Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.
Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.
mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Samurai Yang Kembali
Ketegangan di kediaman Bang Jagur telah mencapai puncak. Dua puluh sosok bayangan yang mengepung rumah itu bergerak selaras, menutup setiap celah pelarian dengan disiplin yang dingin dan mematikan. Di dalam rumah, atmosfer terasa kian berat. Bang Jagur berdiri di tengah ruang tamu, matanya menatap tajam ke arah pintu depan, sementara jemarinya sedikit gemetar saat mencengkeram engsel jendela.
Ia tahu, ini bukan sekadar kunjungan tamu malam. Miranti berdiri mematung di belakangnya, wajahnya pias. "Mas Jagur... apa mereka—" tanya Miranti dengan suara tercekat. Ia menelan ludah.
Bang Jagur tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah istrinya yang masih terbaring lemah di atas dipan, napasnya mulai berangsur normal berkat obat yang sempat dibeli Miranti. Sang istri membuka matanya perlahan, menatap suaminya dengan tatapan sendu penuh penyesalan. "Maafkan aku ... gara-gara aku, mereka jadi tahu posisi kita. Maaf, Pak." rintihnya lirih.
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu pelan memecah kesunyian malam. Disusul suara serak yang sopan, "Permisi... ada orang di dalam? Tolong keluar sebentar, saya hanya ingin bicara."
Bang Jagur mendengus. Ia melirik Miranti, lalu memberikan perintah tegas, "Cepat, bawa Kirana dan ibu RT sembunyikan diri kalian di ruangan rahasia di bawah kasur kamar belakang. Jangan keluar sebelum aku memberikan kode!"
Tanpa membantah, Miranti segera membawa Kirana. Setelah memastikan mereka aman, Bang Jagur melangkah menuju lemari tua di sudut ruangan. Ia menggeser tumpukan kain sarung, membuka sebuah kotak panjang berukir kayu cendana yang aromanya tajam. Saat tutupnya dibuka, sebuah samurai berwarna hitam pekat terbaring di dalam beludru merah. Aroma minyak misik putih langsung memenuhi ruangan, membawa kembali aroma kenangan masa lalu yang kelam.
"Apa kabar, kawan?" bisik Jagur pelan. Ia mengelus bilah samurai itu dengan jemari yang kini terlihat jauh lebih tangguh. "Sepertinya aku butuh bantuanmu sekali lagi. Masih maukah kau berjalan beriringan denganku?"
Bang Jagur mengangkat samurai itu perlahan, badannya sedikit menunduk seolah memberi hormat pada senjatanya sendiri. Ia meletakkannya di atas bantal, lalu dengan gerakan tenang, ia melepaskan pakaian hariannya. Di balik kain yang lusuh itu, tersingkap tubuh yang dipenuhi bekas luka masa lalu. Ia mengenakan kimono Jepang berwarna merah putih yang terlihat mencolok namun anggun. Ia berlutut, menggenggam gagang samurai hitamnya, memusatkan seluruh sirkulasi napasnya ke satu titik.
Ia berjalan menuju pintu belakang. Ia menarik napas panjang, dan saat udara itu dihembuskan dengan kuat, ia melesat keluar—gerakannya begitu cepat hingga sosoknya tampak seperti kabut yang tertiup angin malam.
Di depan pintu utama, Reno berdiri dengan lengan baju kanan yang terkulai kosong. Wajahnya yang kejam menatap pintu kayu yang mulai retak. Ia mengetuk sekali lagi. Namun, tiba-tiba, pendengarannya menangkap suara rintihan tertahan yang bersahutan dari arah samping rumah.
Reno menoleh tajam, memberi isyarat pada Bram dan Lisa. "Periksa!"
Bram dan Lisa mengangguk cepat, lalu berpencar ke kanan dan kiri, menghilang ke dalam kegelapan.
SREET!
Sebuah kilatan hitam membelah udara.
BUGH!
Tubuh Bram melayang seketika seperti karung rusak, menghantam batang pohon beringin tua hingga dedaunannya berguguran. Belum sempat debu mengendap, suara sabetan kembali terdengar di sisi kiri.
CLANG!
Lisa mencoba menangkis, namun benturan besi yang keras membuat tubuhnya terpental. Ia berteriak parau, tubuhnya menghantam dinding rumah dengan kekuatan yang bisa meremukkan tulang manusia normal. Namun, mereka adalah monster hasil rekayasa. Dengan gerakan yang tidak wajar, mereka bangkit, menepuk-nepuk debu di baju mereka seolah tidak terjadi apa-apa.
Udara mendadak menjadi berat dan menyesakkan. Reno berbalik, dan di sana, berdiri seorang pria tinggi besar dengan kimono merah putih, bertelanjang kaki, dan kepala tertunduk. Aura yang memancar darinya begitu menekan hingga membuat Reno kesulitan bernapas.
"Siapa kalian?" geram pria itu. "Berani-beraninya datang ke rumahku dan mengganggu ketenangan keluargaku."
Reno menyipitkan mata. Ia teringat cerita kakeknya, seorang petarung tua di masa lalu, tentang legenda seorang samurai yang dijuluki 'Pembunuh Tanpa Bayangan'. Tangan kirinya bergerak, mengeluarkan sebilah celurit kecil yang berkilau di bawah cahaya bulan. "Tidak kusangka... dunia ini masih menyimpan legenda hidup. Tapi sayangnya, zamanmu sudah berakhir, orang tua."
"Buktikan!" serang balik Jagur.
Bram melesat lebih dulu, tangan mesinnya mengayun dengan kecepatan hidrolik. Jagur tidak menghindar. Ia hanya memutar tubuhnya satu derajat, membiarkan serangan itu meleset tipis di depan hidungnya, lalu—
SRET!
Bilah samurai hitam itu menari. Bukan luka tusuk yang ia berikan, melainkan goresan di sendi lengan mekanik Bram. KRAK! Mekanisme mesin di dada Bram mengeluarkan percikan bunga api.
Lisa meraung, melompat dari atas untuk memberikan serangan udara. Jagur menatap ke atas, matanya tajam. Ia mengayunkan samurainya dalam lintasan melingkar yang mematikan. Lisa dipaksa mendarat dengan kasar agar tidak tertebas di udara.
Reno akhirnya maju. Ia memanfaatkan celah saat Jagur sedang beradu tenaga dengan Bram. Ia melesat dengan celuritnya, mengincar titik lemah di leher Jagur.
"Mati kau!" teriak Reno.
Namun, Jagur justru tertawa. Di tengah kepungan maut tersebut, sosoknya seolah-olah lenyap ditelan bayangan, meninggalkan Reno yang menebas udara kosong. Jagur muncul tepat di belakang Reno, ujung samurainya sudah menempel di punggung sang lawan.
"Pertarungan baru saja dimulai, " bisik Jagur dingin.
Pertempuran itu kini berubah menjadi tarian maut. Tiga lawan satu, namun di bawah sinar bulan yang tertutup awan, Jagur tampak seperti bayangan yang mustahil untuk disentuh, sementara ketiga anggota Mata Malaikat itu kini menyadari bahwa mereka tidak sedang menghadapi sekadar sopir truk biasa, melainkan predator yang telah lama tidur.
----
Jalal dan Rafael baru saja meninggalkan rumah, berboncengan motor. Tak lama berhenti sebuah mobil mewah di depan rumah. Risma yang sedang duduk berhadapan dengan abahnya—menengok keluar.
"Risma, masuk!" bentak Abah. Tangannya menggenggam erat tongkat.
Risma mengerutkan kening, ia pun masuk kamar setelah abah memberikan isyarat.
Abah Jupri duduk tegak, tongkatnya berdiri ditahan oleh tangannya yang sudah keriput. "Silakan masuk, Mata malaikat ... aku tahu, kau sudah ada di depan pintu."
Satya berjalan perlahan memasuki rumah, kacamata hitamnya terlihat kontras dengan setelan jas berwarna putih. Ia duduk tepat di depan abah.
"Bagaimana kabarmu, Abah?" Sapaan itu pelan, namun seperti memecah gendang telinga.
Muka abah memucat, dari kuping dan hidung abah mengalir darah berwarna merah—menetes membasahi baju pangsi yang ia kenakan. Ia mengangkat kepalanya. "Kulihat kau tampak takut dengan cucuku—Jalal, hehe." Abah terkekeh, lalu tertawa terbahak-bahak."
"Orang tua lancang!" Satya mencengkram leher abah, lalu mengangkatnya.
Mata Abah mendelik ke atas. Dari tenggorokannya timbul suara mengorok. Kaki abah berayun, menendang ke udara lalu diam—terkulai.
mungkin lebih mantap lagi nanti ada karakter baru titisan wiro sableng, buat bantu jalal 🤔