Stefani Agnesia Smith, Dokter cantik berumur 22 tahun yang terlahir dari keluarga terpandang. Memiliki otak super cerdas dan cantik membuat semua pria tertarik kepadanya. Tapi karena sifatnya yang judes dan dingin membuat semua lelaki tidak berani untuk mendekatinya. Hingga ada seorang pria tampan yang merupakan ceo muda dari perusahaan terkenal mendekatinya.
Bisakah sang Ceo menaklukan hati si Dokter cantik?
Tunggu lanjutan ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata...
Pesta berlangsung dengan sangat meriah. Para tamu undangan kian bertambah banyak walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 01.00.
"Kalo kamu capek, duduk aja" ucap Leo. Kepalanya memiring untuk melihat gadis yang berada di sampingnya.
"Nggak kok, aku nggak capek" alibi Stefani. Padahal sebenarnya kakinya serasa mau patah karena sedari tadi berdiri untuk menyambut para tamu yang berdatangan. Tapi rasanya tidak etis, bukan. Jika pengantinya malah duduk saat para tamu memberi ucapan selamat kepada mereka.
"Nggak capek tapi kok daritadi kakinya digerak-gerakin.." kedek Leo sambil terkekeh.
"Aku tuh nggak cpek, cuma pegel dikit aja..." kilah Stefani.
"Ya...ya...ya terserah My Wife deh mau ngomong apa.." goda Leo yang dibalas cebikan oleh Stefani. Bibirnya bahkan komat-kamit mencibir Leo yang menurutnya super nyebelin.
Pesta semakin meriah seiring dengan tamu yang kian bertambah. Baik warga negara asli, hingga mancanegara. Semua menyempatkan waktu untuk hadir diacara pernikahan putra dan putri dari dua keluarga paling tersohor itu. Artis papan atas bahkan artis kelas dunia juga ikut meramaikan acara resepsi pernikahan Stefani dan Leo.
Stevan duduk bersantai di salah satu meja seorang diri, sedangkan kedua orangtuanya dan orang tua Leo pergi untuk menyambut kolega bisnis mereka. Dan untuk Rayn, pemuda itu pergi entah kemana.
Mata Stevan mengedar untuk menemukan sosok yang ia cari.
"Seharusnya dia ada disini.." batin Stevan.
Tak lama, mata elangnya menangkap sosok pria paruh baya yang nampak gagah dengan setelan jas tuxedo berwarna abu-abu.
"Tuan Maxim" gumam Stevan.
Stevan melihat kesekitar tempat Maxim berdiri. Namun ia tak melihat gadis yang dicarinya ada disana. Yang ia lihat hanya Maxim datang bersama seorang wanita dan seorang gadis yang masih muda. Stevan mengernyitkan alisnya bingung.
"Siapa gadis itu?, bukannya keluarga Cornellia hanya memiliki satu orang Nona muda?, dan dimana Nesya?" gumam Stevan.
Beragam pertanyaan muncul dalam benaknya. Tak mau ambil pusing, Stevan memutuskan untuk menghampiri Keluarga Cornellio.
"Selamat malam, Tuan Maxim" sapa Stevan ramah sambil mengulurkan tangan kanannya pada Maxim.
"Selamat malam, Tuan muda Stevan" sahut Maxim sedikit terkejut. Pasalnya baru kali ini Stevan mau berbaur dekat dengan tamu undangan. Biasanya ia hanya menyapa sebentar lalu pergi.
"Wahh anda ternyata tidak datang sendiri ya Tuan Maxim, siapa gerangan dua wanita cantik ini?" ucap Stevan yang dibubuhi rayuan maut diakhir kalimatnya.
"Oh ya, kenalkan ini istri saya Lexa Brigitta. Dan yang itu, putri bungsu kami Shiren Clarissa Brigitta" ucap Maxim perkenalkan mereka berdua.
"Perkenalkan nama saya Shiren, Tuan Muda" ucap Shiren dengan memasang senyum semanis mungkin. Sepertinya, dia tertarik dengan kakak Stefani ini.
"Putri bungsu?, bukannya anda hanya memiliki satu orang putri ya?" jiwa kepo Stevan sedang bangkit sekarang. ia bahkan dengan tidak tau malunya menanyakan hal itu pada Maxim.
"Emm, dia putri tiri saya. Tapi meskipun begitu, saya sudah menganggapnya seperti putri kandung saya sendiri. Oleh srbab itu saya menyebutnya sebagai putri bungsu" jelas Maxim dengan senyum kakunya. ia menatap lembut kearah Shiren yang dibalas senyuman oleh gadis itu.
"Ohhh anak tiri rupanya.." batin Stevan.
"Lalu, kemana Putri sulung anda?, dari tadi saya tidak melihatnya?" tanya Stevan lagi. Maxim bahkan menghela nafas kasar saat menghadapi putra sulung dari Keluarga Smith ini. Apalagi saat jiwa keponya mode on, ia sudah seperti reporter yang mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
"Putri saya sedang di luar kota, oleh sebab itu ia tidak bisa ikut hadir" alibi Maxim. Padahal sudah jelas-jelas saat dirumah Nesya menolak keras untuk pergi bersama mereka. ia bahkan memaki Lexa dan Shiren secara terus-terusan andai dirinya tak menengahi.
"*Saya nggak sudi pergi bersama perempuan iblis seperti kalian!!" maki Nesya pada Lexa dan Shiren. ia duduk di ranjangnya dengan menatap sinis tiga makhluk dihadapannya saat ini.
"Jaga bicara kamu Nesya, kamu sudah keterlaluan!!" desis Maxim.
"Apanya yang keterlaluan?, memang betulkan yang saya omongin?. Cih...bahkan rasanya saya sangat jijik harus tinggal serumah dengan mereka" sinis Nesya dengan tatapan meremehkan.
Shiren mengepalkan tangannya saat mendengar hinaan yang dilontarkan Nesya untuk dirinya dan mamanya. Lexa yang melihat itu langsung menggenggam erat tangan Shiren. Shiren menoleh kearah mamanya dengan ekspresu kesal. Lexa menatap Shiren sambil menggelengkan kepalanya, sorot matanya mengandung makna tertentu. Shiren mendengus kesal, tak ada jalan lain selain mengikuti rencana mamanya saat ini.
"Kalau begitu, silahkan kamu angkat kaki dari rumah ini!!" ancam Maxim. Sebenarnya Maxim tidak benar-benar mengusir Nesya. ia hanya ingin agar putrinya bisa berubah. Lexa dan Shiren langsung tersenyum lebar mendengar pengusiran Nesya saat ini.
"Tidak masalah, bukankah itu yang memang anda inginkan Tuan Maxim?. Anda bahkan rela mengusir saya hanya untuk membela anak dan istri sialan anda itu. Hah, Anda bahkan tidak pantas untuk disebut sebagai seorang ayah" jawab Nesya. Wajah dan matanya memerah menahan emosi yang bergejolak di hatinya. Apalagi saat melihat ayahnya lebih membela orang lain daripada putri kandungnya, Nesya sangat muak jika harus menyebut pria itu sebagai ayahnya.
"CUKUP NESYA!!" bentak Maxim dengan rahang yang mengketat.
"APANYA YANG HARUS DICUKUPKAN?, cukup untuk menghina mereka?, cih...jangan pernah harap itu terjadi Tuan Maxim. Sebelum mereka membayar atas semua penderitaan yang dirasakan mama saya, jangan harap mereka bisa hidup dengan tenang!!" seru Nesya dengan lantang. Tak ada ketakutan yang tergambar diwajah gadis 25 tahun itu. ia bahkan berani membentak balik Maxim.
"Papa pastikan itu tidak akan terjadi!" tukas Maxim.
"Dan saya pastikan, usaha anda itu akan sia-sia Tuan Maxim. Tidak ada yang bisa menghalangi saya, bahkan anda sekalipun" seru Nesya sambil menyeringai*.
Maxim menghela nafas berat berkali-kali saat mengingat pertengkarannya dengan Nesya di rumah. Raut wajahnya bahkan berubah sendu. Dan semua itu tak lepas dari sorot mata tajam milik Stevan.
"Apa ada sesuatu?" batin Stevan penasaran.