Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Lampu kristal raksasa di langit-langit Grand Ballroom hotel berbintang itu menyala terang, memantulkan kilauan pada lantai marmer yang dipoles sempurna. Thomas berdiri di tengah ruangan dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, tampak sangat berwibawa di samping sang Papa. Di depan mereka, tim Wedding Organizer (WO) sedang memaparkan detail alur masuk pengantin dan posisi pelaminan.
Namun, suasana profesional itu sedikit terganggu oleh keberadaan Marsellino. Pria itu berdiri beberapa meter di belakang Thomas dengan tangan bersedekap dada. Wajahnya mengerucut sebal, matanya menatap tajam ke arah panggung yang sedang dihias. Setiap kali tim WO menyebutkan detail "kemesraan" yang direncanakan untuk acara, Marsel akan mendengus keras atau membuang muka.
"Jadi, Pak Thomas, untuk sesi first dance, kami menyarankan lampu diredupkan dan hanya fokus pada Anda dan Ibu Arunika," jelas sang koordinator WO dengan antusias.
"Bagus. Pastikan musiknya tidak terlalu berisik. Arunika suka instrumen yang lembut," sahut Thomas tenang.
"Halah, sok tahu banget," gumam Marsel lirih, namun cukup terdengar di telinga Thomas.
Papa melirik Marsel dengan peringatan, lalu kembali menatap Thomas. "Thomas, Papa rasa posisi meja untuk keluarga inti harus lebih dekat ke panggung agar Mama kalian bisa melihat dengan jelas."
"Aku setuju, Pa. Atur saja," jawab Thomas.
Saat diskusi berlanjut ke detail teknis pencahayaan, ponsel di saku celana Thomas bergetar. Ia menariknya keluar, dan seketika ekspresi dinginnya mencair saat melihat notifikasi dari si "Istri Cantik".
Gorgeous wife 💙: Mas aku didepan. Kamu dimana? Kebetulan diajak mama keluar dan aku inget kamu ke hotel.
Gorgeous wife 💙: Cepetan keburu mama aku sadar hehe.
Thomas menahan senyumnya. Gadis itu benar-benar nekat melanggar aturan pingit hanya untuk menemuinya. Ia melirik Papa dan Marsel yang masih sibuk berdebat soal posisi kursi.
"Pa, aku ke depan sebentar. Ada urusan logistik yang harus diperiksa di lobi," pamit Thomas bohong.
"Lama banget sih? Urusan apa lagi?" tanya Marsel ketus.
Thomas tidak menjawab. Ia hanya memberikan tatapan tajam yang membuat adiknya terdiam, lalu melangkah lebar keluar dari ballroom.
Di lobi hotel yang megah, Thomas langsung menemukan sosok yang ia cari. Arunika berdiri di balik pilar besar, mengenakan hoodie kebesaran dan topi untuk menyamarkan wajahnya. Ia tampak celingukan seperti agen rahasia yang sedang menjalankan misi berbahaya.
Thomas berjalan mendekat dan tanpa suara menarik tudung hoodie gadis itu dari belakang.
"Eh! Copot-copot!" Arunika hampir melompat kaget. Saat menoleh dan melihat Thomas, ia langsung mengembuskan napas lega. "Mas! Bikin jantungan aja!"
"Kamu ngapain ke sini, Nirmala? Kalau Mama kamu tahu kamu kabur dari mobil, bisa habis kita berdua," bisik Thomas, meski tangannya justru menarik Arunika masuk ke area yang lebih sepi di balik tirai dekorasi ballroom.
"Habisnya aku kangen... eh, maksudnya aku bosen di rumah! Mama sibuk banget milih katering tambahan, terus aku dapet ide pas mobil lewat depan hotel ini. Aku bilang mau ke toilet sebentar di kafe seberang, padahal aku lari ke sini," Arunika nyengir lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Thomas menatap wajah Arunika yang sedikit terengah-engah. Ia meraih jemari gadis itu, menggenggamnya erat. "Baru tiga hari nggak ketemu, kamu sudah berani jadi buronan Mama kamu sendiri?"
"Mas Thomas nggak kangen emangnya? Tadi di balkon rumah aja gayanya kaku banget pas lambai-lambai," goda Arunika. Ia mendekat, menatap Thomas dengan mata bulatnya yang berbinar. "Gimana persiapannya? Ballroom-nya bagus nggak?"
"Bagus. Tapi akan lebih bagus kalau pengantin wanitanya tidak pakai baju beruang di hari-H nanti," sahut Thomas bercanda.
Arunika tertawa kecil, lalu tiba-tiba wajahnya berubah serius. Ia merapatkan tubuhnya ke arah Thomas, membuat aroma stroberi dari tubuhnya kembali menyerbu indra penciuman sang CEO. "Mas... tadi aku liat mobil Marsel di parkiran. Dia di dalem?"
Thomas mengangguk pelan. "Iya. Dia sedang menemani Papa."
"Dia... masih marah ya?"
Thomas mengusap pipi Arunika dengan ibu jarinya, mencoba menenangkan kegelisahan gadis itu. "Biarkan saja dia dengan kemarahannya. Fokusmu sekarang hanya satu: dua hari lagi. Setelah itu, kamu tidak perlu lagi takut bertemu dengannya. Kamu punya aku."
Arunika menunduk, memainkan kancing kemeja Thomas. "Mas, aku deg-degan. Ini beneran ya? Kita bakal nikah beneran? Mas nggak bakal nyesel kan nikah sama cewek berisik kayak aku?"
Thomas mengangkat dagu Arunika, memaksa gadis itu menatap matanya yang penuh dengan keyakinan. "Arunika, aku sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini. Menyesal adalah kata terakhir yang ada di kamusku saat ini."
Arunika tertegun. "Sepuluh tahun? Mas selalu bilang gitu, akting kamu makin pro ya sekarang."
Thomas hanya tersenyum miring. Ia tidak ingin merusak momen ini dengan pengakuan yang terlalu berat. Ia justru menarik Arunika ke dalam pelukan singkat namun sangat erat. "Pergilah sebelum Mama kamu curiga. Aku tidak mau calon pengantin wanita dikurung di gudang karena ketahuan kabur."
"Iya, iya! Mas Thomas bawel!" Arunika melepaskan pelukannya, namun sebelum pergi, ia berjinjit dan membisikkan sesuatu di telinga Thomas. "Mas ganteng banget hari ini pake kemeja hitam. Semangat ya urus hotelnya, Hubby!"
Arunika langsung lari menjauh sambil tertawa, meninggalkan Thomas yang mematung di balik tirai. Jantung Thomas berdegup dua kali lebih cepat. Panggilan 'Hubby' itu terasa lebih mematikan daripada 'Baby girl' yang ia buat tempo hari.
Thomas merapikan kemejanya, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya sebelum kembali ke dalam ballroom. Namun, saat ia melangkah keluar dari balik tirai, ia langsung berpapasan dengan Marsel yang sedang berdiri dengan tangan di saku, menatapnya dengan tatapan curiga.
"Lama banget di lobi. Ketemu siapa lo?" tanya Marsel sinis.
"Bukan urusanmu," jawab Thomas dingin.
Marsel mendekat, mencium udara di sekitar Thomas. "Bau parfum stroberi. Itu parfum Arunika, kan? Dia ke sini?"
Thomas menatap adiknya dengan tatapan menantang. "Kalau iya kenapa? Dia calon istriku, Marsel. Wajar kalau dia ingin melihat calon suaminya."
Marsel mengepalkan tangannya sampai buku jarinya memutih. "Lo bener-benar licik, Kak. Lo manfaatin waktu pingit buat curi-curi kesempatan. Gue nggak bakal biarin pernikahan ini berjalan mulus kalau lo cuma main-main sama dia!"
"Aku tidak pernah main-main, Marsel. Justru kamu yang selama ini bermain dengan perasaannya," Thomas menepuk bahu Marsel dengan keras. "Sekarang, berhentilah mengendus seperti detektif gagal. Ayo kembali ke Papa. Kita punya hotel yang harus dibayar lunas."
Thomas berjalan mendahului Marsel dengan langkah tegap. Di dalam hatinya, ia merasa sangat puas. Pertemuan singkat dengan Arunika tadi memberinya energi lebih untuk menghadapi dua hari tersisa. Ia tahu, apa pun yang dicoba Marsel untuk merusak suasana, tidak akan ada yang bisa menghentikan takdir yang sudah ia susun dengan sangat rapi ini.
Dua hari lagi. Dan dunia akan tahu bahwa Arunika adalah miliknya seutuhnya.
gagal
coba lagi dong 🤭