NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 panggung penghancuran

Kilatan lampu kilat dari ratusan kamera wartawan langsung menyambut kedatangan mobil Rolls-Royce hitam milik Devano begitu berhenti di depan lobi Grand Ballroom. Malam ini, eskalasi berita palsu yang disebarkan Julian Mahendra telah mencapai puncaknya. Semua pemburu berita di ibu kota berkumpul, mengincar pernyataan resmi mengenai skandal pencucian uang yang dituduhkan kepada Adhitama Group.

Pintu mobil terbuka. Jefri dengan sigap menurunkan kursi roda elektrik Devano menggunakan fasilitas otomatis. Sang tirani duduk dengan keanggunan seorang penguasa yang tak tergoyahkan. Setelan jas hitamnya tampak tanpa cela, melengkapi wajah tegasnya yang sedingin es batu.

Di sampingnya, Alana melangkah turun perlahan. Gaun beludru hitam berpotongan leher tinggi yang memeluk lekuk tubuhnya memberikan kesan misterius sekaligus berkelas. Kalung safir biru darah yang melingkar di leher jenjangnya berkilau tajam di bawah jepretan kamera, memantulkan kemewahan yang mutlak.

"Tetap tersenyum, Alana. Biarkan serigala-serigala ini melihat bahwa kita tidak terpengaruh oleh gonggongan mereka," bisik Devano dengan suara rendah yang mengalun di sela-sela gemuruh pertanyaan wartawan.

Alana mengangkat dagunya, mengulas senyum tipis yang tampak tenang di wajah cantiknya. Di dalam hati, ia mengagumi bagaimana Devano bisa setenang ini di tengah badai yang siap meruntuhkan reputasi bisnisnya. Kepemimpinan pria ini terasa begitu nyata, memancarkan daya pikat dominan yang membuat Alana merasa aman sekaligus terintimidasi di saat yang bersamaan.

Begitu mereka melintasi pintu ganda ballroom, atmosfer ruangan yang dipenuhi oleh para konglomerat internasional seketika berubah hening. Bisik-bisik miring mulai menjalar di antara kerumunan tamu yang memegang gelas sampanye.

"Lihat, mereka benar-benar berani datang setelah dokumen mutasi itu bocor."

"Wanita di sebelahnya itu... anak Herman Wijaya, kan? Wajahnya tampak tenang, padahal keluarganya menjadi alat pencucian uang."

Alana mengabaikan setiap tatapan menghina itu. Langkah kakinya tetap konstan di sebelah kursi roda Devano, mengikutinya menuju pusat ruangan di mana sebuah panggung kecil dengan layar LED raksasa telah disiapkan untuk presentasi asosiasi.

"Ah, Tuan Adhitama. Aku sempat mengira kau akan bersembunyi di dalam mansion kamarmu malam ini."

Suara bariton yang penuh nada kemenangan itu memecah barisan tamu. Julian Mahendra melangkah maju dengan setelan jas desainer berwarna biru tua. Senyum angkuh mengembang sempurna di wajah tampannya. Di belakangnya, beberapa jurnalis senior dari media ekonomi terkemuka tampak mengekor, siap merekam momen kejatuhan sang penguasa pasar.

Julian menghentikan langkahnya tepat dua meter di hadapan Devano. Pandangan matanya yang tajam sempat beralih ke arah Alana, menatap kalung safir di leher wanita itu dengan kilat ketertarikan yang tak disembunyikan. "Nyonya Alana, kau tampak luar biasa malam ini. Sayang sekali, keindahanmu harus ternoda oleh skandal hitam yang diciptakan oleh suamimu yang cacat ini."

Devano tidak membalas ucapan Julian dengan kemarahan. Pria itu justru menyandarkan punggungnya pada kursi roda, menatap Julian dengan pandangan menilai yang sangat meremehkan. "Julian. Kau selalu pandai menyusun cerita fiksi untuk media. Tapi di duniaku, fiksi tidak pernah bisa membeli saham."

"Fiksi?" Julian tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat memuakkan di telinga para tamu. Ia mengangkat tangannya, memberikan isyarat kepada salah satu asistennya untuk menampilkan sesuatu. "Seluruh negeri sudah melihat bukti transfer dari Wijaya Corps ke rekening cangkang milikmu, Devano! Kau memanfaatkan kebangkrutan ayah mertuamu untuk menyembunyikan dana hitam! Kau tidak bisa mengelak lagi!"

Kerumunan tamu mulai bergolak. Para jurnalis langsung mengarahkan mikrofon mereka ke arah Devano, menunggu jawaban yang bisa menghancurkan Adhitama Group.

Alana merasakan jemarinya mendingin. Ia melirik Devano, namun yang ia temukan adalah sebuah seringai tipis yang sangat kejam di wajah suaminya.

"Jefri, nyalakan layar utama," perintah Devano dengan nada suara yang sangat tenang namun menggema mutlak di seluruh penjuru ballroom.

Bzzzt.

Layar LED raksasa di belakang panggung utama yang semula menampilkan logo asosiasi bisnis tiba-tiba berkedip, berganti menjadi tampilan dokumen audit forensik resmi yang memiliki segel otoritas keuangan internasional dan kepolisian pusat.

Di baris pertama dokumen tersebut, terpampang dengan sangat jelas nama perusahaan cangkang yang disebutkan oleh Julian. Namun, nama pemilik aslinya yang tertera di sana bukan milik Devano Adhitama, melainkan milik Mahendra Group—perusahaan milik Julian sendiri.

Ruangan itu seketika pecah oleh seruan terkejut dari para penonton. Kilatan kamera wartawan kini berbalik arah secara brutal, menghujani wajah Julian Mahendra yang dalam sekejap berubah pucat pasi bagaikan kehilangan seluruh pasokan darah.

"Apa... apa-apaan ini?! Ini rekayasa!" teriak Julian dengan suara yang mulai meninggi panik, keangkuhannya runtuh berantakan dalam hitungan detik.

"Dua hari lalu, sebelum kau merilis fitnah itu ke media, aku sudah membeli seluruh hak paten dan data server dari agensi peretas yang kau sewa, Julian," ucap Devano, suaranya terdengar begitu dingin dan menusuk hingga ke tulang belakang. Pria itu memutar kursi rodanya selangkah lebih maju, memancarkan aura tirani yang tak tertembus.

"Kau sengaja memalsukan dokumen transaksi menggunakan nama Wijaya Corps untuk menjatuhkan nilai sahamku, lalu membelinya di harga murah melalui kaki tanganmu. Tapi sayangnya... otak bisnismu terlalu lambat untuk menyadari bahwa aku sudah mengunci seluruh pergerakan rekeningmu sejak satu bulan lalu," lanjut Devano dengan nada mengejek yang kental.

Di layar raksasa, bukti rekaman suara percakapan Julian dengan agen peretas serta bukti transfer asli pembelian saham ilegal mulai berputar, menyajikan pembantaian karakter yang sesungguhnya di depan publik internasional. Para jurnalis yang tadi mendukung Julian kini berbalik menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan.

Di tengah kekacauan media yang mulai mengerumuni Julian yang panik, Devano tidak membuang waktu lagi. Ia memberikan kode kepada Jefri untuk mengalihkan rute menuju ruang privat di lantai atas ballroom, menjauh dari keributan.

Namun, sebelum berbalik, Devano mengulurkan tangannya yang besar, mencengkeram pinggang Alana dengan satu gerakan yang sangat posesif dan dominan. Ia menarik tubuh wanita itu hingga menempel rapat di sisi kursi rodanya, menandai wilayah kepemilikannya di depan sisa-matus tamu yang menyaksikan.

Begitu pintu ruang VIP lantai atas tertutup rapat dan kedap suara, ketegangan baru yang jauh lebih intim kembali mengunci kesadaran Alana.

Klek.

Devano melepaskan cengkeramannya, lalu dengan gerakan perlahan... ia bangkit berdiri dari kursi roda elektriknya! Tubuh tingginya yang tegap melangkah dengan pasti, menyudutkan Alana langsung pada pintu kayu mahoni ruangan yang kokoh.

Brak!

Devano menghantamkan telapak tangan kanannya di atas permukaan pintu tepat di samping telinga Alana, mencondongkan tubuh kekarnya hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Wangi maskulin dari campuran aromatik kayu cedar dan mint murni dari napas Devano langsung mengepung indra penciuman Alana, memicu debar jantung yang berpacu liar.

"Kau melihatnya, Alana?" bisik Devano dengan suara serak yang sangat rendah dan seksi di depan bibir mungil Alana yang bergetar. Sepasang mata elangnya berkilat dengan kegilaan obsesi yang sangat pekat. "Julian sudah hancur. Tidak ada lagi pria yang bisa memanfaatkanmu untuk mengusik ketenanganku."

Alana mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata hitam sang tirani. Air mata haru dan rasa lega bercampur aduk di sudut matanya. "Terima kasih, Tuan Devano... Anda... Anda benar-benar menghancurkannya."

"Aku tidak butuh terima kasihmu, Istriku," desis Devano posesif ekstrem. Jemari tangannya yang panjang bergerak naik, mencengkeram rahang Alana dengan kekuatan yang pas, memaksa wajah cantik wanita itu mendongak mutlak menatapnya. "Aku hanya butuh kau mengingat satu hal: seluruh jiwa, raga, dan takdirmu adalah milikku. Siapa pun yang mencoba merebutmu dari sisiku... akan berakhir lebih tragis daripada bajingan Mahendra malam ini."

Sebelum Alana sempat merespons ancaman penuh gairah itu, Devano membungkuk dan langsung membungkam bibirnya dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, menuntut kepatuhan total tanpa akhir di balik pintu ruang VIP yang terkunci rapat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!