NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maksud Terselubung Gus Azhar

Aroma kayu jati dan wangi minyak gaharu memenuhi ruang tamu utama kediaman Kyai Syahuri. Di atas meja ukir berfurnitur klasik, cangkir-cangkir teh poci menyemburkan uap tipis. Namun, kehangatan teh itu berbanding terbalik dengan atmosfer dingin yang melingkupi tiga orang yang sedang duduk melingkar.

Gus Azhar—dengan jubah putih eksklusif dan tatanan peci yang begitu rapi—duduk memperbaiki posisi tubuhnya. Matanya sejak tadi tak lepas dari Shanum yang duduk di seberangnya. Shanum menyesap teh pahit dinginnya dengan gerakan elegan, jemarinya yang lentik memegang cangkir dengan kaku, menandakan ia sedang berada di mode benteng pertahanan penuh.

"Shanum," panggil Gus Azhar dengan suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar hangat dan berwibawa. "Kedatanganmu kali ini benar-benar membawa ketenangan bagi pesantren. Abah dan saya selalu mendoakan kelancaran bisnismu di Jakarta."

Shanum meletakkan cangkirnya perlahan ke atas tatakan, menghasilkan bunyi denting halus. "Terima kasih banyak, Gus Azhar. Doa dari Kyai dan seluruh keluarga pesantren tentu sangat berarti untuk keberlangsungan Al-Maktoum Group."

Gus Azhar tersenyum, menyandarkan punggungnya seraya menyatukan ujung-ujung jarinya. "Sebenarnya, Shanum... ada hal yang sudah lama ingin saya sampaikan secara langsung. Tanpa perantara."

Shanum menaikkan alisnya tipis. Nalurinya langsung menangkap arah pembicaraan ini. Pandangannya memenggal keramahan yang ada, berganti menjadi tatapan kaku khas pimpinan korporat.

"Saya rasa, ini saat yang tepat," lanjut Gus Azhar, suaranya diwarnai sedikit rasa percaya diri yang tinggi. "Masa depan Al-Maktoum Group yang begitu besar tentu membutuhkan pendamping yang kokoh dari segi nilai dan agama. Saya ingin melamarmu, Shanum. Saya ingin memimpinmu, memadukan kekuatan pesantren dan bisnismu di bawah naungan ikatan yang suci."

Ruang tamu itu hening seketika. Di sudut luar teras, Ning Layla yang baru saja hendak masuk membawa nampan camilan mendadak menghentikan langkahnya. Matanya membelalak kaget mendengar ujaran tegas kakaknya.

Shanum tidak panik. Ia tidak menunjukkan rona merah di pipi atau gestur canggung. Wajah cantiknya justru membeku bagai ukiran es. Shanum merapikan lipatan pashmina sutranya dengan gerakan yang teratur sebelum menatap lurus ke dalam mata Gus Azhar.

"Terima kasih atas niat baik dan kehormatan yang Gus Azhar tawarkan," jawab Shanum. Suaranya terdengar sangat santai, amat sopan, namun memiliki batas pertahanan yang tak tertembus. "Tetapi saya harus menolaknya."

Raut percaya diri di wajah Gus Azhar goyah seketika. "Shanum... kenapa? Apakah ada yang salah dengan—"

"Tidak ada yang salah, Gus," potong Shanum cepat, intonasi bicaranya tetap tenang dan teratur. "Fokus hidup saya saat ini sepenuhnya untuk amanah Almarhumah Ibu dan memimpin perusahaan. Saya belum memiliki ruang atau niat untuk melangkah ke jenjang pernikahan dengan siapa pun. Saya harap penolakan ini tidak merusak hubungan silaturahmi keluarga kita."

Penolakan yang begitu kaku, sopan, dan tanpa kompromi itu menghantam harga diri Gus Azhar dengan keras. Rahangnya mengetat halus, mata yang tadinya ramah kini menyisakan kilatan kekecewaan dan ego yang terluka parah.

Sebelum pertengkaran berlanjut, suara derum mobil memecah ketegangan di halaman. SUV hitam mewah milik Rasyid Al-Maktoum berhenti tepat di depan teras, menyebarkan beberapa pengawal pribadi bersafari hitam di sekeliling area.

Shanum berdiri dari kursinya. "Ayah sudah datang. Saya permisi menyambut Ayah dulu, Gus."

Gus Azhar hanya mengangguk kaku. Saat Shanum melangkah keluar, Gus Azhar berbalik cepat dan mendapati adiknya, Ning Layla, sedang berdiri canggung di lorong samping.

Gus Azhar berjalan mendekati Layla dengan raut wajah berawan. "Layla," bisiknya dengan nada menekan yang tak bisa disembunyikan.

"Iya, Mas?" sahut Layla pelan, menundukkan pandangannya.

"Kamu ini sahabat terdekatnya Shanum di sini," ujar Gus Azhar, nada suaranya menuntut. "Bantu Mas. Bicaralah pada Shanum. Buka pikirannya. Rayu dia agar mau mempertimbangkan lamaran Mas lagi. Kamu tahu betul betapa cocoknya Mas dengan dia!"

Layla menghembuskan napas pendek, menatap kakaknya dengan pandangan iba bercampur prihatin. "Mas Azhar... Shanum itu wanita yang punya pendirian sangat teguh. Kalau dia sudah bilang tidak, memaksanya hanya akan membuatnya makin menjauh. Lagi pula, urusan hati tidak bisa dipaksakan lewat bujukan orang lain."

"Layla! Kamu ini adik Mas atau bukan?!" sembur Azhar menahan emosi, sebelum akhirnya membalikkan badan dan berjalan pergi dengan langkah gusar.

Sementara itu, di dalam area klinik, Aran sedang duduk di tepi ranjang. Ia sudah mengenakan celana bahan hitam dan kaos polos longgar yang disediakan pihak pesantren. Langkah kaki berwibawa dari Rasyid Al-Maktoum terdengar mendekat, didampingi Kyai Syahuri.

Begitu Rasyid memasuki ruangan, Aran berdiri perlahan. Meski dadanya masih terbebat kasa tebal, postur tubuh Aran berdiri tegap—refleks kedisiplinan tingkat tinggi yang tak bisa disembunyikan.

"Selamat siang, Pak," sapa Aran. Ia mengangguk kecil, menyapa Rasyid dengan intonasi yang santai namun sangat sopan, tanpa sedikit pun nada bergumam atau canggung.

Rasyid Al-Maktoum menghentikan langkahnya. Matanya yang berpengalaman menyapu penampilan Aran dari ujung rambut hingga cara berdiri pria itu. Sebagai pengusaha senior yang terbiasa berurusan dengan berbagai kalangan pejabat tinggi hingga otoritas keamanan, Rasyid bisa langsung membaca garis bahu Aran, kestabilan tatapan matanya, serta refleks taktis yang tersembunyi di balik kesopanan pria ini.

Pria ini bukan sekadar pekerja lapangan biasa, batin Rasyid mantap. Dia adalah operator tingkat tinggi.

"Selamat siang," balas Rasyid ramah, menjabat tangan Aran dengan genggaman mantap. "Saya Rasyid, ayah dari Shanum. Kyai Syahuri sudah menceritakan situasi Anda."

"Ah, iya Pak Rasyid. Terima kasih banyak. Saya justru merasa tidak enak sudah membuat kehebohan di pesantren milik Kyai," jawab Aran dengan senyum tipis yang ramah namun berjarak.

Rasyid terkekeh pelan, mengibaskan tangannya. "Tidak perlu sungkan, Mas Aran. Justru saya yang ingin bicara sedikit mengenai situasi di luar sana."

Rasyid memberi isyarat agar mereka duduk. Rasyid menghela napas panjang, raut wajahnya berubah serius. "Anak saya, Shanum... saat ini sedang memimpin proyek vital Al-Maktoum Group. Tapi di luar sana, persaingan bisnis sudah berubah menjadi teror kotor. Politisi korup bernama Surya Wijaya mulai mengincar keselamatan Shanum."

Aran mendengarkan dengan seksama, matanya yang kelam mengamati setiap perubahan ekspresi Rasyid.

"Shanum itu anak yang sangat cerdas, tapi dia keras kepala dan egois dalam hal prinsip," lanjut Rasyid, menyunggingkan senyum getir. "Dia menolak mentah-mentah kalau saya tempatkan pengawal pribadi bersenjata di sampingnya. Katanya itu merusak citra profesionalnya dan terlalu berlebihan. Tapi saya tidak bisa tidur nyenyak membiarkan dia tanpa perlindungan."

Aran mengangguk paham. "Tipikal pimpinan muda yang sangat percaya pada prosedur formal, Pak."

Rasyid tersenyum tipis, terkesan dengan ketepatan analisis Aran. "Tepat sekali. Karena itu, saya butuh seseorang yang bisa berdiri di sampingnya tanpa terlihat seperti bodyguard. Seseorang yang punya ketenangan, ketajaman analisis, dan kemampuan melindungi dari bayangan."

Rasyid menatap lurus ke dalam mata Aran. "Saya ingin menawarkan posisi sebagai Personal Assistant atau Asisten Pribadi resmi untuk Shanum. Anda akan ikut ke Jakarta, mendapatkan identitas legal baru yang bersih, gaji tinggi, dan fasilitas medis terbaik untuk pemulihan luka Anda. Tugas Anda sederhana: dampingi dia, atur jadwalnya, dan pastikan putri saya tetap bernapas."

Aran terdiam sejenak. Pikiran taktis di kepalanya berputar cepat. Kembali ke Jakarta berarti masuk ke dalam sarang serigala tempat faksi liar Viper dan orang-orang Surya Wijaya berkeliaran. Namun di sisi lain, bersembunyi di balik identitas resmi seorang PA CEO Al-Maktoum Group adalah strategi perlindungan terbaik—hiding in plain sight.

Aran menatap Rasyid, lalu tersenyum tipis dengan raut wajah yang tetap tenang dan sopan.

"Tawaran yang sangat menarik, Pak Rasyid," ujar Aran santai, bahasa tubuhnya begitu rileks. "Tapi seperti yang Bapak tahu, putri Bapak sepertinya punya tingkat ketelitian dan rasa curiga yang cukup tinggi. Dia tidak akan menyukai kehadiran saya di ruang kerjanya."

Rasyid tertawa lepas, suara tawa yang memenuhi ruangan klinik. "Soal itu, biarkan saya yang atur. Shanum mungkin CEO di kantor, tapi di depan saya, dia tetaplah seorang putri yang harus mematuhi keputusan ayahnya."

Rasyid berdiri dan kembali mengulurkan tangannya. "Jadi, bagaimana, Mas Aran? Apakah kita punya kesepakatan?"

Aran berdiri perlahan, menjabat tangan Rasyid dengan genggaman yang mantap dan tegap.

"Secara profesional... saya terima penawaran Bapak," jawab Aran dengan nada suara teratur, santai, dan penuh kesopanan. "Saya akan pastikan putri Bapak aman."

Di luar ruangan, Shanum yang baru saja selesai berbicara dengan Kyai Syahuri melangkah mendekati pintu klinik. Ia belum tahu bahwa dalam hitungan menit, keputusan ayahnya baru saja mengikat takdirnya bersama pria dingin bermata kelam yang paling ingin ia hindari.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!