Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.
Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Persiapan
"Abang tidak tahu apa orang tua Abang setuju dengan pernikahan kita. Tapi bagaimana kalau tidak? Berdoa pada Tuhan pun rasanya tak berguna."
"Astaghfirullah, Abang ... jangan bilang begitu. Di dunia ini tidak ada yang mustahil bila Allah sudah berkehendak. Langit saja bisa berdiri tanpa tiang, untuk kita. Masa kita masih meragukannya?"
"Berarti Allah tidak menginginkan ...." Kalimat Collins terhenti. Dadanya begitu sesak. Ia bahkan hampir kehilangan oksigen untuk bernapas ketika ingin meneruskan kalimatnya. Hanya tetes air mata yang jatuh yang tak sanggup ia tahan sejak tadi. Collins segera menghapusnya dengan kasar. Ia berdehem sebentar.
'Ini sudah tak bisa lagi. Aku sudah harus menghapus nostalgia boddoh yang terus meracuniku.' "Mbak, kalau nanti dalam setengah tahun aku tak kembali. Bisakah Mbak menikah dengan orang lain?"
Kini Aida memutar wajahnya ke samping, kaget. Ia benar-benar tidak bisa melihat wajah pria itu karena kemampuan penglihatannya yang semakin menurun. Andai ia bisa melihat bagaimana raut wajah Collins saat mengucapkan itu. Sedihkah? Putus asakah atau bahkan ragu? "Abang ingin aku ...."
Tiba-tiba terdengar tawa kecil sang pria. "Ah, lupakan saja!"
Aida kemudian bernapas lega. "Abang, ih! Bikin kaget Aida aja ...." Ia cemberut.
"Ya, sudah. Yuk! Kita kembali ke atas." Collins berdiri. Segera ia menghapus bekas air matanya agar tiada yang curiga. Ia kemudian kembali mendorong kursi roda itu balik ke dalam gedung.
Rupanya Aida masih tetap emosi perkara tadi. "Pokoknya, kalo Abang menghilang, aku akan cari sampai dapat! Sampai ke manapun, aku akan cari, Bang! Aku harus memastikan dari mulut Abang sendiri kalau Abang udah gak mau sama aku lagi!" ujarnya sebal.
Collins tertegun. Ia sempat berhenti melangkah.
"Bang?" Kini Aida yang terlihat bingung karena walaupun tak bisa melihat, ia bisa merasakan, kalau kursi roda itu berhenti. "Abang kenapa, Bang?"
"Eh, enggak." Collins kembali mendorong kursi roda itu.
"Pokoknya aku ingin Abang bertanggung jawab, karena Abang udah buat aku milih Abang, tapi Abang malah kabur begitu aja!" Pipi Aida memerah ketika mengatakannya.
Collins tersenyum pahit. "Bagaimana kalau orang tua ...."
"Ya Abang harus bilang sama aku, Bang, biar kita perjuangkan bersama!" sahut Aida dengan mulut makin mengerucut.
Collins tersenyum kecil melihat semangat Aida ingin bersamanya. Andai saja masalahnya cuma itu, membawa lari Aida setelah menikah pun, ia sanggup. Namun ini, penjahatnya bukanlah orang tuanya tapi adalah dirinya kini. Sanggupkah Aida menerima kenyataan ini? Lebih baik Aida tidak tahu ini seumur hidupnya.
Collins mendorong kursi roda itu memasuki kamar perawatan. Ada sang paman menggantikan istrinya menunggu di sana. Ketika paman Aida membantu keponakannya untuk kembali ke ranjang brankar, Aida meraih lengan Collins tiba-tiba, membuat pria itu terkejut.
Wajah Aida masih nampak gusar. "Bang, Abang besok datang, 'kan?" Ia tampak ingin sekali melihat wajah Collins setelah operasi.
Collins tak kehabisan akal. "Mbak, aku sudah membayarnya lho!"
"Iya, kamu kenapa Aida?" tanya sang paman heran. "Calon suamimu sudah berusaha banyak untukmu, tak mungkin ia menyia-nyiakan kesempatan itu."
Mendengar keterangan sang paman, Aida melepaskan Collins. Ia mulai tenang.
***
Hardyn tampak kusut. Ia tak bisa berkonsentrasi melihat berkas. Sekretarisnya menyadari perubahan itu. Sesekali pria paruh baya itu bergumam tak jelas.
"Bapak kenapa?" tanya sekretarisnya yang berjilbab yang tengah berdiri di sampingnya.
"Eh, tidak." Hardyn memutar-mutar pena mahal yang ada di tangannya. "Ssh ... kenapa penyelidikanku begitu lamban ya? Padahal aku sudah menyewa orang yang ahli di bidangnya."
"Memangnya sudah tahap apa, Pak?"
"Nomor telepon anakku sudah diketahui tapi kenapa tidak bisa menemukan di mana dia berada? Padahal di film-film aku lihat, ada orang yang bisa melacak keberadaan orang lain hanya dengan mengandalkan nomor telepon. Apa itu cuma khayalan?" Hardyn menoleh pada sekretarisnya.
"Tidak, itu benar adanya, Pak. Aku rasa Bapak menyewa orang yang salah. Mungkin detektif ini sudah ketinggalan jaman, tapi iklannya selangit."
"Benarkah? Apa aku sudah ditipunya?" Mata elang pria itu mulai menyorot tajam.
"Bapak gak usah jauh-jauh sewa orang, Pak. 'Kan Bapak punya tim IT sendiri di perusahaan. Kenapa tidak tanya mereka?"
"Mmh." Hardyn mendengus pelan. 'Gaptekku ini harus dibenahi, kalau tidak, aku akan sering ditipu orang kalau begini.' "Coba kau panggil mereka!"
"Baik, Pak!"
Di tempat lain. Tim penyelidik sewaan Hardyn membuahkan hasil. Mereka berhasil menemukan Collins dan sedang mengintainya di rumah sakit. Salah seorang dari mereka menelepon bos mereka. Pria berjaket itu tersenyum senang mendengar hasilnya. Baru saja ia akan menelepon, Hardyn meneleponnya lebih dulu. "Pak, Saya sudah ada kemajuan dengan ...."
"Sepertinya aku sudah tak berminat untuk melanjutkan kontrak ini. Jadi jangan hubungi Saya lagi karena Saya sudah melimpahkannya ke yang lain," sahut Hardyn tegas.
"Maksudnya? Bapak sudah memakai jasa orang lain menggantikan kami?" Pria berjaket hitam itu melepas kaca mata hitamnya seraya terperangah. Ia tengah berada di dalam sebuah mobil.
"Sudah jelas, 'kan?" Pria bule itu menutup sambungan teleponnya.
Pria berjaket hitam itu terlihat geram. Ia menelepon anak buahnya. "Sebaiknya kalian kembali saja karena perjanjian sudah dibatalkan!" ucapnya merapatkan gigi geraham.
"Tapi, bos ...."
Sambungan telepon dimatikan. Sang anak buah kesal hingga menendang roda mobil. "Heeh ...!"
***
Pintu lift terbuka. Collins berjalan gontai keluar dengan tubuh lemas. 'Selamat tinggal, Mbak. Selamat tinggal semua kenanganku di sini ....' Ia memasukkan kedua tangan ke dalam kantong celana dan tersadar, masih ada tersisa uang di dalamnya. Ia menarik sedikit dan mendapati setumpuk uang masih memenuhi kedua kantong celananya tersebut. Lalu akan dikemanakan uang yang tersisa ini?
Karena tak fokus berjalan, Collins menabrak seseorang. "Eh, maaf."
Seorang pria dengan wajah kebingungan menoleh padanya. "Eh, tidak apa-apa." Wajahnya tampak pias. Ia memakai baju koko yang lusuh.
"Benar tidak apa-apa? Wajahnya pucet lho, Mas," sahut Collins prihatin. Ia menyentuh bahu pria itu. "Apa perlu ke dokter? Ini kebetulan sudah berada di rumah sakit."
"Eh, tidak perlu." Pria itu menggoyang-goyangkan tangannya.
"Tidak apa-apa. Biar Saya yang bayar," ucap Collins lagi.
"Apa?" Seketika pria itu terdiam menatap kedua manik mata Collins. Tiba-tiba perutnya berbunyi.
Collins teringat saat pertama kali bertemu Babe. "Masnya belum makan?"
Namun pria itu seketika meraih lengan Collins. "Tidak, itu tidak penting, tapi maukah Bapak membayar biaya rumah sakit anak asuh Saya?"
"Apa?" Mata Collins melebar.
"Eh, begini saja. Tolong pinjamkan uangnya. Nanti Saya ganti. Anak asuh Saya masuk rumah sakit karena keracunan. Tolong, Pak."
"Eh ...." Karena mendadak, Collins tak bisa cepat memutuskan.
"Kalau Bapak ingin mendonasikannya, Saya akan sangat berterima kasih."
"Donasi?"
"Eh, Saya mengelola panti asuhan."
"Oh ...."
"Kalau Bapak tidak percaya, Bapak bisa ikut Saya. Mari!" Pria itu menarik bahu Collins bersamanya.
"Eh, tapi ...." Collins terpaksa ikut. Ia sendiri sebenarnya penasaran dengan kata-kata orang itu.
Pria itu membawa Collins ke UGD. Di sana Collins dipertemukan dengan seorang anak laki-laki yang terbaring lemah di atas brankar.
"Dia sudah boleh pulang, tapi aku sebenarnya tidak punya uang untuk membayar biaya pengobatan."
"Ya sudah, biar aku yang bayar."
Pria itu terlihat senang. Ia mengantar Collins ke loket administrasi. Setelah pembayaran, Collins ingin pergi tapi pria itu mencegahnya.
Bersambung ....