saat demam.”

Mereka terus mencoba. Satu sendok, menunggu, satu sendok lagi. Ketika cairan tidak lagi dimuntahkan, dr. Sinta memberi obat penurun panas sesuai berat badan.

“Sekarang susui kalau dia mau. Sedikit tetapi sering.”

Laras membawa Nala ke sudut kamar dan membuka pakaiannya di balik kain yang dibentangkan Mbah Inah. Nala awalnya menolak. Mulut kecilnya mencari tanpa tenaga, lalu berhenti.

Air mata Laras jatuh ke rambutnya.

“Maafkan Ibu. Ibu pergi terlalu lama.”

Ia mengusap pipi Nala dengan jari, mengulang lagu yang dulu dinyanyikannya sejak anak itu lahir. Setelah beberapa saat, Nala membuka mulut dan mulai menyusu lemah.

Rasa sakit yang menekan dada Laras perlahan berkurang. Bukan hanya karena susu keluar, tetapi karena tubuh anaknya akhirnya mengenal jalan pulang.

dr. Sinta memeriksa lagi satu jam kemudian. Nadi Nala masih cepat, tetapi mulutnya mulai basah dan panasnya turun sedikit.

“Kalau terlambat satu hari lagi, ginjalnya bisa terganggu,” katanya. “Malam ini harus diawasi. Kalau tidak pipis atau kembali muntah terus, kita turun ke rumah sakit.”

Mbah Inah menangis tanpa suara.

Laras tidak memarahinya. Perempuan tua itu sudah merawat Nala dengan tenaga yang tersisa. Kesalahan terbesar justru milik keadaan yang memisahkan seorang ibu dari anaknya.

Sepanjang malam, Laras bergantian memberi oralit dan menyusui. Menjelang Subuh, popok Nala akhirnya basah. dr. Sinta mengembuskan napas lega.

Sebelum tanda itu muncul, setiap menit terasa seperti hukuman. Laras menempelkan telinga ke dada Nala berkali-kali hanya untuk memastikan napasnya masih ada. Mbah Inah duduk sambil membaca doa dengan tasbih kayu, sedangkan Iwan berjaga di teras agar bisa menyalakan jip kapan saja.

Pada tengah malam, Nala terbangun dan menangis serak. Tangannya meraba wajah Laras, lalu berhenti di dagunya. Laras menahan napas.

“Ibu,” bisiknya, meski tahu bayi itu belum dapat mengucapkan kata.

Nala hanya mengeluarkan bunyi lemah. Namun kali ini ia tidak memalingkan wajah saat digendong. Kepalanya bersandar di lekuk leher Laras, persis seperti sebelum Laras pergi ke kota.

Kenangan tubuh itu ternyata belum hilang.

Laras mencium ubun-ubunnya dan menangis tanpa suara. Ia berjanji tidak akan membiarkan jarak menjadi jawaban tetap. Entah harus menyewa kamar, meminta jadwal baru, atau bekerja dua kali lebih keras, ia akan menemukan tempat bagi Nala di sisinya.

Pagi harinya, demam turun menjadi tiga puluh delapan. Nala masih lemah, tetapi jarinya mulai mencengkeram baju Laras.

“Dia bisa dirawat di sini dengan pengawasan,” kata dokter. “Saya tinggalkan obat dan jadwal. Puskesmas akan dikabari untuk kunjungan besok.”

Laras ingin tetap tinggal. Namun Satya hanya memiliki persediaan susu perah sampai siang, dan kontrak kerjanya baru dimulai. Ia menghitung uang di dompet, lalu menyerahkan semuanya kepada Mbah Inah.

“Untuk air matang, pisang, bubur, dan ongkos kalau harus ke puskesmas.”

“Kamu sendiri bagaimana?”

“Saya sudah dapat honor. Nanti bisa mencari lagi.”

Ia meninggalkan beras, susu, obat, serta dua stel baju yang dibawakan Iwan. Sepatu cokelat kecil dipasangkan ke kaki Nala hanya untuk memastikan ukuran. Ternyata masih sedikit longgar.

“Tunggu Ibu,” bisik Laras. “Sebentar lagi Ibu akan membawa kamu.”

Nala memandangnya dengan mata berat. Ketika Laras melepaskan jarinya, bayi itu merengek pelan.

Suara itu mengejar Laras sampai ke ujung desa.

Dalam perjalanan kembali, jip berhenti di kebun pemasok sesuai surat tugas. Iwan dan pemilik kebun menimbang labu siam, daun singkong, serta beberapa jenis sayur gunung untuk sampel lomba.

Sebelum pergi, dr. Sinta menyerahkan salinan catatan pemeriksaan kepada Pak RT dan meminta seorang pemuda desa mengantar kabar ke puskesmas. Ia juga menuliskan tanda bahaya dengan huruf besar: tidak mau minum, tidak buang air, mata makin cekung, kejang, atau kesadaran menurun.

“Kalau salah satu terjadi, jangan tunggu surat,” katanya. “Pinjam motor, ketuk rumah bidan, atau kirim orang ke pos. Biaya nanti kita pikirkan.”

Pak RT mengangguk berkali-kali. Iwan mencatat nomor telepon kantor batalyon di dinding dekat pintu, sehingga Mbah Inah tidak lagi bergantung pada kabar yang berjalan tiga hari.

Laras turun membantu mencatat, tetapi dadanya mengeras dan terasa nyeri. Waktu menyusui Satya sudah lewat. Tubuhnya mengingat bayi di kota ketika hatinya baru saja ditinggalkan bersama bayi di desa.

Ia berdiri di balik rumpun bambu dan menutup wajah.

“Saya ibu macam apa?” katanya.

dr. Sinta berdiri beberapa langkah di belakang, memberi jarak. “Ibu yang berusaha menjaga dua anak dalam keadaan yang tidak adil.”

“Saya selalu meninggalkan salah satu.”

“Untuk sekarang. Bukan selamanya.”

Laras menangis sampai napasnya lebih teratur. Setelah itu ia mencuci wajah di pancuran kebun, mencatat seluruh sampel, dan naik kembali ke jip.

Mereka tiba di rumah dinas menjelang sore. Bu Titin keluar sambil menggendong Satya yang sudah rewel. Begitu melihat Laras, bayi itu menendang-nendangkan kaki dan meraih ke arahnya.

Laras memeluknya erat.

“Ibu pulang.”

Tubuh kecil itu segera tenang begitu mengenali bau dan detak jantungnya.

Satya langsung mencari susu. Laras membawanya ke belakang, menutup pintu, lalu duduk sambil menyusui. Air matanya jatuh lagi ketika ketegangan di tubuhnya terlepas.

Ia melihat wajah Satya, tetapi tangannya masih mengingat panas Nala.

Di luar jendela, Bu Ratna berdiri di seberang jalan. Ia melihat tirai ditutup, melihat jip dinas pergi, dan menghitung berapa lama Laras meninggalkan pekerjaan pada hari pertamanya.

Laras tidak tahu dirinya sedang diawasi.

Ia hanya tahu hatinya tertinggal di dua tempat, dan keduanya memanggilnya Ibu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!