Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.
Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.
Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Retakan di Dinding Pertahanan
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama penthouse, membentuk garis-garis emas di atas lantai karpet yang tebal. Elleanor menggeliat kecil di atas kasur king size, mengerjapkan matanya berulang kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang benderang. Aroma parfum maskulin yang samar dari kaus oversized milik Jayden yang masih melekat di tubuhnya langsung menyentak kesadarannya.
"Jam berapa ini?" gumam Elle panik, buru-buru menegakkan tubuhnya.
Ia melirik jam dinding digital di sudut kamar. Pukul 05.30 WIB. Masih terlalu pagi untuk ukuran anak sekolahan, namun sangat pas dengan janji yang diucapkan Jayden semalam kepada abangnya.
Klik.
Suara kunci pintu yang terbuka membuat Elle menoleh cepat. Jayden melangkah masuk dengan setelan yang sudah rapi—celana abu-abu sekolah, kemeja putih yang pas di tubuh tegapnya, dan jaket VULTURES yang tersampir angkuh di bahu kiri. Wajah cowok itu tampak segar, seolah ia tidak baru saja menghabiskan sisa malamnya dengan tidur bersandar di dinding lorong yang dingin.
Di tangan kanannya, Jayden membawa sebuah gantungan baju berisi seragam sekolah Elle yang sudah disetrika sangat rapi, lengkap dengan dasi dan atribut LHS-nya.
"Ganti baju sekarang. Sepuluh menit lagi kita jalan," perintah Jayden datar, meletakkan gantungan baju itu di tepi lemari.
Elle menatap Jayden dengan pandangan judes khasnya, mencoba menutupi debaran aneh di dadanya yang kembali muncul akibat sisa-sisa ketegangan semalam. "Gak usah hobi memerintah bisa gak, sih? Gua juga tahu kalau hari ini hari Jumat dan gua harus sekolah."
Jayden tidak membalas cibiran itu. Ia berjalan mendekati kasur, menunduk sedikit untuk memperhatikan wajah Elle yang masih acak-acakan khas orang baru bangun tidur. Tangan kanannya terangkat, dengan gerakan yang terlampau kasual bagi orang berdarah dingin, ia mengusap sudut bibir Elle menggunakan ibu jarinya.
"Muka lo kalau bangun tidur gak ada barbar-barbarnya sama sekali," ucap Jayden lirih, suaranya yang serak khas suara pagi terdengar begitu dalam dan seksi, membuat Elle seketika membeku di tempatnya.
"J-Jayden... lo nyari mati pagi-pagi, ya?!" sentak Elle setelah berhasil menguasai keterkejutannya. Ia menyentak tangan Jayden menjauh dari wajahnya dan langsung melompat turun dari kasur, menyambar seragamnya dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Jayden menatap telapak tangannya yang baru saja menyentuh kulit halus Elle, lalu sebuah senyuman tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat—terukir di bibirnya. Dinding pertahanan cewek barbar itu perlahan tapi pasti mulai menunjukkan retakan kecil setiap kali ia berhadapan dengan kontak fisik yang tak terduga.
Tepat pukul 06.15 WIB, Kawasaki H2 Carbon milik Jayden membelah jalanan protokol Jakarta yang mulai dipadati oleh para pekerja kantoran dan anak sekolah. Elle duduk di jok belakang dengan posisi yang kelewat kaku. Tangan kirinya mencengkeram besi behel belakang motor dengan kuat, sementara tangan kanannya memeluk tas ranselnya di depan dada, sengaja menyisakan jarak beberapa sentimeter agar tubuhnya tidak menempel pada punggung tegap Jayden.
Namun, Jayden tampaknya tidak menyukai jarak tersebut. Di tengah lampu merah perempatan Kuningan, Jayden tiba-tiba meraih tangan kanan Elle yang memeluk tas, lalu menariknya paksa ke depan, melingkarkan lengan gadis itu di sekeliling pinggangnya.
"Jayden! Lepas—"
"Gua gak mau lo jatuh dan bikin abang lo punya alasan buat nyerang markas gua," potong Jayden dingin dari balik helm full-face-nya. Begitu lampu hijau menyala, Jayden langsung menarik tuas gas dalam-dalam, membuat motor sport bertenaga monster itu melesat maju dengan sentakan kuat.
Refleks karena terkejut dengan kecepatan motor, Elle mempererat pelukannya pada pinggang Jayden, menyembunyikan wajahnya di balik punggung cowok itu untuk menghalau angin kencang. Jayden melirik kaca spionnya, menatap siluet Elle yang kini menempel pasrah di punggungnya, dan rasa puas yang pekat kembali memenuhi isi dadanya.
Begitu motor Jayden memasuki gerbang utama Loren'z High School, suasana mendadak sunyi. Di area parkiran khusus anak-anak VULTURES, sebuah mobil sedan hitam antipeluru milik keluarga Smith ternyata sudah terparkir rapi.
Kenzie dan Kenzo berdiri bersandar di kap mobil dengan kacamata hitam mereka, dikelilingi oleh empat orang pengawal berjas tegap. Aura intimidasi dari abang kembar Elleanor itu langsung berbenturan dengan deru mesin motor Jayden yang baru saja mati.
Jayden menurunkan standar motor, melepas helmnya, lalu menatap kedua abang Elle dengan ekspresi tenang tanpa riak ketakutan sedikit pun.
Elle segera turun dari motor, hendak berlari ke arah abangnya, namun langkahnya tertahan ketika Jayden dengan cepat mencengkeram pergelangan tangannya, menahannya di samping tubuh tegap cowok itu di depan mata Kenzie dan Kenzo.
"Jayden Xeno Frederick," desis Kenzie, melangkah maju dengan pandangan membunuh yang sangat pekat. "Gua udah nepati janji gua buat gak ngeruntuhin apartemen lo semalam. Sekarang, lepasin tangan kotor lo dari adik gua."