Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gazebo Teras Belakang
Cukup lama Shiva dan Jay saling berdiam diri saat mencuci piring. Hingga piring terakhir telah selesai dicuci oleh Shiva lalu diberikan pada Jay untuk di lap sebelum meletakkannya di tempat khusus penyimpanan piring.
Jay pun melakukan tugas terakhirnya dengan benar. Setelah itu dia melepaskan apron yang dikenakan nya sebelum membantu Shiva tadi.
"Kopi?" Tiba-tiba terdengar suara Shiva menawarkan Jay dari depan countertop, apakah dia mau minum kopi malam ini?
"Boleh." Jay tak menolak tawaran itu.
"Ngopi di Gazebo teras belakang, kayak nya enak." Gumam Shiva. Namun itu jelas terdengar oleh Jay. "Lu kesana duluan, gih!" Lanjut nya menyuruh Jay.
"Oh, okey." Jay mengangguk pelan, kemudian langsung melangkah menuju pintu belakang yang memang tak jauh dari tempat mereka berada saat ini.
Di teras belakang, ada tempat bersantai berbentuk gazebo. Memang dikhususkan untuk bersantai dengan lesehan. Di tengah-tengah teras ada meja yang cukup besar berbentuk lingkaran. Dan di sini lah biasanya ketiga putri Aida menghabiskan waktunya sepulang menimba ilmu untuk mengerjakan tugas pelajaran atau hanya sekedar bersantai untuk melepas penat kesibukan mereka masing-masing.
Jay yang lebih dulu lesehan, saat ini sedang sebat untuk menunggu Shiva membawa kopi yang ditawarkan nya tadi. Cukup lama Jay menunggu, sampai-sampai tembakau gulungnya itu hanya tinggal setengah nya saja. 'Lama amat tuh, cewek!' gerutunya dalam hati.
'Nggak sabaran amat lu jadi cowok! Dia kan lagi ganti baju!' ketus Milea menanggapi gerutuan Jay.
'Ngapain pake ganti baju segala?' tanya Jay yang ingin berbincang dengan Milea.
'Mungkin buat godain, lu.' Milea menjawab sekenanya.
Dreeet.
Pintu teras belakang pun terbuka. Menampilkan Shiva yang tengah membawa nampan berisikan dua gelas kopi dan dua buah toples berukuran sedang. Sementara di bahu nya terlampir tas selempang berisikan laptopnya.
Gadis itu berjalan perlahan menuju meja, tepat di sebelah Jay di pun ikut lesehan. Kemudian meletakkan barang bawaan nya di atas meja. Setelah itu dia mengeluarkan laptopnya dan di letakkannya juga di atas meja tersebut.
Mulut Jay terbuka lebar sedari gadis itu masih diambang pintu sampai sekarang.
Penampilan nya begitu memukau untuk seorang gadis yang tinggal di desa. Kulit seputih susu itu hanya dibaluti daster tidur yang berbahan minim. Tanpa lengan, hanya dua utas berbentuk tali yang terlampir di kedua bahunya. Mempertontonkan kelembutan bahu dan sebagian dada serta punggung bagian atas nya.
Walaupun berwarna hitam, bahan pakaiannya begitu transparan. Di balik pakaian yang menggoda iman itu, hanya ada armor segitiga berwarna merah yang menutupi area terlarang gadis tersebut.
"Mangap! Ntar masuk nyamuk baru tau rasa!" Celetuk Shiva yang sudah mengoperasikan laptopnya.
"Ehem." Jay meneguk salivanya yang terasa seret dengan cara berdehem. "Pakaian lu terbuka amat, kak." Ucap Jay pelan. Seakan takut terdengar oleh orang-orang yang berada di dalam rumah.
"Biasa aja kalik!" Shiva melirik Jay yang duduk di sebelah nya dengan tatapan aneh. "Lagian malam ini gerah banget. AC dikamar juga lagi kumat. Gue mau nonton kelanjutan drama china tadi sore." Lanjutnya. Kemudian gadis itu mengutak-atik laptopnya mencari file yang akan ditontonnya.
"Seru nggak?" Tanya Jay sedikit antusias. Seolah mengabaikan penampilan kakak sepupunya yang berpenampilan begitu. Dan juga, selama dia terbaring akhir-akhir ini dia juga jadi tertarik dengan drama-drama China yang lagi populer saat ini.
"Lumayan!" Jawab Shiva pelan. Sedikit menarik sudut bibir nya untuk tersenyum tanpa menoleh pada Jay.
"Judulnya apa?" Tanya Jay penasaran. Karena kakak sepupunya itu masih juga belum menemukan film yang akan di tonton nya itu.
"Nah! Ketemu!" Sorak Shiva mengabaikan pertanyaan pemuda itu. Gadis itu pun meng-klik icon gambar nya.
"Lha! Udah episode 77! Hampir selesai dong." Keluh Jay. Melihat tampilan drama china itu sudah episode 77 dari 80 episode.
"Tenang aja! Gue pengen liat endingnya ini dulu. Ntar kita nonton drama yang lainnya dari awal deh!" Ucap Shiva pelan. "Pokoknya malam ini, lu harus temenin gue nonton sampe tiga judul. Jangan nge bantah!" Lanjutnya tegas. Agar Jay menemani nya untuk menonton.
"Sampe pagi, dong!" Terka Jay. Setelah memperhitungkan durasi-durasi setiap episode per serial nya.
"Besok kan hari minggu! Apa salahnya?" Ketus Shiva cemberut. Namun perhatian nya tetaplah pada layar di monitor laptopnya itu. Kedua punggung tangannya menopang wajah nya. Seakan benar-benar menghayati peran tokoh utama pada drama yang tengah ditonton nya itu.
"Emang nya kita disini sampe pagi?" Tanya Jay lagi penasaran. Saat ini, dia tak berminat untuk menonton drama itu. Karena alur cerita nya sudah hampir selesai.
"Ya nggak lah! Kalau cuaca nya udah dingin kita nonton nya di kamar aja!" Ucap Shiva tanpa sadar dengan perkataan nya, karena dia terlalu asyik menonton yang telah berada di episode terakhir itu.
Jay terlonjak kaget mendengar kalimat itu. 'Kamar?' tanya nya dalam hati.
'Hehehehe.' Milea tiba-tiba saja terkekeh di pendengaran Jay. Kekehannya itu terdengar menjijikkan untuk didengar Jay.
'Jangan macam-macam, lu! Dia itu kakak sepupu gue!' ancam Jay, seolah tau niat busuk iblis yang sudah bersarang dalam tubuh nya itu.
'Selagi dia bisa menjaga kewarasannya, dia aman untuk malam ini. Lagian, gue belum butuh darah perawan sekarang.' jelas Milea menanggapi ancaman yang diberikan Jay.
"Huff!" Jay menghembuskan nafas lega mendengar ucapan Milea yang tak menargetkan Shiva untuk misinya malam ini.
Mendengar helaan panjang nafas Jay, Shiva menatap Jay dengan pandangan yang rumit. "Kenapa, lu?" Tanyanya kemudian.
"Eh!" Jay terperangah. Memandang wajah Shiva yang begitu sangat dekat dengan nya saat ini. Ketika dia bertanya tadi, saking deketnya, dia bisa mencium aroma segar dari dalam mulut gadis itu. Mata indah gadis itu terlihat sangat jernih.
Jay memutar otak nya mencoba mencari alasan. Seper kian detik waktu terus berlalu. "Itu loh. Udah selesai!" Akhirnya Jay menolehkan pandangan nya kearah layar monitor. "Saatnya nonton drama yang baru! kan?" Lanjut nya. Kemudian dia pun meraih gelas kopi nya mengalihkan kegugupan yang dirasakan nya saat ini.
"Huh!" Shiva melengos mengalihkan kembali pandangan nya kearah monitor. "Lu mau nonton drama apa?" Tanya nya kemudian. Menawarkan Jay untuk menentukan judul yang akan dia tonton selanjutnya.
"Gue sih sukanya drama yang bertema Harem, ber genre pria yang dominan." Jawab Jay cengengesan.
Shiva menatap sedikit lama pada Jay dengan tajam. Kemudian. "Mesum!" Ucap nya ketus. Namun pada layar monitor laptopnya, dia tetap lah mengetik tema serta genre yang disebutkan Jay dalam kolom pencarian.
Jay jadi canggung sendiri. Barusan kakak sepupunya itu mengumpat nya. Tapi kok.?
"Yang mana nih?" Tanya Shiva lagi, setelah melihat layar monitor menampilkan beberapa judul sesuai dengan kata kunci dari kolom pencarian.
"Bebas!" Jawab Jay sambil tersenyum simpul.
"Ini aja ya! Views nya juga lebih banyak." Usul Shiva dengan menunjukkan sampul drama itu beserta keterangan jumlah pemutaran drama itu pada Jay.
Jay mengulum senyum melihat foto sampul dari drama itu. Disana terlihat ada seorang pria tampan berpenampilan menarik. Di belakang pria itu ada beberapa gadis dengan pakaian yang berbeda-beda. "Boleh!" Ucap nya sambil mengangguk ringan. Menyetujui pilihan kakak sepupunya itu.
"Keliatan banget, mesumnya!" Ketus Shiva. Namun dalam hatinya, dia juga penasaran dengan alur cerita bergenre harem itu. Tanpa fikir panjang, dia pun meng-klik icon itu untuk memulai menonton nya. Dan di lanjutkan dengan tampilan layar penuh pada monitor laptopnya.
Karena film sudah dimulai, Jay kembali membakar tembakau gulung kesukaannya itu. Di lanjut kan menyeruput sedikit kopinya.
"Rokok terus! Nggak sayang tuh, sama paru-paru?" Celetuk Shiva melirik Jay dengan sinis. Walaupun berkata begitu, dia tetap tak menjaga jarak nya pada pemuda itu. Malah tak peduli dengan bagian lengan Jay yang sudah menempel dengan lengannya sendiri.
Jay mengacuhkan perkataan Shiva. Matanya fokus pada tampilan video yang tengah di putar pada laptop itu.
Shiva pun juga ikut menyeruput kopinya sendiri. Kemudian dia mengambil sebuah toples untuk dibawa kepangkuan nya.
Di balik jendela kamar yang memang mengarah ke teras belakang, Shitta dan Shiva sudah lama memperhatikan interaksi mereka berdua. Dalam fikiran mereka masing-masing, ingin juga rasanya nobar dengan mereka. Namun, masih merasa enggan untuk berinteraksi dengan Jay seintim itu saat ini.
Sedangkan, Aida yang baru saja selesai dengan pekerjaannya. Melangkahkan kakinya kedapur karena melihat lampu teras belakang masih menyala. Mengetahui Shiva bersama Jay tengah nobar disana, dia pun mengurung kan niat nya untuk mematikan lampu teras.
"Pakaian anak itu terbuka banget.." Gumam Aida menggerutu, melihat anak sulung nya itu berpakaian begitu.
Namun, senyum tipis terukir pada bibir nya yang sensual. Kemudian dia pun berbalik menuju kamar pribadi nya. Untuk mengistirahatkan dirinya setelah kerja seharian.
*****