Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.
Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.
Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.
Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Tap. Tap. Tap.
Lin Ye berjalan santai menyusuri jalan utama Desa Qingshui. Matahari siang memancarkan sinar hangat yang menembus celah-celah daun pohon beringin tua di pinggir jalan. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah kering dan harum bunga liar dari perbukitan. Setelah menghabiskan pagi harinya menanam benih-benih mahal dan merekrut Xiao Lu, Lin Ye merasa sangat rileks.
"Pekerjaan berat di ladang sudah bisa didelegasikan. Uang di sakuku juga masih sangat banyak. Sekarang waktunya menikmati kehidupan desa yang sebenarnya dan mencari perabotan yang layak," batin Lin Ye sambil tersenyum melihat anak-anak kecil yang berlarian mengejar capung di lapangan rumput.
Tujuannya siang ini adalah pusat desa. Dia berencana membeli sebuah kasur pegas yang empuk untuk menggantikan ranjang kayunya yang keras, serta beberapa kursi yang lebih layak untuk ruang tamunya.
Tok. Tok. Tok.
Saat Lin Ye mendekati area balai desa, dia mendengar suara palu dan gergaji yang sangat riuh. Beberapa pemuda desa, dipimpin oleh Kepala Desa Wang, sedang sibuk mendirikan sebuah panggung kayu besar di tengah lapangan utama. Tenda-tenda kecil beratap terpal warna-warni juga mulai dipasang di pinggir lapangan.
"Selamat siang, Kepala Desa Wang. Sedang ada acara gotong royong besar-besaran rupanya?" sapa Lin Ye, menghampiri pria tua berkacamata itu.
Kepala Desa Wang menoleh dan meletakkan gulungan tali di tangannya. Wajahnya dipenuhi keringat, namun dia tersenyum sangat lebar melihat kedatangan Lin Ye.
"Ah, Lin Ye. Selamat siang. Benar sekali. Kami sedang menyiapkan panggung utama dan stan-stan untuk Festival Bunga Musim Semi yang akan diadakan akhir minggu depan," jawab Kepala Desa Wang dengan nada penuh semangat.
"Festival Bunga Musim Semi? Saya baru mendengar tentang acara ini. Apakah ini semacam perayaan tahunan desa?" tanya Lin Ye penasaran.
"Tentu saja. Ini adalah tradisi paling besar di Desa Qingshui. Kita merayakan pergantian musim dengan makan bersama, tarian daerah, dan yang paling penting adalah pameran hasil panen. Para petani akan membawa hasil bumi terbaik mereka untuk dinilai. Kakekmu, Lin Tian, selalu memenangkan juara pertama di pameran sayur setiap tahunnya. Kualitas panennya tidak pernah ada yang bisa mengalahkan," jelas Kepala Desa Wang, matanya menerawang mengingat masa lalu.
"Begitu rupanya. Kedengarannya sangat meriah dan menyenangkan," balas Lin Ye.
"Karena sekarang kamu sudah mewarisi ladang kakekmu dan bahkan berhasil menjual panen ke hotel besar di kota, kamu wajib ikut serta tahun ini, Lin Ye. Tunjukkan pada semua orang bahwa keahlian kakekmu menurun padamu," Kepala Desa Wang menepuk pundak Lin Ye dengan bangga.
"Saya pasti akan berpartisipasi, Kepala Desa. Saya kebetulan sedang menanam beberapa bibit istimewa. Jika panennya berhasil tepat waktu, saya akan membawanya ke meja pameran," jawab Lin Ye mantap. Di dalam kepalanya, dia sudah membayangkan Jagung Emas dan Stroberi Pemulihnya membuat seluruh juri tercengang.
"Kami semua akan sangat menantikannya. Nah, kamu mau pergi ke mana siang ini?" tanya Kepala Desa.
"Saya mau ke toko perabotan Paman Chen di ujung jalan sana. Saya butuh kasur baru agar punggung saya tidak sakit lagi," jawab Lin Ye.
"Bagus. Beristirahat yang cukup adalah kunci kesehatan petani. Silakan lanjutkan urusanmu, aku harus kembali mengawasi anak-anak ini agar panggungnya tidak miring," kata Kepala Desa Wang sambil tertawa dan kembali ke pekerjaannya.
Lin Ye melanjutkan perjalanannya. Dia mengunjungi toko perabotan lokal, membeli sebuah kasur pegas berkualitas baik, dua buah kursi rotan yang nyaman, dan sebuah lemari pakaian kecil. Dia meminta pemilik toko untuk mengantarkan barang-barang tersebut ke rumahnya sore nanti.
Setelah urusan belanja selesai, Lin Ye tidak langsung pulang. Langkah kakinya membawa dia menuju bangunan bercat putih yang sangat rapi di dekat sekolah dasar. Klinik Kesehatan Desa Qingshui.
"Aku harus mampir sebentar. Membantu Perawat Bai menumbuk herbal kemarin pastinya membuat tangannya pegal hari ini," batin Lin Ye.
Kring.
Lonceng pintu berbunyi saat Lin Ye mendorong pintu kaca klinik. Aroma antiseptik dan wangi daun mint liar langsung menyambutnya.
Di sudut ruangan, Bai Ruoxue sedang duduk menghadap sebuah meja kayu. Gadis itu mengenakan jas perawatnya yang bersih, namun raut wajahnya terlihat sedikit frustrasi. Tangan kanannya memegang sebuah alu batu yang cukup berat, mencoba menumbuk sesuatu di dalam lumpang batu. Keringat halus terlihat di dahinya.
"Selamat siang, Perawat Bai. Sedang berperang melawan herbal membandel lagi?" sapa Lin Ye dengan nada menggoda.
Bai Ruoxue menghentikan pukulannya dan mendongak. Matanya yang bulat sedikit membesar karena terkejut melihat Lin Ye datang.
"Tuan Lin? Selamat siang. Ah, Anda benar. Akar ginseng merah yang kita dapatkan di bukit kemarin ini ternyata sangat keras setelah dikeringkan semalaman. Saya sudah menumbuknya selama lima belas menit tapi belum juga hancur menjadi bubuk," keluh Bai Ruoxue sambil menghela napas panjang dan meletakkan alu batunya.
"Sudah kuduga. Biar saya bantu menyelesaikannya. Tenaga saya kebetulan sedang berlebih hari ini," tawar Lin Ye. Dia melangkah mendekati meja, menarik sebuah kursi kecil, dan duduk berhadapan dengan Bai Ruoxue.
"Apakah tidak apa-apa? Lengan kiri Anda baru saja sembuh kemarin. Saya tidak ingin Anda memaksakan diri dan terluka lagi," Bai Ruoxue menatap Lin Ye dengan raut wajah khawatir yang sangat tulus.
"Lengan saya sudah pulih seratus persen, Perawat Bai. Jangan khawatir. Kemarikan alu itu," Lin Ye tersenyum meyakinkan dan mengambil alu batu dari tangan Bai Ruoxue. Jari mereka tidak sengaja bersentuhan sesaat. Tangan Lin Ye terasa hangat dan kuat, membuat Bai Ruoxue buru-buru menarik tangannya dengan sedikit rona merah di pipinya.
Dug. Dug. Dug.
Lin Ye mulai mengayunkan alu batu itu. Berkat kekuatan fisiknya yang telah ditingkatkan secara drastis oleh makanan berenergi sistem, akar ginseng merah yang sekeras batu itu langsung hancur berkeping-keping pada pukulan ketiga.
Bai Ruoxue menatap takjub melihat otot lengan Lin Ye yang bergerak dengan sangat efisien dari balik kemejanya yang digulung.
"Tenaga Anda benar-benar tidak masuk akal untuk ukuran orang kota, Tuan Lin. Anda menghancurkannya semudah menghancurkan biskuit kering," puji Bai Ruoxue, tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.
"Saya punya rahasia rutinitas olahraga yang ketat. Nah, sudah hancur menjadi bubuk halus. Apa langkah selanjutnya?" tanya Lin Ye sambil menyodorkan lumpang batu itu.
"Terima kasih banyak. Sekarang tinggal mencampurnya dengan ekstrak daun mint liar ini dan sedikit madu, lalu dibentuk menjadi pil kecil," Bai Ruoxue mengambil lumpang itu dan mulai mencampur bahan-bahannya dengan spatula kayu.
Mereka berdua bekerja sama dalam diam selama beberapa menit. Suasana di dalam klinik terasa sangat damai dan intim. Wangi herbal yang menenangkan membuat percakapan terasa mengalir begitu saja.
"Tuan Lin, saya melihat ada truk pendingin besar dari kota masuk ke desa pagi tadi. Orang-orang bilang itu datang dari ladang Anda. Apakah Anda benar-benar membuat kesepakatan bisnis dengan hotel mewah?" tanya Bai Ruoxue, memecah keheningan.
"Berita di desa ini memang menyebar lebih cepat daripada sinyal internet," Lin Ye tertawa pelan. "Ya, itu benar. Saya mengikat kontrak pasokan sayuran eksklusif dengan mereka. Jadi ke depannya, ladang saya akan sangat sibuk."
"Itu pencapaian yang sangat luar biasa. Kakek Anda pasti tersenyum bangga dari atas sana melihat Anda membangkitkan kembali kejayaan ladangnya," kata Bai Ruoxue dengan senyum tulus. "Ngomong-ngomong soal ladang, apakah Anda sudah mendengar tentang Festival Bunga Musim Semi minggu depan?"