Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Langkah Syahira masih belum stabil, meski sudah menepi ke trotoar napasnya sedikit masih sedikit ngos ngosan padahal tidak lelah sama sekali, hanya pikirannya yang masih belum merasa tenang.
"Wa,..banaina,.."
Amma yatasaa alun,..Anin nabail adziim,..hum fihi mukhtalifuun,.." ia mengulang lagi terus dari awal dan kembali ia mentok di kata,.."Wa banaina,..ya Alloh apalagi,..kenapa mentoknya di kata itu mulu kayak ngejar gue terus sih"
Gemericik hujan mulai turun perlahan, satu persatu jatuh ke pipinya, Syahira membeku saat ia melihat dari kejauhan kondisi.rumahnya sudah menyala terang, tanda sang ayah sudah pulang.
"Mati gue,..si Abi sudah balik lagi, gimana ini,.." tangannya menyentuh pipinya yang terkena air hujan setitik, dan tangan satunya mulai menadahkan air, sedangkan tangan satunya masih mendekatkan tas dan buku.
"Hujannya makin deras,..sekalian ajalah hujan gede" ia melangkahkan kakinya cepat sampai ia berada di depan rumah ia menarik nafasnya lebih dulu, lalu melanjutkan hafalannya sambil melakukan langkahnya lebih cepat
"Wa banaina,..duh gimana ini si Abi bakal ngomel enggak ya" ucap syahira sambil melangkah dan kini ia sudah berada didekat pintu masuk dengan debaran jantung yang sedang berdisko panik namun tetap berusaha tenang.
Deg!.. langkahnya melambat saat ia membuka pintu rumahnya. "Assalamualaikum"
"Samiallohuliman hamidah" Syahira menarik nafas lega saat kedua netranya menyapu ruangan tak menemukan keberadaan sang ayah yang ternyata sedang melaksanakan sholat ashar. Ia mengintip sedikit pada gorden mushola kediamannya yang letaknya tidak jauh dari ruang tengah.
Ia melempar tas dan membanting tubuhnya ke ke kasur empuk miliknya. namun tak lama suara ketukan pintu berbunyi dan pintupun terbuka perlahan hingga deritannya berdecit sedikit.
Deg!, suasana berubah seketika menjadi tegang dan mencekam.untuk Syahira saat ini.
"Bi"
"Sudah pulang,..?" tanyanya.
"Iya Bi,"
"Ok,..yasudah setor hafalan ke Abi, Abi tunggu diruang tengah"
"Sekarang Bi?
"Hmm" ucap singkat Abi Fahrizal yang langsung menutup pintu kamarnya dan langsung berjalan menuju ruang tengah seraya mengambil kitab suci Al-Qur'an.
"Sudah makan Ra?"
"Belum Bi"
"Duduk dulu, sebelum makan,..setor hafalan dulu"
Tanpa banyak basa basi lagi Abi Fahrizal langsung mengetes hafalan saat itu juga. Syahira langsung duduk tegang dan mengatur nafasnya lebih dulu,
"Baik Bi, Syara coba"
"Mulai"
"Audzubillahiminassyaithonirrojim, Bismillahirrahmanirrahim Amma yatasaa alun,." ia mulai membaca dengan lancar tanpa hambatan dan terus melanjutkan sampai ke kata "wabaina,.." seperti biasa mentok, buyar, kosong,..belum sampai separuh ayat.
"Lanjut"
"Wa,..banaina,..wa banaina,.."
"Jangan ragu,.."
Syahira menutup matanya, namun suasana semakin tegang, padahal Abinya bersikap datar seperti biasa tidak menekan sama sekali,..bahkan tidak marah sama sekali hal itu membuat Syahira semakin merinding dibuatnya.
"Tentang langit" abinya memberi clue. Syahira terkejut,..padahal Abinya sudah menaruh kitab Al-Qur'an yang ia sempat baca. seolah ayat itu sudah ada diluar kepalanya.
Syahira pun kembali berusaha melanjutkan, dan kali ini aman tanpa hambatan samapi ke akhir. Dan ia pun menarik nafas lega meskipun membacanya masih sedikit terbata.
Fahrizal mengangguk kecil "masih banyak yang harus kamu perbaiki, Abi tidak menyuruh mu untuk sempurna Ra, tapi semua demi kebaikan mu"
"Iya Bi"
"Sering sering latihan, biar cepet lancar, dan pertahankan itu jangan berhenti ditengah"
"Baik Bi"
"Sana makan dulu, setelah makan hafalan lagi"
"Iya Bi" begitulah Syahira hanya menjawab singkat dengan disertai anggukan patuhnya. Tidak ada obrolan ringan sama sekali, hanya suara hujan diluar yang saking deras. Syahira diam diam melirik ke samping saat ia sudah berada di meja makan.
Seperti biasa melihat sang kakak yang kelewat tomboy, santai dan tanpa ekspresi hanya diam tanpa kata dan suara.
"Besok kamu ada kelas lagi dengan dosen yang sama Sya?" pertanyaan tiba tiba dari Fahrizal tiba tiba. Syahira langsung tersedak.
"I,..iya Bi"
"Hmm" hanya deheman jawaban.singkat sang ayah namun cukup membuat merinding syahira hingga ia membeku.
Feryal tidak banyak bicara, ia sudah menghabiskan makannya lalu minum segelas air putih sampai hampir setengahnya, dan gegas ia kembali ke kamarnya. Ayahnya hanya menatapnya sesaat tanpa banyak bertanya.
Malam lebih cepat dari yang diperkirakan, dan hujan masih belum berhenti juga. Syahira duduk dilantai kamarnya dan membuka Al Qur'an lalu membacanya surah hafalan yang ditugaskan.
"Wa,.. wabanaina,.." kali ini dia tidak berhenti, meski suaranya begitu pelan, dan ada rasa ragu tapi ia terus melanjutkan sampai beberapa ayat setelahnya.
Dia menarik napasnya lega kali ini senyum terbit dibibirnya muncul untuk pertama kalinya. "Alhamdulillah bisa ternyata.."
Tok...pintu diketuk dua kali.
"Masuk aja, enggak dikunci" Feryal masuk dan membanting tubuhnya dikamar sang adik. Ada rasa lelah hari ini. Ia baru saja balapan motor tanding di sirkuit bersama teman teman kampusnya saat reuni. Kampus yang berbeda tentunya.
"Dari mana kak?"
"Balapan" Syahira hanya mengangguk tanpa ingin komentar, karena ia tau kakaknya pasti tau mana yang terbaik untuk hidupnya. Dan Feryal melihat Al Qur'an yang dipegang oleh adiknya itu.
"Udah?"
"Iya kak lumayan" Feryal mengangguk, dan kembali diam berusaha memejamkan matanya. namun kembali ia menoleh saat Syahira memulai pembicaraan padanya.
"Kak"
"Hmm"
"Dosen yang ngajarin aku,.." ucapnya menjeda, feryal menoleh dan mengernyitkan dahinya heran.
"Bang Bilal"
"Oh" ucapnya singkat. Membuat Syahira tertohok bengong dan mengerjapkan bola matanya yang membulat dengan sempurna.
"Cuma oh doang gitu"
"Besok kelas lagi?"
"Bang Bilal lagi yang ngajar"
"Hmm,.."
"Jangan telat"
"Astaga,..ini laki bini kenapa sih"
"Kak,.."
"Hmm"
"Suami sendiri loh"
"Egp" jawab singkat dan langsung bangkit berdiri dan pergi begitu saja seraya menutup pintunya.
"Bohong" gumamnya pelan.
***
Disisi lain rumah itu, "ternyata dia sekarang ngajar" ucapnya lirih, kedua netranya menatap langit kamarnya.
Rahangnya mengeras, ia tidak suka perasaan ini. "Harusnya biasa aja,.." seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, tapi entah apa itu.
Paginya kelas kembali dimulai, suasana kampus yang kadang suka berisik, kembali kondusif ketika dari kejauhan pria karismatik itu sudah muncul di ujung lorong. Semua langsung berpencar menuju kelasnya, duduk tegang. Sesekali saling lirik, masih setengah berbisik.
Kali ini, Syahira duduk dan tidak menyembunyikan wajahnya lagi dibalik tas. Akan tetapi tetap saja deg degannya tidak hilang sama sekali. Tetap gelisah seperti biasanya.
Sampai sampai teman sebangkunya Calysta melirik.
"Gimana hafalannya"
"Mendingan sedikit lumayan Cal" Calysta mengangguk pelan.
Pintu terbuka, dengan langkah tenang, dan wajah segar seperti habis terkena air wudhu, tatapannya menyapu ruangan seketika semua pada merinding dan sibuk menghafal surah hafalan yang kemarin diberikan.
Menatap satu persatu para mahasiswa dan sepersekian detik berhenti tepat ke arah adik iparnya Syahira. Dan kali ini Syahira tidak langsung menunduk.
Deg. Dan untuk pertama kalinya tatapan itu bertahan meski sebentar. tanpa berbasa basi lagi. "Lanjutkan hafalan kemarin yang saya tugaskan" suara Bilal memecah keheningan. Dan kelas seketika kembali lalu. Satu persatu semua dipanggil acak tidak sesuai absen, ada lagi yang menunjuk dirinya karena sudah hafal. Dan beberapa frustasi karena tidak juga hafal.
Dan tak.lama "Syahira Zahra"
"I,..iya pak"
"Maju"
"Baik pak" dengan langkah ragu dan tangan yang bergetar juga keringat yang mulai muncul dipelipisnya. Sesekali ia menyekanya saling paniknya.
"Bismillah"
"Iya Pak,.. Audzubillahiminassyaithonirrojim Bismillahirrahmanirrahim Ammayatasaa aluun,..dan sampai wabanaina terus ia lanjutkan tanpa berhenti tanpa menjeda, dan Bilal hanya memperhatikan tanpa menyela dan fokus mendengarkan sampai selesai.
"Lebih baik, pertahankan" kata datar yang singkat jelas, namun berhasil membuat jantung Syahira terpompa dan langsung meleleh hari itu juga.
Sementara disudut lain seseorang memperhatikan dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat yang terbit begitu saja namun tidak mencolok, seraya menarik nafas lega. "Akhirnya dia bisa juga" gumamnya pelan.