Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 — Server Inti
Alarm meraung tanpa henti.
Lampu merah berkedip cepat seperti detak jantung yang hampir meledak.
Gedung itu terasa hidup sekarang.
Bergetar.
Bernapas.
Dan perlahan… sekarat.
Nayra berdiri di tengah ruangan putih dengan kepala penuh kekacauan.
Ibunya ternyata hidup.
Keluarganya mungkin bukan keluarga kandung.
Kakak Zavian mati karena dirinya.
Dan sekarang gedung ini mau meledak.
Rasanya otaknya sudah terlalu penuh untuk memproses semuanya.
“Aku benci hidupku,” gumam Nayra pelan.
“Aku juga,” sahut Arsen santai.
Zavian malah sudah berjalan menuju pintu otomatis di ujung ruangan.
“Kalian bisa curhat nanti?”
Nayra langsung mendelik.
“Kamu dingin banget sih!”
“Gedungnya mau meledak.”
“Itu bukan alasan buat nggak punya hati!”
Arsen tertawa kecil.
“Aku kangen lihat orang normal
marah-marah.”
“AKU NGGAK NORMAL LAGI!”
“Fair point.”
—
Ibunya Nayra berdiri tenang di dekat layar utama.
Tidak panik.
Tidak takut.
Seolah ledakan ini bagian biasa dari hidupnya.
Dan mungkin memang begitu.
“Kalian tidak akan sempat keluar,” katanya pelan.
Zavian tidak menoleh.
“Kita lihat nanti.”
“Kalian tidak mengerti seberapa besar organisasi ini.”
Arsen menyeringai tipis.
“Oh, kami ngerti.”
Tatapannya berubah dingin.
“Itu kenapa kami mau bakar semuanya.”
Untuk pertama kalinya…
ekspresi wanita itu berubah sedikit.
Bukan takut.
Tapi kecewa.
“Nayra.”
Suara lembut itu kembali diarahkan padanya.
“Kamu masih bisa berhenti.”
Nayra menatap wanita itu.
Entah harus menyebutnya ibu atau bukan.
“Aku harus percaya apa lagi sekarang?”
“Kebenaran.”
“Kebenaran versi siapa?”
Hening.
Alarm meraung lagi.
Wanita itu melangkah pelan mendekati Nayra.
“Kamu tahu kenapa kamu dipilih jadi Subject 07?”
Nayra diam.
“Karena sejak kecil… kamu berbeda.”
“Berbeda gimana?”
Wanita itu tersenyum kecil.
“Kamu tidak mudah hancur.”
Kalimat itu membuat Nayra langsung teringat semua yang sudah ia lalui.
Ketakutan.
Permainan.
Kematian.
Kebohongan.
Dan anehnya… ia memang masih berdiri sampai sekarang.
“Daya tahan mentalmu jauh di atas rata-rata.”
Zavian mendecih kecil.
“Kalian bangga bikin anak kecil trauma?”
Wanita itu menatapnya dingin.
“Trauma menciptakan kekuatan.”
“Trauma menciptakan monster.”
Tatapan mereka bertabrakan tajam.
Nayra mulai sadar sesuatu.
Zavian sangat membenci organisasi ini.
Bukan cuma karena kakaknya.
Tapi karena dia tahu persis bagaimana tempat ini bekerja.
Dan mungkin…
ia juga pernah dihancurkan oleh tempat ini.
—
“Server inti ada di bawah,” kata Arsen cepat.
“Basement?”
“Lebih dalam.”
Nayra mengerutkan dahi.
“Gedung ini punya basement lagi?”
“Tempat kayak gini selalu punya rahasia.”
Mereka bergerak keluar ruangan.
Tapi sebelum Nayra pergi, wanita itu memanggilnya sekali lagi.
“Nayra.”
Langkah Nayra berhenti.
“Kalau nanti kamu mendapatkan semua ingatanmu kembali…”
Tatapannya terasa aneh.
Campuran sedih dan dingin sekaligus.
“…mungkin kamu akan membenci dirimu sendiri.”
Deg.
Belum sempat Nayra menjawab—
DUARRR!
Ledakan besar mengguncang gedung.
Kaca pecah.
Lampu mati total sesaat.
Dan saat cahaya darurat menyala lagi…
wanita itu sudah tidak ada.
Menghilang.
—
Lorong menuju basement jauh lebih gelap.
Asap mulai memenuhi beberapa bagian gedung.
Pipa di langit-langit bocor.
Air menetes di mana-mana.
Suara logam berderit terdengar menyeramkan.
Nayra berjalan cepat di belakang Zavian.
“Aku nggak suka basement.”
“Semua orang waras juga nggak suka,” jawab Zavian.
Arsen memimpin di depan sambil memegang kartu hitamnya.
“Kalau server inti hancur sebelum kita ambil datanya, semuanya selesai.”
Nayra menghela napas lelah.
“Aku bahkan nggak ngerti kenapa kita masih hidup.”
“Karena nasib buruk suka kamu,” kata Arsen.
“Aku nggak merasa spesial.”
“Kamu Subject 07. Kamu terlalu spesial.”
Nayra memutar mata kesal.
Ia mulai muak mendengar kode itu.
—
Mereka akhirnya sampai di pintu baja besar.
Tebal.
Dengan scanner merah di samping.
Tulisan di atasnya:
AUTHORIZED PERSONNEL ONLY
Arsen menempelkan kartu hitamnya.
Scanner berbunyi.
ACCESS DENIED.
Arsen mengernyit.
“Mereka ganti sistem.”
Zavian langsung melihat sekeliling.
“Kita nggak punya waktu.”
Alarm semakin keras.
Timer di layar dinding menunjukkan:
09:42
Kurang dari sepuluh menit.
“Bagus,” gumam Nayra panik. “Aku bakal mati di basement.”
Zavian meliriknya.
“Jangan mati dulu.”
“Itu motivasi terburuk yang pernah aku dengar.”
Tiba-tiba lampu scanner berubah biru.
Semua langsung diam.
Lalu suara sistem terdengar.
“SUBJECT 07 DETECTED.”
Klik.
Pintu baja terbuka perlahan.
CREEEEEEKKK…
Hening.
Arsen menatap Nayra.
Zavian juga.
Dan Nayra langsung merasa tidak nyaman.
“Kenapa kalian lihat aku begitu?”
Arsen tersenyum tipis.
“Karena ternyata kamu VIP di sini.”
“Aku nggak mau jadi VIP PSIKOPAT!”
—
Ruangan server inti jauh lebih besar dari dugaan Nayra.
Dingin.
Sunyi.
Puluhan server hitam berdiri berjajar tinggi.
Lampu-lampu kecil berkedip seperti mata.
Dan suara dengungan mesin memenuhi ruangan.
Di tengah ruangan…
ada tabung kaca besar.
Berisi cairan biru.
Dan seseorang di dalamnya.
Nayra langsung membeku.
Karena orang itu…
adalah dirinya.
Versi kecil.
Anak perempuan usia sekitar delapan tahun.
Tertidur di dalam cairan.
“Apa…”
Suara Nayra hilang.
“Apa itu…”
Zavian langsung menegang.
Arsen terlihat serius sekarang.
“Itu nggak mungkin…”
Nayra mendekat perlahan ke tabung itu.
Wajah anak kecil itu sangat mirip dirinya.
Terlalu mirip.
“Kenapa ada aku di sana…”
Layar di dekat tabung tiba-tiba menyala.
DATA SUBJECT 07
STATUS: ORIGINAL
Deg.
Nayra langsung menoleh.
“Original…?”
Arsen memaki pelan.
“Sial…”
Zavian membaca layar cepat.
Dan wajahnya berubah pucat untuk pertama kalinya.
“Nayra…”
“Apa?”
Cowok itu menatapnya lama.
Terlalu lama.
Lalu berkata pelan—
“Kamu mungkin bukan yang asli.”
Dunia seperti runtuh untuk kesekian kalinya.
“Hah…?”
“Tubuh di tabung itu…”
Zavian menelan napas.
“…kemungkinan Subject 07 asli.”
Nayra mundur pelan.
“Terus aku siapa…?”
Tak ada yang langsung menjawab.
Dan itu menghancurkan.
—
Potongan-potongan aneh mulai muncul lagi di kepala Nayra.
Ruangan putih.
Jarum suntik.
Suara mesin.
Dan seseorang berkata—
“Versi kedua berhasil.”
Tubuh Nayra langsung gemetar.
“Enggak…”
Arsen langsung memegang bahunya.
“Dengar aku.”
“Aku ini apa…?”
“Nayra—”
“Aku manusia atau bukan?!”
Suara Nayra pecah.
Matanya mulai panas lagi.
Ia lelah.
Terlalu lelah.
Zavian mendekat perlahan.
Tatapannya lebih lembut dari biasanya.
“Aku nggak peduli kamu apa.”
“Tapi aku peduli!”
Napas Nayra kacau.
“Kalau aku cuma eksperimen—”
“Kamu hidup.”
Suara Zavian memotong keras.
Tatapannya lurus ke mata Nayra.
“Kamu takut. Kamu nangis. Kamu marah.”
Tangannya mengepal sedikit.
“Itu lebih manusia daripada kebanyakan orang di tempat ini.”
Hening.
Kalimat itu menghantam dada Nayra pelan.
Dan anehnya…
ia hampir menangis lagi.
—
Tiba-tiba seluruh server berbunyi keras.
WARNING. WARNING.
Layar berubah merah.
Arsen langsung menoleh.
“Mereka nemu kita.”
Di layar utama muncul sosok Game Master lagi.
Topeng hitam.
Tapi kali ini…
ia tidak duduk.
Ia berdiri.
Dan untuk pertama kalinya, suaranya terdengar marah.
“Subject 07 tidak boleh keluar.”
Nayra menatap layar itu dingin sekarang.
Rasa takutnya mulai berubah.
Menjadi marah.
“Kenapa?” tanyanya.
“Karena kamu milik kami.”
Deg.
Kalimat itu langsung membuat darah Nayra mendidih.
“Aku bukan barang!”
“Kamu diciptakan untuk permainan.”
“Aku bukan boneka kalian!”
Game Master diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Kamu bahkan tidak tahu berapa banyak orang yang mati untuk menciptakanmu.”
Sunyi.
Nayra langsung membeku.
“Apa…”
Arsen langsung melangkah maju.
“Jangan dengarkan dia.”
Tapi Game Master melanjutkan.
“Batch pertama gagal.”
“Batch kedua rusak.”
“Batch ketiga kehilangan kendali.”
Suara itu dingin.
Mekanis.
“Dan hanya Subject 07 yang sempurna.”
Napas Nayra memburu.
“Kalian sakit…”
“Tidak.”
Topeng hitam itu sedikit menunduk.
“Kami hanya menciptakan evolusi.”
Zavian langsung mengangkat pistol dan menembak layar.
DUAK!
Layar retak.
“Omonganmu bikin muak.”
—
Timer tersisa:
04:11
Arsen langsung bergerak ke komputer utama.
“Kita ambil semua data sekarang!”
Jarinya bergerak cepat di keyboard.
File demi file muncul.
Eksperimen manusia.
Data pemain.
Rekaman pembunuhan.
Seluruh isi organisasi itu.
Nayra menatap layar dengan tangan dingin.
Jumlah korbannya…
ribuan.
“Ya Tuhan…”
Zavian berdiri menjaga pintu.
Dan benar saja—
suara langkah mulai terdengar dari lorong luar.
Banyak.
Mereka datang.
—
“Cepat!” bentak Zavian.
Arsen mengutuk pelan.
“Datanya terlalu besar!”
Nayra melihat tabung kaca di tengah ruangan lagi.
Versi kecil dirinya masih tertidur damai di dalam sana.
Dan entah kenapa…
hatinya sakit melihat itu.
“Aku harus ngapain…”
Lalu suara kecil muncul di kepalanya.
Kabur.
Pelan.
“Hancurkan…”
Nayra langsung menegang.
“Hah?”
Suara itu muncul lagi.
Lebih jelas.
“Hancurkan semuanya…”
Nayra memegang kepalanya.
Dan tiba-tiba—
mata anak kecil di dalam tabung terbuka.
DUK!
Nayra langsung mundur kaget.
Anak itu menatap lurus ke arahnya.
Dan perlahan…
tersenyum.
Senyum yang sama persis dengannya.
Tapi terasa salah.
Sangat salah.
“Nayra?” Zavian langsung menoleh.
Anak di dalam tabung itu mengangkat tangan pelan.
Lalu seluruh server mulai mati satu per satu.
Lampu berkedip liar.
Alarm berubah semakin brutal.
Dan suara otomatis menggema di seluruh ruangan—
EMERGENCY RELEASE ACTIVATED
Arsen langsung membelalak.
“NO WAY…”
Retakan mulai muncul di tabung kaca.
CRAAKK…
Cairan biru mulai bocor keluar.
Dan anak kecil di dalam sana…
masih terus tersenyum ke arah Nayra.