Alvaro Zaidan Alexander adalah anak ketiga dari empat bersaudara, ia adalah anak tengah yang hampir terlupakan oleh keluarganya sendiri semenjak sang mamah meninggal, keluarganya yang dulunya harmonis dan hangat sekaranh hanya keluarga dingin dan juga kaku.
Dan ada satu kejadian yang membuatnya berubah yaitu musuh bebuyutan sang Papah yang mengincarnya yang membuat sang Papah dan 3 saudaranya berubah seketika...
Apa yang di inginkan oleh musuh Papah kepada Alvaro?
Apakah mereka berhasil melindungi Alvaro atau tidak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patmandari Nugraheni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19 Kondisi Alvaro Semakin Memburuk
[Ruang Kelas Alvaro - Pukul 09.00 WIB]
Jam istirahat pun bunyi
Kringgggg
Kringggg Kringggg
"Ok anak-anak jam istirahat sudah berbunyi kalian bisa istirahat sekarang" ucap guru tersebut karena sudah waktunya istirahat.
"Baik bu" jawab mereka semua serentak.
sepuluh menit kemudian, ada enam remaja yang sudah sampai di kelas Alvaro yaitu Elvano dan teman-temannya yang mau menjemput Alvaro dan teman-temannya.
Tokk
Tokk
Tokkk
Terdengar suara ketukan pintu dari kelas Alvaro dan semua siswa maupun siswi yang ada di kelas itu pun menengok secara bersamaan ke arah suara tersebut.
"Kami izin masuk ya" ucap Elvano ke pada siswa dan siswi yang ada di kelas.
"Iyaa masuk aja" ujar mereka serentak.
Lalu mereka berenam pun masuk ke dalam kelas Alvaro sesudah mereka mendapatkan izin dari siswa dan siswi yang ada di dalam kelas.
"Alvaro masih lemes Lan?" tanya Elvano.
"Iya masih El" jawab Alan dengan nada khawatir.
"Al masih lemes? Mau kekantin enggak?" tanya Elvano kepada Alvaro yang masih terduduk dengan lemas.
"Iya El aku mau ke kantin" jawab Alvaro dengan nada Lemah.
"Aku papah ya sampai kantin" ucap Elvano dan mendapatkan anggukan oleh Alvaro sebagai jawab.
Elvano pun memapah Alvaro dan Alvaro hanya bisa memegangi perutnya karena ia rasa sangat mual, pusing dan lemas secara bersamaan, dan teman-temannya mengikuti langkah mereka dari belakang sambil menjaga Alvaro yang sudah lemas dari belakang supaya mereka sudah siap siaga.
Setibanya di kantin sekolah, mereka pun seperti biasanya memilih duduk di pojok kantin yang lebih sepi dari pada biasanya. Karena siswa maupun siswi yang melihat mereka terutama Alvaro yang sedang lemas itu pun otomatis langsung diam.
"Alva mau makan apa? Biar di pesenin" tanya Elvano.
"Aku gak mau makan minum aja, perutku rasanya muak banget buat makan" jawabnya dengan nada lemas.
"Jangan gitu dong Var, makan ya dikut aja" bujuk Clara kepada Alvaro dan di angguki oleh teman-temannya.
"Ya sudah Clar, pesenin aja bubur sama air putih aja" ucap Elvano kepada Clara, dan Clara hanya memberikan anggukan sebagai jawabannya.
Lima belas menit kemudian, pesanan mereka senua pun sampai terutama pesanan Alvaro yaitu bubur ayam dan juga air putih.
"Ayo makan Var dikit aja" bujuk Elvano sambil menyendok bubur ke arah mulut Alvaro dan dengan terpaksa ia memakan bubur tersebut meskipun di lidahnya itu pahit.
"Lagi Var" ucap Elvano.
"Udah El, udah kenyang" ujar Alvaro dengan suara serak karena tenggorokannya ikut sakit.
"Ya sudah, minum dulu yang banyak" ucap Elvano lagi dan hanya mendapatkan anggukan lemas dari Alvaro.
Setelah hampir setengah botol air Alvaro, tiba-tiba ia mengajak Elvano untuk menemaninya ke kamar mandi karena ia merasakan mual dan pusing secara bersamaan.
"El ayo aku ajak" ucap Alvaro sambil berdiri pelan-pelan supaya ia tidak pingsan.
"Kemana Var?" tanya Elvano yang ikut otomatis berdiri.
"Kekamar mandi" jawabnya dan Elvano pun mengangguk mengerti.
Mereka pun berjalan ke arah kamar mandi sekolah, setelah lima menit mereka berjalan mereka pun sampai di kamar mandi sekolah.
"Huek huek" muntah Alvaro untuk mengeluarkan isi perutnya.
"Ya ampun Var" ucapnya khawatir dan dengan spontan ia memijat tekuk Alvaro dan menempelkan tangannya ke jidat Alvaro.
"Astaga Var kamu demam" ucapnya kepada Alvaro.
"Udah mendingan mualnya?" tanya Elvano dan cuma di jawab anggukan lemas dari Alvaro.
"Ya sudah kita ke uks aja yaa" bujuk Elvano dan sekali lagi cuma di balas anggukan oleh Alvaro.
"Bentar aku hubungi Darren dulu" ujar Elvano sambil merogoh kesaku celananya untuk mencari hp dan membuka nomer Darren dan mengchatnya kalau dia dan Alvaro akan ke uks.
Di tempat teman-teman Alvaro dan Elvano.
"Eh kok mereka lama banget ya" ucap Clara kepada teman-temannya.
"Eh iyaa udah lebih dari 10 menit ini" ujar Arvin
Cting
Cting
Bunyi suara pesan masuk dari hp Darren.
"Eh guys, ayo ke uks Alva masuk uks" ucap Darren.
"Bentar aku sama Elena bayar dulu"ujar Clara dan mendapatkan anggukan oleh yang lainnya.
Setelah Clara dan Elena membayar semua pesanan mereka, mereka pun berlari ke arah ruangan uks yang di dalamnya sudah ada Alvaro dan Elvano.
"Eh El, Al sakit apa" ucap Vian.
"Katanya dokter yang jaga sig demam, tapi nanti di suruh cek kerumah sakit karena ciri-ciri yang gue bicarain tadi katanya ciri-ciri Demam Berdarah Dengue" jelas Elvano yang melirik ke arah Alvaro yang sedang istirahat.
Kringgggg
Kringggg Kringggg
"Eh bel masuk" ucap Ervon kepada teman-temannya
"Eh iya, Van kita tinggal gak papa kan?" tanya Aksa.
"Gak papa kok, nanti kalau guru tanya jawab aja gue di uks nemenin kembaran gue gitu yaa" jawab Elvano kepada teman-temannya.
"Ya sudah duluan ya El" ucap Vian dan hanya mendapatkan anggukan oleh Elvano.
"Var cepet sembuh ya" batin Elvano kepada Alvaro.
Setibanya teman-teman Alvaro sampai kelas, beberapa menit kemudian guru mapel pun datang ke dalam kelas.
"Siang anak-anak, ibu absen dulu ya" ucap guru tersebut.
"Masuk semua ya" ujar guru tersebut.
"Alan kursi samping kamu Alvaro kan? Dia kemana?" tanya guru tersebut.
"Iya bu, dia baru sakit bu ada di uks" jawab Alan dan guru tersebut mengangguk sebagai jawabannya.
"Baik anak-anak buka bukunya kita pelajaran sekarang" ucap guru tersebut.
Dan semuanya pun membuka buku yang di suruh oleh guru tersebut, dan suasana di kelas Alvaro pun sunyi dan terkendali karena mereka fokus ke arah bu guru yang sedang mengajar.