Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Pulang
Axel sudah mempertimbangkan cukup lama untuk pulang ke Indonesia dan memang tidak akan kembali lagi ke Jerman. Namun dia juga akan tetap datang ke Jerman untuk menjenguk anaknya dan juga restorannya.
"Axel, kamu mau pulang ke negaramu? Bagaimana dengan restoran ini?" tanya Samuel, sahabat dekat Axel.
"Kamu yang mengelolanya Samuel, kupikir di sini tidak ada lagi yang di pertahankan," jawab Axel.
"Billie bagaimana? Apakah kamu akan melupakannya?" tanya Samuel lagi.
"Tidak, hanya saja jika aku di sini terus. Bagaimana dengan hidupku? Aku tidak bisa hidup berdampingan dengan masa lalu," jawab Axel lagi dengan menarik napas berat.
"Kamu akan terus berhubungan dengan masa lalu karena anakmu. Anak kalian, kecuali Billie ikut denganmu. Tapi, dia juga akan mencari ibunya."
Axel diam, apa yang di katakan Samuel itu benar. Tapi dia tidak mau terus memikirkan Emely, bagaimana pun restoran itu rencana pembuatannya juga dengan Emely. Dan uang hasil dari restoran juga memang di peruntukan Billie.
"Aku percaya padamu Samuel, kamu bisa mengelola restoran ini dengan baik. Aku hanya minta sedikit bagianku saja, sisanya untuk Billie," kata Axel.
"Yah, jika itu memang keinginanmu. Aku tidak bisa memaksamu untuk tetap tinggal di sini, aku hanya memberi masukan saja." kata Samuel.
"Aku tahu, makanya aku mempercayakan restoran ini padamu. Dan aku yakin dengan dedikasimu."
Samuel tersenyum kecil, dia bangkit dari sofa dan berjalan menuju jendela. Restoran lumayan mewah di Jerman itu memang milik Axel, dia hanya bekerja pada sahabatnya itu. Hanya sebagian kecil saja dia menanam saham di restoran tersebut.
Restoran itu cukup ramai, orang-orang yang datang berkunjung juga tahu pemilik restoran itu adalah orang Indonesia. Makanya makanan yang di sajikan di restoran itu campuran dari Indonesia dan Jerman.
Samuel sebagai kepala chef dan penanggung jawab para karyawan, dia juga asisten Axel jadi Axel mempercayakan semua kebutuhan restoran pada Samuel.
"Kamu itu baik Axel, tapi kenapa Emely memilih laki-laki yang menurutku kurang baik," kata Samuel.
"Emely bilang, Danish itu laki-laki baik. Dia juga menerima Billie dengan baik juga," ucap Axel.
Samuel menoleh ke belakang menatap Axel, dia berjalan kembali mendekati sahabatnya tersebut.
"Begitukah?"
"Ya, itu yang dia katakan ketika dia meminta berpisah," jawab Axel.
"Aku juga tidak mengenal pacarnya itu, tapi apakah benar dia rekan kerja Emely?"
"Mungkin atasannya, entah."
"Ah, karyawan dan bos. Selalu saja ada skandal seperti itu, dan sayangnya dia punya suami yang sangat baik namun dia meninggalkannya," kata Samuel.
"Mungkin memang jodohku dengannya hanya sampai di sini saja," kata Axel.
"Ya ya, kamu sudah mendapatkan surat perceraian. Carilah gadis baik di negeramu itu, jangan lagi mendapatkan perempuan seperti Emely," kata Samuel.
"Hahah, semoga. Aku tidak berharap mendapatkan lagi seorang perempuan, aku ingin fokus dengan rintisan usahaku di sana. Setelah nanti sudah selesai, aku akan mengundangmu datang," kata Axel.
Mereka pun kini berganti topik pembicaraan mengenai perkembangan restoran dengan tampak serius.
_
Axel memeluk Samuel dengan menepuk punggung laki-laki berambut hitam cokelat dengan penuh haru, dia sangat beruntung memiliki sahabat seperti samuel. Laki-laki yang selalu menemaninya dan juga selalu menasehatinya akan segala kebaikan.
"Nanti aku akan datang ke negaramu, kamu bilang di negaramu itu sangat indah. Aku penasaran dengan ceritamu itu," kata Samuel.
"Hahah, baiklah. Aku tunggu kamu datang, aku akan kenalkan keluargaku di saja. Mereka sangat baik," kata Axel.
Samuel tersenyum menepuk pundak Axel, pengumuman pemberangkatan pun terdengar. Axel segera meninggalkan Samuel sambil melambaikan tangan, dia pergi menuju terminal keberangkatan.
Sekali lagi dia menoleh ke belakang, Samuel masih berdiri di tempatnya sambil tersenyum. Axel pun tersenyum juga, entah kapan lagi bertemu Samuel.
Beberapa menit setelah pemeriksaan pasport, Axel pun masuk ke dalam kabin pesawat di mana kelas yang dia pesan. Setelah menemukan tempat duduknya, Axel segera meletakkan tas kecilnya kemudian duduk.
Pandangannya ke arah jendela, di sebelah bangku duduknya sepasang suami istri dengan kewarga negaraan berbeda. Dia menebak sang istri dari Indonesia dan laki-laki dari Eropa.
"Sangat romantis, ternyata aku tidak pernah melakukan hal romantis pada Emely. Dia jadi pergi dariku," gumam Axel masih menatap sepasang suami istri di seberang bangkunya.
Lalu pandangannya beralih pada jendela kembali, suasana pesawat masih di bandara. Kemudian pesawat mulai bergerak, Axel mengenakan sabuk pengaman setelah pramugari memberikan petunjuk sebelum keberangkatan pesawat.
Setelah take off dan sudah berada di atas langit, Axel pun memejamkan matanya untuk tidur. Dia ingin tidur cepat setelah pesawat terbang karena selama beberapa hari dia kurang tidur.
Berharap di pesawat bisa melupakan semuanya, melupakan rasa kecewa dan sakit hati pada Emely. Beberapa detik memejamkan mata, bayangan di kepala Axel tiba-tiba pada sosok gadis yang dia kenal melintas. Namun Axel langsung membuka matanya dengan lebar, mengingat kenapa dia teringat akan sosok gadis ceria.
"Astaga, kenapa aku membayangkan gadis itu."
_
_
*****