Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TWENTY NINE
Aksa menjeda kalimatnya, matanya menatap tajam ke arah faksi Emily dan Hendrik yang kini mulai tampak gelisah. "Ketiga, mengenai cabang-cabang yang dinilai kurang produktif. Rencana kerja saya dengan tegas menolak opsi penutupan cabang. Bagi saya, penutupan cabang adalah bentuk pelarian dari ketidakmampuan manajemen operasional!"
Kalimat telak itu langsung menghantam Emily hingga wanita itu mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Untuk cabang yang tidak produktif, yang harus dilakukan adalah analisa masalah secara mendalam, bukan langsung menutupnya," lanjut Aksa, nadanya sarat akan otoritas seorang penguasa sejati. "Sejak awal, manajemen operasional telah salah langkah dengan memberikan aliran modal terus-menerus secara buta tanpa pernah mengetahui penyebab utama kemacetan di lapangan. Herlos Grup memiliki banyak jenis bisnis, mulai dari properti hingga logistik. Jika di satu cabang tertentu bisnis furniture tidak bisa berkembang, maka ganti dan alihkan cabang tersebut dengan lini bisnis kita yang lain! Penutupan cabang secara sepihak hanya akan membuat perusahaan harus membayar ganti rugi pemutusan kontrak dan uang pesangon yang sangat besar untuk ribuan karyawan. Itu adalah pemborosan anggaran yang bodoh!"
Suasana di dalam ruangan semakin senyap, terpesona oleh ketajaman logika bisnis Aksa.
"Terakhir," Aksa menatap seluruh dewan komisaris satu per satu dengan pandangan mata yang mengintimidasi. "Mulai hari ini, semua tindakan dan transaksi yang dilakukan oleh seluruh anak perusahaan Herlos Grup akan di-audit secara ketat dan diawasi langsung setiap pelaksanaan tender ataupun produksinya oleh saya sendiri. Saya akan membentuk badan audit internal dan eksternal baru yang berkompeten, independen, dan bebas dari intervensi tangan-tangan tikus berdasi."
Begitu Aksa menutup presentasinya, keheningan sesaat melanda ruangan sebelum akhirnya runtuh oleh gemuruh yang luar biasa.
Semua komisaris senior, investor asing, dan para pemegang saham mayoritas serempak bangkit berdiri dari kursi mereka. Suara riuh bertepuk tangan menggema memenuhi ruang rapat pleno utama. Mereka semua tampak sangat puas, kagum, dan senang dengan gagasan serta ide-ide visioner yang direncanakan oleh Aksa. Sejak awal, mereka memang tidak pernah meragukan kemampuan analisis dan kejeniusan Aksa saat memegang kendali perusahaan.
Cakra Scott, sang komisaris veteran, melangkah maju sambil terus bertepuk tangan bangga. "Luar biasa! Benar-benar pemikiran yang brilian, Pak Dayaksa! Saya sama sekali tidak terkejut jika Anda rupanya masih sangat pantas mendapatkan julukan sebagai Sang Jenius Bisnis di negara ini. Rencana Anda jauh lebih matang dan menguntungkan bagi semua pihak."
Wajah Aksa tetap datar tanpa ekspresi sedikit pun di hadapan rentetan pujian tersebut. Ia hanya menunjukkan sedikit sikap hormat yang formal dengan menundukkan kepalanya tipis.
Namun, di balik ketenangan yang mengagumkan itu, tidak ada satu orang pun di dalam ruangan yang menyadari sebuah pemandangan yang mengerikan. Di balik lipatan lengan jas sebelah kiri Aksa yang tergantung kaku, butiran-butiran cairan merah pekat, darah segar menetes terus-menerus tanpa henti, jatuh membasahi lantai karpet gelap di bawah podium.
Untuk menjaga kestabilan mentalnya dari distorsi halusinasi sepanjang rapat berlangsung, Aksa sengaja mencengkeram dan menancapkan pecahan kaca tajam yang ia sembunyikan di telapak tangannya ke dalam kulit lengannya sendiri. Rasa sakit fisik yang luar biasa luar biasa itu ia gunakan sebagai jangkar untuk memaksa otaknya tetap waras dan fokus berpkir. Ia menahan penderitaan itu sendirian selama berjam-jam demi mempertahankan singgasananya.
"Baiklah, karena kedua belah pihak telah memaparkan rancangan kerja mereka, kini tiba waktunya untuk pengambilan voting penentuan posisi Direktur Utama Herlos Grup," suara Sekretaris Anastasya memecah keriuhan, melangkah maju ke depan mimbar untuk memimpin langsung jalannya pemilihan jabatan tertinggi di perusahaan tersebut.
Anastasya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. "Silakan bapak, ibu dewan komisaris, dan pemegang saham yang terhormat untuk mengangkat tangan Anda... bagi yang memilih rancangan kerja dari Ibu Emily Herlos."
Suasana mendadak menjadi kaku. Hendrik dan Fabio langsung mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi, diikuti oleh beberapa gelintir manajer operasional yang menjadi sekutu mereka. Namun, jumlah mereka sangat sedikit, tidak lebih dari hitungan jari sebelah tangan. Sebagian besar kursi di ruangan itu tetap bergeming. Wajah Emily yang tadinya penuh senyum keangkuhan perlahan-lahan mulai memucat melihat minimnya dukungan yang ia dapatkan.
Anastasya mencatat angka tersebut, lalu kembali bersuara dengan lantang. "Selanjutnya... silakan bapak, ibu dewan komisaris, dan pemegang saham yang terhormat untuk mengangkat tangan Anda... bagi yang memilih Tuan Muda Dayaksa Herlos."
SREKK! SREKK! SREKK!
Bagaikan gerakan yang telah dikomando, lebih dari tiga perempat orang yang berada di dalam ruangan tersebut, termasuk Cakra Scott dan para investor asing, serempak mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi ke udara. Dukungan mutlak yang tidak tergoyahkan.
"Voting selesai dihitung," ujar Anastasya dengan senyum profesional yang tegas. "Hampir 75 persen dari total hak suara pemegang saham memilih Tuan Muda Dayaksa Herlos sebagai pemimpin utama Herlos Grup, dan beliau tetap secara sah menyandang status sebagai pewaris tunggal keluarga Herlos!"
BRAKK!
Emily Herlos memukul sandaran kursi kulitnya dengan kasar. Raut wajahnya berubah merah padam, matanya melotot penuh kebencian dan rasa tidak terima yang teramat sangat atas kekalahannya yang memalukan di depan publik ini. Ia menatap Aksa dengan pandangan ingin membunuh, namun pria itu bahkan tidak sudi meliriknya sedikit pun.
Zacky, yang sejak tadi berdiri di belakang Aksa dengan tingkat kewaspadaan tertinggi, menyadari bahwa tubuh Tuan Mudanya sudah berada di titik nadir. Wajah Aksa sudah berubah menjadi teramat pucat menyerupai kertas, dan sekujur tubuhnya terus mengeluarkan keringat dingin yang membasahi kemejanya. Sebelum Aksa benar-benar ambruk di depan kamera dewan direksi, Zacky langsung bergerak sigap menyentuh lengan kanan Aksa.
"Rapat telah selesai. Saya akan membawa Tuan Muda untuk beristirahat di ruang kerja pribadi," ucap Zacky memotong segala bentuk interaksi lanjutan, lalu dengan cepat memapah tubuh kaku Aksa keluar dari ruang rapat pleno menuju ruang kerja pribadinya yang terletak di ujung lorong.
CEKLEK.
Begitu pintu ruang kerja pribadi Aksa terbuka lebar, langkah kaki Zacky seketika terhenti. Di dalam ruangan yang luas itu, sesosok wanita dengan gaun pastel anggun dan wajah yang dipenuhi kecemasan luar biasa sudah berdiri menanti mereka. Fradella.
Sejak firasat buruknya tak kunjung surut di rumah, Della memutuskan untuk nekat menyusul ke kantor pusat menggunakan mobil pengawalan yang disiapkan kakek Jerry. Ia sudah menunggu di ruangan ini selama hampir satu jam dengan perasaan yang terus didera ketakutan.
Begitu melihat sosok Aksa yang berjalan pincang dengan wajah seputih mayat, jantung Della seakan berhenti berdetak. Ia langsung berlari menyongsong suaminya. "Aksa! Apa yang terjadi?! Zacky... kenapa dengan Aksa?!" pekik Della, suaranya bergetar hebat menahan tangis yang hampir pecah.
Aksa yang mendengar suara lembut Della perlahan mengangkat kelopak matanya yang terasa sangat berat. Fokus matanya yang sempat buram kembali terarah pada wanita yang menjadi pelindung jiwanya. "Della... kamu... kenapa kamu ada di sini?" gumam Aksa dengan suara yang teramat lemah.
Tanpa menunggu jawaban, Aksa langsung menjatuhkan seluruh beban tubuh kekarnya maju ke depan, melingkarkan kedua lengannya secara lemas ke sekeliling tubuh ramping Della. Ia memeluk istrinya dengan sangat erat, menyembunyikan wajah pucatnya di pundak Della. Tubuhnya begitu lemas, seolah-olah seluruh sisa kekuatan energinya telah habis diperas untuk memenangkan rapat tadi.
"Astaga, Aksa... tubuhmu sangat dingin," tangis Della akhirnya pecah saat merasakan dekapan suaminya yang tidak bertenaga. Namun, saat telapak tangan Della bergerak mengusap punggung dan lengan Aksa, ia merasakan sesuatu yang basah, kental, dan hangat merembes di kain jas hitam suaminya.
Della menarik tubuhnya sedikit mundur, lalu menatap telapak tangannya yang kini telah berlumuran darah segar berwarna merah pekat. Matanya membelalak kaku. "Astaga... kenapa ini berdarah?! Zacky, ini kenapa?! Panggil Dokter Leon sekarang! Cepat!" teriak Della panik, suaranya melengking memenuhi ruangan kerja yang kedap suara itu.
"Dokter Leon sudah berada di ruang medis lantai bawah, Nyonya Muda! Saya akan memanggilnya naik sekarang juga!" jawab Zacky yang juga panik, langsung berlari keluar ruangan untuk menjemput bantuan.
Della dengan gerakan gemetar namun penuh determinasi, menuntun tubuh lemas Aksa untuk duduk di atas sofa panjang yang ada di sudut ruangan. Dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, Della membuka kancing jas hitam mahal Aksa dengan terburu-buru, lalu melepaskan jas tersebut dari tubuh suaminya.
Begitu jas terlepas, pemandangan di bawahnya membuat dada Della terasa seperti dihantam godam besar. Seluruh lengan kiri kemeja putih milik Aksa telah berubah warna menjadi merah pekat, basah kuyup oleh darah yang terus mengalir dari bagian dalam lengan.
"Aksa... apa yang kamu lakukan pada dirimu sendiri?" bisik Della dengan suara tercekat. Karena kain kemeja itu sudah menempel lengket akibat darah yang mulai mengering di bagian atas, Della terpaksa mengambil sebilah gunting kertas dari atas meja kerja Aksa. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menggunting kain lengan kemeja sutra itu dari arah pergelangan tangan hingga ke atas bahu.
Begitu kain kemeja itu terbuka, sebuah luka goresan yang sangat panjang, lebar, dan dalam nampak jelas terukir di sepanjang kulit lengan kiri Aksa, memperlihatkan daging bagian dalam yang masih mengeluarkan darah segar akibat sayatan kaca yang disengaja.
"Aah... ya ampun...!" Della langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, matanya berkaca-kaca dipenuhi oleh rasa ngeri sekaligus kepedihan yang teramat sangat melihat penyiksaan ekstrem yang dilakukan suaminya demi mempertahankan kewarasannya di depan umum.
"Jangan menangis... Della... Aku tidak apa-apa..." bisik Aksa lemah, tangannya yang tidak terluka mencoba terangkat untuk menghapus air mata di pipi Della, namun ia terlalu lemas bahkan untuk mengangkat jarinya sendiri.
tetap seperti itu kalau dengan istri mu.. Kudu patuhh n nurutt..
butuhh tutorr banyak hal dell dia.. dan km harus kasih paham.. jgn sampai yg lain yg meracuni pikiran suami poloss muu🤭
laahh jelasin aja dell
dr pada yg lain menjeleskan bisa salahh arahh nanti🤭
kau harusnya sudah paham akibatnya jika berani menyentuh cucu kesayangannya🙁
tp jgn sentuhh Della.. atau km akan nyeselll
tuhh lahh akibat salahh dalam memilihh orang...
kalau aku ya sudah tentu tertawa bahagia... silahkan suamiku kerja saja terus. lama tidak apa-apa. 🤣🤣🤣