Aura, seorang sekretaris teladan, dan Arkan, CEO dingin yang perfeksionis, terpaksa menikah setelah dijebak dalam sebuah skandal memalukan saat perjalanan bisnis di Bali. Pernikahan paksa ini memaksa mereka menjalani peran sebagai atasan-bawahan di kantor sekaligus suami-istri di rumah. Di balik kerumitan perasaan yang mulai tumbuh, keduanya harus bersatu memburu dalang konspirasi yang sengaja menjebak mereka sebelum karier dan nyawa mereka menjadi taruhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Dansa di Tengah Bahaya
Pelarian dari pintu darurat The Obsidian tidak semulus yang mereka harapkan. Begitu Arkan dan Aura keluar ke gang sempit di samping klub, deru mesin motor besar dan sorot lampu mobil hitam langsung menyambut mereka. Ternyata, para pengawal safari abu-abu tadi tidak sepenuhnya tertipu oleh akting Aura. Mereka telah memanggil bala bantuan.
"Masuk ke mobil, sekarang!" perintah Arkan sambil menarik tangan Aura.
Namun, sebuah mobil SUV hitam besar sengaja menabrak bagian belakang mobil pelarian mereka, menghancurkan lampu belakang dan membuatnya tak bisa dikendarai. Arkan mengumpat pelan. Ia menarik Aura mundur, kembali masuk ke dalam gedung, tetapi bukan melalui pintu utama yang dijaga ketat, melainkan melalui lift servis menuju lantai atas—sebuah aula dansa tua yang jarang digunakan dan sedang dalam tahap renovasi.
"Kita terjebak di sini?" tanya Aura dengan napas tersengal. Suara sepatu hak tingginya bergema di lantai marmer yang berdebu.
"Tidak, ini satu-satunya jalan menuju atap. Bimo sedang mengirim helikopter atau tim evakuasi darat ke sisi belakang gedung," jawab Arkan. Ia mengunci pintu besi besar yang memisahkan area servis dengan aula dansa tersebut.
Aula itu sangat luas, dengan langit-langit tinggi dan lampu gantung kristal yang hanya menyala redup, memberikan nuansa emas yang melankolis. Debu berterbangan di udara, tertangkap oleh sisa-sisa cahaya lampu neon dari luar jendela besar yang menghadap ke gedung-gedung pencakar langit Jakarta.
Di bawah, terdengar suara pintu besi yang digedor dengan keras. Anak buah Danu mulai mencoba mendobrak masuk.
"Mereka akan sampai di sini dalam hitungan menit," bisik Aura. Ia menoleh ke arah Arkan, mencoba mencari ketenangan di mata pria itu.
Arkan tidak tampak panik. Ia justru menatap sekeliling aula yang sunyi itu. Di sudut ruangan, sebuah gramofon tua milik pengelola klub tampak masih terhubung ke listrik, memutar piringan hitam yang entah sejak kapan berputar di sana. Suara musik jazz klasik yang lembut dan statis mengisi ruangan, kontras dengan keributan di balik pintu besi.
"Aura," panggil Arkan pelan.
Aura menoleh. Arkan tidak sedang memegang senjata atau mencari jalan keluar. Ia justru berdiri di tengah lantai dansa yang luas, mengulurkan tangannya dengan sikap yang sangat formal, seolah-olah mereka sedang berada di pesta dansa kerajaan, bukan di tengah kepungan musuh.
"Apa yang kau lakukan? Kita harus lari!" seru Aura panik.
"Pintunya tebal, akan butuh waktu lima menit bagi mereka untuk mendobraknya. Dan tim Bimo butuh tujuh menit untuk sampai ke sini," Arkan tersenyum tipis, sebuah senyum yang belum pernah Aura lihat sebelumnya—begitu tulus dan pasrah. "Kita sudah berlari sepanjang hidup kita, Aura. Dari ambisi, dari musuh, bahkan dari perasaan kita sendiri. Berikan aku lima menit ini." Aura terpaku. Di bawah gaun merah marunnya yang robek di bagian bawah karena pelarian tadi, jantungnya berdegup kencang. Ia melihat tangan Arkan yang kokoh, tangan yang biasanya menandatangani kontrak jutaan dolar atau memegang kendali perusahaan besar, kini terulur hanya untuknya.
Perlahan, Aura meletakkan tangannya di atas telapak tangan Arkan.
Arkan menariknya mendekat. Satu tangan Arkan melingkar erat di pinggang Aura, sementara tangan lainnya menggenggam jemari Aura dengan lembut namun protektif. Mereka mulai bergerak mengikuti irama musik yang lambat.
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki mereka bergema di aula yang kosong. Aura bisa merasakan panas tubuh Arkan menembus kemeja sutranya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arkan, menghirup aroma parfum maskulin bercampur aroma maskulinitas yang kuat.
"Kau tahu," bisik Arkan di telinga Aura, "Aku tidak pernah benar-benar belajar berdansa. Ayahku selalu bilang dansa adalah pemborosan waktu bagi seorang Mahendra." "Kau melakukannya dengan cukup baik untuk seorang amatir," sahut Aura dengan tawa kecil yang sedikit bergetar.
"Ini karena aku memiliki pasangan yang hebat," balas Arkan. Ia memutar tubuh Aura, membuat gaun merah itu mengembang indah di tengah debu yang menari-nari.
Di balik pintu besi, suara hantaman semakin keras.
Suara teriakan anak buah Danu terdengar penuh kemarahan.
Namun di dalam aula itu, waktu seolah berhenti. Bagi Arkan, dunia luar tidak lagi penting. Tidak ada Mahendra Group, tidak ada Danu, tidak ada sabotase.
Hanya ada wanita di pelukannya ini—wanita yang selama ini menjadi kekuatannya di balik layar.
Arkan menghentikan gerakannya. Ia menangkup wajah Aura dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap pipi Aura yang sedikit kotor karena debu.
"Aura, jika kita tidak berhasil keluar dari sini..."
"Jangan katakan itu," potong Aura cepat, matanya berkaca-kaca.
"Aku harus mengatakannya," Arkan menatap dalam ke netra Aura. "Semua harta dan kekuasaan ini...
tidak ada artinya tanpamu. Aku baru menyadarinya malam ini. Penyamaran ini, bahaya ini... semuanya membuatku sadar bahwa aku lebih takut kehilanganmu daripada kehilangan Mahendra Group."
Aura tidak sanggup berkata-kata. Ia meraih kerah kemeja Arkan, menarik pria itu lebih dekat. Di tengah dentuman pintu yang hampir jebol, Arkan menundukkan kepalanya. Bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang intens dan penuh emosi—sebuah perpaduan antara ketakutan akan kehilangan dan keberanian untuk mencintai.
Itu adalah momen yang mentah dan jujur. Sebuah janji tanpa kata-kata di tengah kepungan maut.
BRAKKKK!
Pintu besi itu akhirnya jebol. Engselnya terlepas dan jatuh menghantam lantai dengan suara menggelegar.
Lima pria bersenjata masuk dengan napas memburu.
"Di sana mereka!" teriak salah satu pengawal.
Arkan segera melepaskan dekapannya, namun tangannya tetap menggenggam tangan Aura dengan erat.
Ia menarik Aura ke belakang tubuhnya, kembali ke mode pelindung.
"Waktu dansanya sudah habis," desis Arkan dingin. Matanya yang tadi penuh kelembutan kini berubah menjadi tajam dan mematikan seperti elang.
Tepat saat para pengawal itu hendak melepaskan tembakan, kaca jendela besar di belakang mereka pecah berantakan. Dua tali meluncur turun dari atap, dan beberapa bom asap dilemparkan ke dalam ruangan.
"Mahendra One masuk! Tundukkan kepala!" suara Bimo menggelegar melalui pengeras suara helikopter yang kini melayang di luar jendela.
Asap putih pekat memenuhi aula dalam sekejap. Arkan tidak membuang waktu. Ia menggendong Aura dan berlari menuju jendela yang pecah, di mana tim penyelamat Bimo sudah menunggu dengan peralatan evakuasi.
Sambil berpegangan pada tali penarik helikopter, Arkan melihat ke bawah ke arah para pengawal yang terbatuk-batuk di tengah asap. Ia lalu menatap Aura yang berada di dekapan lengannya saat mereka mulai terangkat ke angkasa malam Jakarta.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Arkan saat mereka sudah berada di dalam kabin helikopter yang bising.
Aura mengangguk, mencoba merapikan rambutnya yang berantakan. Ia melihat ke arah tangannya yang masih gemetar, lalu melihat ke arah Arkan. Pria itu baru saja mempertaruhkan segalanya untuk memberinya lima menit kedamaian di tengah badai.
"Terima kasih untuk dansanya, Tuan Mahendra," bisik Aura, suaranya nyaris tenggelam oleh suara baling-baling helikopter.
Arkan menariknya mendekat, membiarkan Aura bersandar di dadanya saat helikopter itu terbang menjauh dari The Obsidian, menuju kegelapan malam Marunda di mana pertempuran yang lebih besar sudah menunggu mereka.
Malam itu, mereka memang selamat dari kejaran fisik, namun mereka tahu bahwa secara emosional, mereka tidak akan pernah sama lagi. Dansa di tengah bahaya itu telah meruntuhkan tembok terakhir yang memisahkan hati mereka.