Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.
Sampai suatu malam… hidupnya berubah.
Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.
Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.
Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui
•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨
•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍
" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak seindah Yang di Bayangkan
Hujan akhirnya reda. Rintik terakhir masih sesekali jatuh dari daun-daun, tapi langit mulai cerah di ujung barat.
Nevran mengantar Brielle pulang ke rumahnya dengan motor besar itu. Sepanjang jalan, Brielle diam di belakang—tapi tangannya anehnya tidak melepas pinggang Nevran. Bukan karena disuruh. Bukan karena terpaksa. Tapi begitu saja, seperti sudah biasa.
Sesampainya di depan pagar rumah Brielle, gadis itu turun tanpa bicara. Namun baru dua langkah, ia berbalik.
“Cadel.”
Nevran yang masih di atas motor menoleh.
“Makanya jangan tawuran mulu. Nanti mati muda,” ucap Brielle dengan nada kesal yang dipaksakan.
Nevran tersenyum kecil. “Khawatir.”
“ENGGAK!” Brielle langsung membanting pintu pagar dan berlari masuk ke dalam rumahnya dengan pipi yang merona.
Nevran masih tersenyum saat motor besarnya melaju meninggalkan rumah itu. Senyumnya tidak pudar. Bahkan sepanjang perjalanan pulang, sudut bibirnya tetap naik—sesuatu yang sangat jarang terjadi pada cowok sedingin es.
---
Mansion keluarga Garendra tampak megah dalam remang lampu taman. Nevran memarkirkan motor besarnya, lalu melangkah santai menuju pintu utama dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.
Pintu utama sudah terbuka sebelum ia sempat mengetuk, memperlihatkan barisan pelayan yang berdiri rapi di sisi kanan dan kiri, membungkuk memberi salam.
“Selamat datang, Tuan Muda.”
Nevran hanya mengangguk tipis. Matanya menyapu ruang tamu. Sepi.
“Bi,” panggilnya pada kepala pelayan yang sudah tua. “Mommy sudah pulang?”
“Belum, Tuan Muda. Nyonya masih di luar kota. Ada konferensi.”
Nevran mengangguk. Tidak aneh. Mommy nya wanita karir yang sibuk. Beliau jarang di rumah. Dan itu sebabnya... ia selalu kesepian yang tak terdefinisi kan
“Daddy?”
“Tuan ada di lantai dua, Tuan muda .”ucap sang bibi dengan ragu
Ia melangkah menaiki tangga besar menuju lantai dua. Gerakannya santai, tapi hatinya masih hangat memikirkan wajah Brielle yang merah saat membanting pintu tadi. Hangat itu perlahan kembali membuat senyum di wajah tampan nya.
“Ah... a-ahh... jangan di situ...”
Langkah Nevran tiba-tiba terhenti.
“Hmm... kamu nakal banget, Pak...”
Darah Nevran langsung naik ke ubun-ubun.
Suara itu.
Suara perempuan itu.
Dia kenal suara itu.
Nevran menutup mata sebentar. Menarik napas panjang. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Bukan. Ini tidak mungkin terjadi di rumahnya.
"Brengsek!! "
Ia sudah muak. Bertahun-tahun ia tutup mata. Bertahun-tahun ia diam demi menjaga kewarasan mommy nya.
Nevran membuka mata. Tatapannya berubah gelap. Tanpa ragu, ia berbalik arah menuju pintu kamar Daddy di ujung lorong.
BRAK!
Satu dobrakan keras membuat pintu terbuka lebar hingga membentur dinding. Dua sosok di dalamnya sontak terlonjak kaget. Mereka buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuh yang hampir telanjang.
Rakael Garendra—Daddy nya—menatapnya dengan mata membelalak penuh keterkejutan. Di sampingnya, Mita—sekretaris jalang itu—langsung pucat pasi.
“Nevran?! Kamu—“
Nevran melangkah masuk tanpa permisi. Aroma parfum murah Mita bercampur udara panas dari kamar itu langsung menyergapnya. Tatapannya dingin, menyapu wajah Mita dengan sorot tajam—tajam seperti saat ia menatap musuhnya di jalanan. Lalu pandangannya bergeser ke Daddy, pria yang dulu ia kagumi, pria yang sekarang membuat mual setiap kali dipandang.
Senyum miring tersungging di bibir Nevran. Bukan senyum ramah. Bukan senyum biasa. Itu senyum yang membuat bulu kuduk siapa pun merinding—perpaduan antara kecewa, marah, dan sakit hati yang tertahan bertahun-tahun.
"ini yang lo bilang, bahwa yang terjadi dulu adalah jebakan!! " ucap nya
" son kamu salah sangka " ucap Daddy dengan segera memakai bju nya.
“ Cih " ia meludah
" Gw jijik brengsek."
"LO DENGAR GW JIJIK ”teriak nya lalu melemparkan vas bunga yang ada disana.
Rakael Garendra hanya mengepal tangan.
" Apa lo se gak punya otak itu tuan Garendra " ucapnya dingin, suaranya rendah tapi menusuk. “sampai nyewa hotel aja nggak mampu? Harus di rumah in? Di ranjang mommy gue?”
Mita menggigit bibir, tidak berani menjawab. Wajahnya merah padam.
“Nevran!” Rakael membentak, berusaha mempertahankan wibawanya meski dalam kondisi tak berpakaian rapi. “Kamu ini apa-apaan?! Bisa-bisanya kamu—“
Nevran tidak membalas. Tangannya bergerak ke saku belakang celana, mengeluarkan dompet kulit hitamnya. Ia menarik segepok uang lembaran merah—tanpa dihitung—lalu melemparkannya ke arah Mita.
Beberapa lembar jatuh di lantai. Beberapa melayang perlahan seperti daun kering di musim gugur, jatuh di atas karpet dan di atas selimut yang sudah berantakan.
“Itu uang taksi lo,” ucap Nevran dingin. “Sekarang keluar. Sebelum membuat lo kehilangan kesempatan melihat matahari besok .”
Mita terpaku. Ia melirik Rakael dengan pandangan memohon. Matanya basah, tapi Nevran tidak peduli.
“Mita, jangan—“
“DIAM LO JUGA, RAKAEL !”
Suara Nevran meledak. Seketika, Rakael terdiam. Belum pernah ia melihat anaknya segila ini. Mata Nevran merah. Bukan merah karena mau menangis—tapi merah karena amarah yang sudah menumpuk bertahun-tahun dan kini meledak semuanya.
“Lo masih inget gue anak lo? Atau lo lupa karena sibuk selingkuh terus?!”
Rakael tidak menjawab.
“Mita,” Nevran kembali menatap perempuan jalang itu. “Keluar. Sekarang. Gue hitung sampai tiga. Satu...”
Mita buru-buru memunguti bajunya dengan tangan gemetar.
“Dua...”
Ia melompat dari ranjang, kakinya gemetar hebat. Kemeja terbalik, rok salah pasang, tapi ia tidak peduli.
“TIGA!”
Mita berlari keluar kamar tanpa menoleh, nyaris tersandung karpet, dan menghilang di balik pintu dengan isak tangis yang terdengar palsu di telinga Nevran.
Hening.
Rakael duduk di tepi ranjang, menunduk. Tangannya memegang kepalanya sendiri.
“Nevran... Nak, ini bukan—“
“Bukan apa? Bukan kesalahan anda?” potong Nevran. Suaranya bergetar, tapi ia tahan. “Anda selingkuh dengan sekretaris Anda sendiri. Di rumah ini. Di ranjang ,tempat seharusnya kedua orang tua gw . Sementara saat Mommy di luar kota, Anda membawa jalang ke ranjang nya!.”
Rakael mengangkat wajah. Matanya sayu.
“Nev... lo nggak ngerti... pernikahan sama mamamu itu—“
“NGGAK NGERTI APANYA?!” Nevran melangkah maju. “Anda pikir saya masih kecil? Anda pikir saya nggak tahu kalau Mita itu udah jadi selingkuhan Anda sejak saya masih SMP?!”
Nevran mendengus.
"Ternyata tidak cukup, dan tidak pernah cukup, satu wanita dihidup anda. Dan ternyata, penyakit selingkuh itu tidak pernah bisa sembuh"
Rakael terdiam.
“Saya kira anda akan berubah sejak kejadian itu .” Suara Nevran mulai pecah. “Gue diem demi Mommy. Karena Mommy nggak tahu. Karena kalau Mommy tahu, beliau bakal hancur. Hancur untuk kesekian kalinya.”
Matanya panas. Tapi ia tidak mau menangis di depan Daddy.
" Untuk kesekian kalinya saya ingin berkata, saya sungguh jijik darah Garendra mengalir di nadi saya "
Rakael tidak bisa menjawab. Wajahnya pucat.
“Gue benci ,” ucap Nevran pelan. Bukan teriakan. Bukan bentakan. Tapi pernyataan yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. “Gue benci Anda karena tidak pernah berubah. Anda nggak pernah mikirin anak. Daddy nggak pernah mikirin Mommy. Daddy cuma mikirin diri Daddy sendiri.”amarah dan sakit hati bercampur satu.
"Gue nggak peduli lo mau urus hidup lo kayak gimana," ucapnya pelan tapi dingin. "Tapi lo nggak usah bikin gue mual ngeliatnya di depan mata gue."
Tanpa menunggu jawaban, Nevran membalikkan badan, keluar, lalu menutup pintu dengan keras-meninggalkan Rakael dengan amarah mendidih karena aktivitasnya diganggu, serta perasaan yang cukup asing.
Bersambung
bantu support juga yaa😇